
Pagi hari, semua orang di rumah Nabila sudah tampak mulai bersiap untuk berangkat bekerja.
"Aku duluan ya, Mas!"pamit Nabila pada suaminya.
"Iya, Sayang. Bilang sama Kaisar jangan ngebut bawa mobilnya,"jawab Wahyu lembut sembari menggendong Raksa.
"Iya, Mas,"ucap Nabila tersenyum, lalu beralih pada anaknya, "Nak, ibu pamit ya! Hari ini kamu di rumah aja sama Nenek,"pamit Nabila pada anaknya.
"Bilang apa sama Ibu, Nak?"tanya Wahyu.
"Ciap, Ibu,"jawab Raksa.
Nabila dan Wahyu terkekeh. "MasyaAllah, anak ibu ternyata udah besar,"puji Nabila.
"Kalau gitu aku pamit, Mas. Mas juga hati-hati bawa mobilnya. Ibu, Nabila pamit. Assalamualaikum,"pamit Nabila pada suami dan ibunya serta mengucap salam.
"Waalaikumssalam,"jawab Wahyu ibu Ros kompak.
Nabila melangkah memasuki mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Perlahan mobil meninggalkan komplek perumahan Nabila.
"Kalian masih sariawan ya?"tanya Nabila asal, karna merasa gemes melihat tingkah kedua insan didepannya.
Keduanya menggeleng bersamaan, tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Karna merasa kesal diabaikan, Nabila men4rik telinga Clara dan Kaisar.
"Aduh... Aduh, Mbak... Sakit, lepasin dong! Bahaya, Mbak! Nanti kita malah n4brak,"ucap Kaisar kesakitan, namun harus tetap fokus kedepan.
Nabila mengalah, ia meleskan tangannya ditelinga Kaisar. Namun, tidak di telinga Clara.
"Sakit, Mbak. Salah aku apa sih, Mbak?"tanya Clara meringis kesakitan.
"Mbak kesal sama kalian berdua. Dari semalam mbak tanya, tapi nggak ada yang mau jawab,"ucap Nabila, kemudian melepaskan tangannya ditelingga Clara.
Clara cemberut, ia mengusap-usap telinganya yang memerah karna j3wer4n Nabila.
"Aku cuma lagi malas ngomong, Mbak. Bukan lagi sariawan,"ucap Clara masih saja berusaha menutup rasa cemburu butanya pada Kaisar.
Nabila memicingkan matanya. "Mbak nggak percaya,"ucap Nabila sembari menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau menjelaskan sesuatu, Sar?"tanya Nabila pada adiknya penuh selidik.
"Nggk ada, Mbak. Kaisar cuma lagi males aja ngomong. Kalau Mbak masih mau di sini silahkan, aku mau masuk ke ruangan,"jawab Kaisar, lalu buru-buru keluar mobil. Clara juga mengikuti apa yang dilakukan oleh kekasih hatinya.
Nabila celingukan melihat sekitarnya, ia lagi dan lagi tidak menyadari perjalanan menuju kantor tempatnya bekerja.
Dengan menghela nafas panjang, Nabila gagal lagi mengorek masalah adiknya dan Clara.
"Baiklah, nanti juga mereka akan mengatakan masalah yang masing-masing dihadapinya,"gumam Nabila.
Melangkah dengan pasti menuju ruangannya, ia menyemangati dirinya yang akan berhadapan dengan setumpuk berkas yang tidak ada habisnya.
Ting!
Pesan masuk di ponsel Nabila, bertepatan dengan pintu lift terbuka. Segera Nabila keluar sambil mengambil ponselnya didalam tas.
"Mas Wahyu?"gumam Nabila begitu membaca nama si pengirim pesan.
Tanpa membiang waktu, Nabila segera membuka pesan dari suaminya yang kemudian membuatnya menatap tak percaya.
"Apa mas Wahyu nggak salah kirim?"gumam Nabila.
-Isi pesan-
__ADS_1
...Transaksi Berhasil...
Sumber dana : Wahyu Pramudya
Nama tujuan : Nabila Maharani
Catatan : Uang bulanan untuk kebutuhan pribadi istri
Nominal : Rp.100.000.000,-
[Ini resi bukti transfer. Itu nafkah bulanam dari mas untuk kamu pribadi.]
Nabila masuk keruangannya dan menaruh barang bawaannya ke atas meja.
[Jumlahnya terlalu besar, mas,]balas Nabila.
"Uang sebanyak ini mau aku apakan? Mas Wahyu ini ada-ada aja deh,"gumam Nabila.
Ting!
[Itu masih terlalu kecil, sayang. Ingat, itu hanya untuk kamu pribadi, kebutuhan rumah dan lain-lain sudah mas siapkan.]
[Uang yang kamu kirim lebih dari untuk semua kubutuhan ku dan rumah, mas. Bahkan masih banyak lebihnya.]
[Tidak, sayang! Mas sudah menyiapkan semuanya. Jadi, kamu tinggal mengelolanya dengan baik.]
