Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Siap pindah


__ADS_3

Dikeluarga Samudra sudah masa b0d*h dengan kepergian Sari dan Caca yang entah pergi kemana. Sedangkan di bandara, Caca dan Sari sedang kebingungan kemana tujuan mereka selanjutnya.


"Kamu beneran nggak tahu alamat mantan istri kakakmu itu?"tanya Sari kesal.


"Nggak tahu, Ma. Lagian kita kan nggak pernah ngobrol tentang alamatnya wanita itu,"jawab Caca.


Mereka masih saja tidak mau menyebut nama Nabila, tapi meski begitu mereka tetap nekat untuk ke rumah Nabila.


"Kamu nggak pernah tanya ke kakak kamu?"tanya Sari mendelik.


"Mama ini gimana sih, kalau aku tanya sama kakak ya pasti tahu kita akan mengacaukan hari mantan istrinya,"jawab Caca kesal.


Sari menghela nafas panjang, ia celingukan berharap ada kenalan yang ditemuinya dibandara itu.


"Ini apa nggak ada kenalan kita yang sedang berkunjung kesini?"tanya Sari.


"Mana kutahu, Ma. Lagian kenalan yang mana Mama maksud?"


"Ya kenalan. Teman, kerabat atau tetangga gitu, kita kan bisa numpang tinggal ditempat mereka."


"Udah deh, Ma. Jangan berharap yang tidak pasti, mending kita malam ini nginap di hotel aja dulu,"ucap Caca.


"Iya iya, ayo cari taksi,"sahut Sari.


Mereka melangkahkan kaki keluar bandara dan mencari taksi yang kosong.


"Hotel yang ada ditengah kota, Pak,"ucap Caca begitu duduk didalam mobil.


"Siap, Mbak,"jawab sopir taksi tersebut.


Suasana hening menemani perjalanan Caca dan Sari menuju hotel, mereka larut dalam pikiran masing-masing.


"Ma?"


"Hmm?"


"Mantan istri kakak kan cuma di pindahkan ke perusahaan pusat, berarti nama perusahaannya yang di Pontianak sama di Jakarta tetap sama dong,"ucap Caca antusias.


Kening Sari mengkerut heran dan tidak mengerti maksud anak perempuannya itu.


"Jangan bertele-tele deh, Ca,"ucap Sari.


Caca mencebik kesal. "Mama ini masa nggak ngerti maksud aku sih,"gerutu Caca.


"Lah emang mama nggak ngerti, mau gimana lagi,"sahut Sari cuek.


Caca berdecak kesal. "Mama tahu nggak nama perusahaan tempat mantan kakak kerja?"tanya Caca penuh harap.


Sari menatap anaknya dengan serius. "Mana mama tahu, Ca. Kita aja nggak pernah ketemu kok, sekali ketemu malah buat masalah sama keluarga kita,"jawab Sari geram.


Caca menghepaskan punggungnya kesandaran jok mobil, ia menarik nafas panjang.


"Udah deh, nanti dipikirin lagi gimana caranya supaya kita bisa ketemu sama wanita itu,"ucap Caca pasrah.


***


Dilain tempat, Nabila mengajak keluarganya untuk pulang ke rumah hadiah pernikahan dari Galaksi.

__ADS_1


"Mama yakin semua yang penting-penting udah kebeli?"tanya Galaksi.


"Sebenarnya belum lengkap semua, Nak. Tapi, yang penting ada yang bisa di oake dulu lah, nanti yang lainnya nyusul dibeli,"jawab Nabila.


"Tapi kalau belanja jangan sendiri ya, Sayang. Bilang sama mas jika ingin belanja,"ucap Wahyu ysng tengah fokus mengemudi.


"Iya, Mas,"sahut Nabila tersenyum menatap Wahyu.


"Aku juga diajak ya, Ma. Kapan lagi kan kita jalan-jalan keluarga, ya meski cuma di mall aja jalan-jalannya,"timpal Galaksi terkekeh.


Wahyu diam mencerna ucapan anak sulungnya, ia jadi merasa bersalah karena belum pernah mengaja anaknya liburan keluarga selama ini.


"Nanti papa atur jadwal buat kita liburan bersama deh, atau kalau bisa nanti hari libur aja. Biar sekalian Nenek sama uncle kamu diajak dijuga,"ucap Wahyu.


Nabila yang awalnya menoleh kebelakang langsung mengalihkan pandangannya kearah suaminya.


"Mas serius?"tanya Nabila antusias.


"Mana pernah mas bohong dan ingkar sama ucapan sendiri, Sayang,"jawab Wahyu tersenyum sembari menggenggam tangan istrinya.


"Yeee kalau gitu nanti kita liburan di pantai aja, Pa,"seru Galaksi.


"Boleh tuh, Pa. Kita liburan ke pantai aja,"sahut Nabila.


"Oke, berarti fiks ya kita nanti ke pantai. Tinggal tunggu waktu libur aja kita berangkatnya,"ucap Wahyu.


Jangan tanya kemana Raksa, karena Raksa sudah tidur nyenyak di atas carseat yang baru saja dibelikan oleh papanya ketika di mall.


