Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Bersama Raksa


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, saat tengah menikmati jalanan kota Pontiank, ponsel Nabila yang ada didalam tas berdering.


"Clara? Ada apa ya?"gumam Nabila seraya menarik panggilan ketombol warna hijau.


^^^{Assalamualaikum... Kenapa, Ra?}^^^


{Kapan pulang, mbak?}


^^^{Ini saya udah jalan ke bandar, Ra. Kalau nggak delay sekitar sejaman lebih saya sampai.}^^^


{Oke, mbak. Udah nggak sabar saya pengen ketemu, mbak. Kangen banget.}


^^^{Lebay banget kamu, Ra. Eh, saya tutup dulu ya, udah sampai nih.}^^^


"Iya, mbak. Take care, Assalamualaikum.}


^^^{Waalaikumssalam.}^^^


Nabila menarik kopernya masuk ke bandara dengan santai. Karna ada pengumuman penerbangan Pontianak ke Jakarta delay, dia memilih duduk dikursi tunggu.


"Semoga nggak lama deh. Udah nggak sabar pengen ketemu anakku,"gumam Nabila tersenyum mengingat tingkah lucu anaknya.


Nabila membuka ponselnya kemudian membuka aplikasi t*kt0k yang isinya banyak video-video lucu yang menghibur, ataupun berita yang sedang viral.


"Permisi... Boleh saya duduk disini?"tanya seseorang pada Nabila.


Nabila mendongak, "Eh? Pak Wahyu? Silahkan duduk aja, Pak,"ucapnya sedikit menggeser duduknya.


"Terima kasih. Kamu mau balik ke Jakarta?"


"Mmm... Iya, Pak,"jawab Nabila tersenyum kikuk.


"Gimana sidangnya?"


Nabila mengernyit heran, "Darimana Pak Wahyu tahu kalau saya izin untuk menghadiri sidang?"


"Kata Galaksi kamu izin untuk menghadiri sidang perceraianmu."


Nabila mengangguk, "Ooh.. Pak Galaksi ya. Mmm iya, Pak. Saya memang datang kesini untuk sidang, alhamdulillah semua berjalan lancar."


"Syukurlah, semoga ini menjadi awal yang baik untuk kamu dan Raksa."


"Aamiin... Itu juga yang saya harapkan, Pak,"ucap Nabila pelan, "Pak Wahyu sedang apa di Pontianak?"


"Ooh... Ada sedikit urusan disini,"jawab Wahyu.


Mereka sama-sama terdiam, membuar suasana diantara mereka berdua menjadi sedikit canggung.


Nabila keluar dari bandara, mencari taksi tanpa penumpang. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhentj tepat di depan Nabila.


"Nabila? Ayo, Naik!"pinta pria dikursi penumpang.


"Nggak usah, Pak. Takut merepotkan, saya naik taksi aja,"tolak Nabila tidak enak.


"Tidak merepotkan, jam-jam segini akan susah untuk dapat taksi karna lagi ramaih-ramaihnya."


Nabila celingukan, melihat kesekitarnya yang ternyata banyak juga sedang menunggu taksi.


"Aduuh... Gimana ini? Rasanya nggak enak selalu merepotkan pak Wahyu," ucap Nabila dalam hati.


"Kenapa malah bengong? Ayo, naik. Jangan banyak berpikir,"ucap Wahyu.

__ADS_1


Karna terkejut, Nabila refleks membuka pintu mobil dan masuk duduk disamping Wahyu.


"Pak, tolong kopernya dimasukkan ke bagasi,"pinta Wahyu pada supirnya.


Nabila menyadari meninggalkan kopernya, "Eh eh, nggak usah, Pak. Biar saya saja,"tolak Nabila.


"Udah, kamu duduk aja. Itu sudah termasuk dari pekerjaannya,"ucap Wahyu santai.


Nabila pasrah, tidak ingin berdebat dengan pemilik perusahaan dimana dia bekerja.


"Bagaimana kabar Raksa?"tanya Wahyu memecah keheningan.


"Alhamdulillah, Raksa sehat, Pak,"jawab Nabila pelan.


"Alhamdulillah... Boleh saya mampir main sama Raksa?"


"Boleh, Pak."


Wahyu tersenyum lebar karna diizinkan bermain dengan Raksa.


"Entah kenapa saya merasa senang akan bertemu dan bermain dengan Raksa,"ucap batin Wahyu.


"Mari masuk, Pak. Raksa ada didalam,"ajak Nabila.


"Eh, iya."


Wahyu mengikuti langkah kaki Nabila menuju pintu utama rumah.


"Assalamualaikum,"ucap Nabila seraya membuka pintu.


"Waalaikumssalam,"jawab ibu Ros dari dalam.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sampai juga, Nak."


Nabila hanya tersenyum menanggapi ibunya, beralih pada anaknya yang sedang menatapnya, "Raksa, mau peluk ibu?"tanya Nabila.


Raksa mengangguk, "Ayo, Nak. Sini peluk, ibu,"sambut Nabila merentangkan tangannya.


"Khmm... Assalamualaikum, Bu,"salam Wahyu.


"Eh ada Pak Wahyu. Silahkan duduk, Pak,"ucap ibu Ros.


