Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Makan malam gratis?


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, Nabila telah menyelesaikan masa iddahnya. Kini Nabila telah resmi menjadi janda sepenuhnya. Ia menikmati kesibukannya yang makin bertambah dengan banyaknya orderan masuk di toko Nabila's Fashion Collection.


Nabila juga masih bekerja di kantor Pramudya Group. Sehari-hari dijalaninya dengan suka cita, ia tidak pernah mengeluh lelah atau apapun itu.


Kaisar juga sudah mulai bekerja di kantor yang sama dengan kakaknya dengan kemampuannya sendiri, tidak ada yang tahu jika mereka bersaudara.


Ting!


[Apa hari ini kamu sibuk?] isi pesan yang masuk ke dalam room chat Nabila.


^^^[Hari ini tidak begitu sibuk, pak,] balas Nabila.^^^


[Apa kamu ada waktu untuk keluar malam ini?]


^^^[Keluar kemana, pak?]^^^


[Saya ingin mengajak kamu makan malam berdua, apa boleh?]


Nabila tercengang membaca isi chat yang masuk di ponselnya, "Makan malam berdua? Ini pak Wahyu tidak salah ngajak kan?"


Ting!


[Kenapa tidak dibalas?]


Pesan masuk membuyarkan lamunan Nabila.


^^^[Makan malam dalam rangka apa, pak?]^^^


[Hanya sekedar makan malam biasa.]


Nabila sejenak terdiam memikirkan akan menerima atau tidak tawaran dari pemilik perusahaan Pramudya Group.


"Kalau di tolak takut malah membuat pak Wahyu tersinggung. Tapi, kalau di terima apa kata orang nanti,"gumam Nabila.


-Cklek-


"Permisi, Bu Nabila,"ujar seseorang masuk ke dalam ruangan Nabila.


"Eh, iya... Ada, Sar?"


"Mbak kenapa melamun?"tanya Kaisar.


Nabila mencebik, "Kamu ini ditanya malah balik bertanya,"ujarnya kesal.


"Hehehe... Maaf, Mbak. Tapi, aku penasaran kenapa Mbak malah melamun?"


"Mbak sebenarnya bingung, Sar."


Kening Kaisar mengkerut heran, kemudian menggeser kursi agar bisa didudukinya, "Bingung kenapa, Mbak?"


"Anu, Sar... Itu..."


"Anu itu apa, Mbak?"tanya Kaisar greget.


Nabila menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kamu baca aja langsung deh,"ucapnya seraya menyerahkan ponselnya yang menampilkan room chatnya dengan Wahyu.


Karna rasa penasaran yang tinggi cepat-cepat Kaisar meraih ponsel kakaknya. Setelah beberapa menit membaca dan mencerna isi dari chat tersebut, Kaisar menjadi heboh.


"Wah... Terima aja tawarannya, Mbak. Kapan lagi ada ajakan makan malam dengan bos besar perusahaan,"ucap Kaisar heboh.


"Shutt, Kaisar! Jangan berisik,"tegur Nabila tegas.


"Sorry, Mbak. Aku terlalu antusias membaca chat mas Wahyu,"sahut Kaisar terkekeh.


"Terus mbak harus gimana ini, Sar?"tanya Nabila lirih.


"Terima aja sih, Mbak,"jawab Kaisar santai.


"Kamu serius?"tanya Nabila memastikan.


"Iya serius, Mbak. Dua rius malahan."

__ADS_1


"Oke! Kamu bisa keluar sekarang! Kamu cuma bawa berkas yang mau di ditanda tangani pak Galaksi kan?"


Kaisar mencebik, "Giliran udah mendapat jawaban aja, aku diusir,"cibirnya.


"Udah sana cepetan keluar,"ujar Nabila.


Setelah Kaisar keluar dari ruangannya, Nabila dengan cepat meraih ponselnya dan membuka room chat.


^^^[Baiklah, pak. Malam ini saya bisa.]^^^


"Begini sopan nggak ya?"tanya Nabila membaca ulang isi chatnya.


Ting!


[Bagaimana? Apa kamu bisa?]


Belum sempat Nabila bereaksi, chat yang tadi di ketiknya sudah terkirim.


"Eh eh, apa ini? Kenapa terkirim sih?"


Rasa panik mendera Nabila, "Gimana ini? Mau ditarik kembali pesannya, tapi udah keburu dibaca."


Ting!


[Oke, nanti malam saya jemput di rumah!]


"Aduh... Kenapa pak Wahyu tiba-tiba ngajak makan malam segala sih,"gumam Nabila kesal.


^^^[Iya, pak.]^^^


Setelah pesan terkirim, Nabila memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berusaha fokus memeriksa laporan yang diserahkan pada Galaksi.


"Ayo, fokus Nabila."


***


Malam hari tiba, Nabila masih berdiri didepan lemari pakaiannya, mencari-cari baju yang cocok dipakai untuk makan malam berdua.


"Mbak?"


"Iya, Sar?"


"Pak Wahyu udah nunggu dibawa."


