Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Memilih


__ADS_3

Pov Nabila


Saat tiba dirumah, aku dikejutkan dengan perkataan suamiku yang tiba-tiba saja mengajak pindah rumah dengan alasan Galaksi yang ingin kami tinggal seatap.


Aku tidak bisa menolak jika itu keinginan anak-anak, meski Galaksi bukan anak kandungku. Namun, ketika papanya mengucapkan janji suci dihari pernikahan kami, aku menerimanya dan menyayanginya dengan ikhlas sama seperti sayangku pada Raksa.


Aku menyetujui permintaan suamiku, mungkin tinggal dalam satu rumah sudah sejak lama menjadi impian Galaksi, dan aku tidak mau memat4hkan impiannya itu.


"Oke, gini aja deh, Mas. Aku mau pindah, tapi bukan di rumah Galaksi,"


Itulah kalimat yang meluncur keluar dari mulutku, tanda setuju dengan permintaan suamiku sekaligus lengkap dengan syarat.


Bukan karena aku ingin rumah baru. Bukan! Dibenakku tidak ada terlintas untuk meminta itu semua. Namun, jika diminta untuk tinggal dirumah mas Wahyu dan istri pertamanya, aku tidak bisa, karena itu milik Galaksi sepenuhnya.


Mas terlihat bersemangat menyetujui permintaanku.


"Baiklah, Sayang. Mas akan beli rumah baru untuk kita tinggali berempat."


Itu jawaban mas Wahyu dari apa yang menjadi syaratku.


"Boleh, Mas. Tapi aku mau rumahnya yang sederhana saja."


"Sesuai keinginan kamu, Sayang."


Selama satu bulan menjadi istri mas Wahyu, aku mulai bisa memahami karakter suamiku itu. Sejauh ini suamiku sangat lembut memperlakukan aku sebagai istrinya. Semoga hal itu terjadi sampai kami menua dan sampai jannahnya nanti.


Tok!


Tok!


Tok!


Belum rampung pembahasan kami, pintu kamar tiba-tiba ada yang mengetuk dari luar.


"Siapa?"tanyaku.


"Saya, Nyonya."


Suara yang sangat aku kenal, itu suara bik Minah. Ada apa? Tumben bik Minah datang mengetuk pintu kamar ku.


"Bentar, bik,"balasku, lalu menoleh kearah suamiku, "Aku buka pintu dulu, Mas. Kalau capek dan mau istirahat, duluan aja, Mas."


"Iya, Sayang. Tapi, jangan lama-lama ya!"


Sejak malam pertama, sepertinya suamiku ini tidak bisa jauh lama-lama dariku. Tapi, nggak apa-apa lah, kapan lagi dibucinin suami.


Cklek!


"Ada apa, Bik?"tanyaku bergitu pintu kubuka, lalu aku keluar dan menutup kembali pintu kamarku.


"Maaf mengganggu waktu istirahatnya, Nya. Bahan-bahan didapur udah pada habis, bibik mau masak untuk makan siang, Nya."


"Maaf ya, Bik. Aku lupa kemarin belanja sebelum ke hotel. Yaudah kita kedapur, cek apa saja yang dibutuhkan."


Aku melangkah lebih dulu, bik Kinah kenyusul dibelakangku. Ini kuga karena kelalaianku, seharusnya sehari sebelum berangkat ke hotel tempat resepsi berlangsung aku belanja dulu, kalau gini kan jadi agak repot. Mana hari udang menjelang tengah hari.

__ADS_1


"Mulai sekarang Bibik yang akan belanja ke pasar atau supermarket. Apa Bibik tidak keberatan?"


Bisa kulihat kening bik Minah mengkerut. Sepertinya bik Minah bingung dengan keputusanku yang mendadak ini.


"Tapi, Nya... Saya takut salah-salah belanjanya,"ucap bik Minah ragu.


"Saya yakin Bik Minah nggak akan salah, kalau ada kesalahan dalam bekerja itu hal biasa, Bik. Asal jangan keseringan,"ucapku tersenyum.


"Saya takut tidak amanah memegang uang belanja, Nya."


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan bik Minah. Wku segera mengambil buku kecil dan pulpen di atas kulkas.


"Saya catat belanjaannya, nanti Bibik dapat uang jalan setiap pergi belanja. Ini langsung belanja untuk satu bulan kedepan, Bik,"ucapku sembari terus mencatat dan mengingat-ingat apa saja yang dibutuhkan.


"Apa nggak repot nanti kalau belanja banyak barang, Nya?"


"Bik Minah bisa minta tolong diantar sama Kaisar, jangan pernah merasa sungkan, atau Bibik bisa naik taksi."


