Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Bisik-bisik tetangga


__ADS_3

"Astaga... Mbak Nabila tadi kemana aja?"tanya Kaisar cemas, "Mas Wahyu ketemu dimana sama Mbak Nabila?"tanya Kaisar ketika melihat Wahyu muncul dibelakang Nabila.


"Maksud kamu apa sih, Sar?"tanya Nabila heran.


"Tadi aku dan Clara liat Mbak Nabila terburu-buru keluar kantor sendiri. Mana nggak ngasih kabar kalau mau keluar,"jawab Kaisar.


"Ooh itu, aku keluar sama Mas Wahyu, Galaksi dan Raksa,"jawab Nabila santai.


"Tapi, kita liat tadi Mbak keluar sendiri kok,"timpal Clara.


"Itu karna yang lain udah nunggu di mobil, Mbak tadi ada sedikit urusan diruangan jadi belakangan keluarnya,"jawab Nabila.


"Mas mau ke kamar duluan ya! Mau mandi, ngobrolnya jangan sampai lupa waktu loh! Ini udah hampir magrib,"pamit Wahyu sekaligus mengingatkan pada istri dan adik iparnya.


"Aku juga mau langsung ke kamar, Mas,"sahut Nabila yang berjalan lebih dulu ke arah anak tangga.


"Kirain mau duduk cantik dulu terus lanjut ngobrol,"ucap Wahyu terkekeh.


"Nggak lah, Mas. Aku juga masih ingat waktu, kok."


"Iya deh..."sahut Wahyu tersenyum, "Sar, kamu dapat salam dari cewek cantik,"goda Wahyu.


Clara mendelik mendengar ucapan Wahyu. Ia memicingkan matanya menatap curiga pada Kaisar.


Kaisar gelagapan. "Mas Wahyu apaan sih! Usil banget,"timpal Kaisar salah tingkah.


Wahyu terkekeh meninggalkan adik iparnya yang sedang salah tingkah. Seperti ia mengetahui sesuatu tentang Clara dan Kaisar.


***


"Cewek mana yang kirim salam sama kamu?"tanya Clara penuh selidik setelah memastikan jika Wahyu sudah masuk ke kamarnya.


"Mana aku tahu cewek yang mana, aku selama di sini belum ada kenal cewek selain kamu dan beberapa teman kantor,"jawab Kaisar.


"Kamu nggak lagi bohong kan?"tanya Clara masih belum percaya.


"Ya ampun! Harus bagaimana lagi cara aku menjelaskannya?"tanya Kaisar putus asa.


Clara melipat kedua tangannya di atas perutnya. "Mana aku tahu! Kalau memang kamu tidak berbohong, aku mau bukti,"ucap Clara.


Kaisar mengusap k4sar wajahnya, ia terdiam beberapa saat sampai adzan magrib di mesjid terdekat berkumandang.


"Aku mau shalat dulu, sekalian minta petunjuk sama Allah gimana cara nunjukin kebenarnnya sama kamu,"ucap Kaisar seraya bangkit dari duduknya.


"Udah sana shalat, aku juga mau shalat di kamar ibu,"balas Clara berjalan menuju kamar ibu Ros.


Selepas menunaikan kewajiban sebagia umat muslim. Semua orang berkumpul di ruang tv. Semua orang saling mengobrol, kecuali Clara yang tidak merespon setiap ucapan dari Kaisar. Bahkan Clara tidak memandang ke arah Kaisar.


Wahyu yang melihat itu hanya terkekeh. "Sepertinya tebakan ku selama ini benar deh,"ucap Wahyu dalam hati sambil tersenyum geli melihat tingkah Clara dan Kaisar.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Mas?"tanya Nabila penasaran karna melihat suami senyum-senyum sendiri.


"Nggak, Sayang. Aku cuma ingat kejadian lucu,"jawab Wahyu cekikikan.


"Beneran cuma itu?"tanya Nabila penuh selidik.


"Iya, Sayang,"jawab Wahyu meyakinkan istrinya.


Saat tengah asyik mengobrol, tiba-tiba bik Minah datang dari arah belakang.


"Permisi, maaf menganggu... Makan malamnya sudah siap,"ucap bik Minah sopan.


"Loh? Bik Minah belum pulang? Ini udah malam, Bik,"tanya Nabila terkejut.


"Sebentar lagi saya pulang, Mbak. Saya tadi datang kesiangan, jadi saya ambil sampai malam kerjanya,"jawab bik Minah sambil menunduk.


"Astagfirullah, Bik... Tapi, Bibik tadi kan sudah izin masuk setengah hari?"tanya Nabila.


"Iya, Mbak. Tapi, saya ambil sampai malam aja supaya gaji bulan ini nggak dipotong, Mbak,"jawah bik Minah pelan.


"Astagfirullah, Bik? Sebelumnya kita nggak pernah bahas masalah potong gaji kan? Bik Minah juga tadi udah izin, jadi nggak ada istilah potong gaji,"ucap Nabila pelan.


"Maafkan saya, Mbak. Saya cuma takut izin setengah hari malah gaji dipotong, saya dengar dari beberapa art seperti bibik gajinya akan dipotong jika ada izin nggak masuk kerja,"jawab bik Minah gemetaran.


