
Di rumah Nabila semua orang sibuk menyiapakan acara lamaran sekaligus akad nikah Nabila dan Wahyu yang akan berlangsung sore hari.
Sementara itu di Pontianak, setelah beberapa bulan ditahan akhirnya keluarga mantan suami Nabila dibebaskan.
"Akhirnya bebas juga,"ucap Caca.
"Alhamdulillah..."ucap Cici kalem.
"Setelah sekian lama kita bebas juga, jadi tidak sabar mama mau shoping lagi,"ucap Sari.
"Shoping unga darimana, Ma?"tanya suami Sari.
"Dari Nabila lah."
"Astaga, Ma. Mama masih belum sadar juga ternyata ya,"sahut Cici kesal.
"Kamu apaan sih, Ci? Sewot banget dengar mama mau shoping."
"Gimana nggak sewot, kita ini baru bebas dan sekarang Mama malah mikirin shoping. Lalu uangnya dari Mbak Nabila? Bangun dari tidur sekarang, Ma,"ujar Cici kesal.
"Sembarangan kamu, Ci,"sahut Sari sewot.
"Kalian bisa diam tidak? Kepala saya pusing dengar ocehan kalian,"ucap Samudra tegas.
"Bilangin tuh sama Mama, Mas,"ucap Cici.
"Kamu juga diam, Ci,"tegur Samudra.
"Yang harus kita pikirkan sekarang kita akan tinggal dimana,"sahut papa Samudra.
"Papa benar, jangan bahas hal yang tidak penting dulu deh,"ucap Samudra membenarkan ucapan papanya.
"Kenapa harus pusing, tentu kita akan pulang ke rumah besar kita,"sahut Sari santai.
"Mama ini pikun atau bagaimana? Itu rumah sudah kembali ke tangan pemilik yang sebenarnya,"sahut Cici kesal.
"Nggak bisa dibiarin ini, mama nggak terima kalau rumah itu ditempati Nabila,"ucap Sari menggebu-gebu.
"Terserah Mama aja deh. Sam sudah tidak mau berurusan dengan Nabila, kecuali masalah Raksa,"ucap Samudra.
"Ayo kita pergi dari sini. Kita cari tempat berteduh dulu,"ajak papa Samudra.
"Ayo, Pa,"sambut Cici.
"Nanti kita balaskan dendam pada wanita itu, Ma,"bisik Caca pada mamanya.
Sari mengangguk. "Iya, mama setuju sama kamu, Ca. Kita harus balaskan penderitaan kita selama ditahan ditemlat terkut*k itu,"balas Sari.
"Jangan macam-macam, Ma, Ca,"tegur Samudra tegas.
Sari dan Caca mendegus kesal karna ditegur oleh Samudra. Karna kesal dengan Samudra mereka berdua tidak memperhatikan sekitarnya.
-Byur-
"Aakh..."teriak Caca.
"Ya ampun... Apa ini?"pekik Sari.
__ADS_1
Mereka berdua ketiban s1al, basah kuyup akibat terkena siraman air dari seseorang tanpa sengaja dan menjadi bahan tontonan orang sekitar mereka.
"Hahaha... Makanya kalau jalan itu liat-liat, jadi basah gini kan,"ledek Cici.
"Kurang 4j4r, siapa yang berani melakukan ini?"pekik Sari.
"Maaf, Bu, Dek. Saya tidak sengaja,"ucap seorang pria dengan rasa bersalah.
"Ooh jadi Kamu pelakunya? Ada dendam apa kamu sama saya?"tanya Sari berteriak lantang.
"Sekali lagi saya minta maaf, saya betul-betul tidak sengaja,"ucap pria tersebut.
"Tidak! Saya tidak akan memaafkan kamu sebelum kamu ganti rugi,"ucap Sari lantang.
"Ganti rugi apa yang Mama bicarakan? Bapaknya juga tidak sengaja dan sudah meminta maaf. Mama juga nggak ada luk4,"sahut Cici greget melihat kelakuan sang mama.
"Diam kamu, Ci. Biar ini jadi urusan mama,"bantah Sari.
"Mama benar-benar k3ras kepala,"ucap Cici mendengus.
"Sari, jangan keterlaluan kamu. Orangnya sudah minta maaf, apalagi yang kamu mau?" Suara suami Sari terdengar sedang menahan amarah.
"Saya mau uang ganti rugi, enak aja cuma modal maaf. Saya kedinginan ini,"balas Sari menantang.
"Baiklah saya akan ganti rugi dengan uang. Tapi setelah itu urusan kita selesai sampai disini, Bu,"ucap pria tersebut.
"Oke! Kalau begitu bayar sekarang,"ucap Sari seraya menengadahkan tangannya.
