Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Shoping, kemana mereka?


__ADS_3

Tiba di mall terbesar yang ada di Jakarta, Nabila mengajak suami dan anak-anaknya menuju toko yang menjual perabotan rumah tangga.


Dengan serius Nabila memilih barang yang sekiranya dibutuhkan dirumah baru mereka. Nabila mengambil beberapa lusing piring makan, piring untuk lauk serta mangkuk-mangkuk. Dan tidak lupa juga Nabila mengambil alat masak seperti teflon stein cookware dan lain-lainya.


Dengan setia anak dan suaminya menemani Nabila mengelilingi toko demi mencari barang yang diinginkan Nabila.


"Kayaknya itu aja udah cukup deh,"ucap Nabila.


"Kamu yakin, Sayang?"


"Yakin, Mas. Untuk saat ini kita beli yang perlu-perlu aja dulu, alat makan dan masak udah semua,"jawab Nabila.


"Sendok, garpu dan p1s4u gimana, Sayang?"


Nabila menepuk keningnya, ia melupakan alat yang disebutkan suaminya. "Untung kamu ingatkan, Mas,"ucap Nabila, "Yaudah, ayo kiya cari sendok garpunya,"ajak Nabila, sementara wahyu ikut dibelakang Nabila dengan mensorong trolly yang hampir penuh dengan belanjaan Nabila.


"Tadi aku liat sendoknya ada rak disebelah sana, Ma,"ucap Galaksi menunjuk kearah rak bagian tengah.


"Kenapa nggak bilang dari tadi sih, Gala,"omel Nabila.


"Aku fikir Mama nggak akan beli sendok, jadi aku cuek aja,"jawab Galaksi cengengesan.


"Ya masa' kita nggak beli sendok sih, nanti makannya pake apa? Mau kamu makan cuma pakai tangan?"omel Nabila sembari melangkahkan kaki.


Sementara Nabila melihat-lihat sendok set yang ada di dalam kotak, Nabila memeriksa satu persatu sendok garpu stainless set komplit high quality.


"Aku ambil 3 kotak aja dulu ya, Mas?"tanya Nabila meminta pendapat suaminya.


"Terserah kamu aja, Sayang."


"Yaudah deh, Nih ambil 3 aja,"ucap Nabila, lalu memasukkan 3 kotak sendok garpu set ke dalam trolly.


"Ma, ini nggak sekalian beli yang beginian? Aku liat bibik dirumah kalau masak pakai ini untuk mengaduk masakannya,"celetuk Galaksi memegang spatula.


"Oh iya, untung kamu ingatkan, Nak,"sahut Nabila.


Nabila memilih spatula silikon set, belanjaan Nabila dominan berwarna hitam. Ia memang sengaja memilih warna hitam, agar lebih cocok dengan tema dirumah barunya. Hanya piring dan mangkuk yang berwarna putih. Karena tema dirumah barunya memang hitam putih.


Cukup lama Nabila di toko perabotan itu, Nabila type orang yang jika masuk satu tokoh, maka ia akan membeli sebuah yang dibutuhkan di satu toko itu.


Karena sudah merasa jenuh berada dalam toko perabotan itu, Raksa mulai merengek meminta untuk pindah tempat.


Nabila menatap anaknya dengan rasa bersalah, ia melupakan anaknya yang ikut dengan berbelanja.


"Belanja udahan aja deh, troklynya juga udah penuh,"ucap Nabila.

__ADS_1


"Yaudah ayo kita ke kasir,"ajak Wahyu mendorong trolly.


"Raksa niturunin aja, Nak. Raksa itu udah berat banget,"ucap Nabila pada Galaksi.


"Nggak berat, Ma. Nanti aki turunin kalau sudah kekuar dari toko ini,"ucap Galaksi santai.


Setelah menyelesaikan pembayaran yang harganya lumayan besar, namun bagi Wahyu itu tidak ada apa-apanya. Mereka keluar dari toko dan menuju restoran untuk makan siang.


Wahyu menggandeng tangan Nabila, dan Nabila mendorong stoller Raksa. Mereka sempat mampir di toko perlengkapan balita, Wahyu memilihkan stoller untuk Raksa.


"Coba dari tadi adek dibeliin Stoller, pasti adek lebih nyaman,"ucap Galaksi.


"Mama nggak kepikiran sampai kesana, Nak. Mama fikir Raksa udah nggak butuh beginian lagi,"ucap Nabila.


"Stoller yang ini bisa sampai Raksa 6 tahun, Ma,"ucap Galaksi.


Nabila hanya bisa tersenyum. "Ayo kita ke restorant, aku sudah lapar,"ajak Nabila terkekeh.


***


Sementara itu di Pontianak, setelah beberapa bulan bebas dari tahan4n Samudra, Cici dan Samad sudah mendapat pekerjaan yang tetap yang halal. Sedangkan Sari menjadikan Caca sebagai penghasil uang dengan cara apapun agar bisa menghasilkan lebih banyak uang dalam waktu satu malam.


