Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Usaha baru


__ADS_3

"Assalamualaikum," salam Nabila berjalan menuju ruang favorit keluarganya, ditangannya plastik lumayan besar.


"Waalaikumssalam... Kamu udah pulang, Nak!" ucap ibu Ros mengulurkan tangannya pada Nabila.


"Iya, Bu," jawab Nabila lalu duduk di sofa.


"Kamu bawa apa, Nak?"


"Itu untuk cemilan, Bu. Buat stok, ada juga buat Raksa."


"Ooo... Yaudah, ibu susun di lemari dulu ya!" ucap ibu Ros seraya membawanya ke dapur.


"Mbak! Barang yang dibeli kemarin udah datang, Kaisar masukkan ke dalam kamar kosong yang di atas," ucap Kaisar.


"Udah datang ya, Dek? Makasih ya, udah mau repot-repot bantu mbak."


"Apasih, Mbak. Kaisar nggak pernah merasa direpotkan, itu sudah tugas Isar," jawab Kaisar kesal.


"Iya deh. Mbak ke kamar dulu ya! Adek jangan kemana-mana, setelah ini ada yang mau mbak diskusikan sama kamu," pinta Nabila.


"Diskusikan tentang apa, Mbak?" tanya Kaisar penasaran.


"Udah, entar mbak jelasin." Nabila berlalu menaiki anak tangga meninggalkan Kaisar yang menatapnya penuh tanya.


Tidak butuh waktu lama untuk Nabila menyelesaikan mandi dan berpakaian. Kini dia kembali bergabung dengan adik dan anaknya.


"Mbak, tadi katanya mau ada yang didiskusikan sama Isar?" tanya Kaisar tak sabar.


Nabila menghentikan gerakan tangannya yang memggerakkan mainan Raksa, "Oh itu, Dek. Gimana kalau kita buka usaha kecil-kecilan? Tapi mbak belum punya idenya," jawab Nabila seraya meletakkan mainan amaknya.


"Main sama nenek dulu ya, Nak?" ucap Nabila saat melihat ibunya sudah kembali dari dapur.


"Usaha, Mbak?"


"Iya, Sar. Kamu punya ide nggak?"


"Bentar, Mbak. Sebelum kita mulai, kita harus memikirkan target penjualan," ucap Kaisar.


"Mbak mau untuk semua kalangan, Sar. Karna kadang ada yang butuh barang tersebut tidak sanggup membeli karna harganya yang mahal."


"Mbak mau usaha makanan, pakaian atau apa?"


"Kalau makanan, mbak tidak punya waktu untuk mengolahnya, Sar. Kalau pakaian, gimana?"


"Itu juga bagus, Mbak. Mbak bisa buat desainnya, nggak? Dan yang paling penting penjualannya bagaimana? Mau online atau buka toko."


"Desain? Mbak ada beberapa gambar yang sudah mbak buat kalo punya waktu senggang. Untuk sementara kita jualan online aja dulu, Sar."


"Nah begitu bagus, kita buat yang itu aja, Mbak. tinggal kita cari tukang jahitnya aja," sahut Kaisar semangat.


"Nak, kalau cari tukang jahit, cari penjahit rumahan aja. Hitung-hitung menambah penghasilan mereka," sahut ibu Ros.


"Yang dibilang Ibu bener, Mbak," sahut Kaisar membenarkan.


"Berarti kita cari dulu tukang jahitnya. Isar! Kamu bisa bantu mbak cari 'kan?"

__ADS_1


"Bisa, Mbak. Besok Kaisar mulai cari, dekat dari sini saya liat ada pemukiman warga, siapa tau disana ada ibu-ibu yang ingin menyalurkan bakatnya."


"Oke, Sar. Kita bagi tugas aja, nanti hari minggu mbak cari bahan kain yang cocok," ucap Nabila.


"Tapi, Mbak! Sebelumnya kita harus cari bangunannya dulu untuk dijadikan gudang."


Nabila tampak berpikir, "Gimana kalo kita cari rumah aja sekalian, nggak perlu yang besar. Rumah itu kita jadikan gudang, dan kita jadikan rumah itu tempat produksi nya. Mbak mau produksi barang disatu tempat aja."


"Baiklah, biar Kaisar yang cari rumahnya. Kita cari yang dekat-dekat dari sini aja, biar gampang mengontrolnya," sahut Kaisar.


"Iya, Sar. Kalo butuh bilang langsung sama Mbak."


"Siap, Mbak. Tapi uangnya cukup kan, Mbak?"


"InsyaAllah ada."


"Bagaimana dengan pak Geri? Pasti jasanya juga dibayar, Mbak. Apalagi dua kasus yang ditangani."


"Mbak, sudah pisah untuk itu, Sar. Kan uang penjualan rumah lumayan banyak."


"Syukur lah, Mbak. Kalau misal nggak cukup, biar Isar yang tambah. Hitung-hitung sebagai tanam saham, hehehe," ucap Kaisar terkekeh.


