
Keesokan harinya, Nabila beserta keluarga kecilnya sudah siap berangkat menuju rumah baru yang akan mereka tempati diantar oleh adik dan ibunya, tidak ketinggalan Clara pun ikut serta.
"Sudah siap?"tanya Wahyu.
"Siap, ayo kita berangkat sekarang,"jawab Nabila tegas.
"Yaudah, ayo kita berangat sekarang,"ucap Wahyu.
"Koper udah dimasukin ke mobil kan, Mas?"tanya Nabila memastikan sebelum ia masuk ke mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Wahyu.
"Iya, Sayang. Ada tiga koper kan?"
Nabila mengangguk. "Iya, Mas."
"Ma? Ayo kita pelgi sekalang,"pekik Raksa dari dalam mobil.
"Eh, iyaiya, Nak,"jawab Nabila, lalu duduk dikursi penumpang samping kemudi.
"Nah kan, si bos kecil juga ngamuk,"ucap Wahyu terkekeh.
Perjalanan mereka diselingi dengan candaan, sesekali mereka tertawa mendengar celotehan Raksa yang kadang tidak ada yang bisa menerjemahkan.
"Kak, atu au atan loti toklat,"ucap Raksa.
"Ha? Atan loti toklat apaan, Dek?"tanya Galaksi melongo.
Raksa mulai merengek karena difikirannya ia tidak diizinkan makan roti coklat.
"Ma, tolong terjemahin ucapan adek dong,"rengek Galaksi.
"Hahaha... Mama aja nggak ngerti Raksa ngomong apa,"sahut Nabila tertawa.
"Adek bilang mau makan roti coklat, Kak,"timpal Wahyu.
Galaksi terperangah. "Jadi maksudnya mau makan roti coklat? Toklat itu coklat maksdunya?"cerocos Galaksi.
"Hahaha... Hebat kamu, Mas. Kamu bisa menerjamahkan bahasa Raksa,"puji Nabila diiringi tawa karena merasa lucu melihat ekpresi Galaksi.
"Bisa dikit-dikit, Ma,"ucap Wahyu tersipu.
Plok plok plok
Galaksi bertepuk tangan untuk papanya. "Wah... Papa hebat, kayaknya aku harus belajar dari papa deh,"ucap Galaksi.
"Iya nanti papa ajarin, tapi kita lebih baik siapin tenaga dulu buat rapihin rumah, karena sebentar lagi kita sampai,"ucap Wahyu terkekeh.
Mendengar ucapan suaminya, Nabila melihat kesekitar. "Udah mau sampai aja kita ya. Aku fikir masih jauh loh,"ucap Nabila.
"Aku juga jadi nggak sadar perjalanan karena 0cehan adek,"sahut Galaksi terkekeh.
Mobil memasuki pekarangan rumah yang tamannya tampak luas itu.
Brak
__ADS_1
Pintu mobil dibanting oleh Clara yang antusias melihat penampakan rumah calon kakak iparnya.
"Wah, rumahnya mewah banget. Mbak Nabila pasti betah nih tinggal disini,"puji Clara takjub.
"Biasa aja ekpresinya,"bisik Kaisar.
"Tumb*k nih, t*mbik nih, tumb*k..."balas Clara meniru ucapan seorang wanita yang lagi viral saat ini.
"Hahaha... Kok aku jadi mer1nding mendengar kata itu,"ledek Kaisar.
"Sudah, sudah... Jangan berantem dulu, kita masuk sekarang. Yang lain udah pada masuk tuh,"tegur ibu Ros.
"Yee... Siapa juga yang berantem sih, Bu,"sewot Kaisar.
"Hussh... Jangan kayak gitu sama Ibu,"tegur Clara pada kekasihnya.
"Loh Bu, Dek, kalian kenapa kalian malah nongkrong didepan kayak gini sih,"ucap Nabila yang kembali kedepan untuk melihat keluargnya yang tak kunjung masuk ke rumah.
"Ibu nggak bisa langsung masuk aja ninggalin adik-adikmu yang lagi kasmaran ini,"jawab ibu Ros terkekeh yang berhasip membuat Clara dan Kaisar tersipu malu.
"Udah biarin aja mereka kalau masih betah berdiri didepan, Bu,"sahut Nabila terkekeh.
"Apaan sih, Mbak. Kita juga mau masuk, disini panas,"timpal Kaisar cemberut.
"Jangan cemberut gitu, nanti Clara kabur,"goda Nabila.
Clara menjadi salah tingkah mendengar godaan Nabila pada Kaisar.
"Rasain kalian, ini giliran kalian yang menjadi bahan ledekanku,"monolog batin Nabila bersorak.
***
"Mama juga nggak tahu, Ca. Tapi, kita harus secepatnya menemukan wanita itu, karena jika tidak... Uang kita lama kelamaan akan habis,"jawab Sari.
