Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Jadi obat nyamuk


__ADS_3

Kiriman dari Galaksi sudah tiba, Nabila dan Wahyu bergantian masuk to1let untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Ayo, kamu makan dulu. Biar saya yang jaga Raksa,"ucap Wahyu.


"Pak Wahyu makan duluan aja, saya belum lapar."


"Tidak! Meskipun kamu belum lapar, kamu harus tetap makan karna ini sudah waktunya makan malam,"ucap Wahyu tak ingin dibantah.


"Tapi..." Nabila ingin membantah tapi lebih dulu dipot0ng oleh Wahyu.


"Tidak ada tapi-tapian. Saya tahu kamu khawatir dengan kondisi Raksa. tapi jika kamu tidak makan, maka kamu juga akan sakit. Lalu siapa yang akan menjaga Raksa?"


Nabila menghela nafas panjang. "Baiklah, saya makan. Tapi tidak perlu bergantian, kita makan bersama. Lagian Raksa juga tidur,"ucapnya.


Wahyu dengan cepat mengangguk menyetujui perkataan Nabila.


"Jangan pernah merasa sendiri dalam mengurus Raksa, saya akan selalu ada untuk kalian,"ucap Wahyu pelan setelah menyelesaikan makannya.


"Saya tidak bisa selalu merepotkan, Pak Wahyu,"jawab Nabila pelan.


"Kenapa? Karna saya bukan ayah kandungnya Raksa?"


Nabila diam. "Bukan karna itu, Pak,"jawab Nabila pelan seraya menundukkan kepalanya.


"Tatap mata saya, Nabila,"pinta Wahyu tegas.


Spontan Nabila mengangkat kepala dan menatap dalam mata Wahyu.


"Kenapa kamu selalu mengatakan saya akan repot mengurus Raksa? Saya senang mengurus Raksa."


Nabila diam seperti kehabisan kata-kata.


"Jika kamu berfikir saya akan repot karna kami tidak ada hubungan apapun. Maka, ayo sekarang kita ke KUA urus pernikahan kita,"ucap Wahyu serius.


Rasa panik dirasakan Nabila setelah mendengar ucapa Wahyu yang tampak serius.


"Sa-saya belum menjawab lamaran, Pak Wahyu. Saya mohon jangan sekarang,"ucap Nabila memelas.


"Kalau kamu seperti ini terus, tanpa menunggu jawaban dari kamu. Saya akan langsung mengurus pernikahan kita di KUA, saya punya restu dari ibu dan adikmu,"ucap Wahyu tegas.


Nabila diam, memilih mengalah. "Maaf." Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.


Wahyu mulai melunak. "Maaf karna membuatmu jadi serba salah,"ucapnya pelan.


Nabila mengangguk, kemudiam mengalihkan pandangannya ke arah brankar anaknya.


Raksa sedikit bergerak, tiba-tiba badannya mengalami k3j4ng-k3j4ng.


Nabila berlari mendekat pada anaknya dengan rasa panik.


"Ya Allah, Nak? Kamu kenapa?"tanya Nabila panil seraya memeluk badan anaknya.


"Nabila, kamu tenang dulu. Saya akan panggil dokter,"ucap Wahyu. Lalu berlari keluar kamar mencari dokter dan perawat.


"Apa yang terjadi?"tanya dokter.

__ADS_1


Nabila tidak tahu harus menjawab apa, ia begitu panik melihat anak k3j*ng-k3j*ng.


"Raksa tadi tidur, Dok. Lalu tiba-tiba seperti ini,"jawab Wahyu.


Dokter mengangguk, lalu memeriksa Raksa. "Panasnya sangat tinggi, ini yang menyebabkannya seperti ini,"jawabnya.


Setelah beberapa saat kemudian usaha dokter membuahkan hasil. Raksa mulai sadar dan langsung mencari ibunya.


"Ibu..."


"Ini ibu, Nak,"sahut Nabila seraya memeluk anaknya.


"Apa yang menyebabkan anak kami seperti ini, Dok?"tanya Wahyu.


"Kejadian seperti ini dikatakan step, anak-anak akan mengalami seperti ini jika suhu badannya sangat tinggi. Untuk itu saat anak demam, sebagai orang tua harus selalu memantau suhu badannya."


"Jika terjadi hal seperti ini langkah apa yang harus dilakukan, Dok?"tanya Nabila.


"Caranya letakkan anak di tempat yang datar, luas, dan bebas, sehingga anak tidak akan terbentur atau tertimpa benda tertentu saat mengalami k3jang. Segera singkirkan benda yang berbahaya di sekitarnya. Baringkan dalam posisi miring agar anak tidak tersedak oleh air liur atau muntahan."