"Tunggu disini sebentar, saya ke dalam dulu ambil uangnya."
"Oke, cepetan!"
"Sebelum saya memberikan uangnya, saya ingin memegang bukti."
"Bukti apa?"
"Bukti jika urusan kita selesai sampai disini."
"Lakukan saja!"
Oria tersebut celingukan. "Dek? Boleh minta tolong?"ucapnya pada anak sekolahan.
"Minta tolong apa, Pak?"
"Tolong videokan saya dan Ibu ini melakukan pembayaran ganti rugi."
"Baik, Pak."
Anak sekolahan itu mulai menyalakan kamera video dan mengarahkan pada Sari dan pria tersebut.
"Saya akan membayar ganti ruginya sekarang,"ucap pria tersebut, lalu menyerahkan dua lembar uang merah pada Sari.
"Kenapa cuma segini? Anak saya juga kena siram loh ini,"tanya Saricmerasabtak puas.
"Ini saya tambahkan, jadi semua beres,"uca pria itu kemudian kembali memberikan dua lembar uang yang sama.
"Oke! Kalau gini kan kita sama-sama enak. Jadi kita selesai sampai disini, kedepannya kita tidak ada urusan lagi,"ucap Sari tersenyum puas.
__ADS_1
"Iya! Saya juga akan menyimpan bukti ini. Karna saya tahu oranf seperti Ibu ini akan terus mencari kesempatan demi mendapatkan uang,"ucap pria itu diakhiri dengan sindiran.
Amarah Sari mulai memuncak, tapi segera ditahan oleh suami dan anaknya.
"Jangan membuat ulah lagi, Sari,"tegur suaminya tegas.
"Masalah apaan sih, Pa? Saya cuma mau mengajari orang itu sopan santun,"bantah Sari.
"Tidak usah mengelak! Saya tahu seperti apa kamu, Sari."
"Kita pergi dari sini! Mama ini buat malu saja,"titah Samudra tegas.
"Cari mesjid atau musholah dulu, Sam. Mama mau ganti baju."
"Caca juga mau ganti baju, Mas."
"Iya, sepertinya di depan sana ada musholah, sekalian kita istirahat disana,"ucap Samudra.
Di Jakarta, tepatnya di rumah Nabila semua persiapan sudah selesai. Nabila juga sedang di rias sesimple mungkin oleh Clara.
"Jangan yang menor-menor, Ra."
"Iya, Mbak."
"Lipstiknya jangan yang warna merah, yang nude aja,"ucap Nabila kesekian kalinya
"Kenapa Mbak jadi cerewet begini sih? Itu udah berkali-kali Mbak ulang,"sahut Clara kesal.
"Hehehe... Maaf, Ra. Mbak cuma tidak mau makeup yang berlebihan."
"Iya saya tahu, Mbak. Ini Clara aplikasikan dengan setipis mungkin."
"Yaudah deh, Mbak diam,"ucap Nabila kicep.
"Nah gini kan bagus, dari tadi kek kayak gini,"ucap Clara.
Sedangkan di lantai 1, pekerja Nabila ditempat produksi sudah datang sejak tadi karna ikut membantu persiapan, mereka juga sudah berganti pakaian.
Ruang keluarga yang biasanya ada sofa kini berubah menjadi lebih luas karna sofa di pindahkan dan diganti dengan menggelar karpet di atas lantai.
"Mas Kaisar, Ini semua sudah siap kan? Nggak ada lagi yang kurang?"tanya Salma.
"Sepertinya sudah semua, Bu. Kita tinggal nunggu calonnya aja,"balas Kaisar.
"Alhamdulillah kalau gitu, Mas. Jadi kita bisa santai menunggu sampai acara mulai, hehe,"sahut Salma terkekeh.
"Iya, Bu. Ibu-Ibu silahkan duduk dan nikmati hidangannya."
"Nanti aja, Mas Kaisar. Masa' kita sebagai tuan rumah tapi malah makan lebih dulu,"sahut Tuti.
-Pip pip-
"Itu mereka sepertinya sudah datang. Saya panggil ibu dulu,"ucap Kaisar, belum sempat bergerak ibunya sudah keluar dari kamar.
"Mereka sudah sudah datang, Nak?"tanya ibu Ros.
"Kaisar belum liat, Bu. Tapi sepertinya memang mereka."
__ADS_1
"Ayo kita sambut tamu kita,"ajak ibu Ros, kemudian terburu-buru jalan keluar.
Semua orang dengan tidak sabar berjalan keluar untuk melihat calon Nabila. Mereka begitu penasaran seperti apa calon suami dari Nabila yang seorang bos toko Nabila's Collection.