
"Assalamualaikum, anak ibu,"salam Nabila begitu berdiri didekat anaknya.
"Waalaikumssalam,"jawab ibu Ros.
"Ini sudah menjelang magrib, kenapa masih diluar, Bu?"tanya Nabila sembari menc1um punggung tangan ibunya, disusul oleh Wahyu.
"Raksa nggak mau diajak kedalam, katanya nunggu Ibu dan Papanya,"jawab ibu Ros.
"Ya ampun, Nak... Lain kali jangan seperti ini, tunggu ibu dan Papa didalam rumah aja ya!"ucap Nabila memberi pengertian pada anaknya.
"Endong, Papa,"ucap Raksa mengangkat kedua tangannya.
"Raksa mau digendong sama papa?"tanya Wahyu lembut, Raksa mengangguk antusias.
"Kalian segera lah masuk, di mesjid sudah adzan,"ucap ibu Ros.
"Iya, Bu."
Malam hari, disaat semua orang sudah berkumpul di meja makan. Tiba-tiba ada yang memencet bel rumah, tanda ada tamu.
"Biar aku aja yang buka, kalian langsung makan aja,"ucap Nabila beranjak dari duduknya.
"Ajak sekalian tamunya untuk makan mal bersama, Nak,"ucap ibu Ros.
"Iya, Bu."
Nabila melangkah meninggalkan ruang makan, ia tergesa-gesa menuju pintu utama.
-Ting nong-
Suara bel rumah berbunyi untu kedua kalinya. Sepertinya si tamu tidak sabaran untuk bertemu tuan rumah.
"Iya sebentar,"ucap Nabila sedikit berteriak.
Dengan berlari kecil, Nabila bisa cepat sampai di depan pintu.
-Cklek-
"Loh, ternyata kamu. Ayo masuk, sekalian kita makan malam bersama,"ajak Nabila begitu melihat tamunya.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumssalam, Nak. Ayo, masuk!"jawab Nabila mengulurkan tangannya untuk disalim Galaksi.
"Yang lain pada kemana, Bu?"tanya Galaksi begitu memasuki rumah.
"Udah menunggu diruang makan. Ayo cepetan, keburu yang lain pada kelaparan nungguin kita,"ajak Nabila ramah.
"Iya, Bu. Maaf, jadi menganggu makan malam kalian,"ucap Galaksi tak enak.
"Apaan sih kamu ini. Kami senang malam ini kamu bisa bergabung makan malam bersama disini,"ucap Nabila.
"Hehe... Gala nggak bisa setiap malam kesini, Bu. Maklum, lagi sibuk-sibuknya ngerjain tugas kuliah,"ucap Galaksi cengengesan.
Nabila menghela nafas panjang. "Nanti kita bahas masalah ini! Kita makan malam dulu,"ucap Nabila.
__ADS_1
"Ibu duluan aja. Aku mau taruh ini dikamar uncle Isar dulu,"ucap Galaksi sambil sedikit mengangkat tasnya.
"Yaudah, kamu jangan lama-lama dikamar."
"Siap, Bu,"sahut Galaksi memberi hormat.
Nabila lebih dulu memasuki ruang makan, datang seorang diri membuat keluarganya bertanya-tanya.
"Tamunya mana, Sayang?"tanya Wahyu.
"Ada di depan, Mas. Sebentar lagi nyusul,"jawab Nabila santai.
"Kenapa tamunya ditinggal?"tanya ibu Ros.
"Yang datang bukan tamu, Bu. Anak bujang Nabila yang datang,"jawab Nabila membuat hati Wahyu membuncah bahagia.
"Jadi Galaksi yang datang, Sayang?"
"Iya, Mas. Itu anaknya sudah datang,"jawab Nabila sembari menunjuk ke arah pintu pembatas ruang makan dan ruang tengah.
"Assalamualaikum, semuanya,"salam Galaksi.
"Waalaikumssalam,"jawab mereka kompak.
"Boleh Gala bergabung?"
"Tentu boleh dong, Nak. Ayo sini duduk didekat ibu,"ucap Nabila menunjuk kursi kosong disamping Raksa.
"Iya, Bu."
"Kamu nginap kan?"tanya Kaisar.
"Nginap dong, Uncle. Pakaian aku udah ada didalam kamarnya, Uncle,"jawab Galaksi.
Kaisar mengangguk. "Nah gitu dong. Tanpa harus diminta nginap disini, datang sendiri kan lebih enak."
"Ini piringnya. Kamu mau makan dengan lauk yang mana?"
"Ikan bakar, sambel dan sayur kangkungnya, Bu,"jawab Galaksi.
Nabila sigap mengambilkan lauk yang diinginkan anak bujangnya dan kemudian menyerahkan piring berisi lauk dan nasinya pada Galaksi.
