
Nabila tiba di rumah bersamaan dengan Kaisar yang membonceng ibunya dan Raksa.
"Kaisar pakai sepeda siapa?"tanya Nabila pada dirinya.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumssalam, kamu udah pulang, Nak?"
"Iya, Bu. Baru aja Nabila sampai."
"Ibu..."pekik Raksa.
Nabila menyambut anaknya masuk ke dalam pelukannya, "Hy anak ibu... Darimana, Nak?"
"Aksa sama Nenek di ajak Uncle Car main ke lumah balu, Bu,"jawab Raksa.
Nabila menatap ibunya, "Emang iya, Bu?"
"Iya, Nak. Tadi Kaisar ngajak keliling komplek, jadi sekalian aja kita kesana."
"Mbak?"panggil Kaisar salim tangan kakaknya.
"Kamu beli sepeda listrik?"
"Iya, Mbak. Kasiar rasa sepeda lebih memudahkan kita untuk bisa lebih cepat sampai di komplek sebelah."
"Berapaan harganya, Sar?"
"Tidak sampai mengur4s isi tabungan Isar, Mbak. Cantiknya nggak sepedanya?"
"Iya cantik sih! Keren malah, sepeda udah perlu capak-capek ngayuh lagi."
"Kamu beli pake uang pribadi?"
"Kenapa kamu nggak bilang, Sar. Mbak bisa transferkan uang untuk beli sepeda itu."
"Nggak apa-apa. Uang bulanan dari Mbak nggak pernah Isar kurangin, ditambah dengan gaji Isar selama kerja masih ada. Jadi cukuplah buat beli sepeda ini,"ujar Kaisar berusaha meyakinkan kakaknya.
"Tidak! Seharusnya uang itu kamu simpan buat modal nikah. Berapa harga sepedanya, biar mbak ganti sekarang."
"Jangan, Mbak!"
"Mbak simpan aja uangnya. Anggap saya menabung si rekening Mbak, kalau saya yang pegang takut habis,"ucap Kaisar memberi alasan.
"Kamu serius, Sar?"tanya Nabila menatap serius adiknya.
Kasiar mengg4ruk tengkuknya yang tidak gat4l, "I-iya serius, Mbak."
Nabila menghela nafas panjang, "Oke. Mbak catat aja uang kamu yang mbak pegang,"sahut Nabila.
"Terserah, Mbak aja lah."
"Hentikan obrolan kalian. Sebaiknya kita masuk, ini sudah hampir magrib,"tegur ibu Ros.
"Hehehe... Maaf, Bu. Tadi Nabila sempat kaget liat sepeda Kaisar,"ujar Nabila cengengesan.
"Clara mana, Nabila?"
"Sudah masuk duluan ke rumahnya, Bu."
"Tumben langsung masuk ke rumahnya, biasanya juga disini dulu,"sahut Kaisar.
"Ciecie... Seharian nggak ketemu, ada yang kangen kayaknya, Bu,"goda Nabila.
Ibu Ros hanya tersenyum simpul menanggapi anak perempuannya itu.
"Iissh... Apa sih, Mbak. Nggak ada yang kangen, Isar cuma heran aja,"sahut Kaisar kesal.
__ADS_1
"Iyaiya deh, mbak percaya. Kantor hari ini sangat sibuk, Clara tadi dalam perjalanan pulang mengeluh sakit kepala."
"Clara sakit, Mbak?"tanya Kaisar mengkerutkan keningnya.
"Katanya cuma sakit kepala."
"Itu juga sakit, Mbak."
"Kamu udah tahu pake nanya lagi, ya mbak jawab aja lah seadanya,"jawab Nabila terkekeh.
"Ibu mau liat Clara dulu,"ucap ibu Ros seraya memutar badannya berjalan menunu rumah Clara.
"Ibu? Shalat dulu,"ujar Nabila.
"Ibu shalat di rumah Clara. Kalian pesan aja makanan, kalau ibu lama nggak pulang-pulang kalian susul ibu,"sahut ibu Ros menghentikan langkah kakinya.
"Susul ibu? Kayak ibu mau pergi jauh aja,"ujar Kaisar terkekeh.
"Husss... Jangan gitu, Sar. Dosa kamu,"ucap Nabila ikut terkekeh.
"Hahaha lagian ibu aneh-aneh aja."
"Udah, kita masuk aja. Nanti kita ikut ke rumah Clara sekalian bawa makan malam."
"Oke, Mbak."
"Kamu mandi ajak Raksa sekalian. Mbak mau berendam dulu,"pinta Nabila.
"Ayo, Raksa. Ibumu mau santai sejenak menikmati kesendiriannya dulu,"ucap Kaisar seraya membawa Raksa masuk ke dalam gendongannya.
"Iyalah, Sar. Masa harus pusing terus dengan urusan kerjaan, sesekali harus santai menikmati hidup."
"Iyaiya, Mbak ke kamar aja sekarang. Isar juga mau mandi."
"Jangan lama-lama mandiin Raksa, Sar,"pekik Nabila dianak tangga.
"Iya, Mbak,"balas Kasiar memekik.
Nabila sejenak memejamkan matanya, hampir saja dia tertidur tapi setelah mendengar suara adzan di mesjid membuat Nabila mengumpulkan kembali nyaw4nya.
