Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Sudah lama berpulang


__ADS_3

Acara syukuran rumah baru Nabila berjalan dengan lancar dan khitmat. Tetangganya juga menyambut baik kehadiran Nabila sekeluarga di lingkungan mereka.


Setelah cukup lama bercengkrama dengan tetangga dan tamu lainnya, kini di rumah tersebut hanya tersisa keluarga inti saja. Keluarga Clara pun sudah pulang dan akan menginap di rumah Clara sampai besok sebelum pulang.


Beberapa bulan berlalu, pernikahan Clara dan Kaisar sudah berjalan 2 bulan. Kini mereka tinggal di rumah Nabila, pemberian Galaksi. Sementara rumah Clara fasilitas dari perusahaan kini sudah berpindah kepemilikan.


Sedangkan di rumah besar yang ditempati Nabila dan keluarga kecilnya, Nabila begitu menikmati perannya sebagai istri dan ibu dari dua anak yang usianya jauh berbeda.


Jika Nabila dan anak sambungnya jaln bersama, banyak yang salah paham jika mereka sepasang kekasih. Bahkan ada juga seorang gadis yang pernah mel4br4k Nabila mengatainya p3l4kor.


Seperti hari ini, Nabila dan Galaksi jalan berdua ke sup3rmark3t untuk belanja bulanan.


"Kemana dulu, Ma?"tanya Galaksi yang sudah siap mendor0ng trolly.


"Ke bagian tissu, perlengkapan kamar mandi dan kebutuhan adek, Kak,"jawab Nabila sembari melangkah ke lorong rak yang disebutkan tadi.


Nabila begitu lincah memasukkan barang yang dicarinya. Ia begitu fokus sampai tidak menyadari ada yang menghampirinya dengan ekpresi geram.


"Dasar p3lak0r,"pekik seseorang didekat Nabila.


Plak


Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut dibuat melongo dengan peristiwa yang dialami Nabila.


"Apa yang kamu lakukan?"bentak Galaksi.


Sementara Nabila hanya mampu terdiam dan mengusap pipinya yang mendapat ser4ngan secara tiba-tiba.


"Dengar kalian semua, wanita ini p3lakor. Saya sering kali melihat wanita ini jalan dengan calon tunangan saya,"ucap wanita yang men4mp4r Nabila berkoar-koar.


"Hei! Siapa yang kau sebut p3lak0r dan calon tunangan?"tanya Galaksi membentak.


"Pelankan suaramu, Gala. Ini tempat umum, tidak baik membuat keribut4n,"ujar Nabila lembut.


"Tidak bisa begitu! Kenapa kita tidak boleh membela diri, sedangkan wanita ini tiba-tibs datang melayangkan tangannya dengan begitu ringan,"bantah Galaksi meng3palkan tangannya.


Semua orang yang disup3rmark3t tersebut mulai berbisik-bisik dan menggunj1ng Nabila sebagai seorang wanita perebut laki orang.


Galaksi menatap sekelilingnya, ia tak terima dengan bisik-bisik yang merus4k pendengarannya.


"Halaah... Jangan sok b1jak deh lo wanita j4l4ng. Lo pasti cuma ngincer harta Galaksi kan?"


Nabila menggelengkan kepalanya, ia berusaha bersikap santai menanggapi wanita yang ada dihadapannya. Ia bisa menebak wanita tersebut salah satu dari fans Galaksi.


"Dengar anak muda! Kamu salah jika menganggap saya ini sebagai p3lakor yang mer3but Galaksi dari kekasihnya atau pun calonnya,"ucap Nabila santai.


"Sejauh saya mengenal Galaksi, ia sama sekali belum pernah mengenalkan seorang perempuan pada orang tuanya, apalagi tunangannya,"lanjut Nabila.


"Sok tau! Pasti lah Galaksi nggak ngakuin didepan lo selingkuhannya jika ia sudah bertunangan. Tapi, yang pasti gue udah kenal dekat orang tuanya, apalagi sama mamanya,"ujar wanita tersebut dengan mata melirik kiri kanan.

__ADS_1


"Oh iya? Kalau begitu saya juga mau berkenalan dengan calon mertua kamu itu. Siapa namanya?" Nabila seakan menantang wanita yang mengaku tunangan Galaksi itu.


Tentu hal tersebut membuat wanita tersebut gelagapan.


"Sinta! Kamu sangat pandai berbohong, kita itu hanya berteman di kampus. Tidak ada niat saya untuk dekat dengan kamu lebih dari sekedar status pertemanan,"ujar Galaksi dengan gigi berg3melatuk


Semakin salah tingkah lah wanita yang bernama Sinta itu.


Nabila terkekeh melihat tingkah sinta. "Perkenalkan saya Nabila, mamanya Galaksi Bumi Pramudya,"ujar Nabila memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.


Sinta malah terkekeh mendengar penuturan Nabila yang dianggapnya mengada-ada.


