
Sepanjang malam Kaisar tidak bisa memejamkan matanya, ia membolak balik badannya ke kiri dan ke kanan berusaha untuk tidur, tapi tetap tidak bisa.
"Udah hampir subuh, tapi kenapa mataku belum juga mau tidur sih,"gumam Kaisar frust4si.
Untung saja ia tidur sendiri, karena rumah yang disiapkan oleh keluarga Clara memang terbilang besar dan memiliki 5 kamar. Jadi, mereka bisa masing-masing memilih kamar sebagai tempat istirahay mereka selama berada di tempat kelahiran Clara.
Kaisar bangun mendudukkan dirinya diatas ranjang dan mengac4k-4cak rambutnya.
"Di dapur ada stok susu nggak ya?"gumam Kaisar.
Kata orang jika sedang susah tidur, minum susu solusinya. Tapi, entahlah apa itu benar atau hanya m1tos belaka.
Kaisar bangkit dari ranjang, kemudian ia membuka pintu kamar dengan sangat pelan. Tanpa membuang waktu lagi, Kaisar bergegas menuju dapur dan membuka kulkas untuk mencari apakah ada susu atau tidak.
"Untung ada susu,"gumam Kaisar dengan mata berbinar.
"Kamu kebangun, Sar?"tanya Nabila yang sudah berdiri disamping Kaisar.
Kaisar yang tidak sadar dengan kehadiran kakaknya terlonjak kaget.
"Astagfirullah, Mbak... Datang itu ya kasih kode, jadi nggak kaget gini,"sahut Kaisar mengelus d4d4nya.
"Kamu aja yang terlalu serius minum susu,"sahut Nabila terkekeh sembari melangkah mendekati dispenser untuk mengisi teko.
"Kamu nggak bisa tidur ya, Dek?"tanya Nabila tersenyum.
Kaisar diam, ia sedikit malu karena ketahuan oleh kakaknya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hehehe... Iya, Mbak,"jawab Kaisar kikuk.
"Coha dibawa shalat malam, Sar. InsyaAllah setelah shalat kamu pasti jadi tenang,"usul Nabila lembut.
Bagai mendapat oase digurung pasir, Kaisar tersenyum sumringah mendengar usul kakaknya.
"Makasih ya, Mbak. Seandainya nggak diingetin sama Mbak, aku pasti akan uring-unringan sepanjang malam,"ucap Kaisar semangat.
"Jika gelisah, ingat Allah, Dek. Masalah apapun dan segelisah apapun kita, jika mencurahkan semuanya pada Allah, InsyaAllah kita akan menjadi lebih tenang."
"Iya, Mbak. Dari tadi aku udah gelisah nggak bisa tidur, padahal sebentar lagi menjelang subuh,"sahut Kaisar.
"Yaudah, kamu balik lagi ke kamar. Terua shalat,"pinta Nabila, "Jangan lupa itu susunya di minum! Mbak mau balik lagi ke kamar,"lanjut Nabila.
"Siap, Mbak."
Setelah melihat kepergian Nabila, Kaisar buru-buru menghabiskan susu putih yang sudah dituang ke dalam gelas tinggi.
Sementara itu Nabila.kembali kedalam kamarnya, dan melihat suaminya ternyta terbangun dari tidurnya.
"Kenapa, Mas?"tanya Nabila pada suaminya.
"Mas nyariin kamu, Sayang. Mas udah nggak bisa tidur tanpa meluk kamu,"jawab Wahyu dengan sedikit gombalan pada sang istrinya.
__ADS_1
"Hehehe, sejak kapan kamu jago ngengombal, Mas?"tanya Nabila terkekeh sembari berjalan mendekati ranjang dan menaruh teko diatas nakas samping ranjang.
"Sejak mas mengenal kamu, Sayang,"jawab Wahyu sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Apaan sih, Mas? Udah deh, kita lanjut tidur lagi, besok kita pasti akan sangat sibuk,"ucap Nabila tersipu malu.
Sementara itu di Jakarta, Caca menemui pelanggan pertamanya selama di Jakarta di hotel yang sama tempatnya menginap.
Ting
Nong
Caca dengan santai menekan bel di depan pintu salah satu kamar hotel, dengan pakaian yang ketat dan pendek berwarna merah menyala tanpa lengan.
Cklek
"Siapa?"
"Om Bagas?"
"Iya betul, saya Bagas.
"Hy, Om. Perkenalkan nama aku Caca. Tadi Om menghubungi aku,"jawab Caca memperkenalkan dirinya.
Pria didepan Caca menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Ooh jadi kamu wanita itu. Kamu seksi jiga ternyata, ayo masuk."
Caca melemparkan tasnya keatas sofa dan mendekati mangs4nya. Caca begitu l1*r saat berhadapan dengan pelanggannya itu.
"Kamu sungguh b1n*l, tanpa diperintah pun kamu sudah beraksi,"ucap pria yang menyewa jasa Caca.
"Ini pekerjaanku, Om. Tentu aku mengerti kemauan, Om,"jawab Caca manja.