"Mama benar, mana disini aku belum ada pelanggan lagi. Pokoknya nanti kalau kita sudah ketemu dengan wanita itu, aku mau berhenti dari pekerjaan ini aka. Kan kita udah ada m3sin penc3tak uang."
"Iya deh. Kali ini mama nurut apa kata kamu aja."
"Nah gini kan enak, Ma. Lagian sekama di Pontianak juga aku yang selalu nurutin kemauan Mama sampai aku menerima pekerjaan yang Mama inginkan loh."
Sari mencebik. "Kamu juga suka-suka aja tuh sama pekerjaan yang sekarang,"cibir Sari.
"Terpaksa, Ma. Ini demi ongkos dan biaya hidup kita selama di Jakarta. Kalau nggak kayak gitu, mungkin sekarang kita masih ada di Pontianak sana,"jawab Caca cemberut.
Caca termenung, ia mengingat kembali moment dimana mamanya memaksanya untuk bekerja yang akan menghasilkan uang banyak dalam satu hari saja.
-Flasback-
"Ca, mama dapat tawaran kerja dari teman mama. Katanya kerjanya santai dan dalam sehari menghasilkan uang yang sangat banyak,"ucap Sari semangat ketika memasuki kamar anaknya.
Sehari-harinya mereka hanya berdua di rumah, karena yang lainnya sedang sibuk bekerja.
"Apaan, Ma?"tanya Caca cuek.
__ADS_1
"Tapi mama nggak yakin kamu mau mengambil pekerjaan ini,"ucap Sari ragu.
"Katakan aja sih, Ma. Selagi bisa menghasilakan uang banyak dan kita bisa shoping-shoping lagi, maka aku akan ambil pekerjaan itu,"ucap Caca tanpa mengalihkan perhatiannua dari ponsel pintarnya itu.
Sari menghela nafas panjang, lalu mendudukkan b0k0ngnya dipinggiran ranjang milik anak kembarnya itu.
"Kamu bekerja untuk m3mu4skan pr1a uang h4us bel4i4n seorang wanita,"ucap Sari.
"Oo gitu, yaudah aku ambil pekerjaan itu. Kerjanya juga santai kok,"jawab Caca santai membuat perasaan Sari membuncah karena bahagia.
"Kamu beneran mau, Ca?"
"Iya, Ma,"'jawab Caca santai.
"Tapi kamu nggak apa-apa kep3raw*n4nmu di ambil pertama kalinya oleh pr1a yang bukan suami kamu? Yakin kamu?"tanya Sari memastikan.
"Yakin lah, Ma. Toh ini juga untuk memenuhi kebutuhan kita kan, jadi kenapa tidak? Aku juga mau mencoba hal yang baru, ngapain mikiran pr1a yang belum jelas siapa yang akan menikah denganku."
Mata Sari berbinar, mata dan hatinya sudah benar-benar dibut4kan oleh yang namanya uang itu.
"Kalau gitu mama akan hubungi teman mama dan minta dicarikan pelanggan,"ucap Sari antusias.
"Iya, Ma. Tapi, pasang tarif yang mah4l ya, Ma. Aku ini masih tingting loh,"ucap Caca.
"Iya, soal itu tanpa kamu bilang juga mama akan pasang tarif mahal kok,"jawab Sari.
"Tapi, Ma... Gimana kalau papa atau kak Sam tahu?"
"Udah, kamu tenang aja. Mama yakin papa dan kakakmu tidak akan ada yang tahu, toh nanti kalau uang kita udah terkumpul banyak kita akan segera pindah ke Jakarta,"ucap Sari santai.
"Di Jakarta nanti pasti kita juga butuh uang yang banyak, Ma. Karena aku juga yakin, kalau kita tidak akan langsung bertemu wanita itu."
"Itu mah gampang, kamu tinggal cari pelanggan baru di Jakarta. Pasti disana lebih banyak lagi yang mau,"ucap Sari.
"Oke, tapi Mama yang cari ya? Aku tinggal melay4ni aja."
"Oke, siap. Nanti mama yang akan jadi jembatan untuk menemukan pelanggan baru yang lebih tajir pastinya."
"Oke, tapi ingat, Ma. Selama kita disini, aku hanya akan mel4yani jika siang hari saat semua orang dirumah ini keluar bekerja."
"Iyaiya, kalau itu mama juga tahu, Ca. Tapi, bagaimana kalau kita buka jasa dirumah ini aja?"
"Ide Mama nggak tepat, kalau di rumah ini pasti akan ketahuan, tetangga pasti akan mencari tahu kalau melihat pria berbeda bergantian masuk ke rumah kita."
"Iya juga iya, kok mama nggak kepikiran."
"Untuk tempat Mama jangan khawatir, palingan si pria yang akan menentukan tempatnya."
"Kamu kenapa sangat tahu hal beginian, Ca?"
"Teman aku yang sering cerita, Ma. Dia juga bekerja kayak gitu kok."
"Ooh, yaudah deh. Mama mau keluar dulu, sekalian mau hubungi teman mama."
__ADS_1
"Iya, Ma."
***