
Malam tiba, makan malam sudah siap disajikan diatas meja makan. Anak-anak sudah menunggu sedari tadi, namun Wahyu dan Nabila belum juga muncul.
Sedangkan Wahyu berusaha membujuk Nabila yang masih tampak lemas dan menolak untuk ikut makan malam.
"Kamu kenapa nggak mau ikut makan malam, Sayang?"tanya Wahyu lembut.
"Badan aku rasanya masih lemas, Mas. Aku masih nggak sanggup buat bangun,"jawab Nabila manja, ia mengubah posisinya menjadi berbantalkan pah4 sang suami.
Wahyu membelai wajah istrinya, sentuh4nnya berhenti tepat dipipi merah istri b3kas t4mp4ran Sinta.
"Mas, akan panggil dokter kemari, dan kali ini tidak ada bantahan,"ucap Wahyu tegas.
"Iya, Mas,"sahut Nabila memejamkan matanya dan wajahnya menghadap keperut suaminya.
Tanpa bas4-basi lagi, Wahyu segera menelfon dokter yang biasa datang kerumahnya untuk memeriksa kondisi bagi siapa saja yang sakit, termasuk untuk para pekerjanya.
"Sebentar lagi dokter datang,"ucap Wahyu.
Lain halnya dengan suasana diruang makan, Raksa mulai kesal karena sudah kelaparan namun orang tuanya belum juga datang.
"Mama cyama papa mana cih, Kak? Adek udah lapel,"sungut Raksa.
Galaksi mengg4ruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menatap kearah art yang berdiri disampingnya. "Bik, tolong temani Adek disini ya. Saya mau panggilin mama papa dulu,"pinta Galaksi.
"Apa nggak sebaiknya Mas Gala dan Mas Raksa makan duluan aja? Pasti ibu dan bapak maklum,"usul bibik sungkan.
"Yaudah, Bik. Tolong makan Adek disiapin dipiring ya, Adek udah bisa makan sendiri kok. Tapi, jangan ditinggal."
"Siap, Mas."
Galaksi berlari kecil menuju kamar orang tuanya, ia menerka-nerka kondisi mamanya yang mungkin saja syok karena kejadi disup3rmark3t.
Cklek
Galaksi melongo, ia jadi salah tingkah sendiri melihat mamanya yang sedang bermanja-manja dipangkuan papanya.
"Maaf, kakak datang diwaktu yang tidak tepat,"cicit Galaksi melirik kiri kanan.
Hal yang sama juga dirasakan oleh orang tua Galaksi, meski mereka sepasang suami istri, tapi mereka tidak pernah menunjukkan kemesraan seperti yang sedang terjadi didepan anak-anaknya.
Ketika Nabila akan memindahkan kepalanya ke bantal, Wahyu menahannya dan tersenyum pada istrinya.
"Tetap seperti ini, Ma,"pinta Wahyu lembut, kemudian ia mendongak menatap anaknya yang masih berdiri diambang pintu.
"Masuklah, Kak,"titah Wahyu.
Dengan langkah pelan, Galaksi mendekati orang tuanya dengan menundukkan kepalanya.
"Gimana keadaan, Mama?"
"Mama masih pusing, Kak,"jawab Wahyu.
"Kalau gitu kakak akan telfon dokter keluarga,"ucap Galaksi panik.
"Tenang, Kak. Papa sudah menelfon dokter Pras, sebentar lagi pasti datang,"ucap Wahyu.
"Aku mau pindah kebantal aja, Pa. Nggak enak nanti diliat sama dokter Pras, nggak baik juga diliat sama anak-anak,"ucap Nabila lemah.
__ADS_1
Sedikit ragu, Galaksi duduk dipinggir ranjang milik orang tuanya. Ia menatap penuh rasa bersalah pada mamanya.
"Maaf, Ma,"ucap Galaksi pelan.
"Loh, kenapa harus minta maaf, Kak?"tanya Nabila berusaha bangkit dari pembaringan.
"Sini, papa bantu." Wahyu sigap membantu istrinya bersandar di headboard ranjang.
Wahyu begitu telaten mengurus istrinya yang sedang kurang sehat.
"Gara-gara teman kampus kakak, Mama jadi sakit begini,"sesal Galaksi.
Senyum terbit dibibir Nabila, meski bib1rnya terlihat sangat puc4t.
"Ini bukan salah, Kakak. Ini juga bukan karena temannya, Kakak. Entah kenapa mama tiba-tiba aja lemas,"ucap Nabils menenangkan anaknya.
"Ini bukan salah kamu, Kak. Jangan merasa bersalah seperti ini,"tambah Wahyu.
Tok
Tok
Tok
Obrolan mereka berhenti ketika ada ketukan pintu kamar. Mereka kompak melihat kearah pintu yang tidak tertutup sepenuhnya.
