
Keesokan paginya, semua keluarga berkumpul di restoran hotel untuk sarapan bersama.
"Mbak Nabila dan pak Wahyu kemana sih?"gerutu Clara.
"Sabar... Kayak nggak tahu pengantin baru aja,"sahut Kaisar santai.
"Ya emang aku nggak tahu. Aku kan belum pernah menikah, jadi mana aku tahu,"sahut Clara sewot.
Sementara Clara dan Kaisar lagi dan lagi berdebat karna masalah sepeleh. Lain halnya dengan Galaksi yang tengah asyik mengajak adiknya bermain. Sementara ibu Rose menjadi pengamat bagi yang muda.
"Maaf, kami agak lama datangnya,"ucap Nabila yang sudah berdiri didekat meja makan.
"Iya nggak apa-apa, Nak,"sahut ibu Ros lembut.
"Silahkan duduk, Ma,"ucap Galaksi setelah menarik mundur kursi kosong untuk mamanya.
"Terima kasih, Nak,"ucap Nabila tersenyum.
Wahyu merasa senang melihat perhatian anaknya pada Nabila. Ia bersyukur anaknya menerima Nabila dengan lapang dada.
"Kalian sudah pesan makanannya?"tanya Wahyu begitu duduk disamping istrinya.
"Sudah tadi, Nak. Ibu juga sudah pesankan makanan untuk kalian,"jawab ibu Ros.
Setelah makanan sudah tersaji diatas meja, semua makan dalam diam.
"Mbak dan Pak Wahyu tadi ngapain aja di kamar? Kok lama banget keluarnya?"tanya Clara polos.
"Jangan nanya yang aneh-aneh,"bisik Kaisar.
Clara mendelik kearah Kaisar, lalu memalingkan pandangan kearah Nabila dan Wahyu secara bergantian.
Nabila meletakkan sendok dan garpunya diatas piring. Ia menjadi agak canggung mendengar pertanyaan Clara.
Nabila menjadi salah tingkah. "Itu tadi, anu..."
"Anu apa, Mbak?"tanya Clara tesenyum j4hil.
Mata Nabila celingukan. "Tadi setelah shalat subuh mbak tidur lagi, Ra. Capek banget kan kemarin seharian duduk dan berdiri diatas pelaminan,"ucap Nabila memberi alasan.
"Ooh tidur lagi karma capek ya, Mbak,"sahut Clara mengangguk paham, "Aku kira Mbak sama Pak Wahyu lagi bekerjasama membuqt adiknya Pak Galaksi dan Raksa,"goda Clara.
"Uhuk... Uhukkk..." Nabila terbatuk, ia tersedak makanan karna terkejut dengan godaan Clara.
"Ini minum, Sayang,"ucap Wahyu memberikan gelas berisi air.
Nabila menerima gelas tersebut dan meminumnya hingga gelas kosong.
"Makasih, Mas."
"Lanjutkan makannya! Tidak baik jika terlalu banyak ngobrol didepan makanan,"ucap ibu Ros.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka kembali ke kamar masing-masing dan bersiap untuk pulang ke rumah.
"Yakin kita ikut pulang hari ini, Sayang?"tanya Wahyu.
"Sangat yakin, Mas. Pekerja di tempst produksi sudah menunggu untuk di cek,"jawab Nabila santai.
"Tapi, mas masih mau disini, Sayang,"rengek Wahyu.
__ADS_1
"Yaudah, kalau gitu Mas tinggal aja dulu disini. Aku mau ajak anak-anak pulang ke rumah."
Wahyu menepuk keningnya. "Astaga, kenapa istriku jadi tidak peka begini sih,"gumam Wahyu.
Sedangkan Nabila menyembunyikan tawanya, ia tertawa dalam hati. "Emang aku nggak tahu apa yang dalam pikiran mu itu, mas,"monolog batin Nabila.
Nabila berbalik begitu koper sudah ditutup rapat. "Ayo, kita keluar sekarang. Nanti yang lain malah mikir yang nggak-nggak lagi tentang kita."
"Nggak apa-apalha, Sayang. Lagian sah-sah aja kalau kita lama-lama didalam kamar berduaan begini,"ucap Wahyu santai.
"Pokoknya kita pulang hari ini. Ayo cepetan kita keluar, pasti Raksa udah nungguin dari tadi."
"Iyaiya,"ucap Wahyu mengalah, "Siniin kopernya, biar mas yang bawa."
"Nah, gini kan jadi enak,"ucap Nabila sin1s.
"Ya ampun, istriku setelah memberikan jat4h kenapa malah semakin galak ya?"gumam Wahyu ikut melangkah keluar kamar hotel dibelakang istrinya.
Tiba di lobi ternyata benar, semua keluarga sidah berkumpul menunggu kedatangan pasangan pengantin baru.
"Semua sudah siap?"tanya Wahyu.
"Siap,"jawab Clara, Kaisar dan Galaksi kompak.
"Bagus kalau kompak gini. Udah cocok kalian jadi pengawal,"ledek Nabila.
"Enal aja pengawal. Jadi istri presiden harusnya, Mbak,"ucap Clara cemberut.
