
Karena hari semakin beranjak sore, rombongan Nabila pamit undur diri dari kediaman orang tua Clara. Mereka akan segera bersiap untuk berangkat menuju bandara dan akan bertolak ke Jakarta.
Clara tidak bisa ikut kembali ke Jakarta bersama keluarga calon suaminya karena ia ingin menghabiskan waktu sehari lagi bersama keluarganya.
"Persiapan untuk syukuran rumah baru Mbak Nabila gimana?"tanya Clara sebelum Nabila benar-benar melangkah menyusul keluarganya yang lebih dulu keluar.
"Semua sudah siap, Ra. Ooh iya, jangan lupa kamu segera nyusul dan ajak keluarga mu untuk menghadiri acara syukuran ini."
"InysaAllah, Mbak. Kalau tidak ada halangan kami akan datang."
"Baiklah, kalau begitu mbak pamit ya."
"Iya, Mbak,"sahut Clara, "Sebentar lagi saya nyusul untuk mengantar ke bandara."
"Nggak usah repot-repot, Ra. Kami bisa pesan taksi online, kok,"tolak Nabila halus.
"Nggak apa-apa, Nak. Sudah seharusnya Clara mengantar kalian ke bandara,"sahut mama Clara.
"Baiklah kalau begitu, kami tunggu kedatangan semuanya ke Jakarta besok ya."
"Iya, Nak. InsyaAllah kami akan datang,"sahut papa Clara.
Clara menatap kepergian rombongan calon keluarga barunya, tanpa sadar ia menjadi pusat perhatian dari para sepupunya.
"Khmm... Udah deh, nggak usah di tatap terus. Nanti juga ketemu lagi,"goda sepupu Clara tersenyum jahil.
Clara tidak memperhatikan perkataan sepupunya, ia terus menatap ke arah rombongan Nabila.
Clara tersentak merasakan sentuhan dipundaknya.
"Apa? Ada apa?"tanya Clara gelagapan.
Sontak hal tersebut membuat Clara menjadi bahan olokan oleh keluarga besarnya.
"Sudah, sebaiknya kalian istirahat. Temani Clara ke bandara untuk mengantarkan nak Kaisar dan keluarganya,"ucap papa Clara.
"Siap, Om,"sahut sepupu Clara.
Karena jadwal keberangkatan sangat mepet, Nabila dan keluarganya segera beberes begitu sampai di rumah persinggahan selama berada di kota Clara.
"Ma, aku mau mau mandi. Masih sempat nggak ya?"
"Mandi aja, Nak. Masih ada sekitar satu jam setengah dari jadwal keberangkatan,"jawab Nabila.
__ADS_1
Galaksi tersenyum, lalu berlalu menuju kamar mandi dapur.
Dilain tempat, tepatnya di Pontianak. Samudra mengajak papa dan adiknya jalan-jalan ditaman dan menikmati jajanan yang ada di taman tersebut.
"Makanan disini ternyata enak-enak ya,"puji Cici berbinar.
"Jangan salah, disini meskipun pedagang kaki lima, tapi makanannya sangat memanjakan l1dah para pengunjung,"sahut Samudra.
"Tapi, kata mama dulu makanan pinggir jalan nggak enak dan nggak higenis, Kak, Pa,"ujar Cici, "Makanya selama ini Cici nggak berani jajan dipedagang kaki lima begini,"lanjut Cici.
"Mama kamu bukan masalah higenis dan nggak enaknya, Ci. Tapi, karena gengsinya yang terlaly tinggi, malu kalau ketahuan teman arisannya makan atau jajan dipinggir jalan,"sahut Samad.
"Papa benar, Dek. Mama dari dulu emang gitu, gengsinya terlalu tinggi. Selalu mau dipandang kaya sama orang-orang,"timpal Samudra membenarkan kata papanya.
Mata Cici berkaca-kaca mengingat kelakuan bur*knya selama ini.
"Sudah, tidak ada yang perlu disesali, Nak,"ucap Samad seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan anaknya, ia mengelus lembut kepala anaknya yang ditutupi dengan jilbab.
"Maafkan kelakuan Cici yang dulu, Pa, Kak..."ucap Cici lirih.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Dek. Kita semua dulu sama aja, yang dulu jangan diingat. Jika ingat, ambil sebagai pelajaran. Kita sama-sama perbaiki diri kita kedepannya agar menjadi lebih baik lagi."
