
"Ayo, Clara. Yang lain pasti udah pada nungguin,"ajak Nabila.
"Sabar, Mbak. Aku markirin mobil disebelah dulu,"sahut Clara kemudian memajukan mobilnya dan dibelokkan masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
"Kalau gitu saya masuk duluan, Ra."
"Iya, Mbak,"jawab Clara sedikit berteriak.
Nabila memasuki rumah setelah mengucap salam. Seperti biasa keluarganya akan berkumpul di ruang tv.
"Hi, anak ibu!"sapa Nabila pada anaknya.
"Ibu..."panggil Raksa lalu memeluk leher ibunya.
"Gimana kabar Raksa hari ini? Nggak nakal kan?"tanya Nabila sedikit mencoel hidung mancung anaknya.
"No, Bu. Laksa anak baik,"jawab Raksa.
"MasyaAllah, anak ibu memang the best,"sahut Nabila tersenyum, "Raksa tumben nggak main?"tanyanya saat melihat tidak ada mainan berserakan di atas karpet.
"Udah diberesin, Mbak. Raksa udah mulai suka nonton kartun di tv,"ujar Kaisar.
"Yaudah, nggak apa-apa. Yang penting jangan lama nontonnya ya, Nak?!"ucap Nabila pada anaknya yang sedang serius menonton film kartun botak kembar yang memang menjadi favoritnya saat nonton bersama ayahnya.
"Nggak, Nak. Ibu cuma ijinkan nonton 1 jam aja dalam sehari. Ibu khawatir kalau kelamaan nonton, bakal kecanduan dianya,"sahut ibu Ros.
"Iya, Bu. Itu yang Nabila lakukan selama ini, makanya kalau Raksa mau mainan, saya langsung belikan aja. Lebih baik banyak main daripada banyak nonton."
"Iya, Kamu bener, Nak. Tetangga kita di kampung, anaknya lebih sering nonton matanya jadi suka ngedip-ngedip gitu,"ucap ibu Ros.
"Itulah yang aku takutkan, Bu. Karna banyak orangtua jima sudah sibuk bekerja maka mengambil jalan pintas dengan memberikan ponsel dan tidak membatasi anaknya menonton baik di tv maupun ponsel, asal anaknya anteng."
Ibu Ros mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh anak perempuan, "Sudah, kamu tenang saja. Raksa InsyaAllah akan aman jika bersama ibu. Sebaiknya kita makan, mana Clara?"
"Ohia, tadi Clara bilang mau masukin mobilnya dulu, tapi kok lama ya? Apa jangan-jangan dia bersih-bersih dulu?"
"Udah, nggak apa-apa. Kamu juga sana ke kamar,"pinta ibu Ros.
"Seharusnya Mbak Nabila bersih-bersih dulu baru dekat-dekat Raksa. Takut hal negatif dari luar ikut nempel di Raksa,"sahut Kaisar.
"Iaia, mulai besok mbak terapkan yang kamu katakan,"ujar Nabila.
Di meja makan semua orang telah berkumpul, tak terkecuali Clara yang sudah terlihat segar.
"Kamu udah datang, Clar?"tanya Nabila basa-basi.
"Iya, Mbak. Maaf Clara lama ya?" Clara cengengesan.
"Nggak kok, Ra. Masih masuk kategori wajar karna lelah kerja seharian,"sahut Nabila bercanda.
"Mbak Nabila bisa aja,"ucap Clara.
"Ayo, makan. Hentikan obrolan kalian,"tegur ibu Ros.
***
__ADS_1
"Isar? Gimana sama yang tukang jahitnya, kamu dapat?"tanya Nabila yang duduk di sofa.
Setelah makan malam bersama tadi, mereka berkumpul kembali di ruang tv. Clara menemani Raksa bermain, sedangkan ibu Ros menonton sinetron kesukaannya.
"Dapat, Mbak. 2 orang tukang jahit, 1 orang bantu-bantu aja dulu, siapatau kita butuh orang buat handel penjualan,"jawab Kaisar.
"Iya, Kamu benar, Sar. Terus rumah gimana kelanjutannya?"
"Katanya diurus dulu surat-suratnya, baru setelah itu kita pelunasan pembayarannya."
"Berapa lama proses pengurusannya?"
"Katanya tadi langsung diurus, InysaAllah nggak butuh waktu lama."
"Yasudah, untuk sementara barang-barang yang tadi mbak beli kita simpan dikamar depan aja dulu,"ujar Nabila.
"Ooia... Mbak tadi beli apa aja?"
