
Masih pov Nabila
"Ini nggak ada yang lebih sederhana lagi, Mas?"tanyaku.
"Nggak ada, Sayang. Itu model yang paling sederhana, letaknya juga strategis. Tidak jauh dari kompleks perumahan ada sekolah tk, posisinya juga nggak begitu jauh dari kantor."
"Emang kamu nyari rumah yang dalam komplek, Mas?"tanyaku sekilas lupa siapa suami aku.
"Iya, Sayang. Kalau di kompleks menurut mas lebih aman, ada security kompleknya juga."
"Terserah Mas aja deh, aku ikut kemana Mas pergi,"ucapku mengalah, lebih mengikuti apa kemauan mas Wahyu.
"Jadi kamu mau rumah yang mana?"
"Rumah yang terakhir aja, Mas. Rumahnya tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil,"jawabku.
"Oke, besok bisa kita langsung cek kondisi rumahnya,"ucap mas Wahyu.
"Yaudah Mas, mumpung kita juga masih cuti. Jadi sebaiknya lebih cepat diurus kepindahan kita supaya nanti nggak kerepotan."
"Iya, Sayang. Kalau besok kita sudah deal sama rumahnya, kita bisa langsung pindah. Pakaian seperlunya aja dibawa, nggak usah bawah semua."
Ting!
Tong!
Suara bell rumah berbunyi, aku yakin itu pasti kurir yang mengantar makanan pesanan aku.
"Aku ke bawa dulu, Mas. Kayaknya yang datang kurir,"pamitku pada mas Wahyu.
"Iya, Sayang. Mas bentar lagi nyusul kamu,"jawab mas Wahyu.
Aku keluar kamar dan perlahan menuruni anak tangga. Dari tangga bisa kudengar suara tawa anakku didalam kamar Kaisar. Pasti ia sedang bermain dengan kakaknya.
Cklek!
"Betul ini rumah Mbak Nabila?"
"Iya betul, saya Nabila,"jawabku ramah.
"Ini pesanannya, Mbak. Mohon untuk di cek ulang,"ucap kurir tersenyum menyerahkan beberapa paperbag.
Aku menerimanya dan segera memeriksa jenis makanan yang kupesan. Setelah kurasa semua pas, aku segera membayar kurir tersebut dan memberikan uang lebih sebagai tip.
Awalnya abang kurirnya menolak, namun karna terus ku paksa akhirnya ia mau menerimanya dan kembali bekerja menjemput rejeki.
Aku menutup pintu depan, dan berjalan menuju dapur. Kusiapkan semua lauk pauk yang kubeli tadi melalui online, setelah siap kupanggil keluargaku untuk makan siang bersama.
"Bik Minah mana, Nak?"tanya ibu padaku.
"Bik Minah lagi belanja bahan-bahan masakan, Bu,"jawabku.
"Biasanya kan kamu yang belanja, Nak?"
__ADS_1
"Mulai sekarang bik Minah yang akan belanja semuanya, Bu. Kalau nungguin aku, kadang aku lupa belanja. Sedangkan stok bahan makanan di kulkas udah habis."
"Ibu jangan pikirkan apapun, semua sudah ditangani oleh Nabila,"sahut mas Wahyu.
Ibu terlihat mengangguk kecil, lalu melanjutkan makannya.
Setelah makan malam bersama selesai, kami semua berkumpul diruang tv. Kali ini Clara tidak bergabung dengan kami, katanya ngantuk berat pengen cepat tidur.
"Bu, ada yang mau aku sampaikan,"ucap mas Wahyu pada ibu membuatku deg degan, aku tahu apa yang akan mas Wahyu sampaikan.
"Ada apa, Nak?"
"Wahyu mau izin membawa Nabila pindah ke rumah baru yang sudah aku siapkan,"ucap mas Wahyu.
"Kenapa harus pindah, Nak?"
Mas Wahyu menatapku, aku tahu ia memikirkan jawaban yang tepat, karena tidak mungkin mas Wahyu mengatakan jika Galaksi ingin tinggal berempat seperti keluarga normal pada umumnya.
"Nabila yang minta, Bu. Nabila pengen belajar mandiri,"timpalku membantu suamiku menjawab pertanyaan ibu.
Ibu menghela nafas panjang. "Jika itu sudah menjadi keputusan kalian berdua, ibu bisa apa? Ibu hanya bisa mendukung kalian."
"Terima kasih, Bu,"ucap mas Wahyu.
