
Kaisar menjadi gusar setelah menelfon ibunya.
"Kamu kenapa, Sar?"
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Clara terkejut dengan penuturan Kaisar. "Siapa yang sakit, Sar?"
"Nanti dijalan saya jelasin. Jangan banyak tanya dulu."
Clara yang tidak mau ribet, cuma mengikuti apa yang dikatakan oleh Kaisar.
"Sekarang jelaskan, siapa yang sakit?"tanya Clara ketika sudah berada didalam mobilnya yang dikemudikan oleh Kaisar.
"Raksa sakit,"jawab Kaisar singkat.
Mata Clara membul4t mendengar penuturan dari Kaisar. "Astagfirullah, kamu serius, Sar?"pekiknya.
"Ngapain aku bercanda masalah kesehatan, Ra."
"Iya juga ya... Tapi, bagaimana keadaan Raksa sekarang?"
"Saya nggak tahu, Ra. Kamu lihat dari tadi aku sama kamu, jadi darimana aku tahu keadaannya sekarang,"jawab Kaisar sebal.
Clara cemberut. "Santai aja dong, Sar."
"Aku udah santai, Ra."
"Bukan bawa mobilnya yang aku maksud. Tapi, cara ngomong kamu,"pekik Clara.
"Aduhaduh... Jangan teriak-teriak, Ra. Sakit telingaku."
"Biarin,"ucap Clara seraya menyandarkan badannya di sandaran jok mobil.
"Kenapa jadi galak gini sih,"gumam Kaisar.
Sementara itu di rumah sakit tepatnya diruang perawatan Raksa, Wahyu memandangi wajah Nabila yang tertidur memeluk anaknya.
"Pa? Jangan dipandangin terus. Nanti mama risih,"goda Galaksi menggoda sang papa.
Wahyu menjadi salah tingkah ketahuan oleh anaknya. "Apaan sih kamu, Nak! Papa itu lagi liatin Raksa. Kasian anak sekecil itu sudah merasakan yang namanya j4rum infus,"ucapnya mencari alasan.
Galakso terkekeh. "Jago juga Papa ini ngarang alasannya,"ledeknya.
"Terserah kamu lah, Nak. Papa mau istirahat sebentar, kamu kalau mau pulang, pulang lah."
"Nanti aja deh, Pa. Aku mau nunggu calon adik aku sadar."
"Hmm."
Ibu Ros terkekeh melihat tingkah laku anak dan bapak didepannya.
"Lucu juga kalau Nabila punya anak sambung seumuran nak Galaksi,"gumam ibu Ros makin terkekeh.
"Ibu kenapa?"tanya Wahyu.
Spontan ibu Ros menghentikan tawanya. "Eh tidak, Nak. Ibu cuma ingat sesuatu."
"Oh... Tadi Kaisar yang nelfon, Bu?"
"Iya, Nak. Tadi nyariin Nabila, karna nggak ada dikantor dan nggak pamit juga mau keluar. Paniklah mereka nyariin mbaknya,"jawab ibu Ros.
"Kalau mereka datang, Ibu pulang lah bersama mereka."
"Tapi siapa yang akan menemani Nabila untuk menjaga Raksa disini?"
"Ada Wahyu, Bu. Ibu tidak perlu memikirkan itu, ada Wahyu disini."
"Baiklah, Nak. Setelah Kaisar datang ibu akan ikut pulang."
"Iya, Bu. Lebih baik Ibu Istirahat di rumah saja."
Ibu Ros hanya mampu mengangguk sebagai jawaban. Lalu beranjak mendekati brankar Raksa.
"Demamnya belum juga turun,"ucap ibu Ros ketika menyentuh kening Raksa.
__ADS_1
"Inilah yang dokter khawatirkan, Bu. Untung Raksa cepat mendapat penanganan,"sahut Wahyu.
"Iya, Nak. Ini semua berkat kamu yang cepat bergerak."
"Tidak seperti itu, Bu. Itu karna Ibu yang cepat mengabari Wahyu."
"Sudah, sudah... Kalian berjasa untuk kesehatan dan kesalamatan adik Galaksi, jadi saya ucapkan terima kasih,"ucap Galaksi menengahi.
Ibu Ros terkekeh, "Kamu bisa aja bercandanya, Nak."
"Galaksi tidak bercanda, Nek."
Dahi ibu Ros mengkerut. "Nek? Nenek maksudnya?"
"Iya, Nek. Mulai sekarang Galaksi akan memanggil Nenek."
"Kenapa begitu?"
"Karna Galaksi yakin sebentar lagi Mama Nabila akan menjawab dan menerima pinangan Papa."
"Aamiin... Doakan yang terbaik ya, Nak."
"Siap, Nek."
-Tok tok tok-
"Masuk!"pinta ibu Ros.
-Cklek-
"Assalamualaikum,"salam Kaisar dan Clara.
"Waalaikumssalam,"jawab mereka kompak.
"Kalian sudah datang ternyata!"ucap ibu Ros.
