
Nabila sudah berada di pengadilan dan bertemu dengan pengacaranya, pak Gerry.
"Bagaimana kabar Mbak Nabila dan keluarga?"tanya Gerry basa-basi.
"Alhamdulillah, baik, Pak. Bapak sendiri bagaimana kabarnya dengan keluarga? Apa betah tinggal dirumah baru?"sahut Nabila.
"Alhamdulillah anak dan istri saya betah, Mbak. Istri saya sekarang lagi sibuk menanam bunga favoritnya,"jawab Gerry terkekeh.
"Syukurlah, Pak. Pasti rumahnya sekarang jadi lebih adem, pas sekali menikmati waktu libur bersama keluarga memandang bunga-bunga yang tanam istri sendiri,"sahut Nabila terkekeh.
"Mbak Nabila bisa aja,"sahut Gerry, "Bagaimana hari ini? Mbak Nabila siap?"tanyanya.
Nabila menarik menafas dan menghembuskannya sedikit k4sar, "InsyaAllah siap, Pak."
Nabila dan Gerry sibuk membahas inti dari masalah yang akan diselesaikan sebentar lagi. Rombongan Samudra dan keluarganya tiba dengan dig1iring oleh beberapa p0lisi dan tangan dib0rg*l.
Tatapan tajam diberikan oleh ibu Samudra pada Nabila, "Hee! Wanita s14lan, kembalikan rumah saya. Kamu tidak berhak untuk tinggal dirumah saya,"pekik Sari.
"Sari, diamlah!"tegur suaminya.
"Saya tidak akan diam sebelum rumah kita kembali, Pa,"jawab Sari.
"Kita liat saja nanti, siapa yang lebih berhak atas rumah itu,"sahut Nabila santai.
"Saya tidak akan membiarkan kamu mengambil yang bukan milik kamu,"pekik Sari.
"Ma? Udah dong, keadaan kita tidak menguntungkan, Ma. Kenapa Mama masih melawan sih,"tegur Cici kesal.
"Diam kamu, Ci!"sahut Sari marah.
"Sebentar lagi s1dang dimulai. Mari kita masuk keruangan, Mbak Nabila,"ujar Gerry.
Nabila mengangguk, "Iya, Pak."
Nabila dengan mantap mengikuti langkah kaki pengacaranya. Samudra menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Saya tidak akan menyerah, Mas. Memang sekarang semua sudah dalam genggamanku, tapi saya belum puas jika kamu dan keluargamu belum di huk*m," ucap Nabila dalam hati.
Nabila duduk diposisi paling depan, tepat dibelakang pengacaranya. Sedangkan law4nnya juga sudah duduk di bangku yang tidak jauh dari Nabila.
S1dang dimulai, keluarga Samudra tidak bisa berkut1k karna Nabila memiliki semua bukti tentang perbuatan mereka.
"Tidak bisa, Pak Hakim,"sanggah Sari, "Selama ini, saya dan keluarga saya yang tinggal dan merawat rumah itu, jadi itu artinya rumah itu hak kami,"bantah Sari.
"Diharap tenang, Ibu Sari menempati rumah menantu Ibu dengan cara yang salah, itu bukan milik Ibu dan keluarga. Anda sebenarnya sedang menumpang atau mengontrak rumah seseorang, jadi Anda tidak memiliki hak untuk mengakui rumah tersebut sebagai milik Anda."
"Tapi, Pak Hakim. Wanita itu 'kan menantu saya juga jadi rumahnya berarti milik saya juga dong,"sahut Sari bebal.
__ADS_1
"Untuk Ibu Nabila dipersilahkan untuk ke depan sebagai saksi,"pinta pak hakim tanpa memperdulikan Sari.
"Iya, Pak,"jawab Nabila sopan. Kini Nabila sudah berdiri ditempat khusus untuk saksi.
"Jelaskan bagaimana awal mula ini bisa terjadi,"titah pak Hakim.
Kemudian Nabila mulai menjelaskan dari awal pertemuannya dengan samdra sampai pada p3nculikan Raksa.
"Saya sebenarnya tidak ingin mempermasalahkan mereka tinggal dirumah saya, Yang Mulia. Tapi mereka berani menganggu anak saya, dan kenapa baru sekarang mereka mengakui anak saya sebagai cucu? Sedangkan dari saya mengandung dan saya besarkan, mereka tidak ada andil. Mereka mencul1k anak saya dan meminta tebusan. Saya tidak terima, Yang Mulia."
Hakim mengangguk memahami penjelasan Nabila, "Lanjutkan,"titah Hakim pada Nabila.
"Saat saya menemukan anak saya, dia sedang menangis seorang diri didalam kamar, mereka yang membawanya kesana mengabaikannya yang sedang menangis karna tidak terbiasa dengan orang-orang yang baru dilihatnya. Mereka juga memalsukan kem4tiannya untuk bisa men1pu saya,"lanjut Nabila.