"Permisi, Pak, Bu, Mas. Ini dokter Pras sudah datang,"ucap salah satu art.
"Silahkan masuk, Dokter Pras,"sambut Wahyu berdiri dari duduknya, begitupun dengan Galaksi.
"Iya, Pak Wahyu. Ibu Nabila kenapa?"
"Baiklah, kalau begitu saya periksa dulu ya."
Dokter memeriksa Nabila dengan sangat serius. Sesekali dokter tersebut mengajukan pertanyaan pada Nabila.
***
"Kamu udah serahkan laporan mingguan pada mbak Nabila, Mas?"
"Belum, Sayang. Besok minggu kita ke rumah mbak Nabila, ajak ibu juga,"jawab Kaisar.
Wajah Clara berbinar begitu tahu mereka akan ke rumah Nabila. Clara seantusias itu karena akan bertemu Raksa, mereka memang sudah sangat jarang bertemu. Itu karena memiliki kesibukan masing-masing.
"Kalau gitu aku mau buat kue untuk dibawa ke rumah mbak Nabila akh, kue spesial untuk Raksa dari aunty nya yang paling cantik,"ucap Clara semangat dan c3ntil.
Kaisar terkekeh melihat istrinya tampak semangat, mereka memang sering bertemu Nabila di kantor, tapi sangat jarang memiliki waktu untuk ngobrol.
"Jangan capek-capek, Sayang,"sahut Kaisar.
"Siap, Mas."
Clara berjalan grasak-grusuk menuju dapur, sampai tidak sadar ada ibu mertuanya berjalan dari arah dapur.
Bukk
"Astagfirullah, Nak..."pekik ibu Ros panik.
__ADS_1
Clara diam mem4tung ketika tidak sengaja menabr4k ibu mertuanya. Refleks Kaisar juga bangkit dari duduknya dan menghampiri istri dan ibunya.
Mata Clara tertutup karena takut jika dirinya jatuh dan pasti akan berakibat fatal.
"Kamu tidak apa-apa kan, Nak?"tanya ibu Ros khawatir.
Karena tidak merasakan sesuatu, Clara perlahan membuka matanya. Namun, karena syok, Clara masih tidak bisa mengeluarkan suaranya.
Untung Clara tidak sampai jatuh akibat kejadian tersebut, dan untungnya refleks ibu Ros sangat baik meski usianya sudah sepuh.
"Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?"
Clara tergagap, badannya gemetar sembari tangan memegang erat perutnya.
"Duduk, diajak duduk, Isar,"titah ibu Ros.
"Bik? Tolong ambilin air, cepetan,"titah bik Ros setengah berteriak.
Sigap Kaisar menggendong istrinya, ia mendudukkan istrinya dengan pelan disofa panjang.
"Mana yang sakit, Sayang?"
"Perut aku k3ram, Mas,"ucap Clara meringis.
"Ini minumnya, Bu,"ucap bik Minah.
Ibu Ros menerima gelas yang dibawa bik Minah. "Terima kasih, Bik,"ucap ibu Ros, "Ini, Sar. Bantu Clara minum dulu, biar bisa lebih tenang."
"Mbak Clara kenapa, Bu?"
"Clara syok, Bik. Tadi nggak sengaja kami tabr4kan, dan Clara hampir saja jatuh,"jawab ibu Ros.
"Atstagfirullah, untung Mbak Clara nggak jatuh." Bik Minah kaget mendengar kejadia yang baru saja menimpa Clara.
"Perutnya masih k3ram, Nak?"tanya ibu Ros.
"Masih, Bu,"jawab Clara pelan.
"Kita kerumah sakit ya, Sayang? Mas nggak mau terjadi apa-apa sama kalian."
"Tidak, Mas. Aku ingin istirahat sebentar, mungkin aku terlalu kaget makanya jadi k3ram,"tolak Clara.
"Ajak istirahat ke kamar aja, Sar,"titah ibu Ros.
"Iya, Bu."
"Semoga kandungan Mbak Clara baik-baik aja,"gumam bik Minah.
Ibu Ros menyusul Kaisar yang menggendong Clara menuju kamar mereka.
Mata ibu Ros berkaca-kaca melihat menantunya sesekali meringis.
"Elus-elus perut Clara, Sar,"titah ibu Ros.
Ibu Ros duduk dikursi meja rias samping ranjang Clara dan Kaisar.
"Lain kali harus lebih hati-hati lagi, Nak,"ucap ibu Ros menatap menantunya.
__ADS_1
"Maafin ibu ya, Nak,"lanjut ibu Ros meminta maaf pada menantunya.
Clara menggeleng pelan. "Tidak, Bu. Aku yang salah, karena terlalu semangat jadinya jalan nggak liat-liat,"ucap Clara.