
Karna Wahyu sering bergaul dengan yang lebih muda malah membuat merasa ikut muda. Wahyu begitu semangat menjalani hari-hari setelah kenal dengan Nabila dan Raksa.
Setelah mengantar Nabila pulang, Wahyu segera melajukan mobilnya meninggalkan kompleks perumahan tanpa pamit psda keluarga Nabila.
Nabila berdiri menatap mobil Wahyu yang perlahan menghilang diujung komplek.
"Khmm..." Kaisar berdehem dibelakang kakaknya membuat Nabila terkejut.
"Astagfirullah, Kaisar? Kamu ini suka banget ngangetin mbak,"ucap Nabila kesal.
"Hehe... Sorry, Mbak. Isar nggak sengaja, lagian Mbak ngapain masih menatap mobil mas Wahyu yang sudah tidak terlihat?"
Nabila jadi gelapan. "Eh anu, Sar. Ini mbak cuma lagi mau menikmati suasana malam dikompleks ini,"ucapnya mencari alasan.
"Ada aja alasan kamu, Mbak. Sekarang ayo masuk,"pinta Kaisar.
"Iyaiya. Kenapa malah lebih galak kamu sih,"gerutu Nabila.
Kaisar terkekeh melihat kakaknya menggeritu kesal.
"Jarang-jarang marahin mbak, seru juga ternyata,"gumam Kaisar.
"Assalamualaikum,"salam Nabila.
"Waalaikumssalam,"jawab Kaisar dibelakang Nabila.
"Ibu sama Raksa mana, Sar?"
"Sudah tidur, Mbak."
"Raksa tidur di kamar ibu?"
"Iya, Mbak."
"Mbak minta tolong pindahin Raksa ke kamar mbak, Sar."
"Siap, Mbak. Duluan aja ke kamar, nanti Isar nyusul."
"Oke!"
Tiba dikamar, bukan langsung membersihkan diri, Nabila terdiam memikirkan peristiwa yang terjadi tadi di restoran.
Menghempaskan b0k0ngnya di pinggir kasur, menghela nafas panjang, "Apa aku sedang bermimpi?"monolog Nabila.
Membuka tas yang masih dipegangnya, memandangi kotak kecil pemberian Wahyu, "Aku tidak menyangka pak Wahyu bisa sampai meminang aku, aku yang hanya seorang wanita biasa dan janda,"gumam Nabila.
-Tok tok tok-
"Mbak?"
"Iya bentar, Sar."
Nabila beranjak dari duduknya, lalu menuju pintu kamarnya untuk membukakan pintu Kaisar.
-Cklek-
"Makin kesini aku udah tidak sanggup menggendong Raksa, Mbak,"keluh Kaisar.
"Hehehe... Raksa emang makin bertambah berat badannya,"sahut Nabila terkekeh.
"Aku keluar ya, Mbak,"pamit Kaisar setelah membaringkan badan Raksa di atas ranjang.
"Iya,"jawab Nabila singkat.
Nabila memandangi wajah anaknya yang sedang terlelap dalam tidurnya.
"Damai sekali tidur mu, Nak. Tumbuhlah menjadi anak yang baik budi,"gumam Nabila seraya mengusap kepala anaknya.
Matahati menyapa melalui celah jendela kamar Nabila, ia tengah sibuk bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Tumben Raksa jam segini belum bangun?"gumam Nabila seraya memperbaiki posisi jilbabnya.
Beberapa menit kemudian, setelah dirasa sudah siap. Nabila bergegas keluar kamar tanpa menganggu anaknya yang masih lelap dalam tidurnya.
"Selamat pagi, semua,"sapa Nabila pada keluarga.
"Pagi, Mbak,"balas Clara dan Kaisar bersamaan.
__ADS_1
"Raksa mana, Nak?"
"Masih tidur, Bu. Nabila nggak tega bangunin."
"Loh kok tumben anakmu bangun kesiangan, biasanya dia yang bangunin kamu,"ucap ibu Ros heran.
"Mungkin cuma karna Raksa kelelahan, Bu. Nabila nggak mau ganggu tidurnya."
"Yasudah, kalian makan lah. Nanti kalian terlambat."
"Siap, Bu,"jawab mereka kompak.
Setelah anak-anaknya berangkat bekerja, ibu Ros segera menaiki anak tangga menuju kamar Nabila untuk melihat Raksa yang masih tidur.
-Cklek-
Kening ibu Ros mengkerut ketika melihat badan cucunya menggigil dibalik selimut. Dengan cepat ibu Ros mendekati ranjang dan memeriksa keadaan cucunya.
"Astagfirullah, Raksa demam,"ucap ibu Ros setelah memegang kening sang cucu.
Dengan tanggap ibu Ros mengambil remot control ac dan mematikannya agar Raksa tidak semakin menggigil.
"Bagaimana ini? Saya sudah tidak sanggup menggendongnya,"gumam ibu Ros khawatir.
"Kompres aja dulu, siapatau setelah kompres demamnya turun,"gumam ibu Ros, lalu beranjak keluar kamar menuju dapur.
Ibu Ros terus mendampingi dan mengganti kompres cucunya, tanpa sengaja ia ikut tertidur disamping Raksa.