"Iya Bu, terima kasih. Saya mau main sama Raksa,"ucap Wahyu menatap pada Raksa dengan pandangan berbinar.


"Astaga... Maaf, Pak Wahyu. Saya sejenak lupa kalau ada Pak Wahyu,"ucap Nabila malu.


"Pa-pa?"panggil Raksa membuat semua orang memandangnya.


"Haa? Papa? Siapa yang kamu panggil papa, Nak?"tanya Nabila heran.


Wahyu mensejajarkan badannya dengan Raksa lalu menyerahkan paperbag yang ada ditangannya, "Ini ada mainan baru buat, Raksa,"ucapnya.


"Holee... Mainan balu. Makacih, Pa." Raksa dengan senang hati menerima dan membuka mainan barunya.


"Loh, Pak? Bapak beli mainan buat Raksa? Kenapa repot-repot, Pak."


"Ini udah lama dibelinya, cuma baru sekarang bisa ketemu dan ngasih langsung sama Raksa." Tanpa membuang banyak waktu, Wahyu larut bermain bersama Raksa.


"Assalamualaikum,"salam dari luar.


"Waalaikumssalam,"jawab semua orang.

__ADS_1


"Mbak sampai jam berapa?"tanya Kaisar.


"Baru 30 menit yang lalu, Sar. Kamu dari mana?"


"Dari cari orang bisa cet rumah, Mbak."


"Dapat orangnya?"tanya Nabila.


"Dapat, Mbak. Suaminya ibu Salma."


"Suami ibu Salma emang kerjanya apa?"


"Kerjanya kuli, Mbak. Kebetulan katanya sekarang juga lagi nggak ada yang pakai jasanya."


"Baguslah, setidaknya kita bisa berikan kerjaan untuk mengurangi beban mereka,"ujar Nabila.


"Iya, Mbak. Semua furniture udah ada disana, Mbak. Tinggal ditata aja, tapi nunggu selesai di cet aja disemua ruangan."


"Iya, nggak apa-apa, Sar. Supaya nanti nggak kerja dua kali."


"Itu juga yang Kaisar pikirkan, Mbak. Produksi barangnya juga jadi nggak keganggu.


"Sar? bagaimana kalau kamar depan dijadikan tenpat produksi barang? Jadi untuk ruangan depan kita sekat aja dengan rak, sisakan sedikit tempat untuk tempat istrahat, terus untuk pembuatan video promosi dan lainnya dijadikan satu. Kamar depan juga dibuat kedap suara supaya suara mesin jahit tidak menganggu tetangga,"usul Nabila.


"Mbak, benar. Nanti saya bicarakan lagi dengan suami ibu Salma, siapa tau bisa dikerja juga kan."


"Iya, Sar."


"Pak Wahyu, ini diminum dulu tehnya mumpung masih hangat,"ucap ibu Ros membawa nampa berisi 3 cangkir teh hangat dan cemilannya.


"Iya Bu, makasih. Panggil Wahyu aja, Bu. Ibu lebih tua diatas saya,"ucap Wahyu malu-malu.


"Oalah, saya nggak enak, Pak."


"Nggak apa-apa, Bu. Saya senang dipanggil dengan nama aja."


"Baiklah, baiklah... Wahyu ayo diminum tehnya."


Wahyu tersenyum, "Iya, Bu. Saya minum tehnya ya?!"


"Iya, silahkan!"


"Teh buatan Ibu memang tidak ada bisa mengalahkan, the best pokoknya,"puji Kaisar.


"Ada-ada aja Kamu, Nak. Ini sama aja teh yang lainnya,"sahut ibu Ros tersipu.


"Saya ke kamar dulu mau ganti baju. Pak Wahyu, nikmati waktunya ya,"ucap Nabila.


"Iya, Nabila. Saya sangat senang bermain dengan Raksa."


Nabila tersenyum, lalu beranjak dari duduknya berjalan menapaki anak tangga menuju kamarnya.


Raksa terlihat begitu bahagia menghabiskan waktu bermain dengan bos ibunya. Seperti yang terjadi sekarang ini, Raksa naik kepunggung Wahyu dan menjadikannya sebagai kuda.


"Astaga... Raksa? Apa kamu lakukan, Nak? Kasian Pak Wahyu,"ucap Nabila khawatir bosnya akan marah.


"Sudah, tidak apa-apa,"sahut Wahyu dengan santai, kemudian merangk4k memutari meja membuat Raksa tertawa.


Nabila menatap tak percaya dengan apa yang terjadi, "Apa ini? Kenapa Raksa terlihat begitu bahagia ketika bermain dengan pak Wahyu? Padahal baru beberapa kalo mereka bertemu, bahkan pak Wahyu belum pernah menyapa Raksa. Selama ini Raksa tidak mau dekat-dekat dengan orang yang baru beberapa kali dilihatnya. Tapi apa yan gkulihat sekarang? Anakku sangat bahagia, begitu dekat dengan Pak Wahyu,"ucap Nabila dalam hati.


Kaisar heran melihat kakak perempuannya yang melamun, "Mbak? Lagi mikiran apa?"tanya Kaisar memegang pundak Nabila.

__ADS_1


__ADS_2