Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
70 jt?


__ADS_3

PoV Nabila


Sebenarnya aku sedikit khawatir sejak kedatangan Caca beberapa hari yang lalu di rumah produksi, tapi aku berusaha untuk menutupi semuanya agar tidak mengacaukan rencana acara lamaran untuk Kaisar.


Hari ini tepat hari jumat malam, aku dan keluargaku tengah bersiap menuju bandara.


"Semua sudah siap?"tanya mas Wahyu.


"Kayaknya udah, Mas,"jawabku ragu sembari melihat deretan barang yang akan kita bawa.


Total ada 5 koper yang akan kita bawah ke kampung halaman Clara, 1 koper besar milikku yang didalamnya berisi pakaianku, mas Wahyu dan Raksa. Satu koper besar lagi berisi seserahan yang akan dibawah untuk Clara saat lamaran. Koper lainnya yang ukurannya tidak besar itu milik Galaksi, ibu dan Kaisar.


"Kok kayaknya sih, Sayang? Coba dipastikan lagi deh, nanti repot kalau ada yang kelupaan."


"Semuanya udah, Mas. Kan Mas juga kemarin bantu masukin seserahan kedalam koper hitam itu kan?"


"Iya sih, Sayang."


"Nah, kalau gitu berarti semua udah siap!"


"Cincin tunangannya mana?"tanya mas Wahyu.


"Ada sama Kaisar, Mas,"jawabku.


"Sar? Mana cincin tunanganmu?"tanya mas Wahyu pada Kaisar yang baru keluar dari kamarnya.


"Ooh iya... Untung Mas Wahyu ingatkan,"sahut Kaisar.


Kaisar masuk kekamarnya, dan tidak lama kemudian Kaisar keluar lagi dari kamarnya dengan membawa kotak bludru merah yang kecil.


"Udah?"tanyaku.


"Ini udah aku bawa, Mbak."


"Coba dicek isinya,"pintaku.


Kaisar membuka kotaknya dan terlihat cincin yang sangat indah didalamnya, pasti cincinnya sangat cantik dijemari Clara.


"Mbak, sama Mas Wahyu yang jadi saksinya, ini cincinnya ada ya,"ucap Kaisar.


"Iya, Dek,"jawabku, sementara mas Wahyu hanya terkekeh.


Cklek


"Udah, Bu?"tanyaku pada ibu yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya, Nak."


"Bu, ini cincinnya biar Ibu aja yang simpan,"ucap Kaisar menyerahkan kotak bludru yang dipegangnya ketangan ibu.


Ibu tersenyum menatap Kaisar. "Yaudah, sini ibu simpan,"ucap ibu menerima kotak cincin tunangan Kaisar dan Clara.


"Galaksi mana, Sar?"tanyaku pada Kaisar.


"Masih dikamar, Mbak,"jawab Kaisar.


"Panggil gih, waktu semakin mepet ini,"pintaku sembari melirik jam tangan.


"Ya tunggu, Mbak."


Setelah semua siap, kami akhirnya berangkat juga dengan menggunakan satu mobil yang lebih besar agar muat dengan 5 orang dewasa dan satu orang anak.

__ADS_1


Kami berangkat diantar oleh supir perusahaan yang sengaja diminta oleh mas Wahyu untuk mengantar kami.


Tiba di bandara kami terburu-buru menuju gate karena waktu keberangkatan sangat mepet.


"Gini nih kalau kebanyakan ngobrol,"omelku sembari melangkah cepat.


Aku menenteng tas kebutuhan Raksa yang sekiranya dibutuhkan dalam perjalanan. Sementara mas Wahyu bagian yang menggendong Raksa, karena jika Raksa jalan sendiri bisa ketinggalan pesawat kita.


"Kamu udah dapat alamat Clara, Sar?"tanya mas Wahyu begitu kita duduk tenang didalam dalam pesawat.


"Iya, Mas."


"Kira-kira ada hotel nggak ya yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Clara?"tanya mas Wahyu lagi.


"Clara udah siapin satu rumah untuk kita tempati, Mas. Katanya hanya terpisah dua rumah aja."


"Itu jauh lebih bagus lagi, jadi kita nggak terlalu repot dengan kendaraan,"sahut mas Wahyi terkekeh, aku tahu mas Wahyu hanya bercanda. Mas Wahyu tentu tidak akan keberatan jika hanya menyiapkan mobil untuk kita sekeluarga selama berafa dikampung Clara.


Penerbangan yang ditempuh tidak butuh waktu berjam-jam lamanya, sekitar sejam lebih pesawat mendarat di bandara kota tempat kelahiran Clara.


"Ada yang jemput nggak, Sar?"tanyaku ketika koper sudah disusun diatas trolly.


"Clara yang jemput, Mbak."


"Ooh yaudah, kita tunggu didepan aja kalau gitu."


Namun, ketika masih berada dalam bandara, dari jauh aku melihat wanita yang sangat kukenal melambai tangan dengan begitu semangat dan senyum yang mengembang.


