
Raksa sudah kelihatan segar dari beberapa hari sebelumya. Suster sudah melepas selang 1nfus yang terpasang ditangan kanannya.
"Siap untuk pulang?"tanya Wahyu pada Raksa.
"Ciap, Papa,"jawan Raksa semangat.
"Oke jagoan. sekarang kita pulang,"ucap Wahyu, lalu menggendong Raksa.
Nabila tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk melarang Wahyu menggendong anaknya. Ia hanya mengikuti langkah kaki pria yang sedang menggendong anaknya itu.
"Jalan disamping saya, Nabila,"uca Wahyu tegas.
"Eh i-iya, Pak."
"Kamu bukan bawahan saya, jadi tidak sepantasnya kamu berjalan dibelakang saya seperti ini,"ucap Wahyu mengingatkan.
"I-iya, Pak."
"Jangan pernah merasa rendah diri,"bisik Wahyu ketika Nabila sudah berjalan disampingnya.
Hanya anggukan yang diberikan oleh Nabila sebagai jawaban dari perkataan Wahyu.
"Apa Kaisar benar-benar menunggu dimobil?"tanya Wahyu berbasa-basi.
"Sepertinya begitu, Pak. Karna dari Kaisar tidak kembali ke kamar lagi."
Suasana hening menyelimuti mereka dalam perjalanan menuju parkiran rumah sakit. Wahyu berpikir k3ras cara untuk mencairkan suasana yang menjadi gak canggung sejak memaski lift yang akan membawanya ke lantai 1.
"Saya masih menunggu jawaban kamu, Nabila,"ucap Wahyu memecah keheningan di dalam lift.
Nabila menghela nafas panjang. "Besok datangah ke rumah, saya akan memberikan jawabannya besok."
"Baik! Saya kan datng sesuai keinginan kamu,"jawab Wahyu antusias.
"Semoga Pak Wahyu tiidak kecewa dengan jawaban saya,"ucap Nabila pelan namun masih bisa didengar oleh Wahyu.
Wahyu berusaha menenangkan hatinya yang menjadi gelisah setelah mendengar ucapan Nabila.
"Apapun jawaban kamu, saya akan menerimanya dengan ikhlas,"ucaap Wahyu tersenyum.
Sementara itu di parikiran, Kaisar yang lelah menunggu terus saja menggerutu membuat Clara kesal mendengarnya.
"Hentikan ocehan mu ittu, Kaisar. Sakit kepala aku mendengarkan suaramu yang tidak ada merdu-merdunya,"ucap Clara kesal.
"Lah? Saya bukan penyanyi, jadi wajar saja suara saya tidak merdu. lagian kamu kenapa sensian amat sih?"
Clara mendecak kesal. "Tck, ngeselin kamu, Sar."
"Kamu kenapa sih? PMS?"tanya Kaisar.
"Iya! Hari pertama,"jawab Clara cuek.
"Pantesan hari ini seperti macan kehilangan anaknya,"gumam Kaisar.
"Apa kamu bilang?"tanya Clara mendelik.
"Nggak ada. Kamu salah dengar kali." Kaisar dengan cepat mengelak.
Clara mendengus. "Awas kamu, sara,"gerutu Clara.
Dari kejauhan Nabila dan Wahyu menatap heran pada kedua anak manusia yang tampaknya sedang berdebat.
"Mereka kenapa?"
"Nggak tahu, Pak. Nggak biasanya mereka seperti itu jika bertemu,"jawab Nabila.
__ADS_1
"Apa mereka pacaran?"
Nabila menggekeng. "Saya tidak tahu, Pak. Jika memang mereka pacaran, saya akan merestui. Bahkan mendukung mereka jika ingin segera melanjutkan ke jenjang yang lebih serius."
Wahyu beralih menatap Nabila. "Kamu merestui hubungan mereka?"
"Kenapa tidak? Tdak ada alasan untuk menolak hubungan mereka, Pak,"jawab Nabila santai.
"Lalu kamu bagaimana?"
Nabila tersenyum misterius. "Untuk urusan saya, biar menjadi rahasia Allah."
Clara yang menoleh ke kanan dan mendapati orang yang ditunggunya sudah datang. "Nah itu meraka."
"Mana?"tanya Kaisar.
"Liat disebelah kanan."
"Akhirnya. Tapi, kenapa mereka malah diam disana?"
"Kepo banget kamu, Sar,"ucap Clara sewot.
Kaisar mendelik. "Sewot banget kamu, Sar."
Mereka terus berdebat sampai tidak menyadari jika Nabila dan Wahyu sudah berdiri didekat mereka.
"Khmm..." Nabila berdehem.
"Kenapa, Mbak?"tanya Kaisar.
"Nggak apa-apa. Kalau kalian mau lanjut berdebat silahkan, mbak dan Pak Wahyu mau pulang duluan,"ucap Nabila santai.
"Yaa jangan gitu dong, Mbak. Kita kesini mau jemput Kalian, masa' kita ditinggal gitu aja,"ucap Kaisar tak terima.
"Kalau begitu ayo cepat masuk ke mobil, kaki mbak udah pegal dari tadi berdiri,"titah Nabila.
