
"Mmm... Mungkin saja Pak Wahyu punya teman yang sedang mencari rumah..." ucap Nabila lirih.
"Ooh, soal penjualan rumah. Kebetulan beberapa hari yang lalu ada teman saya seorang pengacara sedang mencari rumah disini," jawab Pak Wahyu.
Nabila bahagia mendengarnya, "Bisa saya minta nomornya, Pak? Biar saya yang menghubunginya," ujar Nabila semangat.
"Biar saya yang menghubunginya," jawab Pak Wahyu kemudian mengeluarkan hpnya dari saku celananya.
Lumayan lama mereka menunggu pak Wahyu yang sedang menghubungi temannya.
"Pak Wahyu bilang temannya seorang pengacara dan kebetulan sekali temannya itu ada disini, apa sebaiknya aku minta bantuannya mengurus perceraianku dengan mas Sam?" batin Nabila.
Merasa ada menepuk pundaknya, Nabila menoleh, ternyata ibunya yang melakukan itu.
"Kamu memikirkan apa, Nak? Pak Wahyu dari tadi memanggilmu," ucap Ibu Ros.
"Eh... Maaf, Pak Wahyu. Gimana dengan temanya Pak Wahyu?" tanya Nabila penasaran.
"Dia ingin nelihat dulu kondisi rumahnya, baru setelah itu bisa mengambil keputusan,"
"Bisa, Pak. Kapan teman Pak Wahyu ingin melihatnya?"
"Sore ini, Bisa?"
"Bisa, Pak. Sangat bisa sekali," jawab Nabila cepat.
"Baiklah. Kalau begitu akan segera saya sampaikan," ucap pak Wahyu.
"Iya, Pak," jawab Nabila.
Nabila belum membahas tentang perceraian yang akam diajukannya. Nabila ingin menyelesaikan dulu masalah penjualan rumah.
Sore hari tiba, sesuai janji temu mereka. Mereka sedang menuju rumah yang sebelumnya ditempati oleh keluarga Samudra.
"Semoga teman Pak Wahyu berjodoh dengan rumah itu," ucap Nabila penuh harap.
"Aamiin... Saya yakin, teman saya akan cocok dengan rumah itu. Rumahnya masih sangat kokoh, dan modelnya juga sangat bagus," sahut Pak Wahyu.
"Aamiin, semoga saja," sahut Ibu Ros.
"Sepertinya teman saya sudah sampai," tebak Pak Wahyu saat melihat ada sebuag mobil terparkir depan rumah.
"Jadi itu orangnya, Pak? Masih muda ya?" tanya Kaisar.
"Iya, dia masih muda. Sekitar 30 tahunan lah," jawab pak Wahyu terkekeh, "Ayo kita turun," ajak Pak Wahyu.
Nabila turun dengan menggendong Raksa. Sejak kejadian kemarin, Nabila tidak ingin jauh-jauh dari anaknya itu. Mungkin trauma yang dirasakan oleh Nabila.
"Assalamualaikum, Pak Geri," salam pak Wahyu.
"Assalamualaikum," salam Nabila, Ibu Ros dan Kaisar bersamaan.
"Waalaikumsalam... Pak Wahyu, setelah sekian lama, akhirnya kita bertemu kembali," jawab pak Geri tersenyum.
__ADS_1
"Apa kabar, Pak Geri?" tanya pak Wahyu.
"Alhamdulillah baik, Pak. Sepetinya Pak Wahyu terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya," balas pak Geri dengan candaan.
"Aaakh, Pak Geri bisa aja. Oh ia, perkenalkan ini Nabila pemilik rumah," ucap Pak Wahyu memperkenalkan Nabila.
"Eh ia, ooh ini Mba Nabila? Masih muda sekali ternyata," ucap pak Geri tersenyum.
"Iya, Pak. Saya Nabila," jawab Nabila tersenyum.
"Saya Geri," balas pak Geri, lalu melirik pada Kaisar, "Ini pasti suami Mba Nabila ya?" tanya pak Geri.
Nabila terkekeh mengetahui pria didepannya salahpaham.
"Eh eh... bukan, Pak. Saya adiknya Mba Nabila, Kaisar nama saya," jawab Kaisar cepat.
"Oh adiknya toh. Maaf ya, mas Kaisar?"
"Iya, Pak. Nggak apa-apa, hal seperti ini biasa terjadi kok," jawab Kaisar terkekeh.
"Perkenalkan ini Ibu saya, Pak. Ibu Ros namanya," ucap Nabila seraya memegang tangan Ibu Ros.
"Salam kenal, Ibu Ros?" sapa pak Geri.
"Salam kenal juga, pak Geri," balas ibu Ros tersenyum.
"Nabila, ada baiknya kita segera masuk dan mengajak pak Geri melihat tampilan tiap ruangan," ucap pak Wahyu.
Butuh waktu 1 jam untuk menggelilingi disetiap ruangan dirumah tersebut, dan terakhir menuju taman belakang yang cukup luas.
"Ini taman belakangnya, Pak," ucap Nabila.
"Taman cukup luas. Bisa dijadikan taman bermain untuk anak-anak," balas pak Geri.
"Iya, Pak Geri betul sekali. Ditaman ini bisa dibuat taman bermain, dan selebihnya bisa dijadikan taman bunga jika istri Pak Geri suka bercoc0k tanam," ucap Nabila.
"Iya, istri saya sangat suka menanam berbagai macam bunga. Katanya untuk mengisi waktu luang, agar tidak bosan," jawab pak Geri terkekeh.
"Nah, ini sangat cocok sekali dengan istri Pak Geri. Menanam sambil mengawasi anak bermain," ucap pak Wahyu.
"Kita kembali kedalam, saya rasa saya sangat cocok dengan rumah ini," ucap pak Geri.
"Ayo, pak. Silahkan," ucap Nabila mempersilahkan tamu jalan lebih dulu.
Mereka duduk diruang tamu yang lebarnya lumayan luas untuk ukuran ruang tamu.
"Berapa harga jual rumah ini, Mba Nabila?" tanya pak Geri.
"Saya memasang diharga 400jt, Pak Geri. Tapi masih bisa dinego," jawab Nabila Cepat.
"Pak Geri menganggukkan kepalanya, "Gimana kalau saya ambil dengan 370jt?" tanya pak Geri.
__ADS_1
"Alhamdulillah... Bisa, Pak. Tapi apa Pak Geri yakin?" tanya Nabila.
Pak Geri tersenyum, "Saya yakin, Mba. Harga segitu memang harga yang pas dengan rumah yang besar seperti ini," jawab Pak Geri.
"Nggak apa-apa, Nabila. Uang segitu tidak akan menggeser saldo rekeningnya," sahut Pak Wahyimu terkekeh.
"Pak Wahyu bisa aja bercandanya," balas Pak Geri tertawa.
"Saya tidak asal menebak loh, Pak Geri. Hahaha," jawab Pak Wahyu diakhiri dengan tawa renyahnya.
"Terserah, Pak Wahyu lah. Saya malah bersyukur didoakan banyak duit nya," ucap Pak Geri terkekeh.
"Aamiin..." ucap Pak Wahyu mengaminkan.
"Maaf, Mba Nabila. Bagaimana dengan proses pembayarannya?" tanya Pak Geri.
"Saya ikut dengan Pak Geri saja," jawab Nabila sungkan.
"Kalau begitu, saya transfer sekarang DP nya, selebihnya kita selesaikan saat proses penyerahan pembalikan nama kepemilikan," ucap Pak Geri.
"Iya begitu saja, Pak," jawab Nabila.
"Saya minta nomor rek3ning, Mba Nabila. Boleh?" tanya Pak Geri.
"Iya boleh, Pak. Tunggu sebentar," jawab Nabila, kemudian membuka hpnya dan mencari nomor rek3ningnya, "Ini, Pak," ucao Nabila menyerahkan hpnya yang layarnya menampilkan beberapa angka.
Beberapa saat kemudian transaksi yang dilakukan pak Geri selesai.
"Ini bukti transferannya, Mba. Mba bisa cek sekarang," ucap pak Geri memperlihatkan bukti transferan.
"Oh ia. Pak. Saya cek sekarang," jawab Nabila, "Iya sudah masuk, Pak. 150jt untuk DP nya, ada Pak Wahyu, Kaisar dan Ibu yang jadi saksinya, Pak," ucap Nabila.
"Iya, Mba," jawab pak Geri, lalu mengangkat tangannya guna melihat jam dipergelangan tangannya, "Sepertinya saya harus pergi sekarang, karna setelah ini saya ada temu janji dengan klien," ucap Pak Geri.
"Sibuk sekali Pak pengacara ini," sahut pak Wahyu bergurau
Pak Geri tersenyum, "Pak Wahyu jauh lebih sibuk loh," balas pak Geri.
"Nggak lah. Saya sekaramg seorang pengangguran Pak Geri," sahut pak Wahyu.
"Pengangguran tapi duit lancar masuk kerekening. Hahaha," balas pak Geri.
"Itu karna ada anak sholeh yang menjamin. Hahaha," kelakar pak Wahyu.
"Untung ada anak sholeh ya, Pak? Baiklah, saya tidak bisa berlama-lama lagi, klien sudah menunggu. Lain kali kita akan luang waktu berdua, Pak Wahyu," ucap pak Geri.
"Ohh itu harus, Pak Geri. Baiklah, saya tidak bisa menahan Pak Geri lebih lama lagi," jawab pak Wahyu.
"Terimakasih atas pengertiannya, Pak. Mba Nabila, Kaisar dan Ibu Ros, saya pamit dulu," ucap pak Geri seraya berpamitan pada keluarga Nabila.
"Iya, Pak. Silahkan," jawab Nabila.
Kaisar dan Ibu Ros menggangguk tersenyum kepada pak Geri.
__ADS_1