
Beberapa hari berlalu, hari minggu tiba, hari yang dinantikan orang-orang yang sibuk bekerja.
"Bu? Kita keluar yuk? Kita cari bunga buat Ibu,"ujar Nabila pada ibunya yang sedang berjemur diteras depan.
"Iya, Boleh. Berangkat jam berapa?"
"Setelah Ibu selesai berj3mur kita langsung siap-siap."
30 menit berlalu, kini ibu Roa tengaj bersiap di dalam kamarnya. Sedangkan Nabila bermain dengan anaknya seraya menunggu ibunya selesai.
"Mbak? Ini paketnya udah datang,"ujar Kaisar mendorong 2 kotak yang besar.
Nabila menoleh, "Itu paket apa, Sar?"
"Ini man3kin, Mbak. Kaisar pesan 4, satu kotak ini isinya dua,"jawab Kaisar bersandar pada kotak.
"Kenapa nggak minta tolong sama yang ngantar untuk dibawa langsung ke dalam?"
"Yang ngantar perempuan, Mbak. Nggak tega aku minta tolong sama dia."
"Oo yaudah, kamu bawa satu-satu ke kamar, Isar. Jangan sekaligus seperti itu."
"Iya, Mbak. Ini juga mau dibawa satu persatu, Mbak."
"Nak, ayo kita berangkat,"ujar ibu Ros saat keluar dari kamarnya, "Itu apa, Kaisar?"tanyanya saat melihat pada kotak yang menjadi tempat bersandar anak bujangnya
"Ini man3kin, Bu. Buat dipakein saat baju jadi,"sahut Kaisar.
"Ooh,"ucap ibu Ros.
"Ayo, Bu. T4ksinya sudah ada di depan,"ajak Nabila.
"Kaisar? Kamu jaga rumah, jangan kemana-mana. Ibu sama Mbak mu berangkat dulu,"pinta ibu Ros.
"Raksa diajak?"
"Iya,"jawab Nabila.
Setelah mengucapkan salam, Nabila, ibu Ros dan Raksa naik ke t4ksi yang sudah menunggu mereka di dpepan rumah. Mereka menuju toko bunga terdekat.
Kini mereka sudah berada di toko bunga. Ibu Ros sangat antusias memilih bunga yang diinginkannya.
"Nak? Ibu boleh ambil beberapa macam bunga?"tanya ibu Ros pelan.
Nabila tersenyum, "Ambil aja yang Ibu mau."
Ibu Ros sumringah mendengar jawaban dari anaknya, "Mas? Saya mau bunga merah dan putih,"ujarnya pada penjaga toko, lalu kembali melihat-lihat bunga yang sekiranya menarik perhatiannya.
"Bunga anggrek ungunya juga, sri rejeki dan bunga krisan nya, Mas,"ujar ibu Ros seraya menunjuk bunga yang dimaksud.
"Itu aja, Bu? Nggak mau ambil yang lain lagi?" tanya Nabila memastikan.
"Nggak, Nak. Ini aja udah cukup. Nanti kalau ada rejeki lagi, baru ibu minta diajak kesini lagi,"sahut ibu Ros terkekeh.
"Yaudah, Bu." Nabila menoleh pada penjaga toko, "Mas tolong dikemas bunganya, ya?"
"Baik, Bu. Akan kami kemas, silahkan lakukan pembayaran di kasir,"ucap penjaga toko.
__ADS_1
"Iya, Mas. Saya ke kasir sekarang,"sahut Nabila, lalu menggandeng tangan Raksa menuju kasir.
"Silahkan ditulis alamatnya, Bu. Kami akan mengirim bunganya,"ucap bagian kasir.
Nabila menuliskan alamat rumahnya. Setelah itu mereka keluar toko dan berjalan menuju toko pot bunga yang tidak jauh dari tempat sebelumnya.
"Kita jalan kesana nggak apa-apa, Bu?"
"Nggak, Nak. Ini dekat loh,"sahut ibu Ros.
"Yaudah, ayo kita jalan,"ajak Nabila.
Tidak lama mereka berada dalam toko pot. Ibu Ros memilih pot berukuran sedang, berwarna putih.
"Sebelum pulang, kita makan dulu, Bu,"ujar Nabila.
"Iya, Nak. Ibu ikut apa kata kamu aja. Tapi kita makan di warung aja ya, Nak? Lebih murah,"sahut ibu Ros.
"Iya, Bu. Kita makan direstoran juga nggak apa-apa, Bu." Nabila mengikuti mau ibunya untuk makan diwarung pinggir jalan. Nabila memilih warung ayam bakar.
"Makanan disini enak-enak, Nak. Meskipun warung tapi tempatnya bersih,"ujar ibu Ros tersenyum.