Sesuai kesepakatan dihari sebelumnya. Wahyu kini sudah duduk diruang tamu rumah Nabila. Hari yang bertepatan dengan tanggal merah, perusahaan meliburkan karyawannya ketika merah tanggal.
"Nak Wahyu tunggu sebentar ya... Nabila sedang buat minum,"ucap ibu Ros.
"Iya, Bu,"jawab Wahyu.
Tidak lama kemudian, Nabila datang dengan memegang nampan ditangannya.
"Silahkan diminum, Pak,"ucap Nabila.
"Saya tinggal ke dalam dulu ya, Nak Wahyu,"pamit ibu Ros, ia tahu jika anaknya dan Wahyu akan berbicara serius.
Nabila berjalan ke arah pintu dan membuka lebar pintu, itu ia lakukan untuk menghindari fitnah.
"Makasih untuk jamuannya, Nabila,"ucap Wahyu berbasa-basi.
"Iya, Pak,"jawab Nabila seraya menunduk.
"Teh yang kamu buat tidak kalah enaknya dari buatan ibu,"puji Wahyu membuat Nabila tersipu.
"Pak Wahyu terlalu berlebihan. Itu juga teh resep dari ibu, Pak,"sahut Nabila pelan.
"Tapi saya serius, ini tidak kalah enak dari buatan ibu. Lain kali jika saya ingin minum teh, apa kamu mau buatkan lagi?"
Nabila mengangguk pelan. "Boleh, Pak."
Wahyu tersenyun puas. "Saya akan menagihnya suatu hari nanti,"ucapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Iya, Pak."
__ADS_1
"Raksa mana?"
"Raksa lagi main dikamar, Pak."
"Gimama keadaannya sekarang?"
"Alhamdulillah jauh lebih baik dari kemarin, Pak."
"Syukurlah. Lain kali kita harus lebih memperhatikan lingkungan tempat bermain Raksa. Agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,"ucap Wahyu.
"Iya, Pak. Jika Raksa sudah betul-betul sehat saya akan memanggil jasa fogging ke rumah."
Sedikit penjelasan tentang Fogging atau pengasapan adalah tindakan pengasapan dengan bahan insektisida yang bertujuan untuk membun*h nyamuk khususnya pembawa (vektor) penyakit Deman Berd4rah Dengue (DBD).
"Hari minggu ini bawa semua orang ke luar. Saya yang akan bertanggung jawab untuk semuanya,"titah Wahyu.
Nabila mengangguk setuju. "Baiklah, Pak. Kebetulan hari minggu saya mau ke tempat produksi, jadi saya akan mengajak mereka kesana."
Wahyu merasa senang karna kali ini Nabila tidak lagi membantah apa yang diinginkannya.
Untuk sesaat keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Nabila yang bingung bagaimana cara menyampaikan jawabannya pada Wahyu, sedangkan Wahyu bingung bagaimana cara memulai pembicaraan mengenai pinangannya.
Suara telapak sepatu terdengar dari arah teras mengalihkan perhatian Nabila dan Wahyu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam,"jawab Nabila dan Wahyu.
"Darimana, Sar?"tanya Wahyu.
"Jalan-jalan, Mas. Lagi suntuk, di rumah pikiran lari kepekerjaan terus,"jawab Kaisar terkekeh.
"Jalan sama siapa?"tanya Wahyu menaikkan alisnya kiri kanan bergantian.
Kaisar jadi salah tingkah ditanya seperti itu. "Anu, Mas. Sama itu..."jawab Kaisar tidak jelas.
"Anu apa, Sar? Kamu jalan sama pacar ya?"goda Wahyu.
"Eh bukan, Mas. Bukan pacar! Tadi jalan sama teman, iya teman,"jawab Kaisar.
"Udahlah, Sar. Kalau sama pacar juga nggak apa-apa. Tapi satu yang harus kamu ingat, jangan pernah merusak anak perempuan orang,"ucap Nabila tegas mengingatkan adik laki-lakinya.
"InsyaAllah Kaisar akan menjaganya, Mbak,"sahut Kaisar tanpa sadar.
"Tuh kan, Kaisar beneran udah punya pacar,"ucap Wahyu tertawa.
Kaisar mengusap tengkuknya karna merasa salah tingkah digoda oleh calon iparnya.
"Shuut... Mas, Mbak, jangan bilang sama ibu ya!"ucap Kaisar memohon.
"Memangnya kenapa kalau ibu tahu, Sar?"tanya Nabila.
"Nggak apa-apa, Mbak. Biar nanti Isar sendiri yang bilang sama ibu jika waktunya sudah tiba."
"Oke! Mbak akan diam!"
"Makasih, Mbak."
"Iya sama-sama,"jawav Nabila cuek.
"Ngomong-ngomong ini Mas Wahyu kesini mau ketemu Raksa?"
"Tidak, Sar! Mas mau ketemu Mbakmu."
"Ooh sama Mbak toh. Yaudah, Isar mau ke dalam dulu. Kalian lanjutkan aja."
__ADS_1
Setelah itu Kaisar berlalu begitu saja tanpa melihat wajah tegang kakaknya.