
"Khmm..." Wahyu berdehem.
"Pak Wahyu sakit tenggorakan?"tanya Nabila khawatir.
"Eh tidak... Cuma agak serek tenggorokan saya,"jawab Wahyu salah tingkah.
"Diminum tehnya, Pak. Kalau kurang nanti Nabila buatin lagi."
"Tidak usah, ini udah cukup."
Nabila mengangguk. "Itu juga masih ada punya saya, Pak. Kalau mau minum aja, saya belum sentuh kok,"ucap Nabila pelan.
Senyum merekah terbir dibibir Wahyu. "Iya, saya nanti minum jika masih mau tehnya."
"Iya, Pak."
Wahyu mengatur posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Khmm... Nabila?"
Nabila mendongak. "Kenapa, Pak?"
"Bismillah, saya menunggu jawaban kamu,"ucap Wahyu lembut.
Badan Nabila tiba-tiba bergetar karna gugup. Mengambil nafas panjang lalu dihembuskannya, itu ia lakukan untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Sa-saya... Anu, Pak."
"Anu apa, Nabila?"tanya Wahyu gregetan tidak sabar menanti jawaban.
"I-itu, Pak. Sa-saya anu,"jawab Nabila gugup.
"Jangan dijawab jika masih belum siap, Nabila."
"Tidak, Pak. Saya tidak mau menunda dan memberikan harapan palsu untuk, Pak Wahyu."
"Lalu? Saya tidak masalah jika harus menunggu lagi, Nabila."
"Tidak, Pak. Saya akan menjawab hari ini juga."
Terlihat jelas dimata Wahyu bagaimana gemetarannya Nabila saat itu karna rasa gugup yang berlebihan.
"Saya rasa kamu masih butuh waktu untuk memikirkannya,"ucap Wahyu.
"Tidak, Pak. Saya siap jadi istri, Pak Wahyu,"jawab Nabila spontan.
Ekspresi Nabila menjadi pias setelah memberikan jawaban, ia malu karna ucapannya yang spontan.
Sementara Wahyu bagai ada taman bunga yang bermekaran dihatinya, ia tidak hentinya tersenyum sejak keluar jawaban dari Nabila seperti yamg diinginkannya.
"Allhamdulillah... Terima kasih karna kamu sudah bersedia menjadi istri saya, saya janji akan selalu membahagiakan kamu,"ucap Wahyu semangat.
"Jangan berjanji, Pak. Cukup buktikan saja, karna saya sudah tidak percaya dengan kata janji,"sahut Nabila pelan.
"Iya saya akan membuktikan semua ucapan saya ini,"sahut Wahyu semangat.
Nabila tidak meresepon ucapan Wahyu, ia malah melamun.
-Flashback on-
Di rumah sakit, saat Wahyu dan Raksa tertidur. Nabila melaksanakan shalat istikharah agar diberikan petunjuk atas pinangan Wahyu tempo hari.
Dalam shalatnya Nabila terus terbayang wajah yang yang tertawa saat bermain dengan Raksa disebuah taman yang dipenuhi dengan bunga warna-warni, tapi ia belum menyadari jika itu salah satu petunjuk dari Allah.
Setelah menunaikan shalat dua rakaat dan meminta petunjuk, Nabila naik ke brankar anaknya dam tidur disampingnya. Dalam tidurnya ia bermimpi.
__ADS_1
"Papa mana, Bu?"tanya Raksa.
Dalam mimpinya Nabila ada disebuah rumah yang desainnya seperti yang Nabila inginkan.
"Papa ada dikamar, Nak,"jawab Nabila tersenyum.
Tidak lama kemudian Wahyu keluar dengan baju yang warnanya sama dengan Nabila dan Raksa.
"Yee... Baju Aksa sama sepelti punya, Papa,"sorak Raksa.
"Iya dong, Nak. Kita kan satu keluarga, jadi bagusnya samaan begini bajunya. Ini juga pilihan Ibu,"sahut Wahyu.
Nabila terkekeh melihat interaksi anaknya dan Wahyu. Mimpi Nabila terhenti sampai disitu karna didunia nyata tidurnya ada yang memanggil.
"Ibu?"panggil Raksa.
Perlahan Nabila membuka mata untuk menyesuaikan dengan cahaya ruangan.
"Mana yang sakit, Nak?"tanya Nabila dengan suara parau.
"Aksa mau pip1s, Bu,"ucap Raksa.
"Oh... Ayo, Nak. Sini ibu gendong,"ucap Nabila lalu menggendong anaknya menuju to1let, tidak lupa 1nfusan juga ikut dibawa.
Ketika keluar to1let, Nabila dikagetkan dengan kehadiran Wahyu yang ternyata sudah ada di depan pintu.
Dari sejak malam itu, Nabila sering memimpikan Wahyu. Maka setelah pulang dari rumah sakit, ia memilih segera menjawab pinangan Wahyu karna merasa yakin dengan petunjuk yang Allah berikan. Nabila juga melihat sendiri bagaimana sayangnya Wahyu pada Raksa.
-Flashback off-
"Nabila?"panggil Wahyu seraya melambaikan tangan didepan wajah Nabila.
"Eh iya, Pak?"
"Tidak apa-apa, Pak,"jawab Nabila salah tingkah.