"Iya, Bu. Sepertinya ini akan jadi tempat langganan kita,"sahut Nabila terkekeh, "Raksa, makan yang banyak sayang,"ujar Nabila pada anaknya.
"Kamu makan aja, Nak. Biar ibu yang suapin Raksa,"ujar ibu Ros.
"Iya, Bu." Nabila memanggil pelayan, "Mbak, saya pesan 1 porsi lagi, tapi di bungkus ya, Mbak!"
"Baik, ayam bakar lalapan 2 porsi dibungkus, akan segera disiapkan,"sahut pelayan itu dengan ceria.
"Kenapa pesan 2 porsi, Nak?"
"Untuk Clara juga, Bu."
Ibu Ros mrngangguk.
***
"Assalamualaikum,"salam Nabila memasuki rumah, disusul ibu Ros dibelakangnya.
"Waalaikumssalam,"jawab Kaisar dan Clara.
"Clara udah lama?"tanya Nabila saat melihat Clara duduk di sofa rumahnya.
"Baru aja, Mbak. Ini aku penasaran sama pesanan yang kemarin, ternyata hasilnya bagus banget,"ucap Clara membuka kotak.
"Sini, Mbak liat. Kalian makan dulu, mbak bawain makanan,"sahut Nabila meraih kotak yang dipegang Clara.
Sebelum makan, Kaisar dan Clara lebih dulu salim pada ibu Ros yang duduk di sofa single.
"Kalian makan lah, ini sudah hampir lewat jam makan siang,"pinta ibu Ros.
"Iya, Bu. Ibu juga sebaiknya istirahat di kamar,"sahut Kaisar.
"Iya, Nak. Sebentar lagi ibu ke kamar,"jawab ibu Ros.
Nabila begitu antusias membuka setiap paket yang ada di ata karpet. Begitu banyak paket yang datang hari itu. Dari mulai yang dipesan Kaisar sampai pesanan Clara.
__ADS_1
"Kamu beli mesin printer resi, Sar?"
"Iya, Mbak. Itu biar lebih memudahkan aja,"sahut Kaisar.
"Untung kamu beli ini, Sar. Mbak nggak kepikiran ini loh,"ucap Nabila.
"Itu juga ide dari Clara, Mbak,"sahut Kaisar.
Nabila mengangguk, "Kamu sampai pesan bubble wrap roll?"tanyanya.
"Iya, Mbak. Meskipun belum tau bagaimana kedepannya, tapi sebelum memulai, kita harus lengkapi dulu."jawab Kaisar.
"Rak untuk menyimpanan juga, Mbak,"tambah Clara.
"Iya, Kita belum beli raknya," sahut Nabila.
"Nanti aja itu, Mbak. Nunggu selesai urusan rumahnya, sekalian di isi buat ruang bermain anak,"sahut Kaisar.
"Kamu atur aja, Sar. Kalau butuh uang, bilang sama mbak,"ucap Nabila.
"Oke, Mbak. Sore ini pak Herman ngajak ketemu, Mbak. Katanya semua surat-suratnya sudah selesai, Mbak ada waktu?"
"Oke, Sore ini kita temui pak Herman,"jawab Nabila.
"Saya boleh ikut, nggak?"tanya Clara yang tidak mau ketinggalan.
"Boleh, Ra. Lagian dekat sini kok, kita sekalian jalan-jalan sore,"jawab Kaisar terkekeh.
***
Sore hari, sesuai kesepakatan sebelumnya. Nabila dan yang lainnya berjalan menuju rumah yang akan dibeli, kecuali ibu Ros yang memilih merawat bunganya yang baru tiba.
"Raksa? Sini, biar onty yang pegang tangannya,"ucap Clara pada Raksa.
Raksa sedikit berlari menyusul Clara yang berada di depan.
"Jangan lari, Nak,"tegur Nabila.
Clara merentang tangannya dan meraih tangan Raksa. "Wow, Raksa larinya hebat,"puji Clara.
"Yang mana rumahnya, Sar?"
"Di komplek itu, Mbak!" tunjuk Kaisar pada lorong tepat berhadapan dengan lorong perumahan mereka.
"Ini sama rumah kiya yang sekarang cuma beda blok?"tanya Nabila.
"Yang ini versi menengah kebawa, Mbak,"jawab Kaisar.
"Tapi nama perumahannya sama?"
"Beda juga, Mbak. Hehehe,"sahut Kaisar terkikik.
"Kamu ini ada-ada aja, Sar,"ujar Clara, "Tapi kompleknya aman kan? Ada satpamnya kan?"
"Ada, Mbak. Tenang aja, Kaisar udah pastiin semuanya aman,"jawab Nabila.
"Baguslah."
__ADS_1