"Nanti aja, Sar. Kita liat penjualan awalnya gimana."


"Yasudah, Mbak. Besok Isar akan mulai urus semuanya."


"Ibu doakan, usaha anak-anak ibu lancar, Aamiin," sahut ibu tersenyum.


"Aamiin... Terimakasih, Bu. Ini semua juga berkat doa Ibu yang tidak pernah putus," ucap Nabila merangkul ibunya.


"Aamiin..." Kaisar mengaminkan doa ibunya lalu ikut merangkulnya.


"Laksa juga mau dipeluk," sahut Raksa merentangkan tangannya.


"Sini, Nak. Nenek peluk," ucap ibu Ros memyambut cucunya yang masuk kedalam pelukannya.


"Laksa sayang, Nenek," ucap Raksa.


"Nenek juga sayang sama Raksa."


***


Pagi hari tiba, setelah melihat kakaknya berangkat ke kantor, Kaisar juga bersiap untuk keliling di kompleks dekat dari perumahan tempatnya tinggal.


"Bu! Kaisar berangkat sekarang. Doakan Isar, semoga hari ini dapat orangnya," pamit Kaisar pada ibunya.


"Iya, Nak. Kamu hati-hati," sahut ibu Ros.


Kaisar memilih berjalan menuju tujuannya. Karna menurutnya itu sangat dekat. Dari jauh Kaisar bisa melihat ada kumpulan ibu-ibu berjumlah 3 orang yang sedang menemani anak mereka bermain.


"Assalamualaikum... Permisi, Ibu-Ibu," salam dan sapa Kaisar.


"Waalaikumssalam, Mas," jawab mereka kompak.


"Perkenalkan saya Kaisar," ucap Kaisar memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


"Saya Tuti, ini Bu Salma dan yang ini Ibu Samsiah," ucap ibu Tuti seraya memperkenalkan teman-temannya.


"Salam kenal Bu Tuti, Bu Salma, Bu Samsiah," sapa Kaisar.


"Iya, Mas Kaisar. Duduk, Mas," jawab ibu Tuti.


"Iya, Bu. Terimakasih." Kaisar duduk di bangku kosong depan ibu-ibu.


"Ada apa, Mas? Sepertinya mas lagi mencari seseorang ya?" tanya ibu Salma


"Iya, Bu. Saya memang mencari orang, tapi bukan orang yang kenal," jawab Kaisar.


"Maksudnya gimana ya, Mas?" tanya ibu Tuti.


"Begini, Bu. Saya lagi mencari orang yang bisa menjahit, Bu."


"Jadi Mas Kaisar cari yang bisa menjahit?" tanya ibu Samsiah antusias.


"Iya, Bu," jawab Kaisar ramah.


"Saya mau, Mas. Tapi saya nggak punya mesin jahitnya, Mas," ucap ibu Samsiah pelan.


"Ibu tenang aja. Mesin jahit akan kami sediakan, jadi Ibu tinggal siapin waktunya untuk menjahit," ucap Kaisar.


"Saya mau, Mas. Saya juga sebenarnya lagi cari kerjaan buat bantu-bantu suami tambha penghasilan," jawab ibu Samsiah.


"Saya juga mau, Mas. Tapi saya nggak begitu mahir dalam menjahit," ucap ibu Tuti.


"Kalo Ibu Tuti mau, Ibu bisa bergabung. Ibu bisa belajar sama Ibu Samsiah. Ibu Samsiah bisa kan membimbing Ibu Tuti?"


"InsyaAllah... Bisa, Mas," jawab ibu Samsiah tersenyum.


"Apa Mas Kaisar hanya mencari yang untuk menjahit?" tanya ibu Salma pelan.


Kaisar berpikir sejenak, "Sepertinya saya juga butuh orang untuk membantu dalam penjualan, karna kakak saya tidak bisa setiap saat untuk menghandel semuanya," ucap Nabila.


"Saya juga mau, Mas," sahut ibu Salma antusias.


"Boleh, Bu. Kalau begitu saya minta nomor Ibu-Ibu, Jika semua siap saya akan menghubungi kembali," ucap Kaisar seraya menyerahkan ponselnya pada ibu-ibu untuk memasukkan nomor masing-masing.


"Ini, Mas. Kami sudah menyimpan nomor dengan nama masing-masing," sahut ibu Tuti memgembalikan hpnya.


"Maaf, Mas Kaisar. Saya mau nanya," ucap ibu Salma.


"Silahkan, Bu."


"Apa boleh kami bawa anak-anak saat kerja?" tanya ibu Salma.


"Boleh, Bu. Nanti akan kami sediakan tempat bermain khusus anak-anak," jawab Kaisar.


"Alhamdulillah... Terimakasih, Mas Kaisar," sahut ibu Samsiah.


"Sama-sama, Bu. Kalo begitu saya pamit dulu, mau lanjut persiapan yang lainnya," pamit Kaisar.


"Iya, Mas." jawab ibu-ibu kompak.

__ADS_1


__ADS_2