Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Kejutan untuk Kaisar


__ADS_3

"Ini berapa harganya, Mbak?"tanya Kaisar seraya memegang body sepeda.


"Kalau ini harganya 8jtan, Mas."


Kaisar kaget mendengar harganya, "Nggak jadi yang ini deh, Mbak. Mau yang lebih murah aja, ada?"


"Ada, Mas. Disini ada yang 3jtan, tapi roda dua."


"Nggak apa-apa, Mbak. Yang itu aja."


Kaisar merasa tidak enak hati jika memilih barang seharga 8jt, apalagi dibelikan oleh orang.


"Udah dapat, Sar?"tanya Wahyu datang menyusul.


"Iya, Mas."


"Kamu pilih yang mana?"


"Yang ini aja, Mas,"jawab Kaisar memegang body sepeda dua roda.


"Ini harganya berapa, Mbak?"tanya Wahyu menatap karyawan toko seraya memberi toko.


"Ini harganya 3jtan, Pak."


"Baiklah, tolong antar saya ke kasir. Kaisar kamu tunggu disini saja."


"Iya, Mas."


Setelah Wahyu menuju kasir, Kaisar menatap sepeda listrik yang diinginkannya dengan pandangan berbinar.


"Ayo, Sar. Semua sudah selesai, barang akan segera di kirim ke alamat rumah."


Suara Wahyu mengangetkan Kaisar. Wahyu tersenyum mengerti tatapan Kaisar.


"I-iya, Mas,"jawab Kaisar gugup.


Mereka sampai dirumah, Wahyu kembali bermain dengan Raksa dengan mainan yang baru dibelinya tadi.


"Mas, saya mau cek yang lagi kerja. Saya tinggal bentar nggak apa-apa?"


"Tunggu, Sar. Sepedanya sebentar lagi sampai. Kamu bisa langsung pakai sepedanya."


"Baiklah, Mas,"jawab Kaisar pasrah.


"Tapi, Sar... Kamu jangan bilang sama mbakmu kalau mas yang belikan sepedanya ya."


"Loh? Kenapa, Mas?"


"Pokoknya jangan bilang. Kamu cari aja alasan yang lainnya."


Kaisar menghela nafas panjang, "Baiklah, Kaisar akan bilang beli sendiri menggunakan uang tabungan selama kerja."


"Iya, gitu aja, Sar."


Tiit tiit


Terdengar suara klakson mobil di depan rumah. Mereka segera keluar melihat siapa yang datang.


"Permisi, Mas. Apa betul ini rumahnya Mas Kaisar?"


"Iya betul, Mas. Saya Kaisar."


"Apa sepeda listrik yang kalian bawa?"tanya Wahyu.


"Iya, Pak."


"Silahkan diturun kan!"pinta Wahyu.


Dua orang menurunkan sepeda dari ataa mobil, Kaisar terkejut saat melihat sepeda apa yang diturunkan daei mobil.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Sepertinya Mas salah bawa sepeda. Ini buka sepeda yang saya pesan tadi,"ujar Kaisar cepat.


"Itu benar Kaisar! Mas yang memilih itu untuk kamu,"sahut Wahyu.


"Papa, Aksa mau tulun. Mau liat sepeda balu,"ucap Raksa berontak di gendongan Wahyu.


"Iya, Nak,"jawab Wahyu lalu menurunkan Raksa, "Mas tahu kamu menginginkan sepeda itu, jadi mas ambil yang kamu mau,"lanjut Wahyu pada Kaisar.


"Tapi ini mahal, Mas,"ucap Wahyu tak enak.


"Tidak apa-apa, sepeda ini bisa kamu pakai untuk membonceng ibu dan Raksa kalau ingin keliling dekat-dekat sini."


"Kalau begitu saya ganti uang Mas aja ya?"


"Tidak, Kaisar! Itu untuk kamu, gantinya kamu harus bekerja diperusahaan setelah semua urusan kamu selesai."


"Baiklah, Mas. Saya akan bekerja diperusahaan, Mas. Tapi saya biarkan saya berusaha dengan kemampuan sendiri untuk bisa masuk tanpa ada bantuan dari orang dalam,"jawab Kaisar tegas.


"Bagus, itu yang saya harapkan dari kamu,"sahut Wahyu tersenyum seraya menempuk pelan pundak Kaisar.


Kaisar memandangi sepeda barunya dengan perasaan bahagia, dan terharu menjadi satu, mata Kaisar berkaca-kaca.


"Yeii... Sepeda balu, Uncle Cal, ayo kita naik sepedanya,"ajak Raksa girang.


"Ada apa ini? Kenapa Raksa berteriak?"tanya ibu Ros dari dalam rumah.


"Ini Raksa lagi senang, Bu. Mau ngajak Kaisar naik sepeda baru katanya,"jawab Wahyu.


"Kamu jadi beli sepedanya?"


"Jadi, Bu. Ini sepedanya udah ada."


