
sedikit berlari ibu Ros menghampiri RaksDengana yang bermain tidak jauh dari Nabila dan Wahyu.
"Ibu kenapa lari-lari?"tanya Nabila heran.
Ibu Ros menenangkan dirinya, "Nggak apa-apa, Nak. Ibu cuma mau main sama Raksa."
"Oo gitu..."sahut Nabila yang masih penasaran dengan tingkah ibunya.
Sementara ibu Ros mengajak Raksa bermain, Nabila sedikit canggung makan cuma berdua di meja yang sama dengan Wahyu.
"Makan, Nabila!"tegur Wahyu.
"Eh? Iya, Pak. Ini saya makan,"jawab Nabila salah tingkah.
Acara telah selesai, semua tamu undangan sudah pulang dan membawa bingkisan masing-masing pemberian dari Nabila.
Tersisa hanya Nabila sekeluarga, Clara dan Wahyu yang masih bertahan dirumah yang akan menjadi tempat produksi.
"Mbak?"
"Iya?"
"Tadi ibu Salma mewakili teman-temannya bertanya, kapan mereka mulai kerja?"
"Ooo itu... Besok udah mulai, Sar. Karna secepatnya kita akan mengadakan barang lalu mempromosikannya."
"Oke, Mbak. Akan saya sampai pada ibu Salma."
"Iya, Sar. Sekarang semua siap, kamu bisa cari kerja mulai sekarang, Sar. Jangan terlalu mengkhawatirkan mbak."
"Iya, Mbak. InsyaAllah Isar besok sudah mulai memasukkan cv dibeberapa perusahaan."
"Mbak doakan kamu bisa cepat mendapat pekerjaan, setelah itu menikah lah, Sar!"
"Mbak, apa-apaan sih. Kaisar belum mau menikah sebelum mbak mendapat pengganti yang jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Kamu jangan memikirkan mbak. Mbak sudah pernah menikah, jadi kalau kamu mau menikah secepatnya tidak masalah, Sar."
"Tidak, Mbak! Kaisar harus memastikan dulu pendamping mbak di masa depan. Kita tau bagaimana kedepannya, bisa saja istri Kaisar akan cemburu jika aku terlalu memperhatikan mbak."
"Yang dikatakan adikmu benar, Nak. Jika jodohmu sudah ada setelah masa iddah selesai, maka menikahlah secepatnya,"sahut ibu Ros.
Nabila cemberut mendengar perkataan ibu dan adiknya. Ia masih merasa trauma dengan yang namanya pernikahan. Ia tidak ingin jika pernikahan keduanya akan sama seperti yang sebelumnya.
"Mbak? Tidak semua laki-laki sama, mungkin dipernikahan kedua itu Mbak Nabila akan menemukan sosok iman yang baik,"sahut Clara.
Sementara itu Wahyu diam menatap dalam pada Nabila tanpa di ketahui siapapun, "Semoga kita berjodoh Nabila, selain karna ini keinginan anak saya, saya juga berharap hal yang sama,"monolognya dalam hati.
__ADS_1
Sebenarnya Wahyu tahu dan mengerti ada maksud tersebulung dari yang anaknya lakukan selama ini, ia hanya tidak mau berterus terang pada anaknya. Selain itu, ia juga mulai tertarik pada Nabila sejak pertama kali bertemu saat Nabila drop waktu itu.
"Aku menyerahkan semuanya pada Allah, jika Allah masih menyiapkan jodoh untuk aku, maka aku akan menerimanya dengan lapang dad4,"ujar Nabila mengalah, tidak mau memperpanjang pembahasan terntang pernikahannya.
"Baiklah, sebaiknya kita pulang saja sekarang, ibu sudah merasa sangat lelah ingin segera istirahat."
"Ayo, Bu kita pulang sekarang,"sahut Nabila menggandeng tangan ibunya.
"Saya akan mengantarkan kalian pulang. Tidak ada penolakan!"ucap Wahyu tegas.
Nabila yang ingin menolak ajakan Wahyu menghela nafas pasrah karna tidak ada kesempatan untuk menolak.
Wahyu tersenyum puas melihat Nabila tidak berkutit dengan ajakannya, "Ayo, semua naik ke mobil."
***
Keesokan paginya, Nabila bergegas menuju rumahnya dengan membawa map yang isinya hasil ganbar desain baju yang akan dibuat.
Karna kebetulan Nabila masih libur, jadi ia akan menyibukkan dirinya dengan meeting dan membuat pola baju dengan karyawannya.
"Assalamualaikum, Ibu-Ibu,"salam Nabila pada ibu-ibu yang lebih dulu tiba.
"Waalaikumssalam, Ibu Nabila,"jawab mereka.
"Udah lama ya?"
Nabila segera mengambil kunci pintu dan membukanya, "Ayo silahkan masuk, Bu-Ibu."
