
"Apa yang Pak Wahyu rencanakan?"tanya Nabila penuh selidik.
Nabila makin curiga ketika mulai menyadari keadaan restoran sangat sepi, tidak ada pengunjung satu pun selain mereka berdua.
"Tidak ada, Nabila. Saya hanya ingin makan malam berdua dengan kamu,"jawab Wahyu.
"Baiklah, saya akan berusaha untuk percaya."
Pelayan datang menyajikan makanan dan menatanya di atas meja.
"Silahkan, Pak, Bu."
"Iya terima kasih,"balas Nabila, sedangkan Wahyu hanya menganggukkan kepalanya.
"Selamat makan, Nabila,"ucap Wahyu tersenyum.
Nabila mencoba menghilangkan kecurigaan yang bersarang dikepalanya, "Iya selamat makan juga, Pak."
"Sebenarnya saya sudah sangat nyaman berada didekat pak Wahyu, tapi saya tidak boleh berharap lebih dan saya juga takut akan terjadi masalah dikemudian hari,"monolog batin Nabila sambil sesekali melirik kearah Wahyu.
Suasana menjadi sedikit canggung saat mereka sudah menyelesaikan makan malam. Wahyu mulai gelisah ditempat duduknya yang berhadapan dengan Nabila.
Tiba-tiba lampu terang berubah menjadi temarang, dan ada alunan musik romantis yang dimainkan.
"Ada apa ini, Pak?"tanya Nabila cepat.
"Kenapa saya jadi gugup seperti ini? Padahal ini bukan pertama kalinya saya ingin meminang seorang wanita,"monolog Wahyu dalam hatinya.
"Pak Wahyu kenapa?"tanya Nabila heran melihat tingkah Wahyu yang gelisah.
"Akh... Anu, Nabila... Itu..."
"Anu apa, Pak?"
"Bismillah, kamu pasti bisa Wahyu. Kamu mengantongi banyak restu dari dua keluarga,"monolog batin Wahyu menyemangati dirinya.
Wahyu berdiri dari duduknya, kemudian menurunkan badannya tepat depan Nabila dan mengeluarkan kotak cincin dari saku jasnya.
"Bismillah, Nabila Maharani... Malam ini saya ingin mengatakan keseriusan saya untuk meminang mu menjadi pendamping hidup saya, apa kamu bersedia menjadi istri saya?"ucap Wahyu tegas.
Nabila terkejut luar biasa, ia menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya. Ia sungguh tidak percaya dengan yang baru saja terjadi.
"A-apa maksud, Pak Wahyu?"tanya Nabila gugup.
"Saya mau kamu jadi istri saya, Nabila,"jawab Wahyu tanpa ragu.
"Ta-tapi, ke-kenapa harus sa-saya, Pak?"tanya Nabila gugup.
"Karna hati saya menginginkan kamu, Nabila. Saya juga sudah meminta petunjuk sama Allah dan saya menemukan jawabannya."
__ADS_1
"Sa-saya tidak pa-pantas untuk, Pak Wahyu."
"Pantas tidaknya seseorang untuk saya, biar saya sendiri yang menilainya, Nabila. Apa kamu keberatan karna perbedaan umur kita yang jauh?"
Nabila menggeleng kuat, "Bukan, Pak. Saya tidak pernah mempermasalahkan umur pasangan saya. Tapi, saya merasa tidak pantas karna saya janda cerai hidup dengan mantan suami saya."
"Hey... Apa kamu lupa kalau saya juga duda? Status kita sama, lalu apanya yang tidak pantas?"
"Saya berasal dari keluarga sederhana, Pak. Sedangkan Pak Wahyu berasal dari keluarga berada,"ucap Nabila lirih.
Berbagai alasan yang diberikan Nabila, karna ia merasa tidak pantas bersanding dengan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Saya tidak pernah mempermasalahkan yang seperti itu, Nabila. Yang penting saya merasa dengan kamu, saya juga sayang sama Raksa."
"Tetap aja beda, Pak."
"Kamu jangan khawatir, saya tidak akan memaksa kamu untuk menjawabnya sekarang."
"Saya tidak bisa, Pak. Saya mau fokus mengurus Raksa,"ucap Nabila lirih.
"Hey... Ketika kita menikah nanti, Raksa akan menjadi tanggung jawabku, aku akan menyayangi Raksa seperti anak aku sendiri,"ucap Wahyu lembut.
Air mata Nabila jatuh, ia belum pernah mendengar Samudra menyayangi Raksa anaknya sendiri, sedangkan orang baru sudah bisa berkata seperti itu. Bahkan, Wahyu sudah membuktikannya selama ini, Raksa begitu lengk3t dengannya.
