Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Kantor


__ADS_3

Kehidupan Samudra dan keluarganya begitu berbanding terbalik dengan kehidupan Nabila dan keluarganya yang kini memilih menetap di Jakarta.


Samudra dan keluarganya meratapi nasib malang mereka setelah keluar dari p3nj4ra, tak ada pegangan uang dan rumah yang tampak kacau karna menjadi sarang tikus.


Di Jakarta tepatnya di kamar Nabila dan suaminya. Mereka tampak santai menikmati waktu istirahat dari dunia luar yang bising.


"Sayang, besok pagi tolong siapin pakaian kerja mas ya? Mas ada bawa dari rumah tadi."


"Kamu udah mulai masuk kerja besok, Mas?"


"Iya InsyaAllah... Lama nggak kerja juga badan rasa pegel nggak ada kegiatan,"jawab Wahyu.


"Emang nggak apa-apa kamu langsung masuk gitu aja gantikan Galaksi, Mas?"


"Iya nggak apa-apa, Sayang. Dulu juga sebelum Galaksi yang mengambil alih saya cuma menyampaikan untuk sementara waktu posisi CEO Galaksi yang akan menempatinya."


"Syukurlah kalau nggak ada masalah. Yang aku fikirkan sejak kemarin dewan direksi akan protes"


"Mereka tidak akan melakukan itu, Sayang. Ini juga sudah keputusan bersama dan mas bisa kapan aja kembali jika sudah siap."


"Syukurlah, Mas. Tapi kamu beneran siap kembali bekerja di kantor?"tanya Nabila memastikan


"InysaAllah siap, Sayang. Mas juga kerja agar bisa memberikan nafkah untuk kamu dan anak-anak kita."


Nabila tersenyum menatap haru pada suaminya. "Makasih ya, Mas. Kamu sudah mau menerima aku dan Raksa dikehidupan kamu dan Galaksi."


"Mas yang harusnya mengucapkan terima kasih, karna kamua sudah mau menerima mas jadi pendamling hidup kamu."


"Sebaiknya kita tidue sekarang, Mas. Ini sudah tengah malam, besok kita harus bangun cepat,"ucap Nabila sengaja agar ucapan rasa terima kasih antara mereka berdua tidak terus berlanjut.


"Iya, Sayang. Selamat malam."


"Malam, Mas."


Nabila merebahkan badannya di ranjang dengan posisi yang membelakangi Wahyu. Malam kedua mereka menjadi sepasang suami istri dan tidur di kamar yang sama.


Nabila masih saja merasa gugup jika suaminya mulai men3mpel dipunggungnya dan melingkarkan tangan keperut Nabila.


"Kenapa aku jadi segugup ini sih, dulu aja waktu menjadi penganti baru dengan ayahnya Raksa tidak pernah segugup ini,"ucap batin Nabila.


"Tidur, jangan pikirkan apapun. Mas tidak akan minta hak sebelum kita merayakan resepsi pernikahan kita,"bisik Wahyu.


"I-iya, Mas,"jawab Nabila gugup, kemudian segera memejamkan mata serapat mungkin.


***


Bunyi burung berkicauan dipagi hari membuat mood yang mendengarnya bertambah berkali-kali lipat.


"Pagi ini suasana segar sekali, suasana hati dipagi ini lebih berbunga-bunga,"ujar Clara terkekeh, ia sedang berdiri diambang pintu belakang rumah Nabila menghadap ke taman belakang.


"Lebay banget kamu, Ra."


Clara mendelik. "Sewot aja loh, Sar."


"Hmm... Masih pagi, jangan memulai pagi dengan perdebatan kalian,"tegur ibu Ros.

__ADS_1


"Selamat pagi, semua,"sapa Wahyu yang baru bergabung.


"Pagi juga, Kakak Ipar,"balas Kaisar.


"Pagi, Pak Bos. Udah siap aja nih Pak Bos berangkat kerja,"jawab Clara menggoda Wahyu.


"Jelas siap dong, Ra. Apalagi kerjanya di gedung yang sama dengan istri,"jawab Wahyu terkekeh.


"Pak Bos bisa aja nih. Ini Raksa pagi-pagi begini pakaiannya udah rapi, mau kemana?"tanya Clara.


"Aksa mau ikut Papa kelja, Onty,"jawab Raksa.


"Wah... Giat sekali Raksa ini, masih kecil aja udah ikut kerja. Gimana nanti kalau udah gede,"goda Clara.


"Kalau gede makin rajin dong, Onty,"sahut Nabila yang ikut bergabung.


Clara terperangah melihat pakaian formal Nabila yang berwarna senada dengan jas dan celana bahan Wahyu.


"Sar, hari ini di kantor ada yang couple-an,"ucap Clara sambil meny1kut perut Kaisar.


"Aduh... Iya couple, tapi jangan kenceng-kenceng juga dong, Ra."


Akhirnya mereka sarapan bersama tanpa ada obrolan karna waktu jam kerja semakin dekat.


