
"Ada perlu apa dia kemari, Bu?"bisik Nabila pada ibunya.
Ibu Ros menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Ibu juga nggak tahu, Nak."
Nabila melirik Raksa yang telah kembali sibuk dengan mainannya. Nabila menghela nafas panjang berharap bisa menghilangkan rasa tidak enak dihatinya.
"Oke Nabila. Tidak ada yang mengundangnya kemari, dia datang dengan sendirinya. Jadi jangan pernah merasa tidak enak dengan kedatangannya," bisik Nabila dalam hatinya.
Seorang pria turun dari mobil menampilkan senyumnya saat melihat tuan rumah yang dia kunjungi berada didepannya, seperti memang sedang menanti kedatangannya.
"Astaga... Mainan Raksa mana?"gumamnya menatap tangannya yang kosong. Kemudian kembali membuka pintu mobil untuk mengambil barang yang dimaksud.
"Assalamualaikum..."Salamnya.
"Eh... Waalaikumssalam, Pak Wahyu,"jawab Nabila kikuk.
"Waalaikumssalam, Nak Wahyu,"jawab ibu Ros tersenyum.
"Maaf, saya datang tanpa pemberitahuan dan mungkin juga jangan waktunya terlalu dekat. Tapi saya sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Raksa... Hehehe,"ujar Wahyu sungkan.
"Tidak pa-pa, Nak. Nak Wahyu bisa datang kapan aja kesini jika ingin bertemu Raksa,"sahut ibu Ros.
"Terima kasih ya, Bu. Ini saya juga bawa cemilan buat keluarga,"ucap Wahyu seraya mengulurkan paperbag ke arah ibu Ros.
Sementara itu Nabila terdiam mem4tung menatap tak percaya pada Wahyu.
"Boleh saya main dengan Raksa?"ujar Wahyu.
"Boleh, Nak. Main aja."
Wahyu tersenyum, lalu menuju ke arah Raksa yang sedang bermain seorang diri diteras rumah.
"Hy, Raksa..."sapa Wahyu.
Mendengar namanya dipanggil, Raksa mengalihkan fokusnya dari mainannya, "Papa..."teriak Raksa melompat-lompat.
"Iya, Nak. Ini papa,"jawab Wahyu, "Sini peluk papa..."ujar Wahyu merenyangkan tangannya.
Hati Nabila meringis melihat anaknya mulai dekat dengan pria Lain. Sepertinya Raksa mulai sedikit melupakan memori tentang ayah kandungnya.
Nabila menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. Ibu Ros mengerti perasaan anaknya mengusap pundaknya menenangkan.
"Kamu ke kamar aja, Nak. Biar ibu yang menemani mereka disini."
"Iya, Bu. Nabila mau langsung ke kamar aja."
Saat melintas didepan anaknya, Nabilla dipanggol oleh anaknya, "Ibu..."
Nabila menghentikan langkahnya dan menoleh, "Iya, Nak. Kenapa?"
"Papa datang lagi,"jawab Raksa antusias.
"Iya. Papa datang mau ngajak Raksa main, jadi bersenang-senanglah dengan Papa. Mama mau ke kamar dulu,"ucap Nabila lembut.
Raksa mengangguk kembali memainkan robot-robotannya.
"Pak Wahyu? Maaf, Saya tinggal ke dalam dulu!"ujar Nabila sungkan.
__ADS_1
"Iya. Kamu masuk aja,"jawab Wahyu ramah.
Nabila menghempaskan badannya dipinggir kasurnya, mencari ponselnya yang berbunyi.
^^^{Hallo... Assalamualaikum, Sar.}^^^
{Waalaikummsalam. Mbak udah dirumah?}
^^^{Iya, Sar. Kenapa?}^^^
{Mbak sibuk?}
^^^{Mbak lagi santai. Kenapa? Apa ada hal penting?}^^^
{Ini temannya pak Ahmad yang bisa pasang kedap suara udah datang.}
^^^{Kapan pemasangannya dimulai?}^^^
{Katanya sih besok bisa, Mbak. Tapi baiknya kita kasi DP sebagai tanda jadi, Mbak.}
^^^{Iya, kamu benar, Sar. Kamu minta nomor rek3ningnya, biar mbak bisa langsung transfer. Biaya keseluruhannya berapa dan berapa uang dp yang harus dibayar kamu kirim saja lewat chat.}^^^
{Siap, mbak. Kalau begitu aku m4tikan sekarang. Aku langsung kirim no.reknya.}
^^^{Oke. Mbak tunggu!}^^^
{Assalamualaikum, mbak.}
^^^{Waalaikumssalam.}^^^
Nabila menunggu beberapa menit chat dari Kaisar. Chat yang dikirim lengkap, sesuai yang dimau oleh Nabila.
"Iya..."sahut Nabila dari dalam kamarnya.
"Mbak, ini Clara,"ucap Clara dibalik pintu.
"Masuk aja, Ra. Pintunya nggak di kunci kok."
Cklek
"Mbak, kok nggak kebawa nemenin pak Wahyu?"
"Bukannya saya nggak mau, Ra. Memang seharusnya ada tamu tuan rumah menemani, tapi saya tidak bisa karna status saya saat ini dalam masa idah. Walaupun tak ada niat apapun dari pak Wahyu tapi sebaiknya saya sedikit menjauh selama masa idah."