"Itu Clara,"ucapku membuat yang lain menatap kearah Clara yang memanggil Raksa dengan hebohnya.


"Dek, fansmu sangat fan4tik menyambut kedatanganmu,"ledek Galaksi bercanda.


"Fans Raksa yang satu ini memang luar biasa,"sahut Kaisar terkekeh.


Bis kulihat wajah Kaisar tampak memerah setelah kugoda.


"Mbak, apaan sih. Udah akh, kita kesana sekarang,"sahut Kaisar salah tingkah.


"Iya tahu, kamu udah nggak sabar ketemu sama Clara,"ledekku.


"Udah, jangan diledek terus adeknya, Nabila,"tegur ibu lembut.


"Akhirnya kalian sampai juga,"ucap Clara menyambut kami.


"Alhamdulillah, Nak. Gimana kabar kamu dan orang tua mu?"tanya ibu ketika Clara menc1um punggung tangan ibu.


"Alhamdulillah, kami semua sehat, Bu,"jawab Clara, "Ini masih ada yang ditunggu nggak?"


"Udah nggak ada, Ra. Kita pergi sekarang,"jawabku.


Aku dan keluarga menuju rumah yang disiapkan oleh keluarga Clara diantar oleh Clara sendiri.


PoV Nabila End


***


Sari dan Caca sudah beberapa hari tidak keluar kamar sejak pertemuannya tanpa segaja dengan Nabila.


"Ma, kita udah menemukan wanita itu. Dan aku sangat yakin, itu rumahnya. Meski sederhana pasti isinya sangat mewah,"ucap Caca.


"Makanya itu kita harus mengatur strategi sebaik mungkin. Kalau bisa kamu rebut pria yang bersama mantan istri kakakmu itu,"sahut Sari.

__ADS_1


"Tapi, sebelum itu. Kita kayaknya harus cari rumah kontarakan atau kamar kos aja deh, Ma. Kalau kelamaan di hotel, bisa-bisa uang kita habis tak tersisa."


"Kamu maka cari pelanggan disini dong, Ca. Coba aja mama masih mudah, pasti mama juga cari pelanggan yang mau pake jasa mama,"ucap Sari.


"Sabar, Ma. Ini juga aku lagi cari-cari lewat teman aku yang punya pelanggan di Jakarta,"jawab Caca tanpa mengalihkan perhatiannya dari hpnya.


"Bagus itu, Ca. Besok pagi kita cari kontarakan yang murah disekitaran rumah wanita itu."


"Ide yang bagus, Ma. Dengan begitu aku juga bisa lebih gampang menggoda pria yang bersama wanita itu."


"Iya, tapi sebelum itu harus selidiki dulu dia kaya atau miskin. Kalau kaya lanjut, kalau miskin ya biarin aja."


"Terus gimana soal mem3ras wanita itu, Ma?"


"Nanti kita pikirkan lagi caranya."


"Iya deh, Ma."


Sejenak suasana berubah menjadi hening, Sari dan Caca masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Yes! Akhirnya,"pekik Caca ditengah keheningan suasana kamar.


Sari terperanjak kaget mendengar pekikan Caca.


"Kamu kenapa sih, Ca?"tanya Sari kesal.


"Ma, aku harus siap-siap. Aku dapat pelanggan, dan kebetulan orangnya ada di hotel ini juga,"jawab Caca.


Mata Sari berbinar saat tahu jika sang anak akhirnya dapat pelanggan juga.


"Kalau gitu kamu nunggu apalagi, ayo segera siap-siap,"ucap Sari semangat.


"Iya ini juga mau siap-siap, Ma,"sahut Caca melangkah masuk ke kamar mandi.


"Cepetan, Ca. Jangan buat pelanggan menunggu lama,"teriakan Sari.


"Iya, Ma,"jawab Caca berteriak.


Cklek


"Kamu harus pakai baju yang sangat seksi agar lebih mengg0da syahw4t pelanggan, Ca."


"Iya, Ma. Bajunya udah aku siapin,"jawab Caca tanpa melihat mamanya.


"Emang pelanggannya ada dilantai mana, Ca?"


"Dilantai 7, Ma."


"Wow... Pasti pelanggan kamu orang berduit kelas kakap, pilih kamar aja sampai yang dilantai 7,"ucap Sari.


"Hmm... Aku nggak peduli, Ma. Yang penting bayarannya sesuai dengan kesepakatan."


"Memangnya berapa, Ca?"


"70jt, Ma."


"Wow, besar juga nominalnya, Ca. Itu hanya untuk satu pelanggan, gimana nanti kalau dapat banyak pelanggan,"sahut Sari berbinar.


"70 jt untuk semalaman, Ma."


"Nggak apa-apa, Ca. Kamu nikmati aja."

__ADS_1


"Jelas lah aku nikmati, Ma. Orang melay4ni pelanggan juga dapat enaknya kok, ya itu diluar dari bayaran,"monolog Caca dalam hati.


__ADS_2