
Mereka tiba pukul 10 malam dengan menggunakan taksi online. Barang belanjaan di urus oleh Kaisar. Kecuali lemari, ranjang anak dan kursi makan anak dikirim oleh pihak toko besok siang.
"Mbak, ini taruh dimana?"
"Taruh di sofa aja dulu, Sar. Mbak mau cuci dulu baju-bajunya Raksa."
"Nak, urusan cucian biar ibu yang beresin. Kamu ada meeting besok, jadi sebaiknya kamu segera istirahat," titah ibu Ros.
"Tapi, Bu..."
"Tidak ada tapi-tapian, ibu dirumah nggak ada kerjaan. Bosan cuma duduk seharian."
"Huuff... Baiklah, Bu. Tapi jika Ibu lelah, maka Ibu harus istirahat. Kesehatan Ibu jauh lebih penting dari apapun."
"Ia, Ibu akan jaga kesehatan. Udah, sekarang bawa Raksa ke kamar dan kamu juga tidur," titah Ibu.
"Ia, Bu. Nyucinya jangan malam ini, Bu. Besok aja," ucap Nabila khawatir.
"Ia Nak. Ini Ibu cuma mau bawa kebelakang."
Nabila menuju kamarnya menggendong Raksa yang sudah tidur sejak dalam perjalanan pulang.
"Nak, maafin ibu. Ibu tidak bisa bertahan dengan ayah," gumam Nabila menatap anaknya.
Nabila bangkit dan membuka laptopnya, memeriksa ema1l yang dikirim asisten Galaksi. Dia mempelajari materi yang akan disampaikan didepan klien.
"Ini dia filenya," gumam Nabila saat menemukan yang dicarinya.
Sekitar 2 jam Nabila menatap layar. Matanya sudah mulai menyipit karna terlalu lama bertatapan dengan layar laptop dengan pencahayaan ruangan yang minim.
"Bismillah... Semoga meeting besok berjalan dengan lancar," gumam Nabila seraya menutup laptop.
Nabila merenggangkan otot-ototya yang terasa kaku, "Ya Allah, udah tengah malam. Sebaiknya aku tidur, semoga besok bisa bangun cepat," gumam Nabila merebahkan badannya didekat anaknya.
***
Keesokan paginya, kini Nabila sudah siap dan sebentar lagi akan berangkat. Tinggal menunggu t4ksi online yang di pesannya.
"Nak! Nggak berangkat bareng, Clara?" tanya ibu Ros.
"Nggak, Bu. Hari ini Nabila nggak langsung ke kantor."
"Loh? katanya ada meeting?"
"Meetingnya nggak di kantor, Bu. Ini Nabila mau langsung ke tempat meeting nya."
"Ooh yasudah. Kamu hati-hati, semoga lancar urusannya."
"Aamiin... Makasih ya, Bu. Jangan pernah bosan do'akan anak Ibu ini," ucap Nabila.
"Tanpa kamu bilang, ibu akan selalu mendoakan anak-anak ibu." Ibu Ros mengusap bahu Nabila.
"Mba! Itu taksinya udah datang," pekik Kaisar dari luar.
__ADS_1
"Iya... Bentar," sahut Nabila.
"Bu, Nabila pamit." Nabila meng3cup punggung tangan ibunya, "Assalamualaikum," lanjutnya.
"Iya, Nak. Waalaikumssalam."
Kurang lebih sejam perjalanan, Nabila segera masuk ke tempat yang sudah ditentukan oleh Galaksi. Sebuah ruangan vip yang sudah di reservasi oleh Ikhsan.
"Untung pak Galaksi belum tiba," gumam Nabila menghela nafas lega saat melihat ruangan masih terlihat sepi.
"Saya sudah datang, Ibu Nabila," ucap seseorang dari belakang Nabila.
"Eh, Pak Galaksi... Maaf," ucap Nabila menunduk sopan ketika sudah berhadapan dengan bosnya itu.
"Hmm," jawab Galaksi dingin.
"Silahkan duduk, Pak."
"Ibu Nabila sudah siap untuk presentasi hari ini?" tanya Galaksi tanpa ekpresi.
"InsyaAllah, saya siap, Pak," jawab Nabila mantap.
"Bagus. Pastikan tidak ada kesalahan sedikitpun."
"Siap, Pak."
"Duduk," titah Galaksi.
"I-iya, Pak," jawab Nabila.
***
Di tempat lain tepatnya di Pontianak. Satu keluarga yang harus mend3kam di dalam s3l tah4nan karna perbuatan mereka sendiri.
