Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Punya bukti?


__ADS_3

"Siapa tamunya, Mas?"tanya Nabila begitu tiba tepat dibelakang Wahyu uang kebetulan berdiri tepat depan pintu menutup jalan.


"Mas nggak tahu, Sayang,"jawab Wahyu santai sembari bergeser kesamping memberi ruang untuk Nabila melihat tamu tak diundang.


"Kalian?"tanya Nabila terkejut.


Sementara Sari dan Caca terperangah melihat orang yang selama beberapa hari mereka cari di Jakarta akhirnya ketemu juga.


"Apa yang kalian lakukan disini?"tanya Nabila mengerutkan keningnya.


Sari dan Caca berusaha menguasai diri mereka.


Caca menatap sin1s kearah Nabila, sembari melipat kedua tangannya dibawa d4d4.


"Ooh... Ternyata setelah bercerai dengan kak Sam, kamu ternyata berubah jadi p3lakor ya,"ejek Caca pongah.


Sementara Nabila yang diejek malah terlihat bingung.


"Apa maksud kamu?"tanya Nabila.


"Alah... Sok sok-an nggak ngerti lagi! Suami siapa yang Lo 3mbat untuk m3ncetak uang?"


"Jaga ucapan, Anda,"ucap Wahyu tegas.


"Loh, kenapa dengan ucapan anak saya? Toh memang benar kan, kalau kalian ini pasangan sel1ngkuh. Wanita ini p3lakor,"timpal Sari, "Pak, usir saja wanita ini dari komplek ini, bisa kena si4l kalian jika wanita ini terus tinggal disini,"ucap Sari mengompori.


Nabila mulai mengerti maksud dari ucapan Caca dan Sari, Nabila hanya mampu tersenyum k3cut.


"Iya, Pak. Usir aja wanita ini dari sini,"ucap Caca..


"Apa mau kalian?"tanya Nabila.


Sari dan Caca saling lirik dengan senyum kemenangan yang berusaha mereka sembunyikan.


"Kami tidak ingin apa-apa, kami hanya mencari keadilan bagi seorang istri yang diselingkuhi oleh suaminya,"ucap Sari.


"Istri mana yang diselingkuhi? Siapa suaminya? Kenapa mencari keadilan ditempat saya?"tanya Nabila dingin.


"Siapa lagi kalau bukan pria yang ada didepanmu ini? Kamu setelah lepas dari anakku, bukannya menjadi lebiha baik, ini malah makin bur*k kelakuannya,"ejek Sari.


"Pria yang ini maksud, Anda?"tanya Nabila sembari memegang tangan suaminya.


"Iyalah, siapa lagi coba,"sahut Caca sewot, "Kamu ternyata selain menjadi wanita oembawa s14l, kamu juga wanita p3lakor,"lanjut Caca meledek.


"Apa kalian punya banyak bukti jika pria yang bersama saat ini suami orang yang saya rebut?"tantang Nabila.


Sari dan Caca gelagapan. "Bu-bukti? Kami tidak perlu membawa bukti, karena istri sah pria itu sendiri yang mengatakannya langsung pada kami,"jawab Sari yang jelas berbohong.


"Oh ya? Kalau begitu bawa wanita yang mengaku istri sah dari SUAMI saya ini,"ucap Nabila menantang.

__ADS_1


"Aduh... Gimana ini, Ma? Kenapa malah kita yang m4t1 kutu begini sih?"bisik Caca merasa ciut nyalinya.


"Kenapa kalian malah berbisik-bisik? Jika kalian tidak punya bukti, maka saya bisa melaporkan kalian atas kasus penc3maran nama baik, karena kalian mengatai saya p3lakor,"anc4m Nabila.


Mata Sari dan Caca terbelalak saking terkejutnya dengan anc4man Nabila yang sepertinya bukan hanya sekedar ancaman semata.


"Gawat, Ma... Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum kita berakhir dibal1k j3ruj1 b3si lagi,"bisik Caca gemetar.


Sari mengangguk lemah menyetujui ucapan anaknya. "Iya, ayo. Kita langsung kabur aja dalam hitungan, satu ... Dua ... Ti..."


"Ayo kita pergi dari sini, Ma. Nggak penting ngurusin masalah orang yang jadi p3lakor,"ucap Caca mem0t*ng ucapan mamanya.


"I-iya ayo, Nak,"sahut Sari, kemudian tanpa kata lagi mereka mengambil seribu langkah meninggalkan Nabila, Wahyu dan pak Kosim yang terkekeh.


"Ada-ada saja kelakuan mereka itu, Ibu dan Nabila dan Pak Wahyu kenal mereka?"tanya Kosim.


"Itu mantan ibu mertua saya dan anaknya, Pak. Saya sudah lama tidak berhubungan dengan mereka,"jawab Nabila, "Tapi, kenapa mereka tiba-tiba ada disini?"tanya Nabila.


"Pak Kosim yang antar kesini tadi, Sayang,"jawab Wahyu.


"Dimana Pak Kosim ketemu mereka?"tanya Nabila.


