
Raksa dibawa masuk kedalam ruang IGD untuk ditangani oleh dokter, Wahyu tetao mendampingi Raksa didalam sana.
Sedangkan ibu Ros duduk didepan ruang IGD menunggu cucunya dengan perasaan was-was.
Sementara itu dikantor, Nabila meminta izin pada bosnya untuk pulang lebih dulu.
"Pak Galaksi, saya mau izin tidak masuk setengah hari,"ucap Nabila pelan.
"Alasan apa yang kamu buat?"
"A-anak saya dilarikan ke rumah sakit, Pak,"jawab Nabila gugup.
"Apa? Apa yang terjadi dengan calon adik kecil saya?"pekik Galaksi spontan membuat Nabila terkejut.
"Sa-saya belum tahu, Pak,"jawab Nabila meski masih dalam keadaan terkejut.
"Ayo, biar saya antar ke rumah sakit."
Nabila berdiri mematung karna terkejut dengan reaksi Galaksi.
"Ma? Apa yang kamu lakukan? Kenapa diam?"
"Astagfirullah... Maaf, Pak. Ayo kita pergi sekarang."
Nabila belum menyadari panggilan apa yang disematkan Galaksi padanya.
"Di rumah sakit mana?"tanya Galaksi.
"Rumah sakit harapan."
"Oke!"
Tanpa banyak kata, Galaksi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit harapan.
Suasana didalam mobil menjadi sedikit canggung. Nabila sibuk memikiran keadaan anaknya, sedangkan Galaksi merutuki dirinya yang spontan tadi.
"Ya Allah... Semoga anakku baik-baik aja, sembuhkan lah anakki dari sakitnya Ya Allah,"doa Nabila dalam hati.
"Panggilan apa itu tadi? Calon adik kecil saya?"monolog batin Galaksi.
"Pak? Awas, Pak..."pekik Nabila menyadarkan Galaksi.
Tidak sempat Galaksi bereaksi, untung ia lihai mengendalikan keadaan. Mobilnya hampir saka mengnambr4k tiang listrik di pinggir jalan. Ia menghentikan laju mobilnya untuk menenangkan diri.
"Apa Mama tidak apa-apa?"tanya Galaksi khawatir.
"Saya tidak apa-apa, Pak."
Galaksi bernafas lega. "Syukur lah."
"Tunggu dulu!" Nabila mulai notice dengan panggilan Galaksi padanya.
"Kenapa?"tanya Galaksi heran.
"Pak Galaksi tadi memangil saya dengan kata mama?"tanya Nabila pelan.
Galaksi mencoba mengingat kembali panggilan yang disematkan untuk Nabila.
"Memangnya kenapa? Sebentar lagi Mama akan menikah dengan papa saya, jadi apa salahnya?"
Nabila tidak bisa berkata-kata setelah mendengar jawaban Galaksi.
"Tapi saya belum memberikan jawaban untuk pak Wahyu, pak. Jangan terlalu berharap,"ucap Nabila pelan.
Galaksi yang tidak ingin mendengar penolakan, memilih mengalihkan perhatian calon mama tirinya.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang."
"Astagfirullah... Anakku,"pekik Nabila.
"Mama... Kenapa suka sekali berteriak sih,"protes Galaksi.
"Jangan panggil saya mama,"sahut Nabila tak terima.
__ADS_1
"Suka-suka saya lah, Ma. Saya suka panggilan itu,"jawab Galaksi cuek.
Nabila memalingkan wajahnya memndang ke arah jendela mobil.
"Masa' saya dipanggil mama sama orang yang cuma beda beberapa tahun dengan saya? Kan nggak lucu,"gumam Nabila.
Galaksi terkekeh mendengar gumaman Nabila.
"Kenapa berhenti? Ayao cepet jalankan lagi mobilnya! Saya mau liat anak saya, Pak."
"Coba Mama liat disekita kita. Kita ada dimana sekarang."
Nabila menengok kanan kiri, "Kenapa nggak bilang dari tadi sih,"gerutu Nabila seraya membuka seatbell.
"Gimana mau bilang, Mama belum apa-apa udah ngomel aja,"jawab Galaksi meledek.
"Berhenti panggil saya Mama!"
"Tidak akan,"ledek Galaksi.
"Awas kamu ya."
"Eitss tunggu dulu... Ada yang jauh lebih penting sekarang,"cegah Galaksi saat melihat tangan Nabila terangkat.
"Apa?"
"Raksa ada didalam sana."
Galaksi menunjuk ke arah bangunan rumah sakit membuat Nabila menghentikan aksinya dan menghela nafas panjang.
"Dasar bos ngeselin,"gerutu Nabila, lqlu membuka pintu mobil.
Mereka berjalan mencari ruang IGD. Dari jauh mereka melihat ibu Ros sedang duduk seorang diri didepan IGD.
Dengan berlari kecil, Nabila segera menghampiri ibunya.
"Ibu?"panggil Nabila.
Ibu Ros menoleh, "Nak? Kamu sudah sampai?"