"Iya, Kak. Mulai sekarang kita harus merubah kehidupan kita menjadi lebih baik lagi. Nggak apa-apa nggak shooping dan lain-lainnya, asal hidup kita damai."
"Aamiin... Ayo lanjutkan makannya, habis ini kita sebaiknya pulang. Sebentar lagi magrib, nggak baik masih berada diluar rumah jika magrib."
"Iya, Pa,"jawab Samudra dan Cici.
Dalam perjalanan pulang, mereka tengah bersenda gurau didalam taksi online yang sengaja dipesan oleh Samudra.
Namun, tiba-tiba ekpresi Cici berubah ketika disamping taksi yang mereka tumpangi ada seorang ibu dan anak seusia Cici yang sedang berboncengan dan bercanda satu sama lain.
"Kenapa, Nak?"tanya Samad.
"Aku kangen mama, Pa,"jawab Cici pelan.
"Doakan mama agar hatinya melun4k dan mau kembali bersama kita,"sahut Samudra menenangkan adiknya.
"Apa mama sudah melupakan kita ya, Kak, Pa?"
"Jangan ngomong seperti itu, Dek. Mama pasti ingat kita kok. Mungkin mama dan Caca hanya ingin liburan tanpa diganggu."
"Jika memang hanya ingin liburan, kenapa tidak pamit? Kenapa tidak pernah memberi kabar meski hanya sekali saja?"
__ADS_1
Samudra dan Samad diam tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka juga sadar, jika Sari dan Caca pergi dari rumah tanpa pamit bukan karena untuk tujuan liburan.
"Aku ingat sesuatu,"celetuk Cici.
"Ingat apa, Dek?"
"Apa jangan jangan mama dan Caca ke Jakarta mau mencari mbak Nabila? Bukan kah selama ini mereka selalu mengatakan hal yang sama?"
Samad menyandarkan punggungnya disandaran jok mobil, ia mengusap wajahnya kas4r.
Sedangkan Samudra mulai khawatir, ia takut jika mama dan adiknya akan menganggu kehidupan mantan istri dan anaknya.
"Jika benar seperti itu, tujuan mereka tidak baik. Apa yang harus kita lakukan? Jangan sampai mama dan Caca mengac4ukan lagi hidup Nabila dan Raksa,"ujar Samudra resah.
"Jangan khawatir, papa yakin Nabila bisa mengurus dan menyelesaikan yang bersangkutan dengan mama kalian dan Caca,"ucap Samad.
"Nabila wanita yang kuat dan cerdas, pasti dia punya seribu cara untuk menghalau orang yang mengganggunya,"lanjut Samad.
Di Jakarta, tepatnya di hotel yang tidak begitu besar. Sari dan Caca tengah bersiap-siap untuk kembali mengunjungi rumah Nabila dan dengan rencana yang dikiranya akan berhasil.
"Sudah siap, Ma?"tanya Caca.
"Iya, ayo kita berangkat sekarang. Keburu magrib ini,"sahut Sari.
Setelah kembalinya Caca dari kamar tempat melay4ni pelanggannya, Caca tidur selama berjam-jam setelah mengisi perutnya yang kosong sejak pagi.
"Kamu udah pesan taksi, Ca?"
"Udah, Ma. Makanya aku ngajak sekarang, taksi udah ada dibawa nungguin kita."
Sepanjang perjalanan mereka tersenyum seperti akan mendapatkan hadiah besar dari sebuah rencana yang sudah mereka susun.
"Sebentar lagi kita akan mendapatkan uang lebih banyak dari hasil kerja aku, Ma. Aku yakin, kali ini wanita itu tidak akan bisa mengelak,"ujar Caca menggebu.
"Kamu benar, Ca. Pokoknya apapun yang terjadi rencana kita harus berhasil. Setelah ini kita bisa beli rumah di Jakarta. Jadi kita nggak perlu lagi nginap di hotel atau ngontrak rumah."
"Astaga, aku hampir lupa kalau kita udah buat rencana untuk cari rumah kan, Ma? Kok Mama nggak ngingetin sih?"
"Mama aja lupa, Ca,"jawab Sari santai.
"Issh... Setelah rencana kita terlaksana, sebaiknya kita langsung cari kontrakan di sekitar rumah wanita itu, sesuai rencana sebelumnya."
"Iyaya, Ca."
__ADS_1
Kira-kira rencana apa yang sudah di susun oleh Sari dan Caca? Apakah rencananya akan berhasil?