Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Peresmian


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh Nabila akhirnya tiba juga. Ia sibuk mempersiapkan keperluan untuk peresmian, dari mulai makanan, minuman sampai bingkisan untuk tamu undangan ia siapkan.


Syukuran sekaligus peresmian diadakan secara sederhana dengan hanya mengundang tetangga kompleks, dan anak yatim.


"Gimana semua persiapannya, Mbak? Apa masih ada oerlu disiapkan."


"Alhamdulillah, semua sudah siap, Sar. Kita tinggal siap-siap aja."


"Mbak siap-siaplah, ada Ibu yang jemput tamu di depan."


"Iya, kamu juga sana siap-siap, Sar."


"Mbak duluan aja, kita gantian pakai kamar bermain untuk siap-siap."


Nabila mengangguk, "Baiklah. Kamu disini temani Ibu lebih dulu!"


"Sana buruan, Nak. Untuk sementara ibu yang gantikan kamu terima tamunya,"sahut ibu Ros.


"Iya, Bu."


Acara di adakan di halaman rumah, Kaisar menyewa tenda untuk dipasang. Semua tamu undangan sudah datang, acara pun dimulai. Ustad membacakan doa untuk kelancaran usaha yang dibangun Nabila. Setelah itu sesi pem0tongan pita di depan pintu utama yang dilakukan oleh Nabila.


"Ibu, tolong dampingi Nabila menggunt1ng pintanya!"pinta Nabila pada ibunya.


"Apa tidak masalah, Nak?"tanya ibu Ros ragu-ragu dan takut akan mengacaukan acara dan usaha anaknya.


"Tidak, Bu! Justru karna didampingi dan doa Ibu, InsyaAllah semua akan berjalan lancar dan sukses,"sahut Nabila.


Ibu Ros menatap anaknya dan Clara bergantian. Kaisar tersenyum dan mengangguk menatap ibunya.


"Ayo, Bu. Lakukanlah,"pinta Clara merangkul bahu ibu Ros.


"Baiklah, Nak."


Nabila dan ibu Ros sudah sama-sama memegang gunt1ng yang dihias dengan pita kecil, dengan sebelah tangan masing-masing memegang pita.


Suara tepukan bergemuruh dari para tamu undangan, bergantian memberikan selamat pada Nabila dan ibu Ros.


Raksa ikut bersorak di dalam gendongan Wahyu yang menyaksikan Nabila selesai menggunt1ng pita. Suara tepuk tangan dari tangan mungil anaknya membuat Nabila menitikkan air mata.


"Teruslah tersenyum dan bertepuk tangan, Nak. Ibu akan melakukan yang terbaik untuk kamu. Ibu akan jadikan usaha ini sebagain tabungan masa depan kamu,"ucap Nabila dalam hatinya.


"Raksa mau ke ibu?"tanya Wahyu berbisik.


"Iya mau, Pa."


Wahyu menurunkan Raksa dari gendongannya, "Ayo, Nak. Sana ke ibu!"


Raksa berlari kecil mendekati ibunya, Nabila yang melihat anaknya mendekat merentangkan tangan menyambutnya ke dalam pelukannya.


"Ibu..."panggil Raksa.

__ADS_1


"Kenapa, Nak?"tanya Nabila lembut.


"Aksa sayang, Ibu..." Raksa merangkul leher ibunya.


"Ibu juga sayang sama Raksa. Jadilah kebanggan ibu dan keluarga, Nak." Nabila menc1umi wajah anaknya.


Raksa terkiki geli berusaha ber0ntak menjuhkan wajahnya dari s3rang4n ibunya.


"Nabila?"


Nabila menghentikan aksinya dan menoleh ke sumber suara yang memanggilnya, "Iya, Pak?"


"Selamat ya... Semoga usaha kamu ini membuahkan hasil dan sukses!"


"Terima kasih, Pak,"jawab Nabila singkat.


"Iya. Kamu wanita hebat dan kuat, sedari awal memang saya sudah yakin kalau kamu pasti melewati semuanya. Sekarang sudah terbukti!"


"Pak Wahyu terlalu memuji, saya tidak sehebat dan sekuat yang Bapak lihat. Saya juga belum bisa membuktikan apa-apa,"jawab Nabila merendah.


"Jangan terlalu merendah, usaha ini juga sudah menjadi bukti perjuangan kamu."


Belum Nabila menjawab, Clara tiba-tiba datang bergabung.


"Mbak Nabila... Selamat ya, saya doakan usaha Mbak berjalan lancar dan sukses kedepannya,"ucap dan doa Clara.


"Aamiin... Terima kasih ya, Ra. Ini juga berkat dukungan dan bantuan dari kamu."


"Sudah, jangan dibahas lagi! Sekarang nikmati semua jamuan yang sudah tersedia,"sahut Kaisar yang tiba-tiba muncul.


"Kamu benar, Sar. Ini dari tadi saya tunggu, ajakan makan. Hahaha,"sahut Clara terkekeh.