"Iya, Nak. Ibu hanya berpesan pada kamu, jaga dan sayangi istri dan anak-anakmu."
"Iya, Bu. InsyaAllah aku akan menjaga mereka."
Aku melirik kearah Kaisar yang terlihat gelisah duduknya, apa dia keberatan dengan kepindahan kami? Atau ada hal lain yang membuatnya gelisah?
Pembahasan tentang kepindahan kami sudah selesai. Ibu sudah memberi izin mas Wahyu untuk membawa aku dan anak-anak pindah.
"Mm... Anu, Mbak. A-aku mau ngomong sesuatu,"ucap Kaisar gugup.
"Kamu kenapa jadi gugup gitu? Mau ngomong apa?"
"Mungkin Uncle Isar mau melamar kekasihnya, Ma. Jadinya gugup gitu deh,"ledek Galaksi terkekeh.
"Beneran, Sar?"tanyaku tak percaya.
Kaisar tidak menjawab, ia bersimpuh di kaki ibu dan menggenggam tangannya. Aku tidak berkata apa-apa lagi, karena aku sudah tahu jawabannya.
Aku akan sangat senang jika Kaisar menikah, itu artinya ibu tidak akan merasa kesepian di rumah ini.
"Kamu kenapa, Nak?"
"A-aku mohon restu Ibu untuk melamar anak gadis orang, Bu,"ucap Kaisar gugup.
Aku melotot karena terkejut, refleks ku tutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku tidak menyangka jika adikku sudah dewasa dan akan segera melamar anak gadis orang.
Kulihat tangan ibu memegang rahang Kaisar, ibu sedikit mengangkat kepala Kaisar yang sempat menunduk.
Ibu tersenyum. "Siapa gadis itu, Nak?"tanya ibu lembut.
__ADS_1
"Ibu dan Mbak Nabila kenal orangnya,"jawab Kaisar pelan.
Keningku mengkerut mendengrar jawaban Kaisar, selama berada di Jakarta ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain Clara.
"Ibu dan aku mengenalnya? Jangan-jangan dia...."tebakku dalam hati, "Jika memang benar dia, aku akan sangat tenang menikahkan adikku dengannya."
"Siapa, Nak? Apa dia orang Pontianak?"
Kaisar menggeleng. "Bukan, Bu. Dia sekarang ada di Jakarta, dan sering berada didekat keluarga kita."
"Jangan membuat ibu penasaran, Nak."
"Uncle nggak usah pake teka-teki, kasihan Nenek sangat penasaran dengan calon mantunya,"sahut Galaksi gemas dengan Kaisar.
"Kamu tahu calonnya Kaisar, Mas?"tanyaku berbisik di telinga mas Wahyu.
Bukannya menjawab, mas Wahyu malah terkekeh, membuatku kesal saja. Aku mencebik, menatapnya kesal.
"Se-sebenarnya a-aku dan... A-aku,"ucap Kaisar gugup.
"Tarik nafas dulu, Nak."
"Iya, Bu."
Karena gugup adikku ini jadi gugup, ia mulai mengatur pernafasannya, ia menarik dan menghembuskannya pelan.
"Sudah merasa lebih tenang?"tanya ibu.
"Alhamdulillah udah, Bu."
"Sekarang katakan siapa gadis itu,"pinta ibu.
"Clara!"
Duarrr
Nah kan, apa aku bilang. Pasti gadis itu nggak lain ya Clara. Siapa lagi gadis yang dekat dengan keluarga kita selain Clara di kota ini.
"Kamu nggak lagi bercanda kan, Nak?"tanya ibu tak percaya.
"Isar serius, Bu. Isar ingin segera melamar Clara didepan keluarganya."
"Apa tanggapan Clara tentang ini?"tanya ibu serius.
"Clara setuju, Bu. Kami memang sepakat untuk membahas ini setelah resepsi Mbak Nabila selesai."
"Kapan rencana kamu akan melamarnya, Dek?"tanyaku.
"Minggu depan, Mbak. Hari sabtu berangkat ke kota Clara, minggunya lamaran. Apa Mbak dan Mas Wahyu mau mengantar Isar melamar Clara?"
"Tentu, tentu mbak akan mengantar kamu,"jawabku menahan tangis haru.
"Kita semua akan berangkat di jumat malam setelah pulang dari kantor. Kita juga butuh istirahat saat tiba disana agar terlihat segar tiba dirumah mempelai wanita."
__ADS_1
"Saya setuju dengan, Papa,"timpal Galaksi.