Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Makan siang lengkap


__ADS_3

Mata Wahyu melot0t percaya mendenger ledekan anak bujangnya itu. "Apa kamu bilang? Papa lama menjomblo itu karna ingin fokus merawat kamu,"elak Wahyu.


"Alah... Papa ini, dikira Gala nggak tahu apa, kalau kriteria wanita idaman Papa sangat tinggi, untung semua kriteria yang Papa maksud ada di ibu Nabila,"ledek Galaksi.


"Udah udah, sekarang kamu ketuk pintu ruangan ibu kamu,"titah Wahyu mengalihkan perhatian anaknya.


"Iyaiya, Pa. Makanya lain kali jangan abaikan pertanyaan ibu. Apalagi kalau lagi kedatang tamu bulanan, ysng emosinya mudah naik turun."


Wahyu memicingkan mata menatap curiga pada sang anak. "Kenapa kamu banyak tahu tentang wanita? Yang papa tahu kamu dari lahir sampai sekarang belum pernah dekat dengan perempuan manapun,"selidik Wahyu.


"Papa jangan salah sangka, Gala tahu itu karna teman-teman dikampus ada yang curhat masalah wanita mereka."


"Oo gitu..."


Galaksi mengangguk cepat, ia lalu mengetuk pintu ruangan ibu tirinya.


-Tok tok tok-


"Ibu, ini saya Gala,"ucap Galaksi, ia tidak takut akan ada yang mendengarnya memangil Nabila dengan sebutan ibu, karna di lantai tempatnya berpijak saat ini tidak semua karyawan memiliki akses untuk ke lantai tersebut.


"Bentar, Nak,"jawab Nabila dari dalam yang samar-samar didengar oleh Galaksi.


"Dengar, Pa. Gala aja cuma sekali manggil ibu, udah ada respon dari dalam,"ledek Galaksi.


Wahyu tidak terima, ia menggeser tubuh anak dari depan pintu. "Kamu balik ruangan sana. Papa mau bujuk ibumu dulu,"titahnya.


Galaksi mencebik. "Giliran kayak gini Gala udah diusir aja,"ucapnya kesel, lalu pergi meninggalkan papanya.


Suara cekikikan terdengar keluar dari mulut Wahyu, membuat Galaksi tersenyum bahagia.


"Semoga papa selalu bahagia bersama keluarga barunya,"ucap Galaksi dalam hatinya.


-Cklek-


"Mas Wahyu? Galaksi mana?"tanya Nabila celingukan mencari anak tirinya.


"Galaksi masuk ke ruangan, katanya ada hal penting uang mau diurua sebelum cuti panjang dari kantor ini,"jawab Wahyu santai, lalu melangkah melewati istrinya yang terbengong.


"Anak papa masih tidur ternyata,"gumam Wahtu tersenyum melihat Raksa yang masih pulas tidurnya.


"Kenapa Raksa dipindahin, Sayang?"


"Kalau di kamar nggak ada yang jaga, aku lagi banyak kerjaan. Mas juga kan masih sibuk sama para dewan direksi, jadi aku bawa kesini aja. Bisa liatin Raksa sambil kerja,"jawab Nabila cuek.


Wahyu mendekati istrinya yang sudah duduk dikursi kerjanya. Ia merangkul istrinya dari belakang.


"Sayang, maafkan mas ya? Mas salah sudah mengabaikan setiap pertanyaan kamu,"bujuk Wahyu.

__ADS_1


"Sudahlah, Mas. Lupakan aja, toh nggak penting juga. Lagian kalau aku ngambeknya lama, nanti aku dibilangin childish."


"Siapa yang berani mengatakan hal seperti itu sama kamu, Sayang?"


"Untuk sekarang belum ada ya, Mas. Tapi entah nanti gimana, bisa aja netijen yang budiman yang melakukannya,"jawab Nabila santai.


"Bilang sama mas kalau ada yang mengatai kamu seperti itu,"ucap Wahyu.


"Nanti aku rekam deh kalau ada. Sekarang lepasin tangan Mas dari badan saya, karna saya mau lanjut periksa laporan mingguan,"titah Nabila.


"Mas akan lepasin kalau kamu nggak ngambek lagi,"ucap Wahyu manja.


"Aku udah nggak marah, Mas. Hari ini aku sangat sibuk, belum pupang dari kantoe langsung ke tempat produksi mau meriksa laporan penjualan mingguan,"ucap Nabila.


Sebagai suami yang pengertian dengan kesibukan sang istri, Wahyu tidak ingin lama bermanja-manja jika masih berada dilingkungan perusahaan.


"Tapi kamu beneran nggak ngambek lagi kan, Sayang?"tanya Wahyu ingin memastikan.