"Astagfirullah... Kalau sudah begini nggak jadi berendam lagi deh,"gumam Nabila menghela nafas panjang.
Nabila melangkah menuruni anak tangga dengan pelan, dari atas tangga dia bisa melihat anaknya duduk di sofa bersama Kaisar.
"Hy anak ibu,"sapa Nabila memeluk anaknya dan menc1uminya, "Hmm... Wanginya anak ibu,"puji Nabila.
"Hehehe, badan Aksa geli, Bu,"sahut Raksa terkikik geli.
"Mbak jadi berendam?"tanya Kaisar menahan tawa.
Nabila mendelik, "Nggak jadi,"jawabnya kesal.
"Hehehe... Lagian Mbak sih nggak liat-liat waktu dulu,"sahut Kaisar terkekeh.
-Ting tong-
Suara bell rumah berbunyi mengalihkan perhatian mereka.
"Ada olang, Bu,"ujar Raksa menatap ibunya.
"Kamu liat ke depan, Sar!"pinta Nabila.
"Iya, tunggu bentar, Mbak."
Kaisar membuka pintu utama dan terlihat seorang pria tua dengan jaket g0food.
"Iya, Pak?"
__ADS_1
"Apa betul ini rumahnya ibu Nabila Maharani?"
"Iya betul, Pak."
"Ibu Nabila memesan makanan, Mas."
"Oh iya bentar, Pak. Saya panggilin mbak Nabila, silahkan masuk dan duduk, Pak."
"Makasih, Mas. Saya menunggu diteras saja."
"Kalau begitu Bapak silahkan duduk dulu."
Kurir g0food mengangguk dan duduk di kursi yang tersedia di teras depan. Kaisar kembali ke salam menyusul kakaknya.
"Mbak? Mbak pesan makanan?"
"Eh iya, Sar."
"Yaudah, Mbak ke depan deh. Orangnya menunggu di depan, Mbak."
Nabila mengangguk, "Iya, Habis ini kita langsung ke rumah Clara."
Tiba di depan, Nabila mematung ditengah pintu merasa iba melihat bapak-bapak yang sudah berumur masih mencari nafkah untu keluarganya di malam hari.
"Permisi, Pak... Maaf, Bapak menunggu lama,"ucap Nabila ramah.
"Nggak apa-apa, Bu. Ini pesanannya,"ujar kurir menyerahkan beberapa paperbag berisi makanan siap saji.
"Ini uangnya, Pak. Makasih ya." Nabila menyerahkan beberapa lembar uang merah dengan 5 angka nol dibelakang angka 1.
"Ini uangnya kebanyakan, Mbak,"ujar kurir seraya mengulurkan kembali uang lebihannya
Nabila tersenyum, "Tidak apa-apa, Pak. Itu rejeki untuk Bapak dan keluarga di rumah,"sahutnya.
Pak kurir gemetar melihat uang dipegangya, "Tapi ini terlalu banyak, Bu. Cukup selembar aja saya ambil pemberian, Ibu Nabila,"ujarnya terharu.
"Jangan, Pak. Itu semua untuk keluarga Bapak. Sekarang Bapak pulang istirahat, lanjutkan kerjanya besok, Pak."
Pak kurir menangis memeluk uang pemberian Nabila, "Terima kasih, Bu Nabila. Dengan uang ini saya bisa membelikan obat untuk istri saya,"ujarnya.
"Innalillah... Istri Bapak sakit apa?"
"Istri saya lump*h, Bu. Setiap hari ketergantungan obat,"jawab pak Kurir.
Nabila membuka kembali dompetnya dan mengeluarkan uang kes dari dalam dompet, "Ini saya ada rejeki lebih untuk istri Bapak membeli obat, uang yang tadi Bapak belikan untuk kebutuhan pokok lainnya,"ucapnya.
Pak kurir terkejut, "Tidak, Bu. Ini sudah sangat banyak dan cukup untuk saya dan keluarga. Saya bersyukur bisa bertemu orang sebaik Ibu Nabila,"tolaknya.
"Saya mohon diterima, Pak. Semoga ini bermanfaat untuk keluarga, Bapak." Nabila memaksa mennyerahkan uang ke tangan pak kurir.
Pak kurir bersujud syukur di depan Nabila yang membuatnya sedikit mundur. Kaisar datang dan berdiri dibelakang kakaknya dengan menggendong keponakannya.
"Kenapa, Mbak?"tanya Kaisar berbisik.
"Nggak apa-apa, Sar,"jawab Nabila pelan.
"Ya Allah, terima kasih atas rejeki yang telah engkau berikan kepada dan keluarga hari ini,"ujar pak kurir disujud syukurnya.
"Pak, ayo bangun. Jangan seperti ini, Sebaiknya Bapak pulang sekarang dan bagikan kabar bahagia dengan keluarga di rumah,"pinta Nabila memegang bahu pak kurir.
Pak kurir sesegukan, "Te-terima Ka-kasih, Bu Nabila. Semoga Ibu dan keluarga selalu diberikan rejeki yang berlimpah,"doa pak kurir.
"Aamiin... Terima kasih, Pak."
"Saya permisi, Bum saya mau segera pulang,"pamit pak kurir sumringah.
"Iya, Pak. Hati-hati!"
__ADS_1
"Assalamualaiku."
"Waalaikumssalam,"jawab Nabila dan Kaisar.