"Alasan klise. Mana ngaku-ngaku sebagai mamanya Galaksi. Saya sangat kenal dengan mama Galaksi,"bantah Sinta.


"Oh iya? Kamu sering ketemu mamanya Galaksi?"


"Ya jelaslah. Kita itu mantu dan mertua yang sangat klop."


"Mama Galaksi yang mana kamu temui?"


"Mama kandung lah."


"Berarti kamu sering ke makam mama kandung Galaksi dong? Kan mama kandung Galaksi sudah lama berpulang kepangkuan sang khalik,"ujar Nabila terkekeh.


"Ma-maksud kamu apa sih? Jangan bicara sembarang,"ucap Sinta tergagap.


Kini beralih sinta yang menjadi bahan gunj1ngan orang-orang yang ada disana.


Semakin tergagap Sinta ketika mendengar panggilan Galaksi pada Nabila.


"Sin, itu beneran mamanya Galaksi,"bisik teman Sinta yang sejak tadi hanya diam menyaksikan kelakuan temannya.


"Aku juga nggak tahu, kalau beneran dia mama Galaksi. Bisa gawat ini, gue ter4nc4m did3pak dari daftar calon mantu."


"M4t1 lo, Sin. Gue saranin mending lo cari gebetan lain aja deh."


"Semuanya, saya minta maaf atas ketidaknyamanannya. Ini hanya kesalapahaman aja, silahkan lanjutkan belanjanya,"ucap Nabila merasa tidak enak hati.


"Kita pulang aja, Gala. Mama tiba-tiba nggak enak badan, yang sudah masuk trolly langsung dibayar aja ke kasir,"ucap Nabila pelan.


"Mama kenapa? Mama sakit?"tanya Galaksi panik.


"Tidak! Mama tidak apa-apa. Mama minta tolong kamu antri ke kasir ya."


"Iya, Ma. Mama duduk aja di kursi tunggu,"sahut Galaksi cemas.


"Iya, Nak."


Nabila melangkah pelan menuju kursi dekat pintu keluar. Sedangkan Galaksi tidak henti memantau mamanya dari depan meja kasir yang untungnya tidak perlu antri terlalu lama.

__ADS_1


Setelah melakukan pembayaran, Galaksi menenteng kresek dan segera menghampiri mamanya.


"Ayo kita pulang, Ma,"ajak Galaksi.


"Yaudah ayo,"sahut Nabila pelan.


Mobil yang dikemudikan Galaksi melaju begitu kencang, ia sangat khawatir dengan kondisi mamanya yang terlihat pucat dan semakin lemas.


"Tidak biasanya Mama seperti ini,"gumam Galaksi.


"Pelan-pelan, Kak. Mama nggak apa-apa kok. Mama mungkin cuma kurang tidur aja."


Galaksi tidak menyahuti perkataan mamanya, ia fokus menatap jalan dengan kendaraan lain yang melintas dijalan yang sama.


Ciitt


Ban mobil berges3kan dengan pelataran parkiran depan pintu masuk rumah.


"Bik?"panggil Galaksi pada art yang sedang menyirami tanaman.


"Loh, Ibu kenapa, Mas?"tanya art tersebut yang ikut cemas.


Sejak kehadiran Nabila di keluarga Pramudya, panggilan art untuk sang majikan menjadi berubah. Dari panggilan Nyonya dan Tuan berubah jadi Ibu dan Bapak, Aden atau Den berubah jadi Mas.


"Mama sakit, Bik. Tolong belanjaan di bagasi di rapikan ya,"sahut Galaksi sembari membantu Nabila turun dari mobil.


"Pa? Papa?"teriak Galaksi memanggil papanya.


Sedangkan Wahyu yang sedang bermain dengan anak bungsunya terkejut mendengar teriakan Galaksi.


"Adek main sendiri dulu ya, papa mau keluar sebentar,"pamit Wahyu pada Raksa.


"Iya, Pa,"jawab Raksa yang masih sibuk dengan mainannya.


Ia bangkit dari duduknya dan sedikit berlari ke sumber suara meninggalkan Raksa di ruang keluarga


"Mama kenapa, Kak?"tanya Wahyu panik.


"Mama kurang enak badan, Pa,"jawab Galaksi.


Tanpa berkata apapun lagi, Wahyu menggendong istrinya dan membawanya ke kamar.


"Panggil dokter kemari, Kak,"titah Wahyu.


"Jangan, Pa. Mama baik-baik aja, cuma butuh tidur sebentar ini,"cegah Nabila.


"Tapi, kita nggak akan tahu kalau Mama nggak diperiksa,"ujar Wahyu ngot0t.


"Mama nggak apa-apa, Pa. Mama cuma mau tidur,"sahut Nabila memejamkan matanya.

__ADS_1


"Tapi, nanti setelah bangun belum ada perubahan. Papa akan panggil dokter, Ma,"ucap Wahyu tegas.


__ADS_2