"Iya nggak, Mas. Aku tuh cuma kesel sama kamu, tapi sekarang udah nggak lagi,"jawab Nabila greget.


"Syukurlah, kalau gitu mas balik keruangan dulu. Galaksi udah nunggu diruangan dari tadi."


"Yaudah sana, Mas. Kasian Gala, nunggu itu melelahkan, Mas."


"Iyaiya, Sayang,"ucap Wahyu, "Nanti kalau Raksa udah bangun, tolong di antar keruangan, Mas ya?"


"Iya, Mas. Lagian semua mainan dan keperluan Raksa ada diruangan kamu, kok."


"Iya, Mas."


Wahyu keluar ruangan istrinya dengan senyum mengembang. Galaksi yang melihat senyuman papa menjadi sedikit jengah.


"Udah deh, Pa. Hentikan senyuman itu, Gala jadi iflil liatnya,"ucap Galaksi sin1s.


"Apaan sih, iri aja kamu liat papa bahagia,"sahut Wahyu sewot.


"Bukan iri, Pa. Tapi lebih ke malu, nanti orang sangka Papa jadi g1la karna senyum-senyum sendiri seperti itu,"ledek Galaksi.


"Dasar anak s3mprul. Kurang aj4r kamu ya ngatain orang tua sendiri g1l4,"omel Wahyu sambil men4rik telinga anak bujangnya.


"Aduh... Ampun, Pa. Lepasin telinga Gala, putus nanti,"ringis Galaksi.


"Ada apa ini?"tanya Nabila mengangetkan anak tiri dan suaminya. Sementara tangan Nabila menutup mata anaknya Raksa.


"Lepasin tangan Mas dari telinga Galaksi,"ucap Nabila pelan.


"Eh iyaiya, ini udah dilepas kok,"ucap Wahyu spontan melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Hampir aja telingaku lepas dari tempatnya,"gumam Galaksi.


"Papa,"panggil Raksa manja.


"Kenapa, Nak? Mau digendong sama papa?"tanya Wahyu lembut dan dijawab anggukan oleh Raksa.


Wahyu mengambil alih Raksa ke dalam gendongannya, sementara Nabila membuka kotak makan yang dipesannya tadi.


"Kamu kapan pesan makannya?"tanya Wahyu.


"Tadi waktu Mas keluar ruangan."


"Ooh... Yaudah, ayo kita makan. Mas udah laper banget ini,"ucap Wahyu.


"Kalian cuci tangan dulu,"titah Nabila tegas.


"Ayo kita cuci tangan dulu, Nak,"ajak Wahyu pada anak-anaknya.


"Baru kali ini kita diperintah oleh wanita, Pa,"bisik Galaksi.


"Sudah, diam. Jangan banyak bicara kamu,"tegur Wahyu berbisik.


Di lantai yang berbeda, namun di gedung yang sama. Clara mulai menggerutu karna merasa lelah menunggu Nabila yang tak kunjung muncil batang hidungnya.


"Bisa tidak kamu diam, telingaku sakit mendengar suara cemprengmu itu,"ucap Kaisar mengejek.


"Kamu telfon mbak Nabila deh, Sar. Ini kok udah setengah kita nunggu disini, tapi kok belum datang juga orangnya."


"Yaa nggak mungkin datang lah, pasti mbak Nabila makan bersama keluarga kecilnya di ruangan pak Bos,"ucap Kaisar santai.


Clara terperangah mendengar pernyataan Kaisar barusan. "Co-coba kamu ulangi lagi tadi, Sar,"ucapnya berubah jadi gagap.


Kening Kaisar mengkerut melihat reaksi Clara. "Apanya yang diulangi?"


"Yang tadi kamu katakan itu."


"Mbak Nabila makan bersama keluarha kecilnya?"


"Nah itu dia. Ja-jadi dari tadi kita nunggu orang yang lagi bahagia ngumpul keluarga, sedangkan kita disini kelaparan,"ucap Clara mendramaris.


"Udah deh.. Nggak usah lebay gitu kenap sih,"ucap Kaisar santai.


"Kamu juga kenapa nggak bilang dari tadi sih, Sar?"


"Kamu nggak ada nyanya ke aku. Dari tadi kamu cuma mengomel nggak jelas tahu nggak,"jawab Kaisar.


Clara menghela nafas panjang. "Kalau gitu kita nunggu apa lagi? Ayo ke kantin."

__ADS_1


"Aku dari tadi ya cuma nunggu kamu berdiri dari duduk kamu yang nyaman itu,"ucap Kaisar.


Clara mendengus. "Gabut banget kamu, Sar."


__ADS_2