Mobil memasuki komplek perumahan dan berhenti tepat di carport depan rumah.


"Mama duluan aja, biara Gala yang gendong adek,"ucap Galaksi.


"Yakin, Ma."


"Yaudah, mama sama Papa ke dalam duluan ya,"ucap Nabila.


"Bentar, Sayang,"ucap Wahyu, kemudian berlari kecil kebelekang mobil dan membuka bagasinya.


"Astaga, aku lupa itu loh, Mas,"ucap Nabila.


Wahyu hanya tersenyum menanggapi perkataan istrinya. "Ayo masuk, Sayang."


Sebelum keluar dari mall, Nabila memesan beberapa makanan yang akan dibawa pulang dan dimakan bersama di malam hari.


Sedangkan barang belanjaan Nabila semua sudah dikirim ke alamat rumah baru yang akan Nabila tempati bersama keluarga kecilnya.


Sebenarnya sebelum pulang ke rumah lama, mereka lebih dulu kembali ke rumah baru untuk memasukkan barang-barang belanjaan yang dikirim oleh pihak toko.


"Assalamualaikum,"salam Nabila diikuti oleh anak dan suaminya.


"Orang-orang kemana? Kok nggak ada yang jawab salam kita?"tanya Galaksi.


"Mungkin nenek lagi dibelakang, Nak. Kalo uncle pasti ada di kamar,"jawab Nabila, "Sini adek, mama aja yang bawa ke kamar. Kamu langsung ke kamar,"lanjut Nabila sembari mengulurkan tangannya untuk menggensong Raksa.


"Aku ke kamar dulu ya, Ma, Pa,"pamit Galaksi.


"Iya, Nak,"jawab Nabila dan Wahyu.

__ADS_1


Galaksi berbalik arah, lalu melangkah menuju kamar Kaisar.


"Kamu duluan ke kamar, Sayang. Mas mau ke dapur bawa ini dulu, minta disiapin sama bik Minah untuk makan malam,"ucap Wahyu.


"Iya, Mas."


Makan malam tiba, semua keluarga Nabila sudah berkumpul termasuk Clara yang tampak salah tingkah sejak Kaisar mengutarakan niatnya pada keluarganya.


"Jadi kapan pindahannya?"tanya Kaisar memecah keheningan.


"InsyaAllah besok, Sar. Nanti syukurannya pas hari libur,"jawab Wahyu.


"Boleh aku ikut mengantar besok?"


"Boleh dong, Sar. Sekalian Ibu juga ikut ke rumah besok ya,"sahut Nabila.


"Iya, besok ibu ikut bareng Kaisar dan Clara."


"Iya, Bu,"ucap Nabila antusias.


"Emang barang yang akan dibawa udah disiapin semua, Mbak?"tanya Kaisar.


"Udah deh, kami cuma bawa sedikit baju dari sini,"jawab Nabila.


"Lah, terus barang yang lainnya gimana tuh, Mbak?"tanya Kaisar.


"Tadi kami udah siapin semuanya, besok tinggalin dirapihin pas sampai di sana,"jawab Nabila.


"Rumahnya udah lengkap semua ya?"


"Kalau untuk furniture sih udah lengkap, tadi kami belanja bagian alat-alat dapur, makan dan mandi aja sih,"jawab Nabila.


"Wah bagus itu, pantes aja pindahannya dadakan gini, lah ternyata tinggal ditempati rumahnya,"sahut Kaisar.


"Ya gitulah, Sar. Jadi nggak repot-repot lagi buat ngisi-ngisinya, kecuali mau ganti furniturenya baru deh repot,"ucap Nabila terkekeh.


"Kamu mau ganti furniturenya, Ma?"tanya Wahyu.


Nabila menatap suaminya, lalu menggeleng. "Nggak lah, Mas. Itu cuma perumpamaan aja loh,"jawab Nabila.


Wahyu mengangguk, lalu kembali mengunyah makanannya.


"Kalau kalian pindah, kita bakalan susah ketemu dong, Mbak,"ucap Clara.


"Nggak susah, Ra. Kan kita masih bisa ketemu di kantor,"ucap Nabila tersenyum.


"Tapi, di kantor kita semua sibuk sama kerjaan masing-masing, nggak ada waktu buat ngobrol."


"Ada, Ra. Jam istirahat kan masih ada, lagian jarak rumah dari sini juga nggak jauh-jauh banget kok."


"Terus nanti kalau Mbak sama Mas Wahyu kerja, Raksa gimana?"tanya Kaisar.


Nabila dan Wahyu saling tatap, mereka belum memikirkan sampai kesana.


"Nanti art di rumah lama yang mas panggil ke rumah buat bantu-bantu bereskan rumah, sekalian buat jagain Raksa,"sahut Wahyu.


"Di rumah lama gimana? Siapa yang urusin nanti, Mas?"tanya Nabila.

__ADS_1


"Masih ada yang lain kok, Ma. Jadi aman kalau di ambil satu orang buat ke rumah baru,"sahut Galaksi.


__ADS_2