
Saat tiba ditempat yang dituju, mereka berdiri didepan rumah tersebut. Nabila menatap bangunna yang ada didepannya dengan pandangan berbinar.
"Bismillah... Semoga ini awal yang baik Ya Allah. Saya niat membuka usaha ini untuk masa depan Raksa dan membantu orang-orang yang membutuhkan pekerjaan," Doa Nabila dalam hatinya.
"Pak Herman, belum datang," gumam Kaisar.
"Janjinya beneran hari ini 'kan?"tanya Nabila.
"Iya, Mbak. Bentar, Kaisar telfon pak Herman dulu,"ucap Kaisar, lalu mengeluarkan ponselnya.
Nabila melihat anaknya yang sedang bermain dengan Clara yang tidak jauh darinya. Raksa tertawa lepas bermain dengan Clara. Nabila terharu melihat keceriaan anaknya, dulu saat masih bersama suaminya, sangat jarang terlihat tawa Raksa yang begitu lepas. Hal itu yang membuat Nabila makin mantap berpisah dengan suaminya.
"Mbak? Katanya lagi jalan kemari,"ucap Kaisar.
"Oh... Ia, Sar. Nggak apa-apa,"jawab Nabila tersenyum.
"Mbak, suka dengan rumahnya?"tanya Kaisar.
"Iya. Mbak suka, pilihan kamu memang tidak perlu diragukan lagi,"sahut Nabila menaikkam dua jempolnya.
"Cuma kebetulan aja ini, Mbak."
"Pokoknya, adik mbak memang yang terbaik,"puji Nabila.
Tiit titt
Mendengar bunyi klakson mobil membuat keduanya berbalik ingin melihat.
"Itu dia pak Herman, Mbak,"ujar Kaisar pelan.
Nabila mengangguk saat tahu siapa pria yang baru saja datang itu.
"Selamat sore, Mas Kaisar, Mbak?"
"Nabila, Pak."
"Oohia, Mbak Nabila! Maaf, membuat Mas dan Mbak menunggu, tadi ada sedikit urusan,"ujar Herman ramah.
"Iya, nggak apa-apa, Pak,"jawab Nabila.
"Mari, kita ke dalam. Ini saya sudah ajak pengacara saya."
"Iya, Pak." Kaisar dan Nabila mengikuti lamgkah kaki Herman.
Setelah pertemuan sebelumnya, Kaisar menghubungi Herman untuk memberitahu nama yang akan dimasukkan dalam surat-surat kepemilikan rumah tersebut.
"Ini, tinggal Mbak Nabila yang harus membubuhkan tanda tangannya, setelah itu kepemilikan resmi berpindah ditangan Mbak Nabila,"ucap Herman.
"Boleh saya liat dulu, Pak?"tanya Nabila ramah.
"Iya silahkan, Mbak."
Nabila mengambil map berisi surat pengalihan nama. Ia membaca dengan sangat serius.
"Ini saya tanda tangan ya, Pak!"ujar Nabila membubuhkan tanda tangannya, "Ini, Pak." Nabila kembali menyerahkan surat itu pada pengcara yang dibawa oleh Herman.
__ADS_1
"Mbak Nabila bisa memegang ini, karna sekarang rumah ini sudah menjadi milik Mbak Nabila sepenuhnya,"ujar pengacara itu.
"Iya, Pak. Saya akan mengambilnya, tapi saya ingin melunasi dulu pembayarannya,"ucap Nabil tersenyum, kemudian mengambil ponselnya, "Pak Herman, coba di cek saldonya, saya sudah transfer sisanya,"lanjutnya setelah selesai transaksi.
"Iya, sudah masuk, Mbak,"jawab Herman.
"Baiklah, karna semuanya sudah selesai. Ini saya serahkan suratnya kepada Ibu Nabila,"ucap pak pengacara.
"Dan ini kunci rumahnya, Mbak,"ucap Herman menyerahkan kunci rumah.
Herman dan pengacaranya meninggalkan rumah tersebut, menyisakan Nabila dan rombongannya.
"Rumahnya lumayan luas, Sar. Ini satu kamar bisa dijadikan tempar istirahat, satunya lagi dijadikan tempat bermain anak,"ucap Nabila saat melihat-lihat sekelilingnya.
"Iya, Mbak."
"Ini cuma perlu ganti cat aja, Sar. Biar lebih hidup ruangannya."
"Iya, Mbak. Itu sudah Kaisar pikirkan sebelumnya."
"Oke. Besok lusa Mbak terbang ke Pontianak,"jawab Nabila pelan setelah terdiam beberapa saat.
"Ngapain, Mbak?" tanya Kaisar menoleh pada kakaknya.