"Kalian berangkar menggunakan satu mobil?"tanya ibu Ros.


"Tidak, Bu. Mas Wahyu pakai mobil sendiri bareng Raksa,"jawab Nabila.


"Kenapa kamu malah pisah kendaraan sama Nak Wahyu?"


"Yaudah, ibu mengerti kekhawatiran kamu, Nak. Sekarang berangkatlah."


"Makasih ya, Bu. Nikmati hari Ibu untuk bersantai. Nabila pamit, assalamualaikum,"pamit Nabila.


"Waalaikunssalam, hati-hati."


Nabila masuk ke mobil Clara yang sudah standby sedari tadi menunggunya.


"Nggak pamit sama suami, Mbak?"tanya Clara menggoda.


"Udah tadi, kamu aja yang nggak lihat,"jawab Nabila cuek.


"Masa' sih, Mbak?"tanya Clara tak percaya.


"Terserah kalau nggak percaya. Sar, ayo jalan sekarang! Kita udah hamoir telat ini,"pinta Nabila.


"Oke, Mbak. Tapi, itu Raksa nggak apa-apa ikut ke kantor dihari pertama mas Wahyu kerja?"tanya Kaisar sambil melajukan mobil.


"Nggak tahu, Sar. Mas Wahyu kekeh mau ajak Raksa, jadi ya mbak ngikut maunya aja,"jawab Nabila santai.


"Nggak ada masalah, Sar. Pak Wahyu bos besar di perusahaan, jadi tidak akan ada yang berani melarang. Apalagi kalau kerjaannya lancar-lancar aja,"sahut Clara.


"Kok kamu tahu banget ya tentang mas Wahyu dan perusahaan?"tanya Kaisar curiga.


"Nggak usah curiga gitu, jelas lah aku tahu. Dulu aku pernah jadi sekretaris pak Wahyu,"jawab Clara.

__ADS_1


"Oh, kamu pernah jadi sekretaris juga?"


"Iya, pernah. Tapi, karna pak Wahyu cuti, maka saya ditempatkan menjadi kepala divisi yang kebetulan sedang kosong."


"Ooh gitu ya..."


"Iya,"jawab Clara sambil menganggukkan kepalanya.


Tiba di kantor, semua pergi keruangan masing-masing. Mereka fokus dengan kerjaan masing-masing. Sementara itu, Nabila memgatur jadwal rapat dengan dewan direksi untuk meresmikan kembalinya Wahyu bekerja di kantor dan juga membahas proyek selanjutnya yang sudah dibuat dimasa kepemimpinan Galaksi.


-Tok tok tok-


"Permisi, Pak,"sapa Nabila sopan ketika memasuki ruang kerja suaminya.


"Sayang? Ada apa?"tanya Wahyu sumringah.


"Maaf, Pak. Ini di kantor,"ucap Nabila pelan untuk mengingatkan suaminya.


"Kalau cuma kita berdua yang ada dalam ruangan ini kamu boleh manggil seperti biasanya, Sayang,"sahut Wahyu tersenyum.


"Tapi, nanti ada yang dengar, Mas,"ujar Nabila pelan.


"Suara kita tidak akan terdengar sampai keluar jika pintu sudah tertutup rapat, Sayang."


Nabila menoleh kebelakang untuk memastikan pintu ruang kerja suaminya tertutup.


"Nggak akan yang berani masuk juga, jika tanpa izin dari mas, Sayang."


Mendengar ucapan suaminya, baru lah Nabila merasa tenang.


"15 menit rapat akan dimulai, Mas."


"Yaudah, kamu tunggi sebentar. Kita keruang rapat bersama,"ucap Wahyu.


Nabila mengangguk. "Raksa mana, Mas?"tanyanya celingukan mencari anaknya.


"Tadi main dibelakang sofa, sekarang kemana ya?"


Nabila melangkahkan kakinya pelan menuju sofa. Nabila terkekeh begitu melihat anaknya tidur memeluk mainan robotnya itu dilantai.


"Kamu kenapa, Sayang?"tanya Wahyu pensaran.


"Raksa ketiduran, Mas. Mana tidurnya meluk robot yang baru kamu beli kemarin,"jawab Nabila yang masih memandang anaknya.


"Beneran tidur, Sayang? Pantesan dari tadi mas nggak ada dengar suaranya."


"Kayaknya capek banget dia, Mas. Raksa nggk pernah loh tidur di jam segini."


"Nggak apa-apa, biar mas pindahin ke kamar."


"Kamar mana, Mas?"


"Diruangan ini ada kamar pribadinya, Sayang. Tempatnya memang sedikit tersembunyi."


Nabila menatap sekeliling ruang kerja suaminya. Ia mencoba mencari pintu kamar yang dimaksud suaminya.

__ADS_1


"Tapi disini aku nggak ada liat pintu oselain pintu to1let dan ruangan kamu, Mas."


__ADS_2