"Ahaha... Nggak usah cemberut begitu. Ayo kita berangkat,"ucap Nabila.
Mereka melangkah bersama menuju parkiran hotel setelah menyelesaikan proses check out sesuai prosedur.
"Ibu nggak apa-apa kita pisah mobil?"tanya Nabila.
"Yaudah, Bu,"ucap Nabila, "Kaisar, jangan ngebut bawa mobilnya,"titah Nabila pada sang adik.
"Siap, Mbak. Serahkan semua urusan Ibu sama aku, aku pastikan Ibu selamat sampai tujuan,"jawab Kaisar.
Meski tujuan mereka satu tempat, namun ibu Ros tidak ingin menganggu pendekatan satu keluarga baru tersebut.
Perjalanan pulang, suasana didalam mobil yang dikemudikan Wahyu menjadi ceria karna celotehan Raksa dan Galaksi.
"Sayang?"
"Iya kenapa, Mas?"
"Nanti setelah sampai rumah, mas mau membicarakan sesuatu yang penting sama kamu, cuma berdua,"ucap Wahyu.
"Masalah apa, Mas?"tanya Nabila berusaha tenang.
"Jangan tegang, Sayang. Ini nggak akan merugikan siapa pun, kok. Mas jamin itu,"ucap Wahyu menenangkan istrinya yang terlihat tegang.
"Gimana nggak tegang, Mas. Kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu, harusnya itu nanti dirumah aja bilangnya."
"Maaf, Sayang. Mas cuma nggak mau menunda. Mas yakin sampai di rumah pasti kamu langsung kontrol kebutuhan di dapur."
Nabila diam, ia membenarkan apa yang dikatakan suaminya. Karna ia merasa sudah sangat lama tidak belanja keperluan dapur.
"Gimana lagi, Mas. Kalau nggak gitu, kulkas kosong melompong."
__ADS_1
"Gini aja deh, Sayang. Gimana kalau kamu kasih uang belanja pada bik Minah, biar bik Minah yang belanja bulanan. Sekalian dikasi uang jalannya,"ucap Wahyu memberi solusi pada istrinya.
"Iya juga ya, Mas. Yaudah deh, mulai besok aku percayakan kebutuhan dapur pada bik Minah."
"Iya, Sayang. Kamu catat aja apa-apa saja yang mau dibeli oleh bik Minah, jadi saat belanja bik Minah nggak bingung."
"Iya, Mas. Nanti aku catat kebutuhan dapur,"ucap Nabila.
Tidak terasa mobil memasuki komplek perumahan. Mobil yang dikemudikan Kaisar terlihat sudah berhenti tepat di garasi rumah Clara.
"Kamu nggak langsung pulang kan, Gala?"tanya Nabila pada Galaksi sebelum turun dari mobil.
"Nggak, Ma. Ini juga hari libur, jadi aku mau puas-puasin main sama Raksa dirumah,"jawab Galaksi.
"Baguslah. Moment kayak gini kan jarang terjadi, apalagi kamu lagi aktif-aktinya di kampus."
"Iya, Ma,"sahut Galaksi sembari menatap penuh arti pada papanya.
Wahyu menganggukkan kepalanya tersenyum pada anaknya melalui cermin kecil.
"Ayo kita langsung ke kamar, Sayang,"bisik Wahyu saat berjalan menuju teras.
"Iya sabar, Mas,"jawab Nabila berbisik.
"Assalamualaikum,"salam semua orang kompak.
"Waalaikumssalam,"jawab bik Minah tergopoh-gopoh dari arah dapur.
"Nyonya dan Tuan sudah pulang, kopernya biar saya yang bawa tuan,"ucap bik Minah pada Wahyu.
"Tidak usah, Bik. Tolong bantu Ibu aja,"tolak Wahyu.
"Baik, Tuan."
"Mari, Ibu Sepuh,"ucap bik Minah.
Karna rasa lelah perjalanan dari hotel. Tidak ada yang sadar dengan panggilan baru dari bik Minah untuk ibu Ros.
"Sekarang katakan, apa yang mau Mas bahas?"tanya Nabila begitu memasuki kamar.
"Mmm... Sayang, apa kamu keberatan jika kita tinggal di rumah utama?"
"Rumah utama? Rumah yang Galaksi tinggali sekarang, Mas?"
"Iya, Sayang."
"Nggak, Mas. Itu rumah sepenuhnya milik Galaksi, aku nggak mau mengangguk hak Galaksi,"tolak Nabila tegas.
"Tapi, Galaksi mau kita tinggal bersama, Sayang."
Nabila diam sejenak, ia mencerna perkataan suaminya yang mengungkap keinginan anaknya.
"Kenapa tidak tinggal disini aja, Mas?"
"Galaksi tidak mau, Sayang. Katanya rumah ini sudah sah menjadi milik kamu."
Nabila menghela nafas panjang. "Oke, gini aja deh, Mas. Aku mau pindah, tapi bukan di rumah Galaksi."
Wahyi bersemangat. "Baiklah, Sayang. Mas akan beli rumah baru untuk kita tinggali berempat."
__ADS_1
"Boleh, Mas. Tapi aku mau rumahnya yang sederhana saja."
"Sesuai keinginan kamu, Sayang."