"Duduklah dulu, Nak. Raksa masih diperiksa didalam."
"Kalau Ibu disini, siapa yang menemani Raksa didalam sana?"
"Ada nak Wahyu yang mendampingi, Nak."
"Papa bergerak cepat juga ternyata. Setelah ini saya yakin mama Nabila mulai luluh dengan perjuangan papa,"monolog batin Galaksi terkekeh.
Nabila beranjak dari duduknya, "Saya mau masuk menemui Raksa, Bu."
"Masuk lah, Nak."
"Nak Galaksi duduklah, kenapa berdiri terus,"ucap ibu Ros pada Galaksi.
-Cklek-
Nabila terdiam melihat anaknya dipasangkan infus ditangan kanannya, sedangkan hidungnya terpasang selang oksigen.
Perlahan Nabila mendekat. "Bukankah Raksa hanya demam?"tanyanya pelan.
"Kamu sudah datang?"tanya Wahyu dijawab anggukan oleh Nabila.
"Maaf, Ibu siapa?"tanya suster.
"Saya Ibu dari Raksa, Sus."
Setelahnya suster membiarkan Nabila berada didekat Raksa.
"Terima kasih sudah mau menemani anak saya, Pak,"bisik Nabila.
"Raksa juga anak saya, Nabila,"balas Wahyu dengan berbisik.
Nabila hanya mampu terdiam menatap pada anaknya yang sedang bergumam lirih. Ia mendekatkan telinganya pada sang anaknya.
__ADS_1
"Papa..."gumam Raksa.
"Segitu sayangnya anakku pada pak Wahyu sampai sakitpun masih mengingat pak Wahyu, sedangkan ayah kandungnya tak pernah sekalipun diingat,"monolog batin Nabila menatap sendu anaknya.
"Nak? Ini Ibu. Papa juga ada disini,"ucap Nabila pelan.
"Dokter bagaimana keadaannya?"tanya Wahyu.
"Sebenarnya anak saya sakit apa?"tanya Nabila.
"Anak Bapak dan Ibu terkena DBD, harus dirawat inap selama beberapa hari disini sampai keadaanya membaik,"ucap dokter.
"Astagfirullah... Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok,"ucap Nabila.
"Pasti, Bu. Anak Ibu akan segera dipindahkan, pergilah kebagian administrasi untuk mengurus kamar perawatannya."
"Iya, Dok,"jawab Nabila.
"Kamu disini saja, temani Raksa. Biar aku yang urus kamarnya,"ucap Wahyu.
Wahyu berjalan keluar ruang IGD menuju ruang administrasi tanpa melihat Ibu Ros dan Galaksi yang berdiri menatapnya penuh tanya.
"Pa?"panggil Galaksi menghentikan langkah kaki papanya.
"Kamu disini, Nak? Tahu darimana?"
"Aku yang ngantar mama, Pa. Adik sakit apa?"
"Mama?"tanya Wahyu penasaran.
"Mama Nabila, Pa."
Wajah Wahyu merona bahagia melihat respon anaknya, "Ooh... Raksa DBD, harus dirawat inap untuk observasi dan dirawat sampai betul-betul membaik."
"Apa? Jadi Raksa DBD? Bagaimana bisa?"tanya ibu Ros.
"Bisa saja, Bu. Itu karna cuaca yang tidak menentu, bahkan Raksa suka main digenangan air kan?"
Ibu Ros mengangguk, "Astagfirullah... Jika ibu tahu akan seperti ini, ibu tidak akan membiarkan Raksa main ditempat seperti itu,"sesal ibu Ros.
"Jangan seperti ini, Bu. Semua ini ujian dan pelajaran yang Allah berikan untuk kita. Kita berdoa yang terbaik untuk Raksa."
"Papa kedalam saja. Biar Galaksi yang urus dibagian adminitrasi."
"Baiklah, Nak. Terima kasih ya."
"Iya, Pa."
"Ibu, ayo masuk. Jangan duduk sendiri disini,"ajak Wahyu, setelah Galaksi berjalan pergi.
"Apa boleh, Nak?"
"Boleh, Bu."
"Baiklah."
Kini Raksa sudah tidur nyenyak di atas ranjang pasien. Nabila ikut membaringkan dirinya disamping sang anak.
Sementara itu, Kaisar dan Clara kebingungan mencari Nabila yang tidak ada diruangannya.
"Coba kamu telfon ulang, Sar,"pinta Clara.
"Ini dari tadi aku hubungi tapi nggak ada jawaban,"jawab Kaisar.
"Mbak Nabila kemana sih?"gumam Clara.
"Apa sudah pulang ya, Ra?"
"Tapi kenapa pulang nggak nunggu kita?"tanya Clara.
"Iya juga ya? Lalu kalau bukan pulang kemana lagi? Atau ada meeting diluar dengan pak bos?"
"Kalau meeting pasti mbak Nabila berkabar dong, Sar."
__ADS_1
"Tunggu dulu! Coba aku tefon ibu,"ucap Kaisar.
"Cepat lah!"