"Saya tidak mungkin memotong gaji bik Minah jika ijin dengan alasan yang masih bisa diterima oleh akal. Tadi Bik Minah izin karna anak yang paling bungsu sakit kan? Lalu siapa yang menjaganya? Ini udah malam loh, Bik?"


"Sudah, Mbak. Kasihan Bik Minah malah takut sama kamu,"ucap Kaisar yang sedari tadi diam, "Bik Minah sebaiknya pulang sekarang. Ini sudah malam, tidak baik seorang perempuan keluar malam seorang diri,"lanjut Kaisar pada bik Minah.


"Tapi, nanti siapa akan beresin bekas makan malam, Mas?"tanya bik Minah takut.


"Bibik pulang aja! Urusan itu biar saya yang selesaikan, kasihan anak-anak pasti mencari Ibunya,"sahut Nabila lembut.


"Anaknya sudah dibawa periksa ke puskesmas, Bik?"tanya ibu Ros.


"Belum, Bu. Uang saya tidak cukup untuk biaya berobat. Anak saya juga cuma demam biasa, minum obat warung besok pasti udah sembuh,"jawab bik Minah.


Mendengar ucapan bik Minah, Wahyu merogoh saku celananya. Untung disakunya ada beberapa lembar uang terselip didalam sana.


"Sayang? Ini mas ada uang, kamu kasih ke Bik Minah untuk anaknya berobat,"bisik Wahyu pada Nabila, lalu menyerahkan uang yang dipegangnya secara sembunyi-sembunyi ke tangan istrinya.


"Beneran ini, Mas? Kamu ikhlas kan?"tanya Nabilan berbisik untuk memastikan keikhlasan hati suaminya.


"Iya, Sayang. Mas ikhlas lahir batin,"jawab Wahyu berbisik.


Nabila tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Bik, ini ada sedikit rejeki untuk anak Bik Mina berobat,"ucap Nabila sembari menyerahkan uang pada bik Minah, "Saya mohon jangan ditolak, ini rejeki anak-anak Bik Minah,"lanjut Nabila ketika melihat bik Minah akan menolak.


Bik Minah merasa sedikit sungkan dengan kebaikan majikannya, ia merasa begitu bersyukur karna bekerja ditempat orang-orang baik.


"Terima kasih, Mbak. Semoga Mbak dan keluarga selalu diberikan rejeki yang berlimpah dan selalu dalam lindungan-Nya,"ucap bik Minah dengan tulus.

__ADS_1


"Aamiin..."ucap semua orang kompak.


"Kalau begitu, saya pamit pulang sekarang, Mbak, Bu dan semuanya,"pamit bik Minah.


"Iya, Bik,"jawab ibu Ros dan yang lain hanya mengangguk dan menampilkan senyum tulus.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumssalam,"jawab semua orang.


Setelah melihat kepulangan bik Minah, semua orang beranjak berjalan menuju meja makan.


Nabila merasa heran dengan Clara dan Kaisar, yang baru pertama kali tak saling tegur. Biasanya apa pun yang mereka berdua lakukan, pasti akan saling mengomentari satu sama lain.


"Clara? Kamu kenapa dari tadi diam aja?"tanya Nabila disela-sela mengunyah makanannya.


Clara mendongak menatap Nabila, kemudian menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Alis Nabila menukik taj4m melihat respon yang diberikan Clara. "Kamu lagi sariawan?"tanya Nabila semakin penasaran.


Clara menggeleng cepat, tapi tetap tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Nabila merasa ada yang menendang kakinya, ia tahu siapa pelakunya.


"Kamu kenapa, Mas?"tanya Nabila.


Wahyu mengedipkan matanya. "Mata kamu kenapa, Mas?"tanya Nabila yang tidak peka.


Wahyu terbatuk-batuk melihat istrinya yang tidak peka dengan kode yang diberikan olehnya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Mas cuma kelilipan,"jawab Wahyu.


"Ooh..."sahut Nabila santai, kemudian kembali sibuk memasukkan sesuap nasi dan lauknya kedalam mulutnya.


"Sayang, mereka sepertinya lagi marahan,"bisik Wahyu ditelinga Nabila.


"Apa?"tanya Nabila terkejut.


"Shutt... Jangan ditanya dulu, Sayang,"bisik Wahyu mencegah istrinya yang kepo.


"Kamu tahu sesuatu?"tanya Nabila penuh selidik.


Wahyu mengangguk sebagai jawaban.


"Ibu..."pekik Raksa yang sedari tadi menunggu suapan dari ibunya tapi tak kunjung mendapat suapan.


Nabila menoleh ke arah anaknya. "Eh... Maaf, Nak. Ibu lupa,"ucap Nabila terkekeh.


"Untung kamu teriak, Nak. Ibu dan Papa mu sedari tadi sibuk bisik-bisik tetangga sampai lupa nyuapin kamu,"sahut Kaisar terkekeh.


Ibu Ros terkekeh. "Lagian kalian ini lagi makan malah sibuk bisik-bisik,"ledek ibu Ros.

__ADS_1


__ADS_2