"Baiklah, silahkan kembali ketempat Anda." Nabila kembali duduk dibangkunya yang tadi.
Suasana sesaat menjadi hening, mereka menatap pada Hakim yang berdiskusi dan menelaah k4sus yang ditangani.
"Baiklah, dengan bukti-bukti yang kami lihat, kami menyimpulkan jika rumah tersebut adalah milik Ibu Nabila sah secara hukum,"ucap Hakim membuat senyum Nabila terbit.
Hakim juga memberikan hukuman kepada keluarga samudra atas k4sus penipu4n dan pem4lsuan kem4tian.
"Alhamdulillah, akhirnya mereka mendapat hukum4n atas perbuatan mereka, meskipun tidak lama tapi setidaknya bisa memberikan efek j3rah untuk mereka," ucap syukur Nabila dalam hati.
"Mbak Nabila, saya mohon, le-lepaskan kami, saya masoh harus kuliah, Mbak. Jika saya berada dalam p3nj4r4, bagaimana dengan kuliah saya,"bujuk Cici memohon pada Nabila.
"Mbak, jangan seperti ini. Kita keluarga, Mbak. Masa' Mbak t3ga melihat kami seperti ini,"ucap Caca.
"Sejak awal kita bukan keluarga, jadi jangan bicara omong kosong. Nikmati hidup baru kalian,"sahut Nabila kemudian berjalan meninggalkan keluarga Samudra.
Nabila jalan lurus tanpa memperdulikan banyak matanya yang memandangnya dengan tatapan berbeda-beda.
"Nabila... Saya bersump4h kamu tidak akan bisa bahagia diatas pend3ritaan kami,"pekik Sari.
"Ya Allah hanya kepadamu lah hamba berserah, saya tahu doa orang dzolim seperti mereka tidak akan terkabul," ucap Nabila dalam hati.
"Mbak Nabila, sampai bertemu disidang selanjutnya,"ujar Gerry saat mereka tiba diparkiran.
"Iya, Pak Gerry. Terimakasih atas bantuannya,"jawab Nabila.
"Saya permisi, saya harus pergi sekarang,"pamit Gerry.
"Iya, Pak. Hati-hati, salam untuk istri dan anak-anak, Pak Gerry,"ucap Nabila.
"Iya, Mbak. Nanti saya sampaikan.
Melihat mobil Gerry meninggalkan parkiran, Nabila juga ikut naik ke takso yang sejak tadi menunggunya. Nabila memesan taksi sebelum keluar dari ruang sidang, jadi saat tiba diparkiran tidak perlu menunggu lama.
__ADS_1
"Sesuai alamat ya, Mbak?"
"Iya, Mas,"jawab Nabila.
Nabila pulang ke rumah ibunya, dia akan menyelesaikan pekerjaan yang dibawanya dari Jakarta.
***
Sementara itu di Jakarta, disebuah mall terbesar. Kaisar sedang berada di toko furniture, memilih beberapa rak penyimpanan untuk barang, beberapa kursi, meja kerja lengkap dengan kursinya, meja makan, dan ranjang.
"Ini kapan di kirim ke alamat, Mbak?"tanya Kaisar.
"Sebentar sore akan diantar sesuai alamat yang tertera, Pak."
"Baiklah. Saya tunggu sore ini."
"Iya, Pak. Ini bukti pembayarannya, Pak."
Kaisar menerima note pembayaran barang dibelinya, "Sekarang ke toko mainan, beli secukupnya aja. Ini agar anak-anak tidak mengganggu ibu mereka saat kerja,"gumam Kaisar berjalan menuju toko mainan.
"Selamat datang di toko kami,"sapa karyawan toko.
"Iya... Mbak, saya mau liat perosotannya, ada?"
"Ada, Pak. Mari,"jawab karyawan toko seraya melangkah pada kumpulan perosotan dan mainan besar lainnya.
"Ini, Pak. Toko kami menyediakan berbagai warna dan tipe untuk perosotan anaknya."
Kaisar melihat mainan yang ada di depannya, "Saya mau satu yang warna putih aja, Mbak."
"Baik, Pak. Apa ada lagi yang dibutuhkan?"
"Saya mau kolam bola beserta bola warna warninya,"sahut Kaisar.
"Baik, Pak. Dibelakang Bapak ada ysng dicari, ini ada beberapa ukuran dan warna, bentuknya juga beda-beda."
"Saya mau yang besar, warna biru, yang segi panjang ada?"
"Saya cek dulu ya, Pak?"
Kaisar mengangguk, menunggu karyawan toko tersebut memeriksa barang yang diinginkan.
"Maaf, Pak. Untuk ukuran yang Bapak mau, warna birunya kosong. Apa bapak mau warna pinknya aja?"
"Iya, itu aja nggak apa-apa, Mbak. Bolanya jangan lupa."
"Iya, Pak."
__ADS_1