"Kalau begitu, ayo kita bersenang-senang malam ini. Jika kamu bisa memu4skan saya, maka saya akan memberi kamu bonus."
"Tentu, setelah ini Om akan terus mencari aku,"ucap Caca lalu mulai beraksi.
Oke, author skip aja adegan Caca dan Om barunya ya.
"Kamu memang sangat memu4skan, lain kali om akan pakai jasa kamu lagi,"ucap pria tersenyum sembari memeluk Caca yang tanpa bus4na itu dan tanpa ditutupi selimut.
"Apa aku bilang, Om pasti akan sangat pu4s dengan pelayananku. Jangan lupa bonusnya, Om,"sahut Caca yang tangannya menari-nari diatas d4d4 pria yang di panggil om itu.
Caca dan Bagas tengah beristirahat setelah beberapa jam berbagi p3luh diatas ranjang pan4s yabg mereka ciptakan dikamar hotel.
"Bonus akan segera om transfer,"sahut pria tersebut sembari meraih ponselnya diatas nakas, "Saya transfer ke nomor rekening yang tadi kamu kirim atas nama Caca Amelisa kan?"
"Iya, Om."
"Rp.100 jt sudah saya transfer ke rekening kamu."
__ADS_1
Caca mengulas senyum sumringah mendengar uang seratus juta ia hasilkan dalam semalam.
Cup
"Makasih, Om Bagas,"ucap Caca meng3cup b1bir Bagas.
"Sama-sama, tapi kita main satu ronde lagi sebelum kita akhiri pertemuan kita malam ini."
"Boleh, Om. Tapi, Om yang aktif ya?"
"Oke, kali ini biarkan om yang pu4skan kamu."
Caca begitu menikmati setiap s3ntuh4n yang diberikan oleh Bagas. Mereka sama-sama memberikan kenikm4tan dunia sampai menjelang subuh.
Di kamar berbeda, namun, di hotel yang sama. Sari tidak bisa tidur membayangkan uang yang akan diterima anaknya dalam semalam dan dengan satu orang saja.
"Jika Caca dapat pelanggan yang dalam semalam menghasilkan uang Rp. 70 jt, dalam sekejap mata aku bisa kaya raya,"gumam Sari.
"Tapi, aku tidak mungkin membiarkan Caca bekerja seperti ini untuk selamanya. Aku akan mencari cara agar Caca bisa merebut pria yang bersama Nabila,"gumam Sari.
Sari terus memikirkan cara untuk merebut pria yang belum diketahui namanya itu. Lalu, tiba-tiba ia teringat dengan suami dan kedua anaknya yang jauh di Pontianak.
"Gimana keadaan suami dan anak-anakku di kampung? Apa mereka mencariku, atau malah mereka malah senang dengan kepergianku?"monolog Sari menerawang.
Suasana damai yang dirasakan oleh anak-anak dan suami Sari setelah kepergiannya tanpa pamit.
"Kira-kira mama sama Caca kemana ya, Kak?"tanya Cici ketika mereka sedang bersantai diruang keluarga sembari menonton tv yang baru beberapa hari dibeli oleh Cici.
"Kakak nggak ada bayangan kemana mereka pergi, Dek. Selama ini mama dan Caca juga nggak ada menyinggung suatu tempat uang ingin dikunjungi,"jawab Samudra santai.
"Mereka sudah dewasa, Nak. Jika mereka sudah bosan dan tak ada tujuan lagi, mereka pasti akan pulang,"sahut Samad santai.
Cici beralih menatap papanya yang sepertinya tak ada beban apapun sejak kepergian istrinya itu.
"Apa Papa tidak merasa kesepian sejak ditinggal mama?"
"Tidak! Papa sudah terbiasa, Nak. Meski mama kamu ada disamping papa, tapi papa selalu merasa sendiri. Jadi, untuk sekarang tidak ada bedanya yang papa rasa."
"Apa mama tidak pernah melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri?"tanya Cici penasaran.
"Mama kalian selalu mengeluh jika papa minta di layani, Nak. Semenjak kalian lahir, masih bisa dihitung jari mama kalian melayani papa didalam kamar,"jawab Samad tanpa mengalihkan perhatiannya pada tv.
"Tapi, kenapa mama selalu menasehati Sam jika Sam mengeluh tentang Nabila yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Pa?"
"Mama kalian itu tidak mau terlihat jelek dimata orang, apalagi anak-anaknya. Mama menasehatimu agar dia terlihat seperti istri yang paling baik,"jawab Samad tanpa beban.
"Tapi, kenapa Papa diam aja selama ini?"tanya Cici.
"Karena papa memikirkan kalian, jika papa memilih menyerah, akan seperti apa kalian? Papa tidak ingin pikiran kalian terbagi antara ingin ikut papa atau mama."
Note :
__ADS_1
Maaf untuk para readers, author terlambat update karena author kehabisan kuota😂 Mohon dimaafkan ya kakak, dan terima kasih untuk yang masih setia menantikan kisah selanjutnya dari Kuambil Kembali Milikku.