"Pak Wahyu, silahkan nikmati jamuannya. Maaf, seadanya."


"Kamu selalu saja merendah. Ini sudah sangat luar biasa. Kamu menyiapkan semuanya dengan sempurna,"puji Wahyu.


Nabila terkekeh, "Pak Wahyu ini selalu saja memuji secara berlebihan."


"Apa kamu mau menemani saya menikmati hidangannya?"


Nabila berpikir sejenak, menimang-nimang hal yang akan dilakukannya, "Baiklah, Pak. Mari, silahkan!"


Wahyu menjadi sumringah bisa makan bersama dengan Nabila meskipun bukan makan berdua.


Sementara itu, Kaisar dan Clara saling berbisik dan menatap pemandangan yang langkah terjadi.


"Sar... Sepertinya setelah masa iddah selesai. Mbak Nabila akan segera melepas status jandanya,"bisik Clara.


"Sepertinya begitu, Ra. Saya tidak meminta lebih, saya cuma mau kakak saya satu-satunya bahagia dunia akhirat setelah sebelumnya menderita berumah tangga dengan ayah Raksa,"sahut Kaisar dengan mata berkaca-kaca.


"Aamiin... Semoga pak Wahyu bisa menjadi iman yang baik untuk mbak Nabila."

__ADS_1


Kaisar terharu melihat kakaknya bidmsa tertawa lepas dan sudah membebaskan dirinya bergaul dengan pria dengan sewajarnya.


Tepukan dipundak Kaisar membuat lamunannya buyar, "Ibu?"


"Kenapa, Nak?"tanya ibu Ros mengusap lembut rambut anaknya.


Kaisar menggeleng, "Tidak, Bu,"jawabnya.


"Jangan pernah sekali-kali bohongi ibu, Nak. Ibu tahu apa yang sedang kamu pikirkan,"ujar ibu Ros lirih.


Kaisar menoleh menatap ibunya dan menggenggam tangannya, "Ibu tidak perlu memikirkan apapun. Kaisar akan memastikan kebahagian Ibu dan mbak Nabila,"ucapnya tegas.


"Terima kasih, Nak. Maaf, diusia mu yang masih sangat muda kamu menggantikan peran ayah dihidup kita."


"Ini sudah menjadi tanggung jawab Kaisar, Bu."


"Yuhuu... Ada yang mau bantu saya menghabiskan eskrim ini?"pekik Clara meletakkan eskrim dengan cup besar dan tiga sendok plastik di atas meja.


Mata Kaisar mel0tot melihat eskrim yang diambil Clara, "Apa yang kamu pikirkan? Kenapa harus mengambil eksrim dengan cup besar begini?"


Clara terkekeh, "Saya khilaf, Sar. Mau dibalikin juga saya nggak enak sama mas-mas yang menjaga di stand eskrim."


"Sudah! Karna eskrimnya sudah ada didepan kita jadi ayo kita habiskan sebelum mencair,"sahut ibu Ros memecah perdebatan tidak berfaedah dari Clara dan Kaisar.


"Nah, ini baru bener, Sar. Ayo kita nikmati eskrimnya,"celetuk Clara.


"Iyaiya. Siap tuan putri raja,"sahut Kaisar kesal.


Kaisar yang tidak begitu menyukai rasa manis berlebihan dengan perasaan terpaksan dan sedikit d0ngkol, Kaisar makan eskrim dengan pelan dan ragu-ragu.


"Kenapa makan cuma sampai ujung depan sendok? Makan yang banyak, Sar!"tegur Clara greget melihat tingkah Kaisar.


"Jangan ganggu saya! Saya sedang meresapi cita rasa eskrim ini,"sahut Kaisar cuek.


Clara mendelik, "Sok-sokan meresapi, padahak kamu ennek kan sama rasanya yang terlalu manis?"cibir Clara.


"Sok tahu kamu! Sudah, lebih baik kamu makan aja!"


Clara kembali fokus menikmati setiap suapan eskrimnya, "Hmm... Ini baru namanya enak, rasa manisnya pas,"puji Clara seraya memejamkan matanya.


"Manis berlebihan begini dibilang pas? Lidah apa yang dipakainya,"gumam Kaisar.


Ibu Ros terkekeh mendengar gerutu anaknya, "Shutt... Selera wanita dan pria memang beda. Wanita lebih suka manis yang seperti ini, apalagi kalau hati lagi galau-galaunya,"ujarnya terkekeh.


Kaisar menoleh menatap tak percaya pada ibunya, "Astaga... Bu? Darimana Ibu tahu tentang galau-galauan?"tanysnya pemuh selidik.


Ibu Ros menjadi salah tingkah, "Eh.. Anu, Nak. Itu..."


"Anu apa, Bu?"


Ibu Ros bangkit dari duduknya, "Sudah, jangan bahas ini lagi. Ibu mau bermain dengan Raksa dulu." Ibu Ros berlalu melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Kaisar dan Clara.

__ADS_1


__ADS_2