"Saya mengerti, Mbak. Jangan dipaksakan, sudah seharusnya Mbak menjaga marwah dan kehormatan Mbak sebagai seoramg wanita."
"Posisi mereka dimana sekarang?"
"Siapa, Mbak?"tanya Clara polos.
"Ck... Raksa dan pak Wahyu."
Clara tersenyum j4hil menggoda Nabila, "Mbak, kepo ya?"
"Nggak kepo. Cuma pengen tahu aja,"sahut Nabila.
"Mereka lagi diruang tv, lagi main lego."
__ADS_1
"Ooh... Ibu?"
"Ibu didapur, buati minuman dan cemilan buat pak Wahyu."
"Oo... Gimana tadi dikantor? Kok kamu jam segini baru nyampe rumah?"
"Nggak ada yang spesial, Mbak..."jawab Clara saat teringat sesuatu dia men3puk kencang pah4 Nabila.
"Aduuh... Sakit, Ra. Kamu kenapa muk*l saya?"
"Saya ini mau marah-marah sama kamu, Mbak. Saya lama pulang karna nungguin, Mbak. Tau-taunya udah ada dirumah aja, saya ditinggal gitu aja,"ucap Clara cemberut.
"Astaga... Mbak belum ada chat kamu ya? Maaf ya, mbak lupa ngabarin kamu,"jawab Nabila cengengesan.
"Lagian Mbak dari mana sih?"
"Saya tadi meeting diluar sama pak Galaksi, eh pas kelar meetingnya pak Galaksi langsung ngarahin mobil ke arah rumah."
"Dasar memang pak Galaksi ya... Untung dia bos di kantor, seandainya bawahan, udah gue b3jek-b3j3k kepalanya."
"Ini sepenuhnya bukan salah pak Galaksi, tapi saya juga. Saya lupa ngabarin kamu, seharusnya saat dijalan tadi saya ngabarin."
"Udahlah. Kita lupain aja masalah tadi. Mbak, kita ke rumah yang baru yuk! Saya penasaran liat orang ngechat tembok,"ajak Clara cengengesan.
"Ngapain penasaran sama hal begituan, Ra. Nanti aja kita kesananya, sekalian beres-beresin dan menata barang."
"Mbak Nabila nggak seru. Saya suka liat tukang ngoles-ngoles chat ketembok, Mbak,"sahut Clara.
"Yaudah, kamu ganti baju dulu sana. Kita sekalian bawain makan malam, kata Kaisar, pak Ahmad mau lanjut kerja sampai malam,"ujar Nabila.
"Oke, siap. Saya kesebelah dulu mau ganti baju,"ucap Clara seraya berlalu kelusr dari kamar Nabila.
Sementara itu diruang tv, Wahyu sedang mengajari Raksa cara membuat robot-robotan dari lego.
"Nah itu Raksa sudah mulai bisa. Ayo belajar lagi, Nak,"ujar Wahyu yang melihat Raksa mulai bisa menyusun lego membentuk robot.
Raksa menghentikan gerakan tangannya, "Pa? Boleh Aksa tidul sama Papa malam ini?"tanga Raksa penuh semangat.
Wahyu mel0tot mendengar permintaan Raksa, "Tanya sama ibu dulu ya, Nak. Papa tidak bisa tidur sama Raksa sebelum ibu kasi ijin,"jawab Wahyu lembut.
Semangat Raksa yang sempat membar4 menjadi surut mendengar jawaban Wahyu, "Nanti ibu malah sama Aksa, Pa."
"Nak, dengerin papa. Apa selama ini ibu pernah marah sama Raksa?"tanya Wahyu lembut dijawab gelengan kepala oleh Raksa, "Kalau begitu kenapa harus takut? Ibu tidak mungkin bisa marah sama Raksa. Raksa anak kesayangannya ibu,"ucap Wahyu merayu Raksa agar tidak bersedih.
Raksa kembali tersenyum setelah diray oleh Wahyu, "Nanti bantu Aksa bilang sama ibu ya, Pa?"
"Iya, Nak. Ayo kita lanjut mainnya, mau buat robot lagi?"
"No, Papa. Aksa mau main kuda-kuda,"jawab Raksa.
Wahyu terkekeh, "Yaudah, ayo naik dipunggung papa. Nanti kits beli kuda-kuda mainan yang bisa Raksa tunggangi,"ucap Wahyu.
"Siap, Papa. Holeee nanti beli mainan kuda besal ya, Pa?"tanya Raksa seraya merangkul leher Wahyu dari belakang.
"Oke siap. Sekarang ayo pegangan yang kuat, kudanya sudah mulai jalan,"ucap Wahyu.
Nabila dan Clara yang berada diujung anak tangga memperhatikan dua laki-laki beda usia yang sedang asyik bermain dan bercanda bersama.
__ADS_1
"Mbak, kalau diliat-liat mereka sudah seperti anak dan ayah sungguhan,"bisik Clara.
"Jangan sembarang bicara, Ra. Kalau pak Wahyu sama pak Galaksi baru diliat seperti anak dan ayah karna memang itu kenyataannya. Kalau dengan Raksa jauh, Ra."