Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Perubahan


__ADS_3

Hari ini Nabila libur, ia memilih untuk menghabiskan waktu liburnya dirumah saja dan menonton drakor favoritnya. Menurutnya nonton drakor sebagai obat kala pikiran sedang kacau.


Sudah hampir sebulan Nabila bekerja di Jakarta dan sampai saat ini belum pernah ada kabar dari suaminya sejak terakhir mereka berkomunikasi. Nabila heran dan khawatir ada apa dengan suaminya.


"Ada apa dengan mas Sam, hampir sebulan ini sangat susah menghubunginya. Apa sesibuk itu dia di cafe sampai menjawab panggilanku saja tidak sempat bahkan sekedar membalas pesanku saja tidak," gumam Nabila yang sedang bermalas-malasan diruang tv.


"Coba tanya ibu dee."


Nabila menghubungi ibunya agar rasa penasarannya akan suaminya terjawab, ia berharap ibunya tahu sesuatu.


"Hallo... Assalamualaikum, bu."


"Iya waalaikumssalam, apa kabar, nak?"


"Alhamdulillah baik, bu. Ibu sehat?"


"Alhamdulillah ibu sehat, nak. Ada apa nak sepertinya kamu ingin menanyakan sesuatu?" tebak ibu Ros.


Ragu Nabila bertanya, "Mmm... Bu, apa mas Sam sering menemui Raksa?"


"Oh masalah itu, cuma sekali Sam kesini ngajak main Raksa," jawab ibu.


"Sekali bu? Apa sesibuk itu mas Sam sampai menengok anaknya saja tidak ada waktu?"


"Entahlah m, nak. Tapi, Sam pernah bilang akan jarang kemari karna kedepannya akan sangat sibuk."


"Hmm... Baiklah, Bu. Mungkin mas Sam ingin lebih fokus untuk mengembangkan cafe agar omsetnya kembali naik."


"Iya nak ibu mengerti."


"Yasudah lah bu, eh Kaisar mana bu?"


"Tuh baru datang langsung main sama Raksa," ucap ibu Ros sambil mengarahkan kamera ke Raksa dan Kaisar yang sedang bermain kuda-kuda dengan Kaisar yang menjadi kudanya.


"Kaisar pelan-pelan jalannya, awas Raksa jatuh itu."


"Tenang aja mba, Raksa aman main sama aku," ucap Kaisar tanpa menoleh kamera hp.


"Hmmm yasudahlah, lagian mba percaya kalau Raksa akan aman sama omnya."


"Mba gimana rasanya kerja dikantor besar?" tanya Kaisar penasaran.


"Rasanya mba sampai masih tidak percaya apalagi dengan posisi sebagai sekretaris CEO perusahaan, rasanya nano-nano pokoknya, Hahahaha..."


"Mba nyaman?" tanya Kaisar serius dengan posisi saat ini duduk disofa dan Raksa dipangkuannya.


"Alhamdulillah, nyaman."


"Terus mba kekantor naik taksi setiap hari? Hari pertama kekantor mba tidak susahkan cari alamatnya."


Nabila tersenyum, "Mba naik mobil dek sama teman, kebetulan dia juga yang jemput mba dibandara dan rumah kami juga sebelahan."


"Alhamdulillah kalau gitu, mbak."

__ADS_1


"Iya dek, seandainya nggk ada Clara. Mba nggk tau lagi bakalan kayak gimana disini."


"Oh jadi nama teman mba itu Clara? Cantik nggk mba? Hahaha..."


"Iya cantik, manis dan imut hahahaha... Raksa ,om Isar udah mulai cari-cari tante buat kamu, nak."


"Apaan sih, mbak. Kan Kaisar cuma nanya-nanya aja," ucap Kaisar cemberut.


"Beneran juga nggk apa-apa kok dek, mba dukung kalau sama dia mah."


"Jangan ngaco deh, Mba. Kaisar belum ada kepikiran sampai kesana."


"Terus apa yang kamu pikirin sekarang?"


"Kerja, mbak. Terus duitnya ditabung buat Umroh ibu." ucapan Kaisar membuat Nabila terharu, begitu sayang Kaisar ke ibunya.


"Mba bangga sama kamu, dek."


"Kaisar juga banggga punya, Mbak."


"Ibu..ibu," panggil Raksa merusak moment langkah yang terjadi antara kakak dan adik😂


"Iya nak, kenapa?" tanya Nabila lembut.


"Aksa lindu ibu," ucapan Raksa membuat mata ibunya berkaca-kaca.


"Ibu juga rindu Raksa nak, ibu saaaangat rindu Raksa," ucap Nabila mulai tersedu.


"Ibu..no.. No nangyis," ucap Raksa oenuh perhatian.


Kaisar tidak tahan melihat kakaknya menangis karna rindu, maka dengan cepat Kaisar menyudahi sambungan videocall agar ibunya Raksa tidak makin bersedih.


"Mba, Kaisar tutup dulu telfonnya yaa. Kaisar mau ajak Raksa main diluar."


"Iya Kaisar, kamu jagain ponakanmu dengan baik."


"Siap mba, Assalamualaikum."


"Waalaikumssalam."


Setelah sambungan vc terputus Nabila semakin tersedu-sedu, "Maafkan ibu nak..hiks..hiks ibu ninggalin Raksa, maafkan ibu."


Sekitar 30 menitan Nabila menangis karna rindu dan merasa bersalah pada anaknya, ia mulai tenang dan mencoba menghubungi kembali suaminya.


Setelah panggilan kesekian kalinya masih belum ada jawaban membuat Nabila menjadi kesal, karna selama ia berada di Jakarta baru sekali mereka telfonan itupun Nabila yang menghubungi saat pertama kali sampai di Jakarta.


"Apa yang terjadi? Kenapa sampai sekarang mas Sam belum pernah memberi kabar baik melalui pesan ataupun telfon?" gumam Nabila.


"Mau telfon ke cafe juga aku nggk punya nomor telfon cafe. Ini juga salahku kenapa aku tidak pernah meminta nomor telfon cafe, kalau kayak gini kan bingung sendiri jadinya." Nabila terus saja bergumam karna merasa kesal dengan suaminya.


"Aku merasa akhir-akhir ini ada perubahan dengan sikap suamiku, tapi kenapa? Apa sebenarnya yang terjadi? Apa dia marah karna aku meninggalkannya? Tapi ini jugakan kemauannya, dia juga yang membujukku menerima pekerjaan ini," ucap Nabila dalam hati.


Nabila melamun tanpa sadar jika Clara sudah ada tepat didepannya menatap bingung kearahnya.

__ADS_1


"Ini mba Nabila kenapa? Apa kesurupan jin penunggu rumah ini ya?" ucal Clara dalam hati seraya melirik kanan kirinya, "Waduuh gawat kalau benar mba Nabila kesurupan, mana saya nggk tau rumah tukang ruqiyah dekat-dekat sini," tebak Clara mulai panik.


"Coba saya aja yang ruqiyah kali yaa?" gumam Clara.


Nabila yang mulai sadar dengan kedatangan Clara jadi bingung, kenapa Clara menatap dengan pandangan serius kearahnya. Dan kemudian mendengar gumaman Clara.


"Siapa yang di ruqiyah mba Clara?" suara Nabila mengangetkan Clara.


"Wow jinnya tahu nama saya?" tanya Clara terlonjak kaget.


"Jin? Jin apa?"


"Ini Mba Nabila?"


"Terus menurut Mba Clara saya siapa?"


"Fyuuhh syukurlah... Saya pikir tadi mba Nabila kesurupan jin penunggu rumah ini."


"Astagfirullah... Sembarangan kalau ngomong, siapa juga yang kesurupan."


"Terus ngapain tadi mba Nabila melamun, mana lama lagi," gerutu Clara sambil menuju sofa dan menghempaskan bokongnya ke sofa.


"Ohh itu, saya lagi mikirin mau nonton drakor apalagi hari ini," ucap Nabila tidak jujur.


"Astaga, Mbak. Kalau soal itu mah kenapa nggk panggil saya aja. Kita kan bisa sama-sama cari," balas Clara tidak habis pikir dengan pikiran ibu anak satu didepannya.


"Yaaa saya kira Mbak sibuk jadi saya nggk mau ganggu."


"Sibuk apa coba, ini hari minggu mana ada kesibukan di hari libur. yang ada itu kegabutan."


"Yaa saya kan nggk tahu," jawab Nabila cuek.


"Mba, mending panggil nama aja deh. Clara, kan mba lebih tua dari Clara. Mba Nabila nggk usah pake embel-embel mba ke saya." Clara mengeluarkan unek-uneknya.


"Hmm, oke oke... Clara? Gitu ajakan?"


"Nah gitukan enak dengernya, jadi saya nggk merasa tua banget... Hahaha."


"Iyaya sipaling masih muda... Hahaha."


"Iyalah, Mbak. Saya memang masih muda," jawab Clara bangga.


"Masih muda tapi jomblo, gimana tuh?" ejek Nabila.


"Jomblo pilihan, Mbak. Saya malas pacar-pacaran, maunya langsung nikah aja."


"Loh biasanya kan anak muda seusia kamu banyak tuh yang lebih memilih pacaran dulu, katanya sih pengenalan dulu."


"Pengenalan itu paling lamanya tiga bulan, Mak. Lagian percuma bertahun-tahun pacaran cuma jagain jodoh orang, dan juga sifat pasangan saat pacaran beda saat sudah menikah."


"Sok tau kamu."


"Bukan sok tau, Mbak. Saya banyak dengar dari orang-orang yang pacaran bertahun-tahun terus nikah. Katanya sifatnya beda saat pacaran dan saat sudah menikah."

__ADS_1


Nabila menggangguk membenarkan perkataan Clara.


...----------------...


__ADS_2