"Pak Geri memberi kabar kalau sidang kasus pen1puan itu, dan Mbak harus hadir."
"Berapa lama Mbak disana?"
"Mbak belum tahu. Mungkin cuma sehari atau dua hari."
"Yasudah. Mbak selesaikan semua urusan disana, Kaisar yang mengurus yang disini."
"Mbak tenang aja, biar Clara dan Kaisar yang menyelesaikan semuanya. Barang yang ada dirumah akan kami bawa kesini, dan kami juga yang belanja keperluan lainnya,"sahut Nabila dari arah pintu depan.
"Makasih ya, Ra. Kamu sudah sangat membantu saya,"ucap Nabila terharu.
"Apasih, Mbak. Saya udah anggap Mbak Nabila kakak saya sendiri, jadi untuk masalah seperti ini, nggak ada apa-apanya."
"Tapi untuk Kamar dan ruang bermain kayaknya kita siapkan seadanya dulu aja, karna ruangan lainnya mau dicat dulu. Dan untuk sementara semua barang disatukan diruangan ini aja dulu,"ucap Kaisar.
"Baiklah, Mbak serahkan semuanya pada kalian. Jika butuh uang berkabar saja,"ucap Nabila.
"Oke, Mbak. Gampang itu,"sahut Clara.
"Kalau begitu mulai besok kita cicil bawa barang-barang yang sudah dibeli,"ucap Nabila.
"Mbak Nabila betul, kita bawa barangnya pakai mobil saya aja,"sahut Clara.
"Emang nggak apa-apa pake mobilmu, Ra?"tanya Nabila.
"Kalau untuk yang kecil-kecil aja sih nggak masalah, Mbak."
"Nggak usah, Ra. Kita sewa mobil pickup aja sekalian,"sahut Kaisar.
"Iya deh, aku ngikut aja kalau gitu,"sahut Clara pasrah.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang, ini sudah mulai petang,"ajak Nabila.
"Ayo, Mbak,"jawab Kaisar dan Clara kompak, lalu berdiri dari duduknya.
"Tunggu?"cegah Nabila.
"Ada apa, Mbak?"tanya Kaisar.
"Dimana Raksa?"tanya Nabila panik.
"Raksa? Tadi ada disini,"sahut Clara celingukan.
"Cari Raksa, Kaisar!"pinta Nabila.
Clara berlari keluar rumah untuk mencari Raksa, Kaisar ke arah belakang.
"Raksa? Kamu dimana, Nak?"panggil Nabila sedikit berteriak.
Nabila melihat semua ruangan termasuk kamar pintunya tertutup rapat, jadi tidak mungkin Raksa bisa masuk kesana.
"Kaisar? Apa kamu menemukan Raksa?"pekik Nabila.
Kaisar kembali dengan wajah gusar, "Raksa tidak ada dibelakang, Mbak."
"Ya Allah, kemana Raksa?"gumam Nabila.
"Raksa juga nggak ada diluar,"sahu Clara.
"Bagaimana mungkin Raksa tiba-tiba menghilang, sedangkan tadi saya melihat sendiri dia main dibelakang Clara,"ucap Kaisar.
Saat mereka terdiam, tiba-tiba anak suara anak kecil tertawa dari dalam kamar. Mereka saling menatap seakan bertanya lewat sor0tan mata.
"Ha ha ha." Suara tawa anak kecil terdengar lirih.
"Raksa?"panggil Nabila pelan.
Mereka tiba-tiba merasa mer1nding dengan situasi yang terjadi.
"Raksa?"panggil Nabila kesekian kalinya.
"Aksa dikamal, Bu." Suara c4del Raksa terdengar pelan dari dalam kamar.
Mereka terkejut mendengar suara Raksa. Nabila berlari ke kamar untuk memastikan anaknya benar ada disana atau tidak.
"Raksa?"panggil Nabila, "Lagi apa, Nak?"tanyanya pelan saat melihat anaknya menghadap ke tembok seperti sedang berbicara dengan sesorang.
"Main, Bu."
Nabila menolah kebelakang dimana Kaisar dan Clara berada. Nabila khawatir dengan anaknya saat ini.
"Nak?"panggil Nabila pelan lalu mendekat dengan perlahan.
Raksa bermain dengan sebuah boneka kayi usang, yang entah dimana dia menemukan boneka itu.
Kaisar melihat ada yang tidak beres dengan keponakannya itu, membacakan ayat suci Al-qur'an yang diikuti oleh Clara.
__ADS_1
Nabila bergetar melihat Reaksi anaknya yang tiba-tiba mengalami k3jang-k3jang.
"Peluk, Mbak!"titah Kaisar disela lantunannya.