
"Siapa Anda? Saya tidak ada urusan dengan pekerja rendahan seperti Anda,"ucap wanita setengah baya pada Nabila dengan angkuhnya
"Siapa yang Anda maksud pegawai rendahan?"tanya Wahyu tegas yang berjalan dari arah luar.
"Pak Wahyu? Ja-jadi ini tempat produksi punya Bapak?"
"Ternyata Anda Ibu Kusi,"sahut Wahyu santai.
Wanita yang bernama ibu Kusi itu tersipu dan merasa geer. "Ternyata Pak Wahyu masih mengenali saya. Iya ini saya Kusi, Pak."
"Apa maksud Anda mengatakan barang dari Nabila's Collection meniru brand Anda?"tanya Wahyu tegas.
"A-anu, Pak. Jika ini memang punya Pak Wahyu saya tidak akan mempermasalahkannya. Tapii jika bukan, maka saya akan memperkarakan kasus i ke jakur hukum."
"Silahkan Ibu Kusi yang terhormat. Saya mau lihat sampai sejauh mana Anda bisa membawa kasus ini ke jalur hukum,"sahut Nabila yang duduk di dekat Wahyu.
Kusi menatap sin1s ke arah Nabila. "Cih! Tidak tahu malu, duduk disamping bosnya,"cibir Kusi.
"Bu? Raksa mana?"tanya Galaksi yang baru menyusul ke dalam.
"Ada di ruang bermain, kamu kesana aja, pantau anak-anak,"jawab Nabila.
"Cih! Sok jadi bos disini." Lagi dan lagi Kusi mencibir Nabila.
Nabila mengabaikan segala cibiran yang dilontarkan oleh Kusi. "Kalian kembali bekerja, ini sudah menjadi urusan saya,"titah Nabila pada karyawannya.
Tanpa membantah semua karyawan Nabila kembali bekerja seperti biasanya di dalam ruangan.
"Jadi, katakan apa tujuan Anda datang kemari menbuat kerusuhan dengan membawa toko yang menyuplai barang dari tempat kami?"
"Saya tidak akan mengatakan tujuan saya pada pegawai rendahan seperti Anda ini. Saya hanya akan mengatakannya pada pemiliknya, bagaimana Pak Wahyu?"
"Saya tidak ada urusan dengan itu semua,"jawab Wahyu santai, lalu merangkul pundak Nabila.
Semua orang terbelalak matanya melihat apa yang dilakukan Wahyu.
"Jadi karna wanita mur4h4n ini Pak Wahyu menolak saya yang wanita terhormat ini?"tanya Kusi geram.
"Jaga ucapan Anda Ibu Kusi!"tegur Wahyu.
Kusi menatap taj4m pada Nabila. "Lalu saya harus mengatakan pada siapa masalah ini jika bukan pada Pak Wahyu yang sebagai pemilik tempat dan produk ini?"
"Tanya pada pemiliknya, yang jelas bukan saya pemiliknya."
Mereka saling memandang, sedangkan pemilik beberapa toko yang mengambil barang di tempat Nabila mulai merasa panik. Mereka tahu siapa pemilik sebenarnya dari tempat dan produk yang akan mereka tuntut.
"Perkenalkan nama saya NABILA MAHARANI, pemilik sah tempat dan produk yang akan Anda tuntut. Nama saya sesuai kan dengan nama brand ini?"ucap Nabila santai memperkenalkan dirinya.
"Tidak mungkin, saya yakin kamu tidak akan mampu membuat ini semua,"elak Kusi.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Saya punya uang dari hasil kerja saya dan dari warisan bapak saya? Lalu apanya yang tidak mungkin?"
"Saya sangat yakin kalau ini pasti milik Pak Wahyu yang hanya dititipkan pada wanita mur4h4n seperti kamu ini,"cibir Kusi.
"Tanyakan pada mereka pemilik toko yang mengambil barang dari sini. Saya yang membangun semuanya dari nol. Tapi tidak masalah, kita ketemu dipengadilan. Anda sudah berani mengusik bisnis saya."
"Seharusnya saya yang menuntut kamu br3ngs*k,"ucap Kusi geram.
"Pelankan suara Anda, ini tempat saya. Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar, kumpulkan semua bukti yang Anda punya. Secepatnya kita ketemu di pengadilan,"ucap Nabila tegas.
"Oke! Kita lihat siapa yang akan memenanfkan kasus ini. Dan tolong jauhi calon suami saya, karna sebentar lagi kami akan menikah."
Nabila menatap pada suaminya, lalu terkekeh. "Lucu sekali Anda ini, saya tunggu surat undangan jika kalian akan melangsungkan pernikahan,"ejek Nabila.
"Baiklah, kamu tunggu saja undangan dari saya dan Pak Wahyu sebagai calon suami saya,"sahut Kusi percaya diri.
"Kamu dengar, Mas? Kalian akan menikah? Jangan lupa undangannya ya?"canda Nabila pada suaminya.
"Tentu, sebentar lagi undangan akan disebar. Kamu tenang aja,"sahut Wahyu penuh arti.
Mendengar perkataan Wahyu, Kusi menjadi merasa di atas angin. Ia mengira undangan yang di maksud Wahyu terukir namanya dan Wahyu sebagai calon mempelai.