"Bahan kain, sama mesin jahit." Nabila terdiam karna merasa melupakan sesuatu, "Sepertinya mbak ada yang kelupaan dibeli deh, Sar,"ucap Nabila.
"Apa, Mbak?"
"Benang jahitnya belum, kita juga belum beli plastik OPP seal, l0go untuk nama toko juga, spanduk kita juga harus buat, p4tung juga untuk pajangan,"ucap Nabila.
"Yang kayak gitu bisa dibeli online aja, Mbak. Kita siapin semua, jadi nanti tinggal dipindahin aja,"sahut Kaisar.
"Yaudah, coba kamu cek deh, Sar. Kalau ada yang lengkap kamu beli semua yang dibutuhin,"ujar Nabila.
"Oke, Mbak." Kaisar membuka ponselnya dan menscroll mencari yang dibutuhkan.
"Iya, Mbak?"jawab Clara menoleh ke arah Nabila.
"Kamu ada kenalan yang bisa buat log0 dan spanduk, nggak?"
"Ada, Mbak."
"Mbak boleh minta tolong dibuatin nggak?"
"Boleh, Mbak. Aku chat dulu orangnya,"sahut Clara.
"Makasih, Ra."
"Mbak? Sudah aku pesanin semua yang dibutuhkan sampai bahan untuk mengemas barang,"ucap Kaisar.
"M4nek1n untuk pajangannya?"
"Udah semua, Mbak. Tapi untuk m4nek1innya yang setengah badan aja,"sahut Kaisar.
"Iya, yang itu aja dulu."
"Mbak? Nama tokonya apa?"tanya Clara.
"Aku belum punya ide untuk itu, Ra,"jawab Nabila pelan.
Clara berfikir untuk mencari solusinya, "Gimana kalau Nabila's Collection aja, Mbak?"usul Clara.
__ADS_1
"Itu aja, Mbak,"sahut Kaisar.
"Oke, kita pake ide Clara,"ujar Nabila.
"Untuk sementara spanduknya yang simple aja ya, Mbak? Simple tapi tetap bisa menarik minat para konsumen,"ucap Clara.
"Oke, kamu atur bagaimana baiknya aja, Ra."
"Oke, Mbak. Aku sekalian buatin stikernya ya? Buat ditempel diplastik kalo dikemas."
"Bagus itu, Ra. Pesan aja,"sahut Kaisar.
Clara mengotak-atik ponselnya dengan sangat serius, "Mbak, ini desainnya,"ucap Clara seraya menunjukkan desain spanduk untuk usaha Nabila.
"Bagus banget ini, Ra. Yang ini aja,"ujar Nabila semangat.
"Oke, Mbak. Segera di proses. Kalau sudah jadi semua, langsung dikirim kesini."
***
Keesokan paginya, sesuai yang dikatakan karyawan toko. Pagi hari akan dikirim barang pesanan Nabila.
Kaisar yang menerima semua barang tersebut, lalu menatanya sebaik mungkin agar jika semua barang datang bisa muat di ruangan.
"Bang, tolong digeser sedikit kepojok,"pinta Kaisar pada orang yang mengatar mesin.
"Iya, Mas."
"Makasih, Mas,"ucap Kaisar.
"Iya, sama-sama, Mas. Ini total barang dikirim ada 3 ya, Mas? Boleh tanda tangan disini sebagai bukti terima,"ucap salah satu dari yang mengantar mesin jahit dengan menyodorkan kertas bukti ditangan Kaisar.
Tidak lama setelah kepergian mobil pengantar mesin jahit, mobil lain berhenti didepan rumah membuat Kaisar urung untuk masuk.
"Permisi, Bang," sapa seseorang keluar sari mobil.
"Iya, Bang. Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa betul ini rumahnya ibu Nabila?"
"Iya betul, itu kakak saya,"jawab Kaisar.
"Alhamdulillah, ini saya dari toko kain, Bang. Saya mengantar barang belanjaan ibu Nabila."
"Ooia, Bang. Silahkan dibawa kedalam aja langsung,"sahut Kaisar cepat.
"Ia, Bang."
Orang tersebut memanggil temannya dan bahu membahu mengangkat gulungan kain satu persatu.
"Disini, Bang,"ujar Kaisar seraya membuka pintu kamar depan.
Tidak butuh waktu lama, 6 roll kain sudah masuk ke dalam kamar.
"Sudah datang semua barangnya, Sar?"tanya ibu Ros.
__ADS_1
"Iya, Bu. Hari ini cuma ada dua item ini aja yang datang,"sahut Kaisar.