
Keesokan paginya, sesuai rencana sebelumnya. Wahyu mengaja Nabila dan anak-anaknya untuk melihat rumah yang akan mereka tempati kedepannya.
"Rumahnya jauh dari sini nggak, Mas?"tanya Nabila ketika mobil melaju meninggalkan kompleks perumahan Nabila.
"Sekitar 30 menitan kalau lagi nggak macet, Sayang,"jawab Wahyu.
Mobil memasuki komplek perumahan yang akan menjadi tempat tinggal Nabila dan keluarga kecilnya.
"Rumahnya yang mana, Mas?"tanya Nabila celingukan mencari rumah yang yang dipilihnya melalui gambar di ponsel suaminya.
"Rumahnya yang ini, Sayang. Disini termasuk hunian yang sederhana, namun nyaman untuk ditinggali, Sayang,"jawab Wahyu menunjuk bangunan dua lantai yang lumayan besar.
Nabila terperangah melihat bangunan yang dimaksud suaminya rumah sederhana.
"I-ini yang kamu bilang sederhana, Mas?"tanya Nabila tergagap.
Wahyu mengangguk mantap, ia sangat yakin rumah yang dipilihnya sangat sederhana.
Bahu Nabila merosot, impiannya tinggal di rumah minimalis dan sederhana sirna ketika melihat bangunan pilihan suaminya.
"Ini bukan sederhana lagi, Mas,"gumam Nabila yang masih bisa didengar oleh suami dan anaknya.
Galaksi yang duduk di kursi belakang terkekeh mendengar gumaman mamanya. Ia merasa sangat terhibur dengan ekspresi yang ditampilkan oleh Nabila.
"Pa, kayaknya rumah versi sederhana Papa dengan Mama berbeda deh,"ucap Galaksi disela tawanya.
"Hahaha...."
Raksa yang melihat kakaknya tertawa pun ikut tertawa, meski tidak tahu dimana letak kelucuannya.
Kini Raksa yang menjadi pusat perhatian keluarganya. Raksa terus tertawa melihat danal mendengar keluarganya tertawa, padahal mereka tertawa karena menertawakan Raksa.
"Gokil juga boc1l satu ini,"ucap Galaksi.
"Nak, tadi kamu bilang versi papa dan Mama beda. Beda apanya?"tanya Wahyu.
"Oh itu, Pa. Dari yang aku liat, Sederhana menurut Mama rumah minimalis, luasnya lebih kecil dari rumah yang ada di depan kita,"jawab Galaksi.
Nabila tersenyum, ia sadar meski suaminya dulunya juga berasal dari keluarga sederhana, namun itu sudah berpuluh tahun lamanya. Mungkin saja Wahyu sudah lupa yang namanya rumah minimalis.
"Kamu yakin mau beli rumah ini, Mas?"tanya Nabila mengalah, mengikuti keingan suaminya.
"Kalau kamu suka, mas langsung beli rumah ini, Sayang."
"Kita liat dulu dalamnya, Mas,"ucap Nabila.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Memang itu tujuan awal kita kesini kan."
Galaksi lebih dulu keluar mobil dengan mengajak Raksa. Ia sudah tidak sabar melihat rumah yang akan ia tinggali beserta keluarganya yang formasinya sudah lengkap.
Walaupun Galaksi pernah mempimpin perusahaan, dihadapan keluarganya Galaksi tetaplah seorang anak. Sisi sebenarnya dari Galaksi akan diperlihatkan jika berhadapan langsung dengan keluarganya.
"Kamu suka rumahnya?"tanya Nabila yang sudah berdiri di dekat Galaksi.
"Sangat suka,"jawab Galaksi tersenyum.
"Ayo kita masuk, developer nya sudah menunggu kita didalam,"ajak Wahyu.
"Ayo, Mas,"sambut Nabila.
Pemandangan pertama yang dilihat ketika menginjakkan kaki di teras rumah terdapat sebuah taman kecil yang di tumbuhi beberapa tanaman bonsai yang sangat elegen.
"Kamu suka tamannya?"tanya Wahyu berbinar.
Anggukan antusias yang Nabila berikan pada suaminya sebagai jawaban. Ia tidak bisa berkata-kata saking terpanahnya dengan taman tersebut.
"Adek bisa main di taman kosong disamping tanaman itu, Ma,"sahut Galaksi menunjuk sebuah lahan kosong yang sudah ditumbuhi rerumputan hijau.
"Iya, Nak. Kalau kayak gini, mama nggak khawatir lagi dengan tempat bermain adek,"timpal Nabila.
"Jadi kamu setuju kalau mas beli rumah ini?"tanya Wahyu.
"Makasih kamu sudah mau mengerti Galaksi, Sayang."
"Apaan sih, Mas. Gala sekarang juga sudah jadi anakku, selagi dia belum menikah tentu itu akan menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk memastikan kenyamanannya,"jawab Nabila tersenyum.
Cup!
