Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Menemuinya


__ADS_3

"Assalamualaikum,"salam Nabila. Kaisar dan Clara bersamaan.


"Waalaikumssalam, pengajiannya lancar?"tanya ibu Ros.


"Alhamdulillah lancar, Bu,"jawab Nabila.


"Syukur lah... Dengan begini kamu sudah bisa memulai usaha kamu dengan baik,"sahut ibu Ros.


"Iya, Bu. Pak ustad juga tadi sudah meruqyah rumah itu, jadi sekarang InsyaAllah sudah aman,"sahut Nabila.


"Jangan lupa, sempatkan untuk mengaji, putar murottal,"ujar ibu Ros.


"Iya, Bu. Kaisar udah pikirkan semuanya, besok Kaisar mau cari yang dibutuhkan,"sahut Kaisar.


"Mbak yang mau buat usaha, Kaisar dan Clara yang repot,"ujar Nabila terkekeh.


"Nggak repot, Mbak. Kaisar juga 'kan masih nagnggur, jadi masih bisa bantu-bantu Mbak. Mbak tinggal siapin uangnya aja, nanti saat mulai produksi baru Mbak turun tangan,"ucap Kaisar.


"Oke, kalau butuh uang langsung bilang!"


"Iya, Mbak. Pembahasannya udah diulang berapa kali ini,"sahut Kasiar terkekeh.


"Cuma sekedar mengingatkan, Sar,"sahut Nabila.


"Oke, Kaisar catat di memori dengan baik. Oh ia, besok Mbak jadi berangkat ke Pontianak?"


"Jadi, Sar. Mbak juga sudah pesan tiket, sebenarnya Mbak nggak enak buat ngambil cuti tapi karna keadaan yang mengharuskan saya untuk pergi,"ucap Nabila menghela nafas.


"Jam berapa berangkatnya, Mbak?"tanya Clara.


"Saya ambil penerbangan jam 10,"jawab Nabila.


"Yaa... Aku nggak bisa nganter Mbak ke bandara dong,"sahut Clara.


"Nggak perlu, Ra. Aku pesan taksi aja besok, pergi sendiri juga aman kok,"ujar Nabila.


"Yaudah deh, Mbak. Mau gimana lagi, besok harus ke kantor,"sahut Clara.


***


Nabila saat ini sudah tiba di bandara Pontianak, Nabila sedang menunggu taksi yang akan mengantarkannya pada tempat yang ingin dituju.


"Mau kemana, Bu?"tanya supir taksi.


"Ke kantor p0lisi, Pak,"jawab Nabila.


Hari ini dia ingin bertemu dengan suaminya yang sebentar lagi akan jadi mantan. Nabila di Pontianak akan menghadiri dua sidang, sidang pertama k4sus penipu4n dan yang kedua perceraian.


"Pak? Maaf, saya cuma sebentar di dalam, apa Bapak bisa menunggu? Saya akan bayar lebih,"ujar Nabila ramah.

__ADS_1


"Bisa, Bu,"jawab pak supir cepat dan antusias.


"Kalau begitu, saya ke dalam dulu, Pak,"sahut Nabila.


"Iya, Bu. Silahkan!"


Nabila masuk dan melapor selankutnya dia disuri menunggu.


"Nabila?"panggil seseorang pada Nabila.


Nabila sangat mengenal siapa pemilik suara yang memanggilnya itu, "Iya, ini saya,"jawab Nabila dingin.


Samudra tersenyum bahagia dan besar kepala, "Kamu kesini mau bebasin aku, Sayang? Syukurlah, mas sangat bosan disini,"ucap Samudra percaya diri.


"Tidak, saya kesini cuma mau memastikan kamu tetap sehat sampai sidang besok,"jawab Nabila cuek.


Senyum Samudra luntur, "Apa maksud kamu, Sayang?"


"Besok sidang kasus penipu4n yang kamu dan keluarga kamu lakukan, dan selanjutnya sidang perceraian kita, saya harap kamu bisa mengakui semua perbuatan mu dan keluargamu itu."


Samudra kalang kabut, "Aku tidak mau bercerai dari kamu, Sayang. Aku tidak bisa kehilangan kamu dan anak kita, Raksa."


"Kamu sudah kehilangan kami saat sejak pertama kali kamu menikahiku, Mas. Kamu menikahiku cuma karna ingin uang ku 'kan? Kamu bahkan sangat tau Mas, uang itu hasil jerih payah ku saat masih gadis dan warisan dari ayah ku,"ujar Nabila dingin.


"Sayang, Maaf. Dari awal pernikahan niatku memang sudah salah, tapi percayalah saat ini aku sangat sayang dan cinta sama kamu,"jawab Samudra panik.