Nabila menjadi kalang kabut mendengar informasi dari adiknya, "Iya, Sar. Sebentar lagi saya ke bawa."


"Oke, Mbak."


"Aduh... Gimana ini? Baju yang mana yang harus aku pakai?"gumam Nabila mengacak-acak isi lemarinya.


Dengan asal Nabila meraih baju gamis produknya sendiri yang berwarna peach.


"Pakai ini aja,"ucapnya.


Secepat k1lat Nabila memakai baju, jilbab dan mengaplikasikan makeup di wajahnya.


"Assalamualaikum,"salam Nabila.


"Waalaikumssalam,"jawab Wahyu yang duduk di teras rumah seorang diri.


"Maaf, membuat Bapak menunggu lama,"ucap Nabila tak enak hati.


"Tidak masalah, saya juga baru tiba kok."


"Kenapa tidak menunggu di dalam saja?"


"Tidak! Ibu dan Kaisar ke rumah Clara membawa Raksa jadi saya tidak mau jika harus menunggu seorang diri di dalam rumah."


Nabila mengangguk, "Terima kasih atas pengertiannya, Pak."


"Iya. Bisa kita berangkat sekarang?"

__ADS_1


"Bisa, Pak."


Dengan pelan Nabila mengikuti langkah kaki Wahyu menuju mobil yang terparkir di depan rumahnya.


"Silahkan masuk,"ucap Wahyu setelah membuka pintu penumpang disamping kemudi.


Nabila merasa sungkan diperlakukan istimewa oleh bos besarnya, "Te-terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


Wahyu sedikit berlari kecil menuju kemudi, "Siap?"tanyanya hanya dijawab anggukan oleh Nabila.


Sementara itu dibalik jendela rumah Clara, keluarganya mengintip kepergian Nabila dan Wahyu.


"Lucu ya mereka,"ucap Clara terkekeh.


"Hahaha, kamu benar, Ra. Mas Wahyu terlihat salah tingkah melihat penampilan mbak Nabila yang meski sederhana tapi tetap memukau,"sahut Kaisar ikut terkekeh.


"Ibu berdoa mereka berjodoh dunia akhirat. Ibu tidak mempermasalahkan dengan umur menantu ibu yang umur tidak jauh beda dengan ibu, ibu hanya berharap Nabila bahagia,"ucap ibu Ros pelan.


"Aku juga dukung, Ibu,"sahut Clara semangat.


Sebelum mengajak Nabila makan malam, Wahyu menemui ibu Ros untuk meminta restu agar bisa mendekati Nabila. Ibu Ros merestui dan mendukung niat baik Wahyu asal tidak memaksakan kehendak pada Nabila.


"Makasih, Nak. Kamu selalu ada untuk keluarga ibu,"ucap ibu Ros dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Bu,"jawab Clara tersenyum seraya "merangkul pundak ibu Ros.


Dilain tempat, mobil yang dikemudikan oleh Wahyu memasuki area restoran yang mewah.


"Pak? Kenapa ke restoran mewah begini?"


"Tidak apa-apa. Kebetulan kemarin Galaksi kemari dan mendapat voucher makan gratis hari ini, jadi saya ngajak kamu kesini,"ujar Wahyu berbohong.


Nabila mengangguk lemah, "Aku fikir ini makan malam istimewah yang sengaja di rencanakan, ternyata karna dapat voucher gratis,"ucap Nabila kesal dalam hati.


Wahyu tersenyum melihat reaksi Nabila, "Ayo kita kedalam,"ajaknya, tapi karna melamun hingga membuat Nabila tidak mendengar ajakannya.


Melambaikan tangan didepan wajah Nabila, berharap dengan cara itu bisa menyadarkan Nabila dari lamunannya.


"Nabila?"panggil Wahyu.


"Eh iya ke-kenapa, Pak?"tanya Nabila gugup.


"Ayo kedalam!"


"Iya, Pak."


Memasuki restoran, Nabila dan Wahyu berjalan beriringan menuju meja yang dipesan sebelumnya.


"Meja atas nama Wahyu Pramudya,"ucap Wahyu pada pelayan restoran.


Kening Nabila mengkerut heran, "Katanya dapat voucher, seharusnya kan diperlihatkan dulu vouchernya baru bisa dapat meja. Ada yang aneh ini."


"Mari, Pak, Bu. Mejanya ada disebelah sana."


Mereka mengikut langkah kaki pelayan tersebut menuju meja yang telah direservasi.


"Ini mejanya. Silahkan duduk, Bu, Pak."


"Iya, terima kasih,"ucap Nabila ramah.


Setelah pelayan pergi, Nabila mulai mengintrogasi Wahyu.


"Pak Wahyu?"


"Iya kenapa, Nabila?"


"Ada yang Bapak sembunyikan?"tanya Nabila penuh selidik.


"Tidak ada!"jawab Wahyu tegas.

__ADS_1


"Saya tidak percaya jika makan malam ini karna mendapat voucher,"ucap Nabila masih terus menatap Wahyu.


__ADS_2