Wahyu meng3cup punggung tangan istrinya, ia tersenyum lalu menggenggam dengan lembut tangan istrinya.
Mereka melangkahkan kaki melewati pintu utama yang terbuka menandakan ada seseorang yang sudah menunggu mereka didalam.
"Maaf membuat semuanya menunggu,"ucap Wahyu pada beberapa orang yang berada dalam ruang tengah.
"Oh Pak Wahyu, tidak masalah, Pak. Kami juga baru tiba,"ucap seorang wanita dengan pakaian formal.
"Kita langsung tanda tangan persetujuan pembelian saja,"ucap Wahyu to the point.
"Apa Pak Wahyu dan istri tidak ingin melihat-lihat dulu?"
"Tidak, saya sudah sangat puas dengan melihat dari sini saja,"jawab Wahyu.
__ADS_1
"Baiklah, Pak. Kebetulan berkas akta jual belinya juga sudah saya siapkan, tinggal membubuhkan tanda tangan Pak Wahyu."
"Mana, biar istri saya menandatangani berkasnya,"ucap Wahyu santai, sementara Nabila melongo tak percaya dengan ucapan suaminya.
"Kenapa jadi aku, Mas?"bisik Nabila.
"Karena kamu nama kamu yang akan tertulis dalam akta kepemilikan, Sayang,"jawab Wahyu ikut berbisik.
Nabila tidak habis pikir dengan pola pikir suaminya, ia ingin menolak tapi takut suaminya tersinggung. Pasrah, hanya itu yang bisa Nabila lakukan saat ini.
Ketika Wahyu dan Nabila tengah sibuk bernego dan tanda tangan berkas, beda haknya dengn Galaksi yang mengajak adiknya bermain ditaman depan rumah.
"Dek, nanti kita bisa main disini setiap hari,"ucap Wahyu mengajak adiknya mengobrol, untungnya Raksa juga sudah mulai nyambung ketika diajak ngobrol.
"Benelan, Kak?"tanya Raksa dengan suara cadelnya.
"Iya, Dek. Mungkin besok kita mulai tinggal di rumah ini,"jawab Galaksi semangat.
"Holee... Nanti Aksa mau cali teman balu disini, Kak,"sorak Raksa.
"Tapi nanti kalau dapat teman baru, jangan lupakan kakak ya?"goda Galaksi.
"Ciap, Bos,"jawab Raksa memberi hormat menirukan seorang abdi negera memberi hormat pada atasannya.
"Hahaha, sepertinya kamu berbakat untuk jadi abdi negara, Dek,"ucap Galaksi tertawa.
"Hahaha, aku mau jadi tentala, Kak,"sahut Raksa seperti mengerti ucapan kakaknya.
"Waah, cita-cita yang sangat bagus, Dek. Tapi lebih bagus lagi kalau nanti kamu yang memimpin perusahaan, kakak malas berhadapan dengan tumpukan berkas,"ucap Galaksi yang jelas Raksa tidak mengerti maksud dari perkataannya.
Setelah itu Galaksi mengajak Raksa bermain bola yang kebetulan ada bola kecil ditaman tersebut. Tigapuluh menit berlalu, Nabila dan Wahyu, serta orang-orang developer perumahan keluar dari rumah dan saling berjabat tangan.
"Terima kasih atas kerja samanya, Ibu Nabila dan Pak Wahyu. Ini saya serahkan kunci rumahnya, dan untuk akta kepemilikan akan kami serahkan beberapa hari lagi."
"Saya terimah kunci rumah ya, Bu. Kami menunggu aktanya, mungkin besok kami sudah mulai tinggal di rumah ini,"jawab Nabila menerima kunci tersebut dengan senang hati.
Terlihat pihak developer perumahan memyerahkan kunci rumah pada Nabila sebagai pemilik sah rumah tersebut.
Perumahan tersebut bisa dibilang kompleks perumahan yang masih baru, terbukti baru beberapa yang menghuni rumah dikompleks tersebut.
Pihak develiper perumahan sudah berlalu meninggalkan rumah yang baru saja resmi menjadi milik Nabila. Sementara Nabila serta suami dan anak-anaknya masih bertahan disana.
"Kita hanya mengambil beberapa pakaian aja. Sayang. Untik furniturenya sudah lengkap, tapi kalau kamu nggak suka, kita bisa menggantinya sesuai yang kamu inginka,"ucap Wahyu merangkul pinggang istrinya.
"Tidak, Mas! Semuanya sudah pas, aku suka furniture yang sudah ada, hanya perlu di isi dengan foto-foto dan barang-barang pelengkap lainnya. Tapi itu bisa nyicil belinya, nggak harus beli sekaligus. Tapi kayaknya yang penting sekarang, kita harus beli alat masak dan makan deh, Mas,"ucap Nabila.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Itu yang sangat penting, kalau kamu mau kita bisa ke mall sekarang,"sahut Wahyu.
"Boleh tuh, Mas. Ayo kita berangkat sekarang,"timpal Nabila.