Jam pulang kerja Samudra, Cici dan Samad dijam yang sama, pukul 5 sore, tiba di rumah mereka menemukan rumah dalam keadaan kosong. Biasanya Sari akan menyambut dengan berbagai repetan panjang karena bosan di rumah sepanjang hari.


"Papa juga nggak tahu, Ci. Mama juga nggak izin mau keluar,"sahut Samad.


"Mungkin mama ada urusan mendadak diluar tadi, Pa. Mau izin juga kan Papa ditempat kerja,"timpal Samudra.


"Iya juga ya... Paling bentar lagi mama pulang,"ucap Cici.


"Caca mana?"tanya Samad.


"Mungkin ikut mama, Pa,"jawab Cici santai.


Sampai menjelang jam 10 malam, Sari dan Cici belum juga kelihatan batang hidungnya membuat keluarganya khawatir.


"Kemana mereka? Kenapa sampai malam begini mereka belum juga pulang,"tanya Samad.


"Tahu nih mama sama Caca, dihubungi juga nomor mereka nggak ada yang aktif,"gerutu Cici.


Samudra tidak merespon apa-apa, ia memikirkan kemana kiranya mama dan adik bungsunya pergi tanpa mengatakan apapun.


"Kira-kira kemana ya mereka?"tanya Cici.


"Apa pakaian Caca masih ada didalam lemarinya, Ci?"tanya Samudra tiba-tiba, Cici menoleh cepat ke arah kakaknya.

__ADS_1


"Aku nggak periksa, Kak. Tapi, aku coba periksa dulu deh,"jawab Cici, kemudian ia melangkah cepat memasuki kamarnya dan buru-buru membuka pintu lemari milik Caca.


Cici terperangah menatap tak percaya begitu melihat isi lemari adik kembarnya.


"Pa, Kak,"panggil Cici berteriak.


"Kenapa, Ci?"tanya Samudra panik.


"Pakaian Caca sebagian nggak ada, Kak,"jawab Cici.


"Kemana Caca membawa pakaian tanpa pamit?"tanya Samad cemas.


"Pakaian mama gimana, Pa?"tanya Samudra.


"Ayo kita ke kamar, periksa isi lemari mama kalian,"ajak Samad.


Dengan langkah panjang, mereka segera memasuki kamar dan kembali dibuat tercengang begitu melihat isi lemari Sari.


"Berarti mereka pergi bersama,"tebak Samad.


"Tapi pergi kemana, Pa? Masa' ia mereka pergi tanpa pamit sama kita?"tanya Cici.


"Ini yang perlu kita cari tahu, tapi papa yakin mereka tidak akan pergi dari kota ini, mereka tidak punya pegangan uang lebih,"ucap Samad berusaha berfikir positif.


Samudra mengusap wajahnya kas4r, ia tak habis pikir dengan tingkah mama dan adik bungsunya.


"Jika memang mama dan Caca ingin pergi, kenapa tidak pamit? Setidaknya pamit salah satu dari kita, agar tidak kecarian seperti ini,"gerutu Samudra.


"Sudah, jangan terlalu diambil pusing, nanti jika uang mereka habis, mereka pasti akan pulang. Mama dan Caca juga sudah dewasa, sudah bisa berpikir mana yang baik dan tidak,"ucap Samad menenangkan anak-anaknya.


"Cici nggak yakin, Pa,"sahut Cici pelan.


"Tidak apa-apa, Nak. Pergi dari rumah sudah menjadi pilihan mama dan Caca, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mau dicari juga kita nggak tahu mau cari kemana,"ucap Samad.


"Mama dan Caca kenapa selalu membuat masalah. Mama juga kenapa makin tua, makin susah diatur,"gerutu Samudra.


"Sifat mama kamu sudah dari dulu sudah seperti itu, Sam. Dan itu tidak akan pernah berubah lagi,"sahut Samad.


"Tapi, Sam masih berharap mama bisa berubah jadi lebih baik lagi, Pa. Mama selama ini sudah dibut4kan oleh uang!"ucap Samudra lirih.


"Mau gimana lagi, itu sudah mend4r4h dag1ng dalam diri mama kamu. Papa sudah lelah menasehati, namun masuk telinga kanan, keluar telinga kiri,"ucap Samad menghela nafas kas4r, "Sebaikbya kalian kembali ke kamar, ini sudah tengah malam. Kita harus istirahat, karena besok harus kembali bekerja,"titah Samad.


"Iya, Pa,"jawab Cici pasrah, ia sadar apa yang dikatakan oleh papanya adalah hal yang benar.


"Papa juga istirahat,"ucap Samudra, lalu keluar dari kamar bersama Cici.

__ADS_1


__ADS_2