***
Satu bulan berlalu, tiba saat yang dinanti-nanti oleh Wahyu. Hari dimana ia akan memperkenalkan Nabila srbagai istrinya kepada publik.
"Kamu sudah siap?"tanya Wahyu.
"InsyaAllah siap, Mas,"jawab Nabila lembut.
Wahyu tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya pada sang istri yang langsung mendapat sambutan.
"Ma, Pa? Atau acara sebentar lagi dimulai,"ajak Galaksi yang berdiri diambang pintu sembari menggandeng tangan adiknya.
"Iya, Nak. Ini Mama dan papa akan segera kesana,"jawab Wahyu
__ADS_1
Tangan Nabila melingkar manja dilengan suaminya. Ia berjalan begitu anggun memasuki ballroom, suasana tampa hening ketika pasangan pengantin berjalan didepan dan dibelakangnya disusul oleh kedua anaknya.
"Jadi Nabila sekretaris diperusahaan yang jadi istri pak Wahyu?"bisik salah satu tamu undangan yang memang tidak pernah menyukai Nabila.
"Gue kira Nabila yang lain, ternyata orangnya sering kita lihatm tapi serasi sih sama pak Wahyu."
Berbagai pendapat terlintas dibenak seluruh karyawan perusahaan. Namun, tidak ada yang berani mengeluarkannya secara terang-terangan.
"Apa jangan-jangan, Nabila yang menggoda pak Wahyu duluan ya?"
"Nggak tahu lah! Bisa jadi iya, bisanjadi juga tidak,"jawab karyawan kantor cuek.
"Perhatian semuanya! Saya ucapkan terima kasih atas kehadiran kalian semua di acara berbahagia ini. Saya ingin menyampaikan satu hal pada para tamu undangan,"ucap Wahyu diatas pelaminan dengan menggunakan mic.
"Hari ini saya yang saya tunggu selama ini, hari saya memperkenalka istri saya secara resmi pada kalian semua. Nabila Maharani, semua orang di kantor dan yang bekerja sama dengan Pramudya group mengenal siapa Nabila ini. Saya menikahi Nabila satu bulan yang lalu, akad nikah yang sederhana,"ucap Wahyu memperkenalkan Nabila yang sudah resmi menjadi istrinya satu bulan yang lalu.
"Maaf, Pak Wahyu. Sebenarnya saya agak bingung, dua hari setelah saya menerima undangan dari pihak Pak Wahyu, saya juga menerima undangan dari kerabat, dan nama calonnya itu adalah Pak Wahyu Pramudya,"ucap salah satu tamu undangan.
"Kalau boleh tahu, siapa nama mempelai eanita di undangan yang satunya, Pak?"tanya Wahyu ramah.
"Namanya Kusi Mawarni, Pak."
Wahyu mengangguk, ia tidak menyangka ternyata Kusi benar-benar nekat.
"Sebelumnya saya ingin meluruskan masalah ini. Saya tidak pernah ada niat untuk menikahi ibu Kusi, dia memang pernah mencoba mendekati saya. Namun, saya tolak karna dia tidak bisa dekat dengan anak saya. Dan bahkan saat ini ibu Kusi sedang ditahan karna kasus pencemaran nama baik dan penyerangan terhadap saya dan istri saya satu bulan yang lalu."
Semua orang terkejut memdengar ada seorang yang bisa berbuat nekat seperti yang dilakukan oleh Kusi.
"Maaf, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya sekalian. Karna ini hari bahagia Papa saya, maka kita tidak akan membahas lebih lanjut mengenai masalah ibu Kusi. Untuk itu saya ucapkan selamat menikmati jamuan dari kami sekeluarga,"ucap Galaksi diatas panggung setelah melihat kode dari papanya.
Semua tamu undangan larut dalam alunan musik yang dimainkan oleh artis penyanyi dangdut dan pop.
Galaksi tidak pernah lama meninggalkan adik dan keluarga dari ibu tirinya.
"Mama, Aksa mau mama,"ucap Raksa berbisik ditelinga kakaknya.
"Raksa mau duduk didekat mama?"
"Iya!"
"Yaudah, ayo kita kesana,"ajak Galaksi.
Setelah setengah bulan lamanya Galaksi mengajari Raksa agar bisa memanggil mama pada Nabila, akhirnya perjuangannya tidak sia-sia.
"Nek, Uncle, aku ke pelaminan dulu. Ini Raksa katanya mau duduk sama mama,"pamit Galaksi.
"Iya, Nak,"jawab ibu Ros.
Sementara Kaisar hanya mengangguk, ia celingukan mencari sosok kekasih hatinya yang katanya ingin bergabung dengan teman kantor.
"Kamu cari siapa, Sar?"
"Cari Clara, Bu. Ibu ada lihat Clara nggak?"
Ibu Ros ikut celingukan mencari Clara yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
__ADS_1