
"Kenapa malah ke komplek r3ndah*n seperti ini sih? Bukannya malah ke hotel,"tanya Sari menggerutu begitu taksi yang ditumpanginya memasuki komplek ysng sama dengan mobil yang mereka ikuti.
Kening Caca mengkerut heran. "Apa jangan-jangan mereka sengaka ketempat ini supaya nggak ada yang curiga ya, Ma?"tanya Caca.
"Bisa jadi itu, Ca,"sahut Sari membenarkan.
"Tapi, kok ceweknya aku kayak kenal ya postur badannya,"monolog Caca dalam hati memperhatikan wanita yang jalan bersama targetnya.
"Ayo kita ikuti mereka, Ca,"ucap Sari men4rik tangan Caca keluar dari mobil setelah membayar ongkos taksi.
"Nggak usah n4rik-n4r1k, Ma,"ucap Caca kesal.
"Lagian kamu dari tadi melamun aja,"sahut Sari.
"Aku nggak ngelamun, Ma. Aku tuh lagi mastiin siapa wanita yang bersama pria itu,"jawab Caca.
"Nggak usah dipastiin, itu udah pasti wanita panggilan,"timpal Sari.
Kening Caca mengkerut. "Kayaknya nggak mungkin wanita panggilan sih, Ma. Wanita itu pake h1jab loh, Ma,"jawab Caca mengeluarkan pendapatnya.
"Bisa aja itu hanya kamuflase kan, Ca? Kita nggak tahu apa yang terjadi, jadi ayo kita ikuti mereka,"ucap Sari mempertahankan pendapatnya.
"Mereka udah masuk ke rumah itu, Ma,"ucap Caca.
"Kita tunggu mereka disini, mama yakin sebentar lagi mereka keluar,"ucap Sari.
"Tapi disini panas banget, Ma,"keluh Caca.
"Kita berteduh dibawah pohon yang itu,"ucap Sari sembari menunjuk pohon mangga yang lumayan rindang disamping rumah yang dimasuki orang yang mereka buntuti.
"Yaudah, ayo,"sahut Caca malas.
***
Nabila dan suaminya baru saja makan siang bersama di luar kantor, mereka rencananya tidak langsung kembali ke kantor setelah makan siang.
"Kita langsung ke rumah konveksi?"tanya Wahyu.
"Iya, Mas. Di kantor juga nggak ada hal yang mendesak, jadi kita bisa melipir sebentar ke rumah konveski,"jawab Nabila lembut.
"Yaudah, ayo berangkat sekarang,"ucap Wahyu bangkit dari duduknya, kemudian mengulurkan tangannya pada sang istri.
Sementara Nabila bukan hanya menyambut uluran tangan suaminya, melainkan tangan Nabila melingkar dilengan kokoh suaminya.
"Ayo, Mas,"ajak Nabila.
Mereka melangkahkan kaki keluar restoran tanpa melepaskan rangkulan tangan Nabila.
"Kamu udah dapat kandidat karyawan baru, Sayang?"tanya Wahyu dalam perjalanan.
"Belum, Mas. Baru juga semalam aku pasang iklan di sosmed, Mas. Ya nggak mungkin secepat itu dapatnya,"jawab Nabila.
"Kalau memang belum ada, nanti mas bantu cariin,"ucap Wahyu.
"Iya, Mas."
__ADS_1
"Apa nggak sebaiknya masalah rumah konveksi diserahkan sepenuhnya pada Kaisar aja? Kamu tinggal menerima hasilnya aja, tentu Kaisar juga pasti mendapat gaji."
"Nanti aku serahkan pada Kaisar setelah dia menikah, Mas. Aku nggak mau menganggu konsentrasinya antara mengurus pernikahan dengan rumah konveksi."
"Kalau menurutmu itu yang terbaik, mas setuju apa yang kamu katakan. Mas akan selalu mendukung apapu keputusan kamu."
"Tapi, ngomong-ngomong... Mas beneran nggak apa-apa aku kerja?"
"Mas nggak apa-apa selagi kamu belum hamil, Sayang. Tapi, kalau kamu sudah hamil, mas mau kamu resign dari kerjaan kamu."
"Iya, Mas. Aku janji saat hamil nanti, aku akan resign,"ucap Nabila, "Tapi, kalau aku resign Mas pasti nanti akan repot cari sekretaris baru lagi."
"Nggak ribet kok, Sayang. Nanti mas akan ambil Kaisar sebagai sekretaris, Mas."
"Apa nggak masalah nantinya, Mas? Di perusahaan kan banyak karyawan yang lebih lama dan kompoten, nanti mereka malah protes."
"Nggak lah, Sayang. Mas juga lihat dan perhatikan mana yang cocok untuk jadi sekretaris. Mas juga udah siapin orang yang pas untuk menggantikan posisi Kaisar nanti."
