Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Mencari ART


__ADS_3

"Ayo kita susul ibu, Sar. Kita makan malam di rumah Clara,"ajak Nabila.


"Iya, Mbak."


Kaisar keluar lebih dulu dengan menggendong Raksa, "Jangan lupa kunci pintunya, Mbak!"ujarnya mengingatkan.


"Iya. Ini juga mbak mau kunci pintunya,"jawab Nabila.


Berjalan melewati pagar pembatas antar rumah Nabila dan rumah Clara. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka tiba di rumah Clara.


"Assalamualaikum,"salam Nabila dan Kaisar lalu meneruskan langkah kaki ke arah ruang tv.


"Waalaikumssalam, kalian sudah datang?"balas ibu Ros.


"Iya, Bu. Ini Nabila bawa makanan, gimana keadaan Clara?"


"Clara demam, Nak. Sini ibu bawa ke dapur mau masakin bubur juga buat Clara,"ujar ibu Ros.


"Nabila mau ke kamar Clara dulu ya, Bu?"


"Iya, Nak. Kalian ke kamar aja temani Clara."


Anak-anak ibu Ros mengangguk tanda setuju dengan yang dipinta ibunya.


"Kamarnya dimana, Mbak?"tanya Kaisar celingukan.


"Ada di lantai 2, Sar. Posisinya sama persis dengan kamar mbak."


"Oo gitu... Yaudah, ayo kita ke kamarnya. Kasian orang sakit nggak boleh lama-lama sendiri takut ket3mp3lan penunggu kamar,"ujar Kasiar bercanda.


"Hussh... Jangan bicara sembarang, Sar. Semua yang terjadi itu tergantung dari pikiran seseorang, jika kita terus berfikir positif InsyaAllah yang akan terjadi juga hal yang positif,"tegur Nabila memberikan sedikit nasihat untuk adiknya.


"Iya siap, Mbak. Mulai sekarang Kaisar akan berusaha selalu berfikiran positif."


"Bagus! Raksa, ayo Nak kita ketemu unty Clara di kamarnya,"ajak Nabila pada anaknya seraya menggenggam tangannya.


Raksa melompat-lompat pelan menaiki anak tangga dan menghitung setiap anak tangga yang dilewati.


"Kamal unty mana, Bu?"tanya Raksa celingukan ketika sudah berada di lantai atas.


"Kanar unty ada di depan kita, Nak. Kita ketuk pintu kamarnya, ayo..."


Tok tok tok


Raksa mengetuk dengan pelan pintu kamar.


"Ra, kamu tidur?"tanya Nabila.


"Masuk aja, mbak. Pintunya nggak dikunci,"sahut Clara pelan.


Cklek


"Unty... Aksa datang,"pekik Raksa berlari ke arah ranjang Clara.


"Hi sayangnya unty,"balas Clara tersenyum samar, "Kamu ikut, Sar?"tanyanya saat melihat Kaisar muncul dibelakang Nabila.


"Iya, Ra. Saya mau jenguk kamu,"jawab Kaisar.

__ADS_1


"Pake dijenguk segala, saya cuma demam bukan sakit parah,"sahut Clara terkekeh.


"Nggak apa-apalah, lagian rumah kita dekat ini,"balas Kaisar.


"Gimana keadaanmu, Ra?"tanya Nabila.


"Kepala rasanya berat banget, Mbak,"jawab Clara lemah.


"Kamu sudah minum obat?"


"Sudah tadi, Mbak. Tapi nggak ada perubahan."


"Dibawa tidur aja dulu, Ra. Mungkin setelah tidur sakitnya berkurang."


"Iya, Mbak. Maaf ya, aku tinggal tidur dulu."


"Iya nggak apa-apa, kamu tidur aja. Kita nggak akan ganggu,"sahut Nabila.


"Mbak, aku mau ke dapur dulu. Mau bantu ibu nyiapin makan."


"Iya, Sar. Seharunya mbak yang bantu ibu, tapi nggak mungkin kamu yang jaga Clara."


"Santai, Mbak. Soal membantu ibu sudah biasa Kaisar lakukan,"jawab Kaisar santai.


"Yaudah, sana cepetan bantu ibu!"


Keluarga Nabila berkumpul di kamar Clara. Ibu Ros mengaji di dekat Clara yang sedang terlelap setelah makan dan minum obat. Kaisar menemani Keponakannya menonton film kartun favoritnya lewat layar monitor lcd yang disambung ke laptop.


"Gambalnya besal uncle, Aksa suka. Kita beli begini juga ya?"


"Ciap, Uncle."


Sedangkan Nabila, membuka tab yang sengaja dibawanya dari rumah. Melanjutkan memeriksa em4il yang dikirim oleh Ikhsan.