"Iya, Bu,"jawab Clara.
"Gimana keadaan Raksa, Bu?"tanya Kaisar.
"Apa kata dokter?"tanya Kaisar.
"Raksa kena DBD, Nak. Jadi harus di observasi dulu dan cek dar4h."
Kaisar mengangguk paham, "Ibu nginap disini?"
"Tidak! Ibu ikut kalian pulang."
"Lalu, siapa yang menemani mbak Nabila disini?"
"Ada Nak Wahyu."
"Baiklah! Sebaiknya kita pulang sekarang, Ibu juga butuh istirahat setelah seharian ada disini,"ajak Kaisar.
"Yasudah, ayo kita pulang."
"Mas Wahyu?"
"Iya, Sar?"
"Aku titip mbak Nabila dan Raksa ya?!"
"Iya, Kamu tenang aja, Sar. Saya akan menjaga mereka."
"Terima kasih, Mas."
Wahyu men3puk pelan pundak Kaisar, lalu memberikan senyuman.
Setelah kepergian Ibu Ros dan anak-anaknya, tinggallah Wahyu dan Galaksi yang menatap Nabila dan Raksa yang tidur berpelukan.
"Pa?"
"Hmm... Kenapa?"
"Mama Nabila belum menjawab?"
__ADS_1
Wahyu menggeleng, "Belum, Nak. Nabila meminta waktu satu minggu untuk memikirkan semuanya. Papa pasrahkan semuanya pada Allah."
"Semoga mama Nabila menerima Papa."
"Aamiin..."
"Ini sudah malam. Aku mau pulang dulu, Pa. Nanti akan ada yang mengantar makanan dan pakaian ganti, Papa."
"Bagaimana dengan pakaian ganti mama mu?"
"Nanti aku minta orang untuk bawakan baju mama sekalian."
"Iya, Nak. Terima kasih, kamu hati-hati saat pulang."
"Siap, Pa. Aku pulang dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumssalam."
Kini hanya Wahyu yang menunggui Nabila dan Raksa yang tengah tertidur. Mereka nampak seperti keluarga cemarah, ada papa, mama dan anaknya berada dalam satu ruangan.
Beberapa menit kemudian, Nabila mulai menggel1at diatas ranjang.
"Hmm..."gumam Nabila perlahan membuka mata menyesuaikan dengan cahaya lampu ruangan.
"Kamu sudah bangun?"tanya Wahyu pelan.
"Eh, Pak Wahyu... Yang lain mana?"tanya Nabila dengan suara parau khas bangun tidur.
"Yang lain sudah pulang untuk istirahat, kasian Raksa kalau terlalu banyak orang yang menungguinya disini,"jawab Wahyu lembut.
"Astagfirullah... Kenapa tidak ada yang membangunkan saya? Saya belum shalat magrib,"ucap Nabila terkejut.
"Maaf, mas tidak tega membangunkan kamu."
"Tapi kalau gini aku telat shalatnya, Mas,"sahut Nabila tanpa sadar memanggil Wahyu dengan sebutan mas.
Wahyu tersenyum mendengar panggilan Nabila padanya, meskipun itu dilakukan tanpa sadar.
"Tolong jaga Raksa sebentar, Mas. Saya mau shalat dulu,"pinta Nabila.
"Iya,"jawab Wahyu tersenyum.
Bersama Nabila, Wahyu kembali merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya. Yang pertama tetap untuk mendiang istrinya yang tak akan pernah tergantikan.
"Akan aku pastikan kamu yang terakhir dihidupku, Nabila,"gumam Wahyu menatap Nabila yang berjalan terburu-buru ke to1let.
"Hmm..."gumam Raksa membuyarkan fokus Wahyu.
"Shutt, tidur lagi, Nak,"bisik Wahyu seraya men3puk-n3puk pelan pah4 Raksa.
"Papa..."gumam Raksa.
"Ini papa, Nak,"bisik Wahyu.
"Gendong, Aksa mau digendong,"ucap Raksa.
"Sini, Nak. Papa gendong Aksa,"sahut Wahyu sambil membawa Raksa masuk ke dalam gendongannya.
-Cklek-
"Loh Raksa udah bangun, Pak?"tanya Nabila kembali dalam mode sadar.
"Iya, minta digendong,"jawab Wahyu.
"Maaf ya, Pak. Jadi ngerepotin."
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Raksa juga anak saya, Nabila,"ucap Wahyu.
Nabila menjadi salah tingkah, "Maaf, Pak."
"Tidak apa-apa. Sebaiknya kamu shalat sekarang, waktu magrib hampir habis."
"Iya, Pak."
Nabila mengambil mukenah di dalam tasnya, mukenah dalam bentuk lipatan yang kecil, sehingga aman dan nyaman dibawa kemana-mana.
__ADS_1
"Semoga Allah segera menjawab niat baik saya. Saya ingin segera menjadi iman dalam shalat mu, Nabila,"gumam Wahyu.