"Semua sudah terlambat, Mas. Kenapa baru sekarang? Selama kita hidup bersama, hanya kebohongan yang kamu persembahkan padaku dan Raksa. Setiap hari, Mas, hanya kebohongan dan kebohongan."


"Maaf, Mas. Tapi aku tidak bisa, selain kamu berbohong tentang semuanya, kamu juga sudah berani men4mparku didepan keluargaku. Kalau didepan mereka saja kamu bisa melakukan itu, bagaimana jika kita hanya berdua? Mungkin jika aku masih bertahan, akan masih ada kejadian seperti itu lagi, bahkan bisa saja lebih dari itu."


Samudra tidak bisa menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap mata istrinya.


"Sudah cukup pertemuan kita hari ini, sampai ketemu besok dipengadilan,"ucap Nabila seraya berdiri.


"Sayang? Mas mohon, jangan tinggalkan mas..." Samudra mendongak menatap istrinya.


"Maaf, saya permisi. Oh ia, titip salam untuk keluargamu, Assalamualaikum,"ucap Nabila, berbalik meninggalkan Samudra yang masih menatapnya.


"Waalaikumssalam,"jawab Samudra lirih menatap kepergian istrinya.


Nabila memandang lurus kedepan tanpa ada niat sedikitpun berbalik menatap suaminya.


"Si4l... Ini semua karna rencana mama, aku akan kehilangan keluargaku,"rutut Samudra kesal.


"Semua akan segera berakhir. Seandainya kamu jujur dari awal, Mas... Mungkin aku masih bisa menerima semuanya, tapi kamu memilih berbohong, jadi terima saja apa yang kau tabur,"gumam Nabila.


"Kita berangkat sekarang, Bu?"tanya pak supir.


"Iya, Pak."

__ADS_1


"Mmm... Maaf, Bu. Mungkin Ibu mau singgah disuatu tempat?"tanya pak supir melihay Nabila melalui kaca.


"Tidak, Pak. Saya mau langsung pulang ke rumah,"jawab Nabila.


"Baiklah, Bu."


Nabila mengangguk sebagai jawaban. Dia mengambil ponselnya di dalam tas dan melihat banyak panggilan tak terjawab dari adiknya.


^^^[Assalamualaikum, Sar. Maaf, tadi Mbak tidak sempat membuka ponsel. Mbak sudah dalam perjalanan menuju rumah.]^^^


[Waalaikumssalam, Mbak. Syukurlah, Mbak. Ibu tadi sangat khawatir.]


^^^[Bilang sama ibu, jangan terlalu banyak pikiran. Mbak baik-baik aja, setelah semua selesai, mbak akan segera kembali.]^^^


[Iya, Mbak. Mbak hati-hati disana, kalau ada apa-apa hubungi Kaisar.]


^^^[Iya. Sudah dulu ya, Mbak sudah sampai. Nanti mbak akan menelfon. Assalamualaikum.]^^^


[Waalaikummsalam, Mbak.]


Nabila menyudahi obrolan dengan adiknya melalui pesan di aplikasi berwarna hijau itu.


^^^[Assalamualaikum, Pak Gerry. Saya sudah ada di Pontianak.]^^^


Lama Nabila menunggu balasan chat dari Gerry, namun belum ada balasannya.


"Mungkin masih sibuk di kantor, sebaiknya aku hubungi nanti saat jam istirahat,"gumam Nabila seraya memasukkan ponselnha ke dalam tas.


"Rumah yang sebelah mana, Bu?"


"Sebelah kanan, Pak. yang warna putih abu,"jawab Nabila.


Mobil berhenti tepat di depan rumah ibu Ros, rumah tetap terlihat bersih karna Nabila membayar seseorang untuk membersihkannya.


"Kita sudah sampai, Bu."


"Iya, Pak." Nabila keluar mobil dan meminta tolong untuk menurunkan barangnya.


"Ini kopernya, Bu."


"Iya, Pak. Terimakasih, ini ongkosnya,"ujar Nabila menyerahkan beberapa lembar uang merah ke tangan pak supir.


"Ini terlalu banyak, Bu,"ucap pak supir tidak enak.


"Tidak apa-apa, Pak. Itu rejeki Bapak dan keluarga. Terimakasih sudah mau mengantarkan saya,"ucap Nabila ramah.


Pak supir terharu mendapat rejeki yang tak terduga, "MasyaAllah, terimakasih, Bu. Saya doakan semoga semua urusan Ibu berjalan dengan lancar,"ujarnya bergetar.


"Aamiin. Terimakasih, Pak."

__ADS_1


"Iya, Bu. Kalau begitu saya permisi mau langsung pulang kerumah,"ucap pak supir antusias.


Nabila mengangguk dan tersenyum ramah pada pak supir tang terlihat sangat bahagia.


__ADS_2