"MasyaAllah, bagus sekali sepedanya. Kalau tiga roda begini ibu juga bisa pakai, Nak,"ucap ibu Ros terkekeh.


"Bisa banget, Bu. Kalau mau keliling komplek sore-sore bisa banget pake sepeda ini,"jawab Kaisar.


"Nanti ajari ibu ya, Nak?"


"Siap, Bu."


"Iya, Nak. Makasih ya, sering-sering berkunjung kemari, Nak."


"InsyaAllah jika ada waktu luang, Wahyu akan berkunjung. Kalau begitu saya pamit, assalamualaikum."


"Waalaikumssalam, hati-hati, Nak. Salam untuk anakmu,"ucap ibu Ros.


"Iya, Bu. Nanti saya sampaikan."


Wahyu mensejajarkan badannya dengan Raksa, "Nak, papa pergi dulu ya? Raksa naik sepeda dulu sama Uncle Kaisar, oke?"


"Ote, Papa. Papa pelgiya jangan lama-lama ya?"


"Iya InsyaAllah, Nak. Ayo salim dulu,"ucap Wahyu.


Raksa menerima uluran tangan Wahyu dan menc1um punggung tangannya.


Mobil Wahyu meninggalkan komplek perumahan. Kaisar mengajak ibu dan keponakannya menaiki sepesa baru.


"Ibu, ayo kita coba pakai sepeda barunya. Sekalian Isar mau liat-liat yang lagi kerja."


"Ayo, Nak. Ibu juga mau liat proses pengerjaan rumah mbak mu,"ucap ibu Ros berbinar, "Ibu kunci pintu dulu ya."


Sebelum karyawan toko pergi, mereka lebih dulu menjelaskan car penggunaan sepeda listrik tersebut dan juga cas pengecasannya.


Raksa didudukkan di kursi kecil didepan Kaisar, ibu Ros duduk dibelakang Kaisar dengam santai.


"Sepedanya bagus, Nak. Nyaman dipakai,"puji ibu Ros.


"Alhamdulillah kalau Ibu merasa nyaman, sebenarnya Isar nggak pilih yang ini, Bu."

__ADS_1


"Lalu kenapa ini yang diantar, Nak?"


"Katanya emang mas Wahyu yang mesan ini. Kalau Isar milihnya sepeda yang murah aja, Bu. Ini kemahalan."


"Emang ini harganya berapaan, Nak?"


"8 jtan, Bu."


"MasyaAllah, mahal sekali, Nak."


"Makanya itu, Bu. Kaisar mengurunkan niat memilih ini, dan memilih yang lebih murah. Tapi ternyata mas Wahyu diam-diam ambil yang ini."


"Nggak apa-apa, Nak. Ini sudah rejeki Kamu, semoga rejeki nak Wahyu makin luas."


"Aamiin..."


"Ini rumahnya masih jauh, Nak?"


"Tidak, Bu. Ini tinggal melewati tiga rumah aja udah sampai kok."


"Uncle, selu naik sepeda ini. Aksa suka,"pekik Raksa.


"Nanti bilang makasih sama papa ya, Raksa!"pinta Kaisar.


"Ciap, Uncle,"sahut Raksa memberikan hormat.


"Kita sudah sampai, ayo turun,"ujar Kaisar.


"Ini rumahnya, Nak?"


"Iya, Bu. Masih berantakan karna masih proses renovasi. Mungkin sekitar 4 hari lagi baru semua rampung."


"Ini diluar sudah di cat atau dari dibeli memang seperti ini warna?"


"Baru di cat, Bu."


"Assalamualaikum,"salam Kaisar dan ibu Ros.


"Waalaikumssalam, Mas Kaisar."


"Kerjaan lancar, Pak?"tanya Kaisar bas4-bas1.


"Iya, Mas. Ini Mulai pemasangan ke tembok."


Kaisar mengangguk, "Bapak bisa lanjutkan, saya cuma mau ajak ibu saya liat-liat rumah ini,"ucap Kaisar.


"Iya, Mas. Mari."


"Rumahnya besar ya, Sar? Ibu malah betah disini."


Ibu Ros celingukan melihat setiap sudut ruangan.


"Ini permainan anak-anak mau kamu taruh dimana, Nak?"


"Kaisar mau buat ruang bermain dikamar aja, Bu. Supaya lebih aman aja."


"Apa nggak kepanasan kalau anak-anak bermain dikamar?"


"Nanti dipasang ac kok, Bu. Jadi nggak akan kepanasan."


"Untuk ruang jahit dimana?"


"Diruangan yang dikerja, Bu. Sengaja dipasangin kedap suara supaya tidak menganggu tetangga, Bu."


"Iya kamu bener, Nak. Sebaik-baiknya kita dalam membuat usaha jangan sampai aktifitas kita menganggu tetangga sekitar."


"Iya, Bu."


"Tinggal halaman depan yang harus dibersihkan, Sar. Besok pagi-pagi kita kemari lagi ya, bersihkan yang didepan."

__ADS_1


"Siap, Bu."


__ADS_2