Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Apa papa tahu?


__ADS_3

"Mas, tolong minta bibik untuk belanja bulanan. Kebutuhan didapur semua udah pada habis soalnya,"ujar Nabila pelan.


"Udah, kamu nggak udah mikirin itu, Sayang. Sebaiknya kamu istirahat, mas disini temani kamu,"sahut Wahyu mengusap lembut kepala istrinya.


Karena rasa pusing yang tak dapat ditahan lagi, Nabila menuruti perkataan suaminya. Ia segera memejamkan matanya dan tidak butuh waktu lama untuknya terlelap dalam tidur.


Sementara Raksa yang melihat kepulangan mamanya dengan digendong oleh papanya, ia tidak menganggu sang mama meski tak dapat sapaan. Ia seolah mengerti apa yang tengah dirasakan mamanya itu.


"Dek, lanjut main di ruang tengah yuk!"ajak Galaksi pada adiknya yang berdiri didekat ranjang menatap mamanya, "Mama jangan diganggu dulu,"lanjut Galaksi memberi pengertian pada adiknya.


"Iya, Kak,"sahut Raksa ceriah.


"Gala, tolong panggil bibik kemari ya,"pinta Wahyu.


"Iya, Pa,"jawab Galaksi sebelum meninggalkan kamar orang tuanya.


Galaksi keluar kamar, sebenarnya hatinya sedang tidak baik-baik saja melihat mamanya sakit.


"Ini pasti karena mama syok setelah mendapat t4mp4ran secara tiba-tiba dari Sinta,"gumam Galaksi dengan k1latan amar4h dimatanya.


"Adek, main dulu ya. Kakak mau panggil bibik dibelakang,"ujar Galaksi dijawab anggukan oleh Raksa.


Melangkah dengan pelan menuju taman belakang, tempat para art mengistirahatkan tubuh dari segala pekerjaan yang tidak ada habis.


"Bik, dipanggil papa dikamarnya,"ucap Galaksi.


"Iya, Mas."


Sejenak Galaksi melamun memikirkan balasan set1mpal yang akan diberikan untuk Sinta karena sudah menyakiti mamanya. Galaksi bertekat akan membuat Sinta benar-benar menyesal karena sudah berani menyentuh mamanya tanpa alasan yang jelas.


"Mas, lagi mikirin apa?"tanya salah satu art yang masih bertahan ditamab belakang.


"Eh, nggak ada, Mbak. Aku tadi cuma mikirin mama yang lagi kurang sehat,"jawab Galaski yang tidak sepenuhnya berbohong.


"Ooh kirain lagi mikirin pacarnya, Mas Galaksi,"ucap art tersebut terkekeh.


"Mbak ini bisa aja, saya mana ada pacar, Mbak,"bantah Galaksi.


"Masa' ganteng-ganteng gini nggak ada pacar sih, Mas."


Mereka memang sudah akrab dan terbiasa saling m3l3mpar candaan satu sama lain, jadi tidak ada lagi kecanggungan antara majikan dan art diantara mereka.


Kembali ke kamar Wahyu dan Nabila. Wahyu menatap wajah damai istrinya yang terlelap, Wahyu menelisik wajah istrinya dan tiba-tiba keningnya mengkerut melihat ada jejak kemerahan dipipi sang istri.


"Apa ini? Apa ini b3kas t4mparan?"tanya Wahyu pada dirinya sendiri.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Maaf, Pak. Ini saya."


Wahyu mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri, ia beralih menatap pintu kamar.


"Masuk aja, Bik,"titah Wahyu.


Cklek


Bibik masuk kedalam kamar, ia melangkah mendekat dengan kepala sedikit menunduk.


"Bapak butuh sesuatu?"


"Nggak, Bik. Saya mau minta tolong, karena tadi Ibu tidak sempat belanja semua keperluan. Jadi Bibik aja yang belanja ya."


"Baik, Pak. Apa ada daftar belanjaan lain selain kebutuhan bulanan?"tanya bibik sopan.


"Kalau saya nggak ada, Bik. Coba tanya anak-anak, siapatau mereka butuh sesuatu,"jawab Wahyu santai sembari mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu kredit miliknya.


"Ini Bibik bawa, kodenya nanti saya kirim lewat chat,"ujar Wahyu menyodorkan kartu miliknya pada bibik.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit mau siap-siap dan langsung berangkat,"pamit bibik sopan.


"Iya silahkan, Bik. Minta diantar supir aja ya, jangan naik taksi."


"Siap, Pak."