"Ohh... Bisa jangan panggil saya dengan sebutan pak?"protes Wahyu.
"Lalu saya harus memanggil dengan apa?"
"Panggil sayang, honey, mas atau apalah yang lebih enak didengarnya,"jawab Wahyi santai.
Mata Nabila melot0t dengan beberapa sebutan panggilan yang diucapkan Wahyu.
"Panggil Mas aja deh, nggak pa-pa kan?"
Wahyu mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju. "Boleh, itu jauh lebih baik dibanding panggilan pak pak dari kamu itu."
"Khmm... Jadi kapan ini rencana pernikahannya?"
"Kaisar? Sejak kapan kamu ada disitu?"tanya Nabila.
"Sejak Mbak Nabila menjawab 'Saya mau jadi istri Pak Wahyu', Kaisar dengar semuanya,"jawab Kaisar santai sambil mendudukkam dirinya di sofa samping kakaknya.
"Tidak sopan kamu menguping pembicaraan orang, Sar,"tegur Nabila kesal.
"Kaisar tidak menguping, Mbak. Tapi suara Mbak ini menggelegar dipenjuru rumah, jadi Kaisar dengar lah,"ucap Kaisar mengelak.
Wajah Nabila sudah seperti kepiting rebus menahan rasa malu dihadapan Wahyu dan Kaisar.
"Wajah Mbak Nabila kenapa jadi merah begitu?"goda Kaisar malah mendapat timpukan bantal sofa dari kakaknya.
"Jangan jah1l kamu, Sar,"geram Nabila.
__ADS_1
"Lah? Salah Isar dimana, Mbak? Kaisar cuma mengatakan yang sebenarnya. Tuh tuh liat wajah Mbak makin merah."
"Kaisar... Jangan bikin mbak malu di depan Mas Wahyu,"bisik Nabila.
"Cie... Udah manggil Mas Wahyu aja nih, jadi kapan rencana pernikahannya?" Kaisar makin menjadi-jadi untuk menggoda kakaknya.
"InsyaAllah secepatnya, Sar,"jawab Wahyu.
"Wahh... Bagus itu, Mas. Lebih cepat lebih baik, supaya terhindar dari godaan syait0n dan fitnah,"sahut Kaisar.
"Berarti kamu termasuk syait0n, Sar. Karna kamu yang suka menggoda mbak mu ini,"sahut Nabila cemberut.
"Aduh... Kok jadi malah seperti tabur tuai ya!"gumam Kaisar.
Wahyu terkekeh setelah mendengar gumaman Kaisar.
"Jadi, kapan Mas Wahyu datang melamar secara resmi?"tanya Kaisar mengalihkan pembicaraan tentang sy4it0n.
"Besok saya kemari bersama anak saya. Apa kalian ada waktu?"
"Besok? Oke, Mas. Besok kami tunggu kedatangan Mas Wahyu dan anak,"sahut Kaisar dalam mode serius.
Kaisar merasa bertanggung jawab bagi kakak perempuannya, karna sekarang dialah yang menjadi wali untuk kakaknya itu.
"Iya, kalau begitu saya pamit pulang. Saya akan menyiapkan seserahan untuk lamaran."
Wahyu nampak tidak sabaran menunggu hari esok.
"Tunggu, Mas,"cegah Kaisar.
"Ada apa, Sar?"
"Saya mau besok kita adakan lamaran sekaligus akad nikah,"permintaan Kaisar tegas.
"Kaisar? Kenapa harus langsung akad? Menikah tidak segampang itu, Sar,"bantah Nabila.
"Tidak akan sulit, Mbak. Besok pagi saya akan memanggil penghulu di KUA, ini saya lakukan agar terhindar dari yang namanya fitnah. Karna saya yakin setelah ini Mas Wahyu akan sering berkunjung kemari,"ucap Kaisar tegas.
"Baiklah, saya siap untuk akad besok. Saya akan menyiapka maharnya hari ini juga,"jawab Wahyu.
"Terima kasih, Mas. Maaf jika Kaisar terkesan memaksa, tapi ini demi kebaikan Mbak Nabila,"ucap Kaisar.
"Saya mengerti, Sar. Kamu ingin yang terbaik untuk kakak mu. Kalian mau mahar pernikahan apa?"
"Saya serahkan pada Mbak Nabila masalah maharnya, Mas." Kaisar menoleh pada kakaknya. "Bagaimana, Mbak?"
Nabila pasrah dan mengikuti keinginan adiknya. "Maharnya uang tunai 500rb saja,"jawab Nabila.
"Kenapa kamu cuma minta segitu, Nabila?"tanya Wahyu tak terima.
"Tidak apa-apa, Mas. Saya tidak ingin mahar yang berlebihan,"jawab Nabila tenang.
"Baiklah, uang 500rb tunai dan saya menambah satu buah kalung. Saya harap kamu tidak akan menolak,"ucap Wahyu.
"Baiklah, Mas."
"Karna semua sudah jelas. Saya pamit undur diri, saya harus segera menyiapkan semuanya,"pamit Wahyu.
"Iya, Mas. Silahkan,"balas Kaisar.
"Assalamaualaikum,"salam Wahyu.
"Waalaikumssalam,"jawab Nabila dan Kaisar serempak.
__ADS_1