"Dibawah pohon mangga disebelah rumah ini, Bu. Katanya mereka lagi mengawasi seorang pria yang masuk ke rumah ini bersama wanita p3lakor,"jawab pak Kosim apa adanya.


"Astagfirullah, mereka itu mengada-ada, Pak,"ucap Nabila cepat.


"Saya tahu, Bu. Makanya untuk membuat mereka kapok, saya ajak aja sekalian ketemu Ibu dan Pak Wahyu."


"Sudahlah, Sayang. Mereka tidak usah terlalu dipikirkan, anggap mereka sebagai angin lalu,"ucap Wahyu sembari mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Saya yakin setelah ini mereka akan terus mengusik kehidupan kita, Mas. Aku hanya tidak ingin ada yang mengusik kehidupan kita."


"Mas tidak akan membiarkan mereka mengusik kamu, Sayang. Jadi jangan dianggap serius kehadiran mereka."


"Pak Kosim tadi melihat kedatangan mereka?"tanya Nabila mengabaikan ucapan suaminya.


"Iya, Bu. Mereka kesini dengan taksi yang mengikuti mobil Pak Wahyu."


"Itu artinya mereka mengikuti kami diperjalanan menuju kesini?"


"Bisa jadi, Bu. Karena ketika mereka sampai, mereka langsung menatap kearah rumah ini."


"Niat sekali mereka itu ingin mengusik hidupku,"ucap Nabila menyungginkan senyum miring, "Pak Kosim kalau liat mereka berk3liar4n disini lagi langsung usir aja, Pak,"lanjut Nabila.


"Jika sudah ada laporan begini itu artinya saya akan mengawasi mereka, Bu. Saya tidak akan membiarkan mereka membuat penghuni komplek yang saya jaga menjadi tidak nyaman."


"Terima kasih atas kerjasamanya, Pak,"ucap Nabila tersenyum.


"Kalau begitu saya permisi untuk kembali keliling komplek, Bu."

__ADS_1


"Tunggu disini sebentar, Pak,"cegah Nabila, kemudian buru-buru masuk dan tidak lama kemudiam Nabila kembali lagi.


"Tolong diterima ini ya, Pak. Ini sebagai ucapan terima kasih saya dan sebagai bonua untuk Pak Kosim,"ucap Nabila menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah.


"Tapi, ini kebanyakan, Bu,"ucap pak Kosim tak enak.


"Nggak apa-apa, Pakm diterima aja,"timpal Wahyi tersenyum.


Pak Kosim merasa tidak enak. "Baiklah, Bu, Pak. Saya terima uangnya,"ucap pak Kosim sumringah, "Kalau begitu, saya permisi, Pak, Bu,"pamit pak Kosim.


Setelah kepergian pak Kosim, kini tersisa Nabila dan suaminya yang masih berdiri diambang pintu.


"Ayo masuk, Mas. Disini panas, aku masih banyak kerjaan yang belum diselesaikan,"ucap Nabila.


"Yaudah, ayo kita masuk, Sayang. Kamu nggak usah buru-buru gitu ngarahin karyawan kamu, kita tidak perlu balik ke kantor hari ini,"ucap Wahyu penuh pengertian.


"Emang nggak apa-apa nggak balik lagi ke kantor, Mas?"


"Nggak apa-apa, Sayang. Siapa yang bisa memarahi bos perusahaan,"jawab Wahyu terkekeh.


Nabila ikut terkekeh. "Jangan gitu, Mas. Meski Mas bosnya harus tetap memberi contoh yang baik."


"Iyaiya, Sayang. Mas janji ini yang pertama dan terakhir,"ucap Wahyu, "Tapi, jika keadaan darurat mas nggak bisa tahan loh, Sayang."


"Kalau keadaan darurat itu beda lagi ceritanya, Mas."


Wahyu tersenyum kemudian duduk disofabad.


"Kamu lanjutin kerjaan aja, Sayang. Mas tunggu disini,"ucap Wahyu menyandarkan punggungnya.


"Iya, Mas."


Nabila masuk keruang jahit dimana semua karyawannya berkumpul.


"Tadi siapa yang datang, Mbak?"tanya Salmah.


"Orang salah alamat, Bu,"jawab Nabila sekenanya.


Semua karyawan mengangguk.


"Jadi ini gimana masalah permintaan custamer yang membludak, Mbak?"


"Saya sudah membuka lowongan pekerjaan di sosmed, mudah-mudahan secepatnya ada yang mendaftar dan sesuai yang kita inginkan,"jawab Nabila, "Saya juga sudah memesan mesin jahit beberapa buah, dan band knif3."


"Alhamdulillah, terima kasih, Mbak. Kalau kayak gini kita nggak bingung lagi dan keteteran lagi untuk menggunt1ng kainnya."


"Iya, tapi untuk sementara waktu setelah mesin jahit tambahan datang, apa kalian bisa menjahit?"


"InsyaAllah bisa, Mbak. Kita juga sebelumnya sudah belajar cara menjahit kok."

__ADS_1


"Yaudah, setelah ini kalian mendapat bonus atas kerja k3raa kalian."


Semua karyawan Nabila bersorak girang setelah mendengar akan mendapatkan bonus.


__ADS_2