
Sementara itu, Kusi dan antek-anteknya sedang merasakan kecemasan yang kuar biasa. Kusi takut jika akan berakhir di penjara, sedangkan antek-anteknya takut jika masalah tersebut akan berakibat pada toko mereka.
"Gimana ini, Bu Kusi? Ibu bilang jika pemiliknya ini gampang dibod0hi,"ucap salah satu dari mereka.
"Kami tidak mau ikut tersandung kasus yang Ibu lakukan tadi ya. Ini saja saya sudah merasa cemas dengan penjualan di toko saya, pasti setelah ini ibu Nabila tidak mau lagi menjadi pemasok barang di toko saya,"ucap ibu yang lain.
"Iya benar banget, padahal dari penjualan produk barang dari Nabila's Collection ini sangat laris di toko,"sahut yang lain.
"Diam kalian! Ini belum berakhir, saya akan menuntut wanita j4l*ng itu. Saya tidak terima ada yang jauh lebih di atas saya. Apalagi semua desainnya bagus-bagus, saya mau desainnya itu jatuh ke tangan saya,"ucap Kusi menggebu-gebu.
"Jangan libatkan kami lagi, saya sudah punya firasat dari awal jika ini tidak akan berjalan mulus seperti yang Ibu Kusi rencanakan,"ucap ibu pemilik toko.
Ada empat orang owner toko yang di ajak berdemo di tempat Nabila. Para owner dijanjikan akan mendapat harga barang yang jauh lebih murah jika desain Nabila jatuh ke tangan Kusi. Mereka berfikir dengan barang yang mereka beli dengan harga murah, maka keuntungan mereka dalam satu produk akan sangat besar.
"Kalian tidak bisa lepas tangan begitu saja, kalian harus menjadi saksi dipengadilan nanti,"ucap Kusi.
"Kita lihat saja nanti, kami tidak ingin karna masalah ini sampai membuat usaha yang dibangun dari nol hancur begitu saja."
"Saya tidak peduli mau kalian h4ncur atau tidak. Yang pastinya tujuan saya untuk mendapatkan desain Nabila's Collection yang sangat diminati konsumen jatuh ke tangan saya, dan yang paling penting dia tidak menganggu calon suami saya."
Perkataan Kusi membuat semua sekutunya menjadi geram.
"Kalau kami h4ncur, Anda juga akan ikut ters3r3t dengan kami Ibu Kusi yang terhormat. Anda mengajak kami sampai berada disini,"ucap salah satu dari mereka.
Sekutu Kusi berjalan meninggalkannya seorang diri didepan tempat Nabila. Kusi mendengus kesal karna sudah tidak memiliki teman untuk mengh4ncurkan Nabila.
"S1al... Kenapa semua jadi berantakan begini? Bagaimana pun caranya aku harus memiliki desain pakaian dari tempat Nabila, aku harus merebut desain itu,"gumam Kusi jalan menghentakkan kakinya menuju mobilnya.
***
Sementara itu didalam rumah, Nabila mengobati luk4 ditangan suaminya yang ternyata ada pec4h4n vas bunga yang menanc4p ditangan Wahyu.
"Kita bawa ke rumah sakit aja ya, Mas?"usul Nabila cemas.
"Tidak, Sayang. Ini tidak p4rah, kalau kamu takut menc4butnya biar Galaksi yang melakukannya."
Galaksi bergerak mendekati papanya, ia mencoba melihat luk4 ditangan papanya.
"Apa Ibu punya pingset?"tanya Galaksi tidak mengalihkan pandangannya dari tangan papanya.
Nabila mengangguk cepat. "Punya, ibu ambilkan dulu di dalam,"jawab Nabila, kemudian beranjak berjalan menuju ruang jahit.
-Cklek-
__ADS_1
Nabila langsung mencari yang dibutuhkan di rak penyimpanan barang.
"Mbak Nabila cari apa?"tanya Siska, adik Tuti.
"Aku cari pingset, Sis,"jawab Nabila tanpa mengalihkan perhatiannya dari kotak penyimpanan.
"Aku bantu cari, Mbak,"ucap Siska meninggalkan pekerjaannya.
"Nggak udah, Sis. Kamu lanjutkan aja kerjanya. Biar aku yang cari,"jawab Nabila.
Siska menurut, ia melanjutkan pekerjaan menjahitnya.
"Biar saya bantu, Mbak Nabila. Kerjaan aku udah selesai,"ucap Nuryana, kenalan dari Salma.
"Ooh iya boleh, Bu,"jawab Nabila.
Tidak begitu lama bagi Nuryana untuk menemukan apa yang dicarinya. "Ini pingsetnya, Mbak,"ucap Nuryana menyerahkan benda kecil tersebut pada Nabila.