"Mbak?"


"Iya kenapa, Sar?"


"Raksa udah tidur, aku pulang ajak Raksa. Mbak sama ibu kalau menginap disini, nginap aja."


"Yaudah, kamu pulang aja."


"Oke, Mbak. Aku pulang dulu ya? Ibu udah tidur tuh, Mbak juga jangan begadang."


"Iyaiya... Sana kamu pulang, jangn khawatirin mbak."


***


Pagi menyapa ibu Ros sibuk di dapur Clara untuk menyiapkan sarapan dan bubur untuk Clara.


Ibu Ros menikah di umur 25 tahun, memiliki anak di usianya yang sudah memasuki usia 35 tahun. 2 tahun usia Nabila, lahirlah Kaisar sebagai anak bungsu dari ibu Ros. Sekarang umur ibu Ros jalan 60 tahu. Di umurnya yang sudah cukup tua masih sehat bergerak. Sedangkan Wahyu umur jalan 40 tahun, beda 15 tahun dengan Nabila.


Nabila memperhatikan ibunya yang masih sehat beraktifitas di dapur, ia merasa kasihan melihat ibunya diusianya yang sudah cukup tua masih sibuk mengurus anak-anaknya.


"Apa sebaiknya aku cari Asisten rumah tangga aja ya? Ibu sudah waktunya istirahat,"gumam Nabila.


"Kenapa, Mbak?"tanya Kaisar mengangetkan kakaknya.

__ADS_1


"Astagfirullah, Kaisar? Kamu ngangetin aja,"sahut Nabila kesal.


"Hehehe... Maaf, Mbak,"ujar Kaisar terkekeh.


"Ada apa?"


"Mbak kenapa melamun?"


"Ooh itu... Mbak berfikir mau cari yang bisa bantu-bantu membersihkan dan masak di rumah kita, Sar."


"Kenapa Mbak bisa kepikiran untuk cari pembantu?"


"Mbak kasihan sama ibu, Sar. Seharusnya diusianya yang sekarang ibu hanya duduk santai."


"Kalau gitu biar Isar yang cari orangnya, gaji bulanannya juga biar Isar yang urus. Kita bagi-bagi urusan keuangan di rumah."


"Tapi kamu mau gaji pake apa, Sar? Kamu kan belum kerja."


"Mbak tenang aja, setelah semua urusan toko Mbak selesai, Kaisar langsung cari kerja. Untuk gaji dibulan pertama yang kerja di rumah Isar masih ada tabungan,"sahut Kaisar tegas.


"Baiklah, mbak setuju. Tapi hanya gaji art saja, urusan dapur dan lain-lainnya, mbak yang tanggung."


"Oke deal ya, Mbak."


"Oke! Raksa mana?"


"Lagi main sama mas Wahyu, Mbak."


Nabila terkejut, "Pak Wahyu datang?"


"Iya, Mbak. Katanya mau main sama Raksa."


"Kan kemarin sudah. Apa belum cukup?"


"Nggak tahu, Mbak. Mungkin mas Wahyu kesepian di rumahnya, makanya lebih suka kesini ngajak main Raksa."


Nabila menganggukkan kepalanya, "Kamu temani pak Wahyu aja, mbak mau bantu ibu siapin sarapan. Nanti ajak pak Wahyu sarapam disini."


"Iya, Mbak."


Di dapur Nabila membantu ibunya menyiapkan sarapan, "Ibu, Nabila dan Kaisar rencana mau jadi orang buat bantu-bantu bersihkan rumah dan memasak."


"Loh? Kenapa, Nak? Ibu masih sanggup melakukan itu semua."


"Aku tahu, Bu. Tapi aku dan Kaisar sepakat mencari art, dan Ibu hanya perlu duduk mengawasi Raksa yang bermain, jadi Ibu tidak terlalu capek!"sahut Nabila tegas.


"Baiklah, Nak. Ibu ikut keputusan kalian, anak-anak ibu sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan yang tidak."


"Makasih ya, Bu." Nabila merangkul ibunya dari samping, "Nabila akan melakukan apapun agar Ibu nyaman dan bahagia tinggal bersama Nabila."


"Tanpa kamu berbuat sesuatu, ibu sudah bahagia dan nyaman, Nak."


"Doakan Nabila dan Kaisar agar rejeki kami lancar dan bisa memberangkatkan Ibu haji tahun depan."


"MasyaAllah... Makasih ya, Nak. Ibu bersyukur punya anak-anak seperti kalian,"ujar ibu Ros terharu dengan niat baik anak-anaknya.


"Ini berkat doa dan kesabaran Ibu selama ini untuk kami." Nabila tersenyum melihat ibunya yang menatap dirinya dengan pandangan berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2