Setelah kepergian bibik, Wahyu kembali menatap wajah istrinya. Ia sangat yakin jika kemerahan diwajah sang istri karena b3kas t3lapak tangan seseorang.


"Mas tinggal kedepan sebentar ya, Sayang,"bisik Wahyu ditelinga istrinya.


Cup


Wahyu meng3cup lembut kening istrinya sebelum keluar kamar.


"Kakak, papa mau nanya sesuatu,"ujae Wahyu pada Galaksi yang sedang asyik bermain dengan Raksa.


Mendengar suara papanya, kakak beradik tersebut kompak mendongak untuk melihat sang papa yang berdiri disamping sofa.


"Ada apa, Pa?"


Wahyu menarik dan nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, ia mencoba menenangkan hatinya.


"Kayaknya serius banget ya, Pa?"tebak Galaksi menghentikan gerakan tangannya yang menyusun lego.


"Iya. Ini sangat penting!"jawab Wahyu tegas.


"Apa papa tahu masalah seseorang yang tiba-tiba men4mp4r mama?"tanya Galaksi dalam hatinya.


"Kamu duduk disitu saja,"pinta Wahyu ketika melihat Galaksi akan berpindah posisinya.


"Apa yang terjadi di minimark*t tadi?"tany Wahyu serius.

__ADS_1


***


"Gimana ini, Ma? Kita nggak bisa diam aja tanpa melakukan sesuatu untuk menemukan rumah wanita itu,"ujar Caca mondar mandir didalam kamar.


"Ya ampun, Ca... Kamu pikir kita selama ini diam aja? Bukankah kita selalu sama-sama memantau kedatangan wanita itu ke komplek sebelah?"


"Tapi, itu nggak membuahkan hasil, Ma. Kita harus cari cara lain, Ma. Aku udah nggk tahan tinggal dirumah kecil ini, kan kalau wnaita itu ditemukan kita bisa anc4m menggunakan anaknya,"ujar Caca gusar.


"Kamu pikir kamu aja yang nggak betah tinggal dirumah kecil ini? Mama juga, Ca. Tapi, mau gimana lagi? Sudah beberapa bulan kita di Jakarta tapi belum menemukan tempat tinggal wanita itu."


Wajah Caca memberenggut kesal, ia mengh3ntakkan kakinya ke lantai.


"Mama mending pikirkan cara untuk dapat pelanggan sampai kita menemukan wanita itu. Kita sudah bebrapa bulan disini, tapi pelanggan aku cuma satu orang dan itupun uangnya setiap cair kita langsung habiskan untuk shoping,"ucap Caca cemberut.


"Iyaiya, kalau gitu modali mama untuk keluar jalan-jalan cari kenalan. Kalau kita dirumah aja terus, nggak akan dapat orangnya."


"Iya nanti aku kasi uangnya, kapan Mama mau keluar?"


"Jam pulang kantor, pasti banyak tuh bos bos yang pulang dari kantor yang bisa dijadikan target."


"Ma, ini hari libur. Mana ada orang ke kantor,"ucap Caca.


"Lah, emang ini hari libur ya?"tanya Sari seperti orang b0d*h.


"Jangan mentang-mentang kita nggak ada yang kerja kantoran, Mama sampai lupa hari dong,"sahut Caca sewot.


"Yaa maaf, kita kan nggak ada kal3nder dirumah ini, jadi mama nggak merhatiin."


"Alasan aja, besok aja Mama keluarnya. Malam ini aku ada janji sama om Bagas, uangnya juga buat modal Mama keluar jalan."


"Tarifnya masih sama kan?"tanya Sari berbinar.


"Iya, kalau nggak ketahuan sama istrinya,"jawab Caca asal.


"Shutt... Jangan ngomong gitu, toh selama ini aman aman aja kok."


"Iyaiya, Ma. Kan tadi aku cuma asal ngomong aja,"sahut Caca cuek.


"Ngomong itu juga harus disaring, Ca. Nanti beneran terjadi baru tau rasa kamu."


"Itu Mama sendiri yang doain anaknya yang bur*k-bur*k."


"Bukannya mama doain yang bur*k-bur*k, mama hanya tidak ingin itu terjadi."


"Sama aja itu, Ma."


"Mama nggak masak? Aku udah laper banet nih, Ma."


Sari mendelik pada Caca. "Kamu ngeh1na mama, Ca?"


Kening Caca mengkerut. "Lah, mengh1na gimana sih, Ma? Kan aku cuma nanya,"tanya Caca tak terima.

__ADS_1


"Itu tadi kamu bahas soal masak memasak, kamu kan tahu betul kalau mama nggak bisa masak,"ucap Sari jengkel.


__ADS_2