Dokter menjelaskan langkah-langkah menangani anak yang mengalami step saat demam tinggi.


"Terima kasih atas penjelasannya, Dok. Setelah ini kami akan lebib waspada lagi,"ucap Wahyu.


"Iya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya, Dok,"jawab Wahyu.


Setelah dokter pergi, Wahyu menatap Nabila yang mulai meneteskan air matanya.


"Aku memang bukan ibu yang baik,"ucap Nabila sambil menangis.


Wahyu mendekat dengan pelan menyentuh punggung Nabila, dengan tangan gemeyar ia mengusap pelan punggung Nabila.


"Kamu yang baik, semua ibu di dunia ini baik. Jadi jangan pernah mengatakan itu lagi."


"Sudah dua kali Raksa seperti ini didepan mata ku sendiri, Pak. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa."


"Itu karna kamu panik. Semua ibu juga akan seperti kamu jika merasa panik."


"Aksa lapal, Bu,"ucap Raksa lirih.


"Kamu lapar, Nak? Kami baring dulu ya, ibu ambil bubur untuk kamu,"ucap Nabila lembut.


"Kamu disini saja. Biar saya yang ambil buburnya,"cegah Wahyu.


Nabila menyuapi Raksa dengan pelan. Karna demam nafsu makan Raksa jadi bur*k.


"Makan satu sendok lagi ya, Nak?"bujuk Nabila.


"No... Aksa mau digendong, Papa,"ucap Raksa manja.


"Kamu shalat dan istirahat dulu. Raksa menjadi urusan saya sekarang."


Karna tidak ingin berdebat, Nabila ikut saja apa yang dikatakan Wahyu. Ia juga mulai merasa lelah karna dari kantor langsung ke rumah sakit dan belum istirahat sama sekali.

__ADS_1


Menunaikan shalat 4 rakaat, Nabila begitu khusyu' berdoa sampai tidak merasa ada yang memperhatikannya sejak tadi.


"Pak Wahyu?"


"Kenapa?"


"Boleh saya tidur sebentar saja? Kepala saya terasa sangat berat,"ucap Nabila pelan.


"Boleh! Tidur saja, jika ada sesuatu saya akan bangunkan kamu."


"Terima kasih, Pak."


***


Dua hari Raksa di rawat di rumah sakit, dua hari itu juga Nabila dan Wahyu bersama menjaganya. Keluarga bergantian menjenguk diwaktu senggang mereka.


"Udah sudah semua, Mbak?"tanya Kaisar.


"Udah, Sar. Ini tinggal dulu suster untuk melepas infus Raksa."


"Yaudah. Sambil menunggu, saya mau bawa barang-barang ke mobil."


"Itu di sofa tasnya, Sar. Cuma ada satu tas itu aja."


"Oke, Mbak."


"Kamu bawa sendiri aja ya, Sar. Aku mau disini ngobrol sama Mbak Nabila,"ucap Clara.


"Iya deh. Kamu seperti lama banget nggak ketemu sama Mbak Nabila,"cibir Kaisar.


Nabila terkekeh. "Kaisar seperti tidak mau berpisaj dari kamu, Ra,"ledek Nabila pada adiknya.


"Apa sih, Mbak,"sewot Kaisar.


"Mas Wahyu tolong bilang sama Mba Nabila berhenti meledek saya."


Wahyu tertawa. "Kamu aja yang bilang, Sar. Mas mana berani."


"Hiih... Gayamu aja sok cool, Mas. Tapi takut sama Mbak Nabila,"cibir Kaisar.


Mata Nabila melot0t pada Kaisar. "Kenapa mata Mbak Nabila melebar seperti itu?"tanya Kaisar sok polos.


"Sana cepetan bawa tasnya ke mobil dan kamu tunggu di sana aja. Nggak usah balik ke sini lagi,"pinta Nabila.


"Ooo sekarang mulao ngusir nih? Oke fine, Kaisar pergi,"balas Kaosar bercanda.


Nabila mencebik. "Sana pergi,"usir Nabila.


"Mbak sekarang jadi ratu t3ga. Sekarang udah berani usir aku,"ucap Kaisar mendramasir.


"Jangan banyak drama, Sar. Kamu disini juga nggak ngapa-ngapain, malah ngeledek mbak aja,"ucap Nabila.


"Iyaiya, ini aku pergi. Ra, ayo kita pergi! Jangan ganggu calon keluarga bahagia,"ajak Kaisar pada Clara.


"Hahaha... Oke, Sar. Aku ikut kamu aja, daripada disini jadi 0bat nyamuk. Yang ada aku yang gatel-gatel,"sahut Clara tertawa.

__ADS_1


__ADS_2