"Baiklah, Nya. Terima kasih atas kepercayaannya pada bibik."


"Iya, Bik. Ini catatannya, Bibik bisa pergi sekarang. Untuk makan siang biar saya pesan aja dulu, Bik."


"Baiknya. Saya terima catatannya. Tapi, ini belanjanya dipasar tradisional aja atau disupermarket, Nya?"


Aku sedikit menimbang-nimbang, mana yang akan menjadi tujuan bik Minah untuk belanja.


"Supermarket aja, Bik. Dipasar jam segini sayurannya udah nggak segar,"jawabku.


Dalam catatan yang kuberikan pada bik Minah, semuanya sudah lengkap, dari mulai persabunan, persampoan, sayuran, beras, daging, ikan, cemilan, dan kebutuhan lainnya.


"Iya, Nya."


Aku segera ke kamar untuk mengambil uang cash untuk dibawa bik Minah. Untung tadi dalam perjalanan pulang ke rumah mas Wahyu mengusulkan untu narik sejumlah uang di atm.


"Sudah selesai, Sayang."


"Belum, Mas. Ini aku cuma ambi uang aja, bik Minah mau belanja. Aku juga udah menyampaikan sama bik Minah masalah belanja bulanan."


"Baguslah, Sayang. Jadi, kamu atau ibu nggak perlu repot-repot lagi mikirin bahan yang habis didapur."


"Iya, Mas. Makasih atas sarannya, aku ke bawa dulu ya. Mau kasi uang buat bik Minah."


"Iya, Sayang."


Aku melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Tiba di bawa, kususul bik Minah ke dapur. Aku sangat yakin bik Minah pasti sudah selesai bersiap dan sedang kebingungan didapur.


"Sudah siap, Nya."


"Yaudah, ini uang belanjanya. 5 jt cukup nggak, Bik?"


"InsyaAllah cukup, Nya."


"Yaudah. Ini uang 1 jt untuk uang jalan, Bibik."


"Tapi ini kebanyakan, Nya."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Bik. Bibik jalan sekarang, saya udah pesanin taksi."


"Kalau begitu saya permisi, Nya."


"Iya, Bik. Hati-hati dijalan. Kalau ada apa-apa hubungi saya, Bik."


"Siap, Nya.


Setelah melihat kepergian bik Minah menggunakan taksi online, aku kembali ke kamar karna sudah pasti suamiku sudah menunggu dilayani sejak tadi.


Cklek!


Memasuki kamar, kulihat mas Wahyu duduk disofa memainkan ponselnya dengan memakai bathdrobe berwarna putih.


"Kamu mandi, Mas?"tanyaku.


"Iya, Sayang. Tapi, bajuku belum siap."


"Maaf ya, Mas. Aku siapin sekarang bajunya."


"Iya, Sayang."


"Kenapa mandi siang-siang gini, Mas? Tadi pagi kan kamu mandi."


"Mas rasa gerah, Sayang. Nggak apa-apalah, mandi double hari ini."


"Kerajinan kamu mandinya, Mas."


Mas Wahyu terkekeh. "Sebenarnya rencananya mandi setelah ibadah berdua, tapi ini masih terlaku terang untuk itu. Jadi, mas redam aja dengan air dingin."


"Astaga, Mas. Meski siang, jika kamu mau dan aku memang sedang tidak sibuk atau sakit, maka aku siap melayani kamu, Mas,"ucapku pelan karena malu.


Iya, bagaimanpun aku menolak, mas Wahyu adalah suamiku. Dan sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri untuk melayani kebutuhan suamiku termasuk bi0log1snya.


"Udah nggak apa-apa. Nanti malam kita lanjut, mas tahu kamu pasti capek banget, Sayang."


Aku tersenyum, bahagianya aku menemukan suami sebaik mas Wahyu.


"Ini bajunya, Mas."


"Makasih, Sayang,"ucap mas Wahyu, "Kamu duduk dulu, mas mau nunjukin sesuatu sama kamu."


Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku dudul disofa dekat tempat suami tadi.


"Kamu siap?"tanya mas Wahyu.


"Emang kita mau ngapain, Mas?"


"Coba kamu pilih, mana yang kamu suka."


Mas Wahyu mengulurkan hpnya, dan aku menerimanya.


"Apa yang harus aku pilih, Mas?"


"Lihat aja, Sayang. Itu rumah yang dijual, kamu pilih deh, setelah itu kita lihat langsing bangunannya."

__ADS_1


Aku tidak lagi merespon perkataan suamiku, aku fokus menscroll galeri hpnya yang menampilkan gambar rumah yang modelnya sangat modern.


__ADS_2