Nabila tertegun, ia tidak habis pikir dengan suaminya yang sudah sangat matang mempersiapkan semuanya.
"Pikiran Mas udah jauh aja deh,"ucap Nabila terkekeh.
"Nggak apa-apa dong, kita memang harus merencanakan sesuatu hal dari jauh-jauh hari."
Nabila hanya merespon dengan tawa, ia merasa lucu melihat respon suaminya.
Tidak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Wahyu memasuki komplek perumahan dimana rumah konveksi milik Nabila berada.
Tanpa berkata apapun, mereka bergandengan tangan memasuk rumah.
***
"Kalian siapa?"tanya seorang pria berpakaian satpam.
Caca damn Sari saling lirik, mereka mencoba memikirkan alasan yang tepat.
"Eh, Bapak satpam di komplek ini ya?"tanya Sari b4sa-b4si.
"Iyalah, kalau saya keliling disini, iya jelas saya satpam disini,"jawab satpams tersenut sedikit ketus.
"Hehehe... Siapatau aja Bapak gabut di komplek sebelah, makanya keliling disini,"timpal Caca terkekeh.
"Sembarangan. Sekarang kalian jawab, siapa kalian ini?"
"Mmm... Begini, Pak. Sebenarnya kami disini memata-matai suami saya yang sedang jalan dengan wanita calon p3lakor,"ucap Sari.
Pak satpam tersebut mengkerutkan keningnya.
"Siapa yang kalian maksud calon p3lakor? Apa rumahnya di komplek ini?"
"Kami nggak tahu, Pak. Tapi, tadi saya lihat suami saya masuk ke dalam rumah itu bersama wanita lain,"ucap Sari sembari menunjuk salah satu rumah dikomplek tersebut.
"Benar itu, Pak. Pasti rumah itu juga jadi bagus karena uang dari papa saya,"sahut Caca semangat.
Satpam tersebut memicingkan mata menatap curiga pada kedua wanita didepannya.
__ADS_1
"Oh iya? Memangnya sejak kapan mereka masuk ke komplek ini? Karena setiap yang masuk kesini saya kenal dengan orangnya, bahkan sampai kendaraanya pun saya kenal."
"Sekitar 30 menit yang lalu, Pak. Tadi kami yang menyusul dibelakang mobil papa saya menggunakan taksi,"jawab Caca.
Pak satpam tersebut menganggukkan kepalanya.
"Ooh iya, lalu siapa nama suami Ibu?"tanya satpam pada Sari yang tentu membuat Sari dan Caca kalang kabut.
"Samad, Pak,"jawab Sari cepat, karena gugup ia jadi tidak memikirkan nama lain selain nama suami aslinya di Pontianak.
Mendengar mama yang disebutkan oleh Sari, pak satpam malah terbah4k-bah4k.
"Apa yang lucu, Pak?"tanya Caca kesal.
"Nggak apa-apa, kalau begitu mari saya antar ke rumah yang kalian maksud,"jawab satpam membuat Sari dan Caca percaya diri.
"Ini beneran nama pria tadi Samad? Sama seperti nama papa dong,"monolog Caca.
Sari dan Caca mengikuti langkah kaki satpam menuju rumah yang ditunjuknya tadi. Kepalang tanggung, mereka harus melihat secara dekat target baru Caca yang akan menjadi ladang uang mereka.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum,"salam pak satpam.
"Waalaikumssalam,"jawab seseorang dari dalam.
Cklek
"Eh Pak Kosim, ada apa, Pak?"tanya seorang pria yang membukakan pintu.
"Ini, Pak... Katanya istri dan anak Pak Samad mencari,"jawab Kosim dengan mengedipkan matanya.
"Siapa tamunya, Mas?"tanya wanita dari dalam.
"Nggak tahu, Sayang. Ini katanya lagi suaminya yang bernama pak Samad,"jawab pria tersebut.
Kosim menatap kearah Sari dan Caca dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Apa ini yang Ibu katakan jia dia suami Ibu?"tanya Kosim pada Sari dengan tegas.
Sari gelagapan. "Eh a-anu, Pak. I-iya,"jawab Sari gugup.
"Bagaimana, Pak Wahyu?"tanya Kosim pada Wahyu.
Sari dan Caca membelalakkan matanya mendengar nama yang disebutkan oleh Kosim. Mereka ternyata salah sangka, nama yang menjadi target mereka bukan bernama Samad.
"Bagaimana apanya, Pak? Saya tidak mengenal mereka,"jawab Wahyu santai.
Ia yang menjadi target Sari dan Caca berikutnya adalah Wahyu. Wahyu dan Nabila yang mereka ikuti sejak tadi.
Sementara itu, Nabila yang penasaran dengan tamu yang berkunjung ke tempatnya. Ia melangkah keluar untuk menyusul suamimya dan ingin melihat tamu tersebut.
__ADS_1
"Siapa sih? Kok kedengarannya agak berisik ya,"gumam Nabila.