Setelah semuanya masuk, Nabila kembali menutup pintu dan mengambil remot ac dan menyalakan suhunya agar ruangan menjadi sejuk.
"Anak-anaknya diajak dulu ke kamar bermain, Bu, jadi kerja lebih tenang. Ibu-Ibu tenang aja, ruang bermain saya pasang cctv jadi Ibu bisa pantau melalui tv yang ada dalam ruang jahit."
"Makasih ya, Bu Nabila. Kalau begini kita bisa makin tenang saat bekerja."
"Iya, Bu."
Masuk ke dalam ruang bermain anak, Nabila menyalakan ac dengan suhu yang tidak terlalu dingin, setelahnya masuk ke ruang jahit.
"Saya tunggu di depan, kita meeting dulu,"pinta Nabila membuka pintu ruang bermain anak.
"Iya, Bu. Setelah ini kami akan segera keluar,"jawab Samsiah.
Duduk di sofa ruang depan, Nabila mengamati gambar desain yang dibuatnya.
"Permisi, Bu Nabila. Maaf membuat Ibu menunggu lama."
"Tidak masalah, Bu. Silahkan duduk!"
__ADS_1
Sekitar 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk meeting ala Nabila dan karyawannya. Ibu-ibu sudah mulai membuat pola, kemudian menggunt1ng kain sesuai dengan pola yang dibuat sebelumnya.
Nabila mengawasi pekerjaan ibu-ibu yang terlihat begitu serius bekerja. Sesekali ia melirik ke arah layar tv yang menampilkan ruang bermain anak.
Nabila ikut turun tangan memantu mengumpulkan pot0tongan kain dengan pasangan masing-masing. Karna mereka tidak ingin seperti satu pola jadi satu juga yang dijahit, mereka ingin sekali bermain dimesin jahit tidak ingin berhenti kecuali waktu istirahat makan dan shalat.
Beberapa jam berlalu, sudah ada beberapa kain yang sudah digunt1ng dan disatukan dengan pasangan dari pot0ngannya.
"Hari ini cukup ini saja yang diselesaikan, kalian istirahat lah dulu. Makanan sudah ada di depan,"pinta Nabila.
Nabila memang menanggung makan untuk karyawannya, Ia juga sudah berlangganan dengan rumah makan terdekat untuk diantarkan setiap hari ketempatnya. 6 porsi untuk karyawan serta anaknya masing-masing, tidak lupa juga ia menyiapkan cemilan dan minuman untuk anak-anak.
"Iya, Bu,"jawab ibu-ibu kompak.
"Anak-anak juga di ajak sekalian. Mulai sekarang kalian selama ada ditempat ini, setiap hari akan ada yang mengantar makanan di jam istirahat, kalian tidak perlu khawatir soal makan."
"Terima kasih, Bu Nabila,"ujar Salma.
"Oh iya satu lagi... Jangan panggil saya Ibu, panggil Nabila aja."
"Tapi kami tidak bisa, Bu,"tolak Samsiah.
"Kenapa?"tanya Nabila.
"Bagaimana kalau panggil, Mbak Nabila aja?"usul Tuti.
"Itu lebih baik,"balas Nabila.
"Baiklah, mulai sekarang kami akan memanggil Mbak Nabila,"sahut Salma.
"Bagus! Ayo silahkan makan, jangan sungkan!"
Setelah istirahat makan siang dan shalat, semua kembali beraktifitas mengambil kerjaan masing-masing. Salah satu dari mereka karna tidak bisa menjahit maka hanya membantu-bantu mengumpulkan yang sudah di jahit, membereskan barang yang tidak dipakai lagi dan lain-lain yang masih berhubungan diruang jahit.
Waktu beberapa jam berlalu, sudah ada beberapa baju gamis yang jadi. Nabila menatap puas baju yang dipasang diman3kin oleh Salma yang memang tugasnya bukan di bagian jahit menjahit.
Nabila memeriksa hasil jahit Tuti dan Samsiah, "Hasilnya rapi, saya yakin pembeli akan puas dengan produk Nabila Collection,"ucap Nabila tersenyum puas.
"Iya, Mbak. Kalau begini produk Mbak Nabila akan laku keras, dan kalau kecepatan menjahit Ibu samsiah dan Ibu Tuti seperti ini pasti barang juga akan cepat siap dipasarkan."
"Iya, Ibu Salma benar. InsyaAlalh dalam beberapa hari kedepan kita akan mulai memasarkan produk kita,"sahut Nabila.
"InsyaAllah, Mbak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjahit lebih banyak lagi dalam beberapa hari kedepan,"ujar Samsiah menggebu-gebu.
"Saya percaya Ibu-Ibu bisa, tapi tetap jangan forsir tenaga kalian. Saya tidak mau kalian jadi sakit karna terlalu menguras tenaga."
"Siap, Mbak,"jawab ibu-ibu kompak.
__ADS_1