"Oh iya sini, Bu. Makasih ya,"sahut Nabila, "Saya keluar dulu, kalian lanjutkan kerjaan. Jam pulang tiba, tinggalkan pekerjaan kalian lanjutkan besok, jangan menforsir tenaga,"ucap Nabila.
"Siap, Mbak,"jawab Karyawan Nabila.
Nabila tersenyum bangga melihat semua karyawannya bekerja dengan giat tanpa kenal lelah.
Galaksi menerimanya dan kemudian menc4but dengan pelan b3ling yang m3n4ncap ditangan papanya.
"Tahan ya, Pa? Ini akan sedikit sakit,"ucap Galaksi.
Sedangkan Nabila menggenggam tangan suaminya, ia sangat cemas dengan kondisi sang suami yang terluk4 karna melindunginya.
Wahyu membalas genggaman tangan istrinya, ia menatap istrinya yang terlihat menahan sakit padahal bukan dia yang terluk4.
"Tidak apa-apa, ini cuma luk4 kecil,"bisik Wahyu pada istrinya, ia menahan rasa sakit yang dirasa ketika b3ling perlahan terc4but.
"Mas..."panggil Nabila lirih seraya memejamkan matanya.
Wahyu tersenyum melihat istrinya. "Sekarang buka mata kamu, Galaksi sudah selesai mengobatinya,"bisik Wahyu.
"Udah, Mas?"tanya Nabila menatap dalam mata suaminya.
"Iya udah, Sayang. Liat deh,"jawab Nabila, lalu mengangkat tangannya yang sudah di b4lut perban.
"Ini nggak apa-apa kalau nggak dibawa ke dokter kan?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Sayang. InsyaAllah semua akan baik-baik aja,"jawab Wahyu.
"Khm... Aku mau lihat adek dulu, Bu, Pa,"pamit Galaksi.
"Iya, Nak,"sahut Wahyu.
Nabila menatap kepergian anak sulungnya.
"Mas, tidak perlu menunggu sampai dirumah. Sekarang jelaskan siapa perempuan tadi dalam hidup kamu?"
Wahyu mengubah posisinya menghadap ke arah istrinya, ia menggenggam kedua tangan sang istrinya.
"Baiklah, mas akan jelaskan sekarang. Kusi, dia wanita yang pernah mencoba mendekati mas. Tapi, mas tidak pernah mengubrisnya. Namun, dia terus berusaha sampai pada akhirnya mas memberi tantangan untuknya mendekatkan diri pada Galaksi, jika bisa maka mas akan menikahinya. Tapi, dia gagal dan mas bersyukur karna wanita itu berhasil mengambil hati Galaksi."
"Hanya itu, Mas? Bukan Mas yang mendekatinya lebih dulu kan?"tanya Nabila penuh selidik.
"Bukan, Sayang. Mas selama ini belum pernah mendekati perempuan mana pun. Mas sudah berjanji akan mendekati seorang wanita jika Galaksi menerima orang itu dan hati mas memang terpaut dengan wanita tersebut. Seperti kamu, kamu wanita kedua setelah almh. Istri mas. Tapi, sekarang kamu jadi yang jadi pertama di hati mas."
Nabila menatap dalam mata suaminya, ia mencari kebenaran didalam sana. Dan Nabila menemukan cinta yang tulus dan besar yang Wahyu persembahkan untuknya.
"Apa kamu percaya dengan yang mas katakan?"tanya Wahyu penuh harap.
Nabila memegang rah4ng suaminya, lalu mengusapnya lembut.
"Tentu, Mas. Aku sangat percaya sama kamu, aku mohon jangan h4ncurkan kepercayaan ku ini."
"Terima kasih karna sudah percaya dengan mas, Sayang,"ucap Wahyu menyatukan keningnya dengan kening Nabila.
"Mas? Apa boleh aku berkunjung ke makam mama Galaksi?"
"Tentu boleh, Sayang. Hari libur nanti mas akan antar ke sana, mas juga sudah lama tidak berkunjung."
Nabila tersenyum. "Baiklah, Mas. Aku juga sekalian mau ajak Raksa berkunjung ke sana."
"Iya. Kita ajak anak-anak, sekalian nanti kita ajak liburan tipis-tipis."
Nabila mengangguk. "Iya, Mas. Aku ikut kamu aja, kita juga belum pernah jalan-jalan bersama."
"Iya, Sayang,"jawab Wahyu, lalu melirik jam yang ada ditangannya, "Sebaiknya kita pulang sekarang, Sayang."
"Bentar, Mas. Aku mau amanin rekaman cctv kejadian hari ini,"ucap Nabila seraya melangkah ke meja kerjanya yang tidak jauh dari tempatnya duduknya.
Nabila mengambil tab kerja khusus penjualan produknya, ia membuka dan mengecek rekaman cctv. Setelah itu ia menyalin rekaman tersebut ke dalam ponsel pribadinya.
__ADS_1