"Kamu dengar sendiri dari calon suami saya kan? Jadi sekarang, kamu pindah dari samping calon suami saya."
"Kalau saya tidak mau, Anda mau apa?"ledek Nabila membuat Kusi geram.
"Rasakan ini,"ucap Kusi spontan mengangkat vas dan melemp4rkan ke arah Nabila. Namun, vas tersebut jatuh ke lantai karna ditangkis oleh tangan Wahyu.
Semua orang terkejut mendengar dan melihat kekacauan yang dibuat oleh Kusi. Galaksi yang panik berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi?"tanya Galaksi panik melihat pec4han vas bunga dilantai.
"I-Ibu Kusi... Melempar vas bunga ke arah Ibu Nabila,"jawab salah satu dari mereka dengan gugup.
"Astagfirullah, Mas... Tangan kamu berd4r4h,"ucap Nabila panik melihat tangan suaminya meng3luarkan d4r4h.
"Berani sekali Anda ingin meluk4i Ibu saya,"ucap Galaksi g3ram, ia maju dan menc3kik leher Kusi.
Semua orang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Galaksi. Nabila berlari memeluk anaknya.
"Nak, jangan lakukan itu. Lepaskan dia, jangan sampai kamu berakhir di p3nj4ra,"ucap Nabila.
Wajah Galaksi memerah menahan amarahnya. Ia tidak terima ada yang mencoba meluk4i ibunya yang selama ini dinantikan kehadirannya.
Para wanita berteriak histeris melihat respon Galaksi, mereka tidak menyangka kedatangan mereka akan terjadi masalah besar.
"Nak, lepaskan dia ya? Dengarkan ibu,"bisik Nabila.
Sementara itu, Kusi mulai keh4bisan nafas karna c3kik4n tangan Galaksi.
__ADS_1
Wahyu hanya menatap anaknya yang sedang emosi, sesekali ia menatap ke arah pintu ruang bermain anak bungsunya.
"Ayo lepaskan, Nak. Nanti adikmu lihat, dia akan ketakutan,"bisik Nabila menenangkan Galaksi.
Galaksi mulai melunak mendengar bujukan ibunya. Ia melepas c3ngkr4man tangan dari leher Kusi.
Kusi terbatuk-batuk dan menghirup udara dengan r4kus sambil duduk di sofa.
"Saya akan me-laporkan kalian atas kasus penganiay44n,"4ncam Kusi.
"Laporkan, karna saya juga akan melaporkan Anda dengan banyak tuduhan. Dari tindakan Anda yang mengusik ketenangan bisnis saya sampai kasus peny3rang4n yang Anda lakukan terhadap saya,"tantang Nabila.
Kusi tersenyum sinis. "Saya akan melakukan visum, dengan begitu saya punya bukti dan mereka akan menjadi saksi nanti,"ucap Kusi sambil menuju para pemilik tokok, "Sedangkan kalian tidak memilik bukti apa pun."
"Jangan terlalu percaya diri Anda. Saya punya bukti lebih dari cukup untuk melawan Anda. Lihatlah sekitar Anda. Tempat ini dipenuhi cctv,"jawab Nabila mencibir.
Spontan Kusi celingukan mencari cctv yang di maksud Nabila. Wajah berubah jadi pucat pasi ketika melihat banyaknya cctv yang terpasang.
"Pak Wahyu, kamu sebagai calon suami jangan diam aja dong. Lakukan sesuatu,"ucap Kusi manja pada Wahyu.
"Maaf, saya juga korban dari apa yang sudah Anda lakukan. Jadi kita akan bertemu dipengadilan,"sahut Wahyu cuek.
Badan Kusi gemetaran karna tidak mendapat pembelaan. Ia beranjak dari duduknya dan meraih tasnya yang ada di sofa.
"Saya akan menuntut kalian,"4ncam Kusi.
Melangkahkan kaki dengan cepat, Kusi meninggalkan rombongannya yang kelimpungan. Rombongan Kusi pergi tanpa pamit pada pemilik rumah.
"Nak, tolong ambilin kotak obat di dalam lemari itu,"ucap Nabila sambil menunjuk lemari disudut ruangan.
"Iya, Bu."
"Sakit nggak, Mas?"tanya Nabila ketika membersihkan d4r4h ditangan suaminya.
"Tidak, Sayang."
"Kamu punya hutang penjelasan tentang wanita itu, Mas,"ucap Nabila sambil mengobati luka suaminya.
"Tapi, saya tidak tahu tentang dia yang mau menuntut produk kamu, Sayang."
"Bukan masalah itu, Mas. Tapi, dia yang mengaku calon kamu."
Wahyu menarik nafas panjang dan membuangnya k4sar. "Nanti mas jelaskan jika sudah dirumah, Sayang."
Nabila mengangguk. "Aku tunggu, Mas."
"Ibu tidak apa-apa kan?"tanya Galaksi cemas.
"Tidak, Nak. Ibu tidak kena sedikitpun. Papa responnya begitu cepat, jadi Ibu tidak sampai kena,"jawab Nabila memberikan senyuman manisnya pada sang anak.
__ADS_1