[Tapi itu terlalu besar jumlahnya, mas. Aku tidak terbiasa memegang uang sebanyak itu.]
[Mulai sekarang harus dibiasakan, sayang. Lagian kamu tidak memegangnya langsung, semua ada di bank. Kalau butuh kamu bisa langsung ambil.]
Nabila menghela nafas panjang, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Belum selesai memikirkan uang dari suaminya akan diapakam semua, ada lagi yang membuatnya tercengang.
"Apalagi ini?"gumam Nabila.
-Isi pesan-
...Transaksi Berhasil...
Nama tujuan : Nabila Maharani
Catatan : Untuk bulanan ibu Nabila dan adik Raksa
Nominal : Rp.50.000.000,-
Itulah yang membuat Nabila tercengang, mendadak kepalanya menjadi pusing.
"Ya ampun... Uang sebanyak ini mau diapakan semua?"gumam Nabila.
Cklek
"Mbak Nabila kenapa?"tanya Kaisar yang memasuki ruangan Nabila dengan berkas yang ada ditangannya.
Nabila mendongak kesumber suara. "Nggak apa-apa, Sar. Berkasnya taruh di meja aja,"jawab Nabila lesuh.
Kaisar mengikuti kata kakaknya. "Mbak sakit?"tanya Kaisar cemas.
Nabila menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak, Sar. Mbak cuma pusing sedikit,"jawab Nabila.
"Mbak mau aku antar ke rumah sakit?"
"Nggak perlu! Dibawa istirahat sebentar pasti udah baikan."
__ADS_1
"Yaudah, Mbak. Kalau ada apa-apa hubungi Kaisar ya,"ucap Kaisar.
"Iya, Sar."
Kaisar keluar, tapi tidak langsung menuju ruangannya. Melainkan menuju ruangan kakak iparnya.
Tok tok tok
"Masuk!"titah dari dalam, kemudian pintu terbuka otomatis.
"Assalamualaikum, Pak Wahyu,"salam Kaisar formal.
"Waalaikumssalam. Nggak usah formal seperti itu kalau cuma berdua, Sar."
Kaisar tersenyum kikuk. "Baiklah, Pak. Eh, Mas maksudnya."
Wahyu terkekeh. "Ada apa, Sar?"
"Itu, Mas... Mbak Nabila sepertinya sedang sakit. Tadi, aku ke ruangannya dan melihat wajah mbak Nabila begitu pucat."
Wahyu terkejut. "Bukannya tadi saat berangkat mbak mu baik-baik aja, Sar?"
Kaisar mengangguk. "Iya, Mas. Aku juga heran melihat mbak Nabila yang tiba-tiba seperti orang sakit,"jawab Kaisar.
Bangkit dari duduknya, lalu mengambil ponsel dan dompetnya. "Yaudah, Sar. Kalau gitu kamu balik keruangan aja, Mas mau keruangan mu."
"Iya, Mas."
Melangkah tergesa-gesa, Wahyu menuju ruangan istrinya. Tanpa permisi, ia membuka pintu ruangan istrinya.
"Kamu kenapa, Sayang?"tanya Wahyu cemas.
"Ini gara-gara kamu dan Galaksi, Mas,"jawab Nabila pelan.
"Kok gara-gara mas dan Galaksi sih, Sayang?"
"Iya karna kamu dan Galaksi mengirim uang dalam waktu yang bersamaan dalam jumlah yang banyak,"jawab Nabila berhasil membuat suaminya terperangah.
"Kamu serius cuma karna itu, Sayang?"tanya Wahyu menahan senyumnya.
Hanya anggukan yang menjadi jawaban Nabila.
"Kamu aneh, Sayang. Biasanya wanita akan sangat senang mendapat uang bulanan banyak. Kamu malah pusing begini,"ucap Wahyu terkekeh.
"Aku pusing gimana cara ngabisinnya, Mas,"sahut Nabila.
"Kamu nggak perlu pusing, Sayang. Kamu pergi perawatan aja di salon, shoping di mall dan lain-lainnya."
"Aku nggak biasa sama hal seperti itu, Mas."
"Lalu apa yang menjadi kebiasaan mu, Sayang?"
"Mengumpulkan uang, Mas. Kerja dan kerja."
Wahyu tersenyum teduh, ia mengusap kepala istrinya yang terbungkus jilbab.
"Mulai sekarang kamu bisa menikmati hidupmu, Sayang. Ada mas yang akan memenuhi kebetuhan mu dan anak-anak kita."
Nabila mengangguk pelan. "Aku pakai uang yang kamu kirim untuk belanja bulanan kebutuhan di rumah ya, Mas?"
"Tidak, Sayang!" Wahyu membuka dompetnya dan mengambil sebuah kartu.
__ADS_1
"Ini untuk belanja bulanan kebutuhan rumah dan gaji bik Minah. Gaji kamu dan Kaisar disimpan aja. Mas tahu, kamu dan Kaisar punya keinginan untuk memberangkatkan ibu haji. Mas sebenarnya bisa saja membiayai semuanya, tapi mas tahu kamu tidak akan mau."