
Beberapa hari berlalu, Nabila masih sibuk bekerja diperusahaan suaminya dan disibukkan memantau perkembangan rumah konveksi miliknya.
Nabila memasuki ruangan suaminya dengan membawa tumpukan yang akan ditanda tangani suaminya alias bosnya di kantor.
"Ini berkasnya, Mas. Di cek dulu sebelum tanda tangan, karena tadi aku melihat ada berkas uang sedikit mencurigakan,"ucap.Nabila.
"Mencurigakan bagaimana, Sayang?"tanya Wahyu menatap istrinya.
"Ada perusahaan yang ingin mendapat untung lebih besar dengan menipu perusahaan ini, Mas."
"Mana berkasnya?"tanya Wahyu santai.
"Aku simpan yang paling atas, kamu baca baik-baik dulu, Mas."
"Iya, Sayang. Terima kasih kamu sudah sangat teliti dengan berkas-berkas penting ini."
"Ini sudah menjadi pekerjaan aku, Mas."
"Kamu hebat, Sayang,"puji Wahyu bangga membuat wajah Nabila bersemu merah karena malu.
"Jangan gombal deh, Mas. Udah ah, aku mau balik keruangan,"ucap Nabila salah tingkah.
"Idih... Siapa juga yang gombal? Itu kenyataan, sayang! Kamu jangan balik dulu, mas ada yang perku dibicarain sama kamu."
"Apa, Mas?"tanya Nabila penasaran.
"Kamu duduk dulu deh,"pinta Wahyu gemas.
Krek
Nabila menari kursi dan duduk tepat didepan suaminya.
"Udah, sekarang ayo katakan apa yang mau mas sampaikan,"ucap Nabila.
"Gimana perkembangan rumah konveksi, Sayang?"
"Alhamdulillah pesanan akhir-akhir meningkat pesat. Rencana aku mau nambah karyawan, Mas. Tapi, kalau nambah pasti ruang produksi makin sesak,"jawab Nabila.
"Gimana kalau untuk ruang tamunya ditiadakan aja dulu, Sayang. Untuk sementara dijadikan untuk produksi barang,"ucap Wahyu memberikan solusi.
Nabila diam, ia nampak memikirkan solusi dari suaminya.
"Seperti memang harus seperti itu dulu, Mas. Nanti jika ada waktu luang aku akan berkunjung untuk memantau. Aku mau sebar lowongan kerja via sosmed aja,"ucap Nabila menyetujui ucapan suaminya.
"Gimana kalau pulang kantor kita berkunjung?"
"Nggak bisa, Mas. Karyawan konveksi juga udah pada pulang, Mas."
"Mereka nggak lembur?"
"Nggak, Mas. Aku kasihan sama mereka jika harus lembur, apalagi ada anak-anak yang ikut ketempat kerja."
"Yaudah... Besok aja kita berkunjung sebelum ke kantor."
__ADS_1
"Iya, Mas. Tapi, kenapa malah Mas yang ngebet berkunjung kesana?"tanya Nabila memicingkan matanya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Mas cuma ingin memastikan pekerjaan kamu baik-baik aja, apalagi sudah seminggu ini kamu belum berkunjung kesana loh,"jawab Wahyu.
"Ooh gitu ya?"
"Iya, Sayang."
"Oke, sekarang Mas lanjutin aja periksa laporannya, aku juga mau balik keruangan."
"Iya, Sayang,"jawab Wahyu, "Kamu udah nelfon ke rumah buat pantai Raksa?"
"Udah, Mas. Raksa anteng kok, ada Galaksi juga yang jaga."
"Loh? Galaksi nggak ngampus?"
"Katanya udah pulang, Mas. Semua dosen rapat,"jawab Nabila.
"Ooo,"sahut Wahyu manggut-manggut.
"Iya, aku keluar, Mas,"pamit Nabila beranjak dari duduknya.
"Iya, Sayang."
Sementara Nabila sedang sibuk dengan pekerjaannya, berbeda dengan Caca dan Sari yang sedang kebingungan mencari alamat rumah Nabila.
"Ini kita mau cari kemana lagi sih, Ma?"tanya Caca kesal.
Caca berdecak. "Gimana bisa tahu sih, Ma. Kita aja nggak pernah bertegur sapa dengannya, apalagi mau bertanya dimana dia bekerja,"jawab Caca cemberut.
Wajah Sari memberenggut kesal. "Terus ini gimana caranya untuk menemukan alamat Nabila? Emang kamu nggak tahu nomor adiknya Nabila?"
"Mana aku tahu, Ma. Kita aja ketemu pas mereka bebasin anak kak Sam dari sandra4n kita,"jawab Caca.
"Kamu ini bisanya jawab aja,"ucap Sari kesal.
"Lah, kan Mama nanya, ya aku jawab dong. Nanti giliran nggak dijawab Mama makin ngomel-ngomel,"sahut Caca.