"Beri saya waktu untuk berfikir, Pak,"ucap Nabila lirih.
"Tentu! Saya tidak akan memaksa kamu, Nabila. Saya ingin kamu menerima saya dengan tulus dan ikhlas."
"Hapus air mata kamu, saya tidak tahan melihatnya jatuh dipipi kamu,"ucap Wahyu menatap dalam mata Nabila.
"Saya mohon, Pak Wahyu jangan seperti ini. Tolong berdiri sekarang juga, Pak."
"Saya tidak akan berdiri sebelum kamu menerima kotak cincin beserta isinya ini. Saya mau ketika kamu memang sudah siap menjawab dan menerima pinangan saya, saya mau melihat cincin ini melingkar dijari manis kamu."
Nabila jadi tersipu memdengar perkataan Wahyu. Ia menjadi salah tingkah, kemudian ia meraih bendak kecil yang ada ditangan Wahyu dan memegangnya.
"Saya akan menyimpannya sampai waktunya tiba nanti"ucap Nabila.
"Saya akan selalu menanti waktu itu tiba, Nabila."
"Sebaiknya kita pulang sekarang, Pak. Ini sudah jam 9 malam,"ucap Nabila mengalihkan perhatian Wahyu.
"Baiklah. Tapi saya harus memastikan dulu, kapan kamu akan memberikan jawaban?"
"Beri saya waktu satu minggu, Pak."
"Baiklah. Minggu depan, dihari yang sama saya akan menagih jawaban kamu."
"Iya, Pak."
__ADS_1
"Mari, kita pulang sekarang. Raksa juga pasti sudah mencari kamu."
Nabila mengangguk seraya bangkit dari duduknya yang saling berhadapan dengan Wahyu. Meskipun lamarannya belum mendapat jawaban yang pasti, namun hal itu tidak membuat Wahyu pat4h semangat.
Wahyu memberi isyarat pada pelayan restoran, setelah itu ia mengajak Nabila untuk pulang.
"Apa kamu mau mampir ke suatu tempat dulu?"
"Tidak, Pak. Langsung pulang aja."
"Kita mampir di swalayan dulu, saya mau beli sesuatu buat Raksa."
"Tidak perlu repot-repot, Pak,"tolak Nabila.
"Tidak repot. Saya sudah janji tadi mau membawakannya coklat."
Nabila menghembuskan nafas pasrah, "terserah Pak Wahyu saja."
Wahyu terkekeh, "Maaf ya, tapi ini permintaan anak saya."
"Raksa anak saya, Pak."
"Tapi sebentar lagi juga akan resmi jadi anak saya, Nabila,"balas Wahyu.
"Kenapa sekarang Pak Wahyu jadi ngeselin begini sih?"tanya Nabila mendelik.
Wahyu terbahak-bahak mendapat pertanyaan dari Nabila, "Itu menurut kamu aja, Nabila. Saya memang seperti ini."
Nabila memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela mobil.
"Jangan ngambek dong,"bujuk Wahyu, namun tak ada sahutan dari Nabila.
"Ingat umur, Pak. Pak Wahyu ini sudah tidak muda lagi,"sahut Nabila ketus setelah diam beberapa saat.
"Bersama kamu, aku jadi merasa jauh lebih muda lagi, Nabila,"jawab Wahyu menggoda.
"Tidak menyangka Pak Wahyu yang selama ini dingin dan cuek sekarang malah jadi penggoda ulung,"celetuk Nabila.
"Saya juga tidak menyangka jika Nabila yang saya lihat selamat ini yang suka diam ternyata cerewet juga,"balas Wahyu.
"Sudah, diam. Sana ke dalam, katanya mau beli coklat buat Raksa."
Wahyu tidak berhenti tertawa melihat ekpresi Nabila yang menurutnya begitu menggemaskan. Memang benar kata orang, mau setua apapun orang jika menemukan pasangan yang muda, jiwanya akan ikut muda seperti dengan pasangannya.
"Iyaiya, aku ke dalam sekarang,"ucap Wahyu terkikik geli seraya keluar dari mobilnya.
"Dasar tua-tua keladi,"gumam Nabila tapi masih bisa didengar oleh Wahyu.
"Ahahaha... Lucu sekali ekpresinya,"ucap Wahyu disela tawanya.
__ADS_1
Karna takut dikatakan orang g1la oleh orang saat masuk ke dalam swalayan seraya tertawa, Wahyu mengontrol dirinya di samping mobilnya sebelum melangkahkan kakinya.
"Kenapa dia malah diam disitu?"gumam Nabila heran melihat Wahyu.