"Pa-pa... Aksa lindu, pa-pa,"gumam Raksa lirih mengangetkan ibu Ros.
"Astagfirullah, kamu kenapa, Nak?"
Ibu Ros mulai panik saat tahu demam Raksa tidak juga turun.
"Siapa yang harus saya hubungi? Kalau Nabila atau Kaisar kerjaan mereka akan terganggu,"gumam ibu Ros.
Ibu Ros menggulir nomor ponsel yang ada di kontaknya, "Ada nomor nak Wahyu, apa dia aja yang saya hubungi?"
Karna tidak ingin menganggu konsentrasi kedua anaknya yang sedang bekerja, ibu Ros memilih menghubungi Wahyu.
^^^{Hallo, assalamualaikum, nak Wahyu.}^^^
{Waalaikumssalam, bu. Ibu sehat?}
^^^{Alhamdulillah ibu sehat, nak. Cuma Raksa...}^^^
Belum selesai perkataan ibu Ros, Wahyu dengan panik menyamb4r ucapan ibu Ros.
{Kenapa dengan Raksa, bu?}tanya Wahyu panik.
^^^{Ini Raksa demam, nak. Terus ngingau manggil papa.}^^^
Hati Wahyu tiba-tiba merasa sejuk saat tahu meskipun sedang sakit, Raksa tetap mencarinya. Tapi, tetap saja membuat Wahyu kalang kabut.
{Ibu siap-siap, saya akam segera meluncur kesana.}
^^^{Iya, nak.}^^^
Ibu Ros mengganti pakaiannya dengan baju yang sopan dan bersih serta menyiapkan kebutuhan Raksa.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Wahyu tiba di rumah Nabila.
"Assalamualaikum,"salam Wahyu tidak sabaran.
"Waalaikumssalam, nak. Ayo, masuk! Raksa ada di kamar ibunya,"jawab ibu Ros, kemudian membuka pintu lebar-lebar.
Dengan sedikit berlari Wahyu menaiki anak tangga menuju kamar Nabila. Tanpa berkata apapun, ia langsung menggendong Raksa lengkap dengan selimutnya.
"Ayo, Bu. Kita bawa Raksa ke rumah sakit,"ucap Wahyu.
"Iya, nak. Ibu ambil perlengkapannya dulu."
Ibu Ros mengambil tas yang berisi kartu keluarga Nabila, kartu anak milik Raksa.
"Ibu sanggup pangku Raksa?"tanya Wahyu.
"Iya, nak. InsyaAllah ibu bisa."
__ADS_1
"Ibu masuklah ke mobil."
Wahyu mengendarai mobil dengan kecepatam sedang, ac mobil dimatikan agar Raksa tidak kedinginan.
Ibu Ros memeluk cucunya yang sedang menggigil kedingingan.
"Kemana Nabila, bu?"
"Nabila ke kantor, nak. Dia tidak tahu kalau anaknya demam."
"Kenapa ibu tidak menghubunginya?"
"Ibu takut menganggu pekerjaannya, nak. Ibu tahu Nabila sudah terlalu banyak mengambil cutinya."
"Tapi ini keadaannya darurat, Bu."
"Nanti saat jam pulang kantor ibu akan menghubunginya, nak."
-Dret dret-
Ibu Ros melihat ponsel yang berdering.
"Nabila menelfon!"ucap ibu Ros lirih.
"Siapa, Bu?"tanya Wahyu tanpa mengalihkan pandangannya.
"Nabila, Nak. Ibu jawab dulu ya..."
Wahyu mengangguk.
{Hallo, assalamualaikum, Bu.}
^^^{Iya waalaikumssalam, nak.}^^^
{Ibu? Apa ibu dan Raksa baik-baik aja?}
Ibu Ros melirik ke arah Wahyu.
^^^{Ibu baik-baik aja, nak.}^^^
{Raksa?}
^^^{Raksa...}^^^
Tiba-tiba terdengar suara rintihan Raksa, "Papa... Dingin..."
{Raksa kenapa, bu?}tanya Nabila panik.
^^^{Anu... Ini, nak. Raksa demam.}^^^
{Astagfirullah... Kenapa ibu tidak bilang dari tadi. Nabila pulang sekarang!}
Segera Nabila bangkit dari duduknya dan membereskan barang-barangnya.
^^^{Jangan pulang ke rumah, nak. Ibu sedang dijalan bawa Raksa ke rumah sakit.}^^^
{Rumah sakit? Siapa yang mengantar ibu?}tanya Nabila penasaran lalu menghentikan gerakan tangannya.
^^^{Nak Wahyu, nak.}^^^
{Astaga... Kenapa ibu harus merepotkan pak Wahyu?}tanya Nabila lirih.
^^^{Ibu tidak ada waktu untuk menjelaskannya, nak.}^^^
"Ayo, Bu. Kita sudah sampai,"ucap Wahyu terburu-buru.
^^^{Ibu tutup dulu, datanglah ke rumah sakit Harapan.}^^^
Ibu Ros meletakkan ponselnya ke dalam tas yang dibawanya.
"Biar Wahyu yang angkat, Bu."
Ibu Ros mengangguk, "Bawa Raksa masuk, ibu akan menyusul."
"Ibu kenapa?"
"Kaki ibu cuma k3ram."
__ADS_1