"Mama laper, kita cari makan dulu baru setelah itu lanjtukan pencarian,"ucap Sari.
"Oke, kita cari restoran terdekat,"sahut Caca semangat.
"Ck! Giliran makan aja semangat banget, makan juga nggak ditraktir ya pasti rasanya biasa-biasa aja,"ucap Sari mencebik.
"Udah deh, Ma. Jangan mulai lagi, tadi katanya laper,"timpal Caca jengah.
Mereka tiba di sebuah restoran yang cukuo besar, untuk hal seperti itu mereka sudah merasakan. Itupun dari uang hasil n1ou Nabila dulu.
"Papa, sama kakak kamu dikampung lagi pada ngapain ya, Ca?"tanya Sari pelan ketika pelayan berlalu kebelakang.
"Pasti semua udah berankat kerja, Ma. Emang dasar mereka aja yang g0bl*k nggak pintar cari uang yang hasilnya lumayan banyak. Mereka jadi sok suc1 sejak keluar dari t4h4nan,"jawab Caca sebal, "Apalagi Cici. Dia sekarang makin nggak asyik diajak ngobrol,"lanjut Caca misu-misu.
"Iya, mama kesal sama mereka tuh. Nggak bisa lagi mereka diajak kerjasama,"sahut Sari.
__ADS_1
"Selamat makan dan selamat menikmati,"ucap pelayan dengan ramah.
"Kita makan dulu, Ma."
"Iya."
Keduanya menikmati makanan yang tersaji diatas meja dengan lahap, tanpa ada percakapan yang berarti diantara keduanya.
Setelah selesai makan, Caca memanggil pelayan untuk meminta bill. Setelah menyelesaikan pembayaran, keduanya meninggalkan restoran.
"Ini kita kemana habis dari sini, Ma?"tanya Caca celingukan mencari taksi.
"Mama nggak tahu, Ca. Bagusnya kamu cari pelanggan disini, sekalian sambil cari-cari Nabila kan."
"Aku belum punya kenalan di kota ini, Ma. Gimana mau punya pelanggan coba."
Sari berfikir bagaimana cara mendapat pelanggan baru yang akan menghasilkan uang sangat banyak.
Pandangan Sari terpaku pada seorang pria yang ada diseberang jalan, tepat dihadapan mereka. Caca merasa heran dengan reaksi mamanya yang tiba-tiba menatap lurus kedepan.
"Mama lagi liatin apa sih?"tanya Caca, namun tak mendapat jawaban. Karena pertanyaannya diabaikan, Caca memilih mengikuti arah pandang mamanya.
Kening Caca mengernyit. "Itu yang menjadi target Mama untuk menghasilkan uang?"tanya Caca to the point.
"Iya! Kamu perhatikan pakaiannya, dari atas sampai bawah semuanya bermerk. Belum lagi wanita yang disampingnya, pasti wanita itu yang menjadi sebagai p3mu*s n*fs* b3j*t pria tua itu,"jawab Sari.
"Oke! Kita tunggu mereka disini, lalu kita ikuti kemana tujuan mereka. Aku akan mencari cara untuk menggaetnya,"ucap Caca setuju.
"Taksi sudah dapat, ayo kita masuk. Seperti pria itu juga akan segera menjalankan mobilnya,"ucap Sari.
"Jalan, Pak. Ikuti mobil didepan itu, usahakan jangan sampai ketahuan,"titah Caca cepat ketika melihat incarannya melajukan mobil.
"Apa ada masalah, Mbak?"tanya sang sopir taksi, namun tetao melajukan t4ksinya.
"Itu papa saya, Pak. Sepertinya papa saya sedang selingkuh, ini Mama saya istrinya,"jawab Caca asal.
Mata Sari melot0t mendengar kebohongan Caca, ia tak habis fikir bagaimana bisa Caca bisa membuat kebohongan dengan begitu cepat.
"Ikuti aja apa yang aku bilang, Ma,"bisik Caca begitu melihat bib1r mamanya akan berkomentar.
"Kalau begitu mari kita ikuti papanya, Mbak. Saya paling tidak suka dengan berb4u-bau selingkuh,"ucap sopir taksi tersebut.
"Iya, Pak. Kami ingin meminta penjelasan dengan papa saya itu, karena jika menunggu dirumah papa saya tidak pernah pulang lagi sejak gelagat anehnya muncul,"sahut Caca semangat.
Sementara itu, Sari hanya melong* mendengar kebohongan demi kebohongan yang diungkap oleh anaknya itu.
"Ck! Ternyata anakku ini mewarisi ot4k cerdasku,"monolog Sari merasa bangga.
"Pasang wajah sedih, Ma,"bisik Caca.
Sari pun langsung berakting sedih, ia sudah seperti istri yang paling tersakiti.
"Mama yang sabar ya. Caca akan pastikan papa kembali sama Mama lagi,"ucap Caca sembari mengusap punggung mamanya seolah-olah menguatkan.
__ADS_1