"Sam, pikirkan sesuatu agar kita bisa keluar dari sini," gerutu mama Samudra.
"Ma, bisa diam nggak? Sam lagi pusing," ucap Samudra kesal.
"Aku mau keluar, Mas. Aku nggak betah disini, nggak bisa shoping, hangout bareng teman-teman," gerutu Caca.
"Ca, Diam!" ucap papanya.
"Ini semua karna ide Mama, kita jadi berada disini. Seandainya Mama tidak membayar orang untuk mencul1k Raksa pasti hidup kita akan aman-aman aja sampai sekarang," tuding Samudra.
"Apa kamu bilang? Ini salah mama? Ini semua karna istri kamu yang pelit itu, Sam," pekik Sari.
"Tapi nggak sampai ngelakuin itu juga kan, Ma? Banyak cara lain," sahut Cici.
"Jadi sekarang kalian nyalahin mama? Ingat karna mama kalian bisa tinggal dirumah mewah itu tanpa mengeluarkan uang untuk membelinya," cibir Sari, mama Samudra.
"Pasti sekarang rumah itu sudah dikuasi oleh istri ma Sam," ucap Cici cemberut.
"Ini nggak bisa dibiarin, itu rumah kita. Nggak ada yang bisa tinggal itu tanpa seizin mama," pekik Sari.
__ADS_1
"Ma? Pelanin suara Mama. Ngomong-ngomong tentang rumah itu, apa Mas Sam mengambil sertifikatnya ditangan mbak Nabila?" tanya Cici.
"Nabila tidak memegang sertifikatnya, karna saat melakukan pembayaran waktu itu, nama kepemilikan belum diubah. Jadi, sertifikat masih ada di pemilik sebelumnya. "
"Terus setelah menipu mbak Nabila, Mas nggak segera mengurus sertifikatnya?" tanya Cici.
"Nggak, mana sempat mas berpikiran sampai ke sana. Pada saat itu mas hanya melakukan upaya agar Nabila tidak bertemu dengan orang itu."
"Tapi Mas Sam tetap gagal, karna mbak Nabila memegang sertifikat itu sekarang," ucap Cici kesal.
Mereka semua membulatkan mata karna terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Cici.
"Apa maksud mu, Ci?" tanya Sari.
"Darimana kamu tahu?" tanya Samudra.
"Istri Mas Sam sendiri yang bilang waktu dia datang kerumah mengambil Raksa," jawab Cici cuek.
"Astaga... Bagaimana bisa Nabila bisa melakukan ini? Kenapa dia bisa tau semuanya," ucap Samudra.
"Gimana ini, Sam? Itu rumah kita, Nabila tidak bisa mengambil rumah itu," ucap Sari meratapi nasibnya.
"Mau gimana lagi, itu memang rumah Nabila," jawab Samudra pasrah.
"Nggak bisa gitu, Sam. Selama beberapa tahun kita yang tinggal dirumah itu, itu artinya kita pemilik rumah itu," sahut Sari tak terima.
"Sudahlah, Sari. Itu memang bukan hak kita. Sekalipun kamu menuntut atas rumah itu, kita tidak akan menang," sahut suaminya pasrah.
"Tidak bisa! Saya akan menuntut Nabila," bantah Sari.
"Gimana caranya? Sedangkan kita semua ada di dalam sini, Ma!" pekik Caca.
"Mama punya kuasa untuk melakukan itu? Kalo bicara itu ya harus difikir-fikir dulu, Ma," sahut Cici kalem.
Sari menggelengkan kuat kepalanya, masih tak terima jika rumah kebanggannya yang sudah kembali pada pemilik sebenarnya.
"Kita harus pikirkan cara agar bisa keluar dari sini," guma Sari lalu berdiri memegang bes1.
"Pak, tolong lepasin saya. Saya mau pulang kerumah mewah saya!" pekik Sari.
"Diam!" bentak penjaga.
"Saya mau keluar, lepasin saya," teriak Sari.
"Ma! Udah dong, jangan teriak kayak gitu. Semua orang menatap kita, Ma," bisik Caca.
"Tidak, Ca. Mama tidak akan berhenti sebelum mereka membebaskan kita," bantah Sari.
"Mama, tenang dong, Ma. Nanti hukuman kita malah ditambah," ucap Cici.
Sari tidak mengubris ucapan Cici.
"Lepasin saya... Saya mau pulang. Wanita itu akan mengambil rumah saya," teriak Sari sudah seperti orang kes3t4nan.
__ADS_1
"Sari... Diam!" bentak suaminya membuat Sari terdiam.