
Hari masih sangat pagi, Nabila dan ibu Ros sudah sangat sibuk untuk menyiapkan seserahan yang akan dibawah ke rumah Clara.
Sarapan dan cemilan sudah diantar oleh salah satu keluarga Clara. Ibu Ros senang karena keluarganya disambut baik oleh keluarga dari calon besan sejak kedatangan mereka.
"Apa seserahannya nggak kurang, Bu?"tanya Nabila ketika semua seserahan sudah siap dirapikan dan dipercantik.
"Kurang buahnya ini, Nak,"jawab ibu Ros.
"Yaudah, kalau gitu nanti setelah sarapan Nabila keluar cari buah. Siapatau sekitar ini ada penjual buah."
"Iya, Nak. Maaf jadi merepotkan."
"Apaan sih, Bu. Ini nggak merepotkan sama sekali, lagian aku senang menyiapkan seserahan untuk acara lamaran Kaisar,"sahut Nabila tersenyum menggenggam tangan ibu Ros.
"Ini juga sudah menjadi bagian dari tanggung jawab Nabila untuk Kaisar, Bu,"lanjut Nabila lembut.
"Ma, adek mana?"
Tiba-tiba Galaksi datang dan mencari kebaradaan Raksa.
"Eh, kamu udah bangun, Nak. Adek ada didepan sama papa."
"Yaudah, kalau gitu Gala kedepan dulu ya, Ma, Nek."
"Iya, Nak,"jawab Nabila dan ibu Ros serempak.
Nabila menatap kearah jam dinding yang menunjukkan waktu sarapan telah tiba.
"Bu, Nabila mau kebelakang. Mau nyiapin sarapan,"pamit Nabila sembari bangkit dari duduknya.
"Iya, Nak."
Setelah selesai sarapan dan membersihkan bekas makan mereka, Nabila masuk ke kamar untuk bersiap.
"Mas, aku mau keluar cari buah untuk pelengkap seserahan. Boleh?"
"Loh, keluar sama siapa, Sayang? Kok nggak bilang dari tadi?"
"Sendiri aja, Mas. Cuma sebentar aja, kok."
"Kalau gitu kamu siap-siap, kita pergi bersama. Biar mas pesan taksi online,"sahut Wahyu cepat.
"Loh, kok? Mas kamu serius mau ikut?"
"Iya, Sayang. Nggak tega lah mas biarin kamu keluar sendiri, apalagi ini dikota orang, Sayang."
Senyum terbit dari bibi Nabila, ia begitu bersyukur bersuamikan seperti Wahyu.
"Yaudah, aku siap-siap dulu kalau gitu."
"Iya, mas tunggu didepan ya? Sekalian pamit sama Raksa dan Gala."
__ADS_1
"Iya, Mas."
Kini Nabila dan Wahyu sudah berada di toko buah yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tinggal Clara. Tokonya termasuk lengkap dengan berbagai macam buah-buahan yang tersedia.
"Cuma ini aja, Sayang?"tanya Wahyu sebelum membayar dikasir dan minta untuk dibuat parsel.
"Iya, Mas. Itu juga udah banyak banget loh, sekeranjang penuh gini,"jawab Nabila yakin.
Wahyu mengangguk, lalu mereka menuju kasir untuk melakukan transaksi pembayaran.
"Nggak mau beli yang lain lagi setelah ini?"tanya Wahyu ketika menunggu parcel buah pesanan mereka.
"Nggak, Mas. InsyaAllah semua sudah lengkap, ini juga kan masih lamaran. Nanti pas nikah seserahannya lebih lengkap lagi."
Wahyu menatap dalam pada istrinya, itu membuat Nabila salah tingkah.
"Kenapa liatin aku kayak gitu, Mas?"tanya Nabila salah tingkah.
"Kamu cantik, mas beruntung memiliki kamu. Terima kasih sudah menerima cinta mas yang usianya jauh diatas kamu,"ucap Wahyu penuh makna.
Mereka bahkan lupa jika saat ini sedang berada ditempat umum.
"Aku tidak peduli dengan perbedaan usia antara kita jauh, Mas. Terima kasih juga karena sudah menerima aku yang banyak kurangnya."
"Shtt... Jangan berkata seperti itu lagi, kita bersama untuk saling melengkapi kekurangan kita, Sayang,"sahut Wahyu tersenyum.
"Mmm... Permisi, Pak, Bu, ini parcelnya sudah jadi,"ucap pegawai toko merasa tidak enak sendiri menganggu keromantisan pasangan suami istri didepannya.
"Eh, iya, Mbak,"sahut Nabila cepat sembari menerima parcel buah pesanannya.
"Biar mas yang bawa, Sayang,"sahut Wahyu mengambil alih parcel yang berada ditangan Nabila.
Beberapa jam berlalu begitu cepat, kini keluarga mempelai pria dan wanita tengah bersiap untuk proses lamaran. Keluarga Kaisar yang hanya dihadiri oleh keluarga inti mulao bersiap-siap sebelum berangkat ke rumah sang calon pengantin wanita.
"Sudah siap, Sar?"tanya Nabila pada adiknya yang sedang mematuk dirinya didepan cermin.
"Mbak, aku gugup,"ujar Kaisar manja.
Nabila tersenyum, kemudian mendekati adiknya.
"Gugup itu hal wajar, Sar. Namanya juga akan mempersunting anak gadis orang,"ucap Nabila.
"Disana nanti aku nggak ada ngomong sesuatu kan, Mbak?"
"Mas Wahyu yang akan mewakili kamu, Dek. Kamu cukup diam dan menyaksikan,"jawab Nabila menenangkan.
"Tetap aja aku gugup, Mbak."
"Kamu duduk dulu deh,"titah Nabila segera dituruti oleh Kaisar.
"Tenanging diri kamu. Tarik nafas dan hembuskan perlahan, lakukan berulang kali sampai kamu merasa lebih tenang,"pinta Nabila.
__ADS_1
Suasana yang tidak berbeda jauh yang dirasakan oleh Clara sebagai calon mempelai wanita. Clara sedang duduk didalam kamarnya ditemani sepupunya, Clara sudah tampil begitu cantik dengan makeup dan kebaya yang sudah disiapkan oleh Nabila.
PoV Clara
Setelah beberapa waktu menunggu kepastian dari Kaisar, akhirnya yang kunanti tiba juga.
Awalnya aku merasa sangat gugup dan takut jika keluarga Kaisar tidak akan menerimaku sebagai menantu dikeluarga mereka, ya meski kami sudah kenal sangat dekat. Tapi, kedekatan kami hanya sekedar tetangga, teman kerja, teman seperjuangan dirantauan.
Tapi, dugaanku meleset. Ternyata aku diterima sangat baik oleh keluarga Kaisar. Dan keluarga Kaisar menentukan hari dan tanggal untuk melakukan proses lamaran secara resmi didepan keluarga besarku.
Hari-hari kulewati dengan penuh semangat dan tidak sabar menanti hari itu akan tiba. Sampai pada akhirnya, tepat hari kamis pak Wahyu selaku bos diperusahaan tempatku bekerja dan sebagai kakak ipar dari Kaisar memberikan aku cuti dihari jumat untuk aku bisa secepatnya pulang ke kota kelahiranku untuk menyiapkan acara lamaranku.
Mbak Nabila juga sudah menyiapkan baju kebaya untukku lengkap dengan baju batik untuk Kaisar.
Keluargaku tentu sangat bahagia mendengar kabar bahwa sebentar lagi aku akan dilamar oleh seorang pria. Mereka begitu antusias menyiapkan segala persiapan yang akan dilaksakan pada hari sabtu setelah shalat dzuhur.
Jumat malam, aku menuju ke bandara untuk menjemput keluarga Kaisar dan akan mengantarkannya ke rumah salah satu keluargaku yang kebetulan sedang kosong.
Aku begitu malu ketika bertemu dengan keluarga Kaisar, apalagi mbak Nabila selalu menggodaku yang membuatku semakin salah tingkah.
Untung ada ibu Ros, ibu kandung dari Kasiar, calon ibu mertuaku itu yang selalu membelaku jika sedang mendapat godaan dari mbak Nabila.
Setelah mengantarkan keluarga Kaisar ke rumah yang ditempatinya, aku segera pulang karena itu pesan dari orang tua bahwa aku tidak oleh lama-lama bertemu Kaisar sebelum proses lamaran selesai.
Sehari sebelum acara berlangsung, entah kenapa mataku rasanya enggan terpejam. Aku sungguh gelisah, apa karena aku sudah tidak sabar menanti hari esok?
Aku membolak balikkan badan sampai menjelang subuh, mungkin karena merasa lelah tanpa sadar akhirnya aku tertidur juga.
Ketika aku bangun, kudengar suara dari luar mulai riuh menyiapkan semuanya.
"Apa aku sedang bermimpi?"gumamku, lalu berjalan keluar kamar.
"Astaga, jam segini kamu baru bangun, Ra?"tanya mamaku.
"Iya, Ma. Aku ngantuk banget soalnya,"jawabku cengengesan.
"Yaudah, sekarang kamu sarapan dulu, entah ini namanya sarapan atau makan siang. Ini sudah jam 10,"omel mama padaku.
Meski mama mengomel, aku tidak merasa sakit hati. Malah aku lebih fokus pada jam yang dikatakan mamaku. Jam 10 kata mama? Lamanya juga ternyata tidurku, pantas perasaan lebih segar.
Selesai sarapan, aku langsung mandi dan menunggu MUA yang cukup terkenal di kota ini.
"Gerogi ya?"goda sepupu Clara.
"Iya, entah kenapa perasaanku saat ini tidak bisa aku kendalikan,"jawab Clara gemetaran.
"Aku dulu juga gitu, Ra. Selesai makeup rasanya badan tiba-tiba gemetaran aja gitu,"sahut sepupu Clara terkekeh.
"Eits, tapi aku masih penasaran dengan kisah cinta kamu dengan calon kamu ini,"lanjut sepupu Clara.
Clara terdiam, wajahnya bersemu merah mengingat kisahnumua dengan Kaisar.
__ADS_1
"Kita itu awalnya cuma teman biasa, Kak. Kaisar itu adiknya teman satu kantor aku, bahkan rumah kami di Jakarta berdekatan. Dari situ kita jadi sering ketemu dan tumbuh benih-benih cinta dihatik kami,"ucap Clara tersipu.