
Beberapa minggu kemudian, Nabila mulai mendatangi toko-toko baju untuk mempromosikan barangnya, ada juga yang dipromosikan melalui online shop dengan membuat video yang Nabila dan Clara menjadi modelnya.
Banyak yang tertarik dengan model baju yang dipasarkan oleh Nabila dan timnya. Sudah ada beberapa yang mengambil barang ditempatnya untuk dijual kembali.
"Bagaimana ini, Mbak? Kita sepertinya kekurangan tenaga untuk menjahit dan membuat polanya,"ucap Tuti.
Nabila tampak berfikir, menimang-nimang langkah apa yang akan diambil dan solusi apa yang terbaik, "Apa kalian punya kenalan yang bisa menjahit?"tanyanya.
Semuanya tampak memikirkan pertanyaan Nabila. Karna permintaan konsumen mulai banyak sedangkan tenaga tidak cukup.
"Saya ada adik yang bisa menjahit juga, Mbak,"ujar Tuti.
"Oh iya, Bu Tuti? Kalau begitu tolong dihubungi adiknya. Siapatau adiknya berkinat gabung dengan kita,"sahut Nabila antusias.
"Iya, Mbak. Akan saya hubungi sekarang juga."
Sementara Tuti berbicara dengan adiknya, Salma dan Samsiah juga sedang memikirkan siapa yang tepat nereka rekrut.
"Mbak Nabila? Apa kita cuma membutuhkan tenaga dibagian j4hit menj4hit?"tanya Salma.
"Tidak, Bu. Kita juga butuh yang seperti Ibu Salma. Tapi mungkin hanya sementara, karna saya sedang memesan mesin pem0tong kain."
"Nggak apa-apa, Mbak. Saya akan tetap menghubunginya."
"Tunggu, Bu. Yang Ibu Salma hubungi bisa naik motor kan?"
"Iya bisa, Mbak. Kebetulan masih muda juga."
"Baiklah. Segera hubungi."
"Jika kita tambah orang. Berarti kita juga harus menambah mesin j4hitnya, Mbak,"ujar Samsiah.
"Iya, Bu. Setelah pulang dari sini saya akan langsung membeli mesinnya,"sahut Nabila..
"Mbak Nabila?"panggil Tuti pelan.
"Bagaimana, Bu Tut?"
"Adik saya mau, Bu. Kebetulan juga lagi butuh kerjaan katanya."
"Adiknya sudah berkeluarga?"tanya Nabila.
"Belum, Bu. Adik saya baru menyelesaikan pendidikannya."
"Kenapa nggak lamar diperusahaan aja, Bu?"
"Katanya udah, tapi belum ada yang lolos."
"Yasudah, kalau memang adik Ibu Tuti mau, besok sudah bisa masuk kerja."
"Terima kasih, Mbak."
"Kita butuh satu orang lagi dibagian j4hit, mungkin Ibu Samsiah ada kenalan?"
"Mm... Ada, Bu. Kakak saya memang sedang mencari kerjaan."
"Kalau begitu segera hubungi, Bu,"pinta Nabila.
"Baik, Bu,"jawab Samsiah antusias.
__ADS_1
Permasalah tenaga sudah selesai, tinggal menunggu alat-alat yang dibutuhkan untuk segera tiba.
Nabila tidak menyangka jika yang minat dengan baju yang dbuatnya akan laku begitu k3ras. Seandainya ia tahu dari awal, mungkin sedari lama dia memesan m3sin pem0t0ng kain.
"Padahal baru ada 3 model yang kita buat loh, Mbak. Tapi pembeli sudah membludak aja,"ujar Samsiah.
"Alhamdulillah, Bu. Saya juga tidak menyangka bisa sampai seperti ini,"jawab Nabila tersenyum.
"Mbak, persediaan kainnya juga sudah menipis. Kita harus menyiapkan segera,"ucap Tuti.
"Baiklah, kalau begitu sepertinya sekarang saya harus pergi sekarang. Ibu Salma bisa ikut saya?"
"Bisa, Bu,"jawab Salam.
Nabila mengangguk lalu beralih menatap Samsiah dan Tuti, "Ibu Tuti dan Ibu Samsiah istirahatlah dulu, lanjut besok kerjanya."
"Siap, Mbak."
"Ayo, Bu Salma,"ajak Nabila.
Dengan taksi online yang dipesan Nabila, mereka berangkat menuju toko kain yang pernah Nabila kunjungi.
"Yang bahan crincle masih ada kan, Mbak?"tanya Nabila pada pegawak toko.
"Masih, Mbak. Ini semua bahan crinclenya, sekarang ada beberapa warna baru, ada biru wardah,
"Saya mau warna grey, green deep, peach, biru wardah."
"Mau berapa roll, Mbak?"
"Saya mau setiap warnanya 3 roll, Mbak."
"Baik, Mbak. Akan segera kami kemas. Apa masih ada lagi yang dicari?"
"Mari, Mbak. Bahannya da dibelakang."
"Ayo, Bu Salma. Ibu Salma bantu saya cari-cari warna yang cantik."
"Ini bahannya, Mbak. Ada juga warna baru yang kami siapkan."
Nabila mengamati warna-warna kain yang diinginkannya.
"Warna bata, moca, hitamnya masih cukup tiga roll kan, Mbak?"
"Masih, Mbak."
"Siapkan itu juga, Mbak. Sama ini warna salemnya 3 roll,"ucap Nabila kembali mengamati barisan gulungan kain.
"Mbak Nabila?"
Nabila menoleh saat dipanggil oleh Salma, "Kenapa, Bu?"
"Ini warna lilacnya juga cantik,"usul Salma.
Nabila melihat kain yang dimaksud Salam, "Warna adem ya, Bu? Kita mau ambil yang ini juga deh,"ucap Nabila beralih menatap karyawan toko, "Mbak, yang ini juga 3 roll."
"Baik, Mbak."
"Astaga, saya hampir lupa. Tadi saya ada pesan warna hitam untuk bahan crincle nggak, Mbak?"
__ADS_1
"Tidak ada, Mbak."
"Saya pesan 3 roll warna hitamnya, Mbak."
"Baik. Saya akan bacakam pesanan, Mbaknya."
"Silahkan, Mbak."
"Untuk bahan crincle warna yang dipilih warna grey, green deep, peach, biru wardah dan hitam. Untuk bahan rayon premium warnanya bata, moca, hitam, salem dan lilac, masing-masing 3 roll."
Karyawan membacakan pesanan Nabila agar tidak ada kesalahan dalam perngiriman nanti, ini dilakukan juga agar tidak ada komplein dari pembeli.
"Iya semuanya bener, Mbak."
"Kalau begitu silahkan lakukan oembayaran di kasir, Mbak."
Setelah proses pembayaran selesai, Nabila mengajak Salma berjalan kaki menunu toko meain j4hit yang pernah juga dikunjungi sebelumnha bersama Clara.
"Saya ajak jalan kaki begini, Ibu Salma nggak apa-apa kan?"
"Nggak, Mbak. Saya sudah biasa jalan kaki jarak jauh, kalau cuma jaraknya 3 toko begini mah biasa, Mbak,"jawab Salma terkekeh.
"Bu Salma bisa aja deh,"sahut Nabila ikut terkekeh.
Setelah sampai di toko mesin j4hit, Nabila langsung mengambil 2 mesin yang sama persis yang sudah ada di tempatnya. Ia juga membeli stok benang sebanyak mungkin yang sesuai dengan warna kain yang ada.
"Kita makan siang dulu, Bu,"ajak Nabila.
"Mbak Nabila makan aja, saya mau makan sama anak saya, Mbak."
Nabila menghentikan langkah kakinya menatap pada Salam, "Baiklah, kita pesan makanan saja. Kita makan di rumah,"ucap Nabila tegas.
"Nggsk usah, Mbak. Kalau Mbak mau makan di tempat nggak apa-apa, saya temani."
"Tidak, Bu. Saya juga mau makan sama yang lainnya, jadi ayo kita pesan makanannya dulu."
"Tapi, Mbak. Bukannya sudah ada makanan ketring yang selalu mengantar ke rumah?"
"Astaga... Saya lupa, Bu. Mubazir juga kalau beli lagi,"sahut Nabila.
"Makanya, Bu. Kalau mau disimpan juga sorenya udah basi pasti."
"Yasudah, kita pulang sekarang."
Taksi online berhenti tepat di depan tempat produksi milik Nabila. Setelah membayar Nabila keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu depan tempat produksi diikuti oleh Salma.
"Assalamualaikum,"salam Nabila dan Salma.
"Waalaikumssalam, Mbak, Bu Salma,"jawab semua orang yang ada di dalam.
"Kaliam belum makan kan?"tanya Nabila.
"Belum, Mbak,"jawab Tuti.
"Tapi makanannya sudah diantar kan?"0
"Sudah, Mbak. Ada di meja dapur,"jawab Samsiah.
"Yasudah, kita makan sekarang. Panggil anak-anak,"titah Nabila.
__ADS_1
Menatap anak-anak dari karyawannya membuat Nabila merindukan anaknya, meskipun setiap hari bertemu tapi jarang meluangkan waktu bersama. Apalagi dengan kesibukan Nabila yang bertambah.
"Sepertinya setelah ini aku harus meluangkan waktu khusus untuk Raksa. Saya tidak mau karna kesibukan ini, saya